PULAU ASAP — SAJAK-SAJAK KUSNI SULANG

SAJAK-SAJAK “PULAU ASAP”

TIGA MUSIM
mereka datang dari jauh menyusup jauh hingga jantung pulau
para petinggi mengatakan para pendatang ini pembawa bahagia
sementara yang kusaksikan kampung-kampung kian kumuh
sungai-sungai kian keruh seperti tatapan kehabisan asa
ibarat rumah adat tua doyong menjelang roboh
kemajuan dan kerobohan hadap-hadapan di kampungku
seperti juga kemewahan dan kematian penduduk kehabisan airmata diperas duka
di samping musim hujan dan kemarau ada musim baru di ini pulau raksasa
musim asap yang membuat hari ini dan esok samar berkabut
ketiganya sama-sama amis darah dan asin airmata

September 2015.

KAMPUNG ZOMBIE
kelabu kabut asap sejauh pandang seluas langit kota sepanjang sungai
ke depan aku hanya bisa melihat jarak 15 meter kemudian segalanya abu-abu
berapa orang dan siapakah gerangan yang menghitung esok yang memang abstrak
sedang laba perkebunan dan kolusi sangat nyata bagi pedagang kekuasaan
kampung-halaman hanya tersimpan di hati para pemimpi yang terkepung
sehingga jumlah mereka yang setia pada cintanya bisa dihitung dengan jari
hari ini keluhuran pahlawan dan martabat hanya tersisa di basa-basi
di pembuangan sampah manusia seperti bayi tak diharapkan tergeletak mati
dari kemarau ke kemarau aku menyaksikan asap kebakaran hutan dan lahan
menjadi kafan kelabu pembunuhan massal
kalimantan kampungku menjadi kampung zombie
September 2015.

YANG TERBAKAR HARI INI
seperti kemarau tahun-tahun lalu tahun ini pun bulan
dan matahari terbakar menjadi bara
kelabu asapnya mewarnai angkasa kampung-kampung pulau
yang terbakar hari ini sesungguhnya bukan cuma hutan
tapi seluruh kehidupan, dan yang tinggal abu
adalah nurani dan martabat kemanusiaan
September 2015.

AKU TAK INGIN HANGUS TERBAKAR
kabut bangkit dari hutan
bangkit dari aspal-aspal jalan
turun dari langit dan dedahanan
abu bulan dan matahari yang terbakar
dari tahun ke tahun
aku di dalamnya
didera di kampung kelahiran
atas nama pembangunan kalteng
apakah asa masih diperlukan ?
tentu saja, tentu saja
tapi kurasakan benar
betapa harapan itu menyakitkan
betapa tak gampangnya mencintai
dan memenangkan hidup?
kabut bangkit dari hutan
bangkit dari aspal-aspal jalan
turun dari langit dan dedahanan
abu bulan dan matahari yang terbakar
di tengahnya aku tak ingin hangus terbakar

September 2015.

KOTAKU TENGGELAM DALAM KABUT

kotaku tenggelam dalam kabut
kita seperti orang picik dengan pandang sejauh ujung jari
tapi kepicikan, warisan perbudakan memang dominan di sini
menenggelamkan kami lebih dalam dalam sungai bencana
tidak kukatakan bencana mendasawarsa ini takdir Ilahi yang berang
tidak kusalahkan para dewa atau malaikat penjaga langit bumi
sebab kerusakan pulau berawal dari kerakusan tak terkendali
pongah bertahta di kursi kekuasaan dari kota hingga desa
handai taulan, sanak-saudara
kita akan tambah celaka menamakan kabut-asap penabur maut ini takdir
coba kita tatap tajam kiri-kanan dan diri sendiri
siapakah penyulut dan penanggungjawab kebakaran pulau ini
aku tahu kejujuran di sini sudah lama nama baru dari kebebalan
dan kebebalan tak pernah dipandang
yang mau jadi manusia akan terkucil
tapi bisakah kehidupan diselamatkan binatang?
kabut kelabu hingga hingga ujung jari
kematian massal menanti
manusia setara sampah
September 2015.

BERTAHAN DI KALTENG
menahun pulauku terbakar
saban kemarau pulau menjadi pulau api
menyembunyikan bulan dan matahari
menyekap penduduk di bumi bencana
“ini demi kemajuan kalteng”
“tanpa investasi kita berada di kegelapan langgeng”
para petinggi berkata di hadapan duka yang mengamuk penduduk
ketika kocek mereka kian gemuk, perut kian gendut

di sini, bung dan para saudara
tak ada tempat berlindung menghindari kejaran bencana
ia telah menyerbu dapur, ruang makan dan ruang tidur
bau ajal tertinggal di tikar lampit, kasur dan bantal
setiakawan dan omong kosong menjadi sinonim
semua merasa pahlawan dan pangkalima
hari-hari kelabu dan senyap
dikenakan serupa celana dan kemeja siapa saja
sehingga kukira secara spiritual orang –orang di sini
ibarat ikan mengapung tertuba menunggu mati
dituba pendidikan, perbudakan dan ketakutan
serta racun kepentingan sedetik
yang berani berdiri dan bersuara di tengah sunyi dan tukang kroyok
hanyalah sisa-sisa dayak dahulu
itu pun bung bisa menghitunrgnya dengan jari
apakah ini kemajuan?
apakah ini modern yang dibangga-banggakan angkatan kekinian?
ataukah keterbelakangan tersamar?
kabut asap ini mengungkapkan kenyataan seadanya
dari negeri salju
kutahu jalan kembali
tak kuduga kalteng dibakar api
udaranya bertuba
stigma kadaluwarsa — racun warisan
aku melihat orang-orang berlari maju ke belakang
harapan yang menyakitkan dalam kabut
kian sayup dan jauh
di tengahnya aku bertahan
mencoba tidak munafik dengan cinta
mengasah dan menempanya
tak menjadi bayang-bayang
di kampung ini aku berdiri
memandang tanahair
merangkul bumi
kabut asap bencana
bagian dari pilihan lama
sebagai dayak dunia
September 2015.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: