BEDAH BUKU TENTANG INDONESIA DI MUNSTER, JERMAN

BEDAH BUKU TENTANG INDONESIA DI MUNSTER,  JERMAN
Irvan Kowaas – irvan.kowaas@yahoo.co.id – (PPI Münster)
***
UNDANGAN

Rekan-rekan yb. ,
kami mengharap kehadiran rekan-rekan pada Acara Diskusi Bedah Buku “Indonesien 1965ff”,
bersama Anett Keller (Editor), yang akan diselenggarakan,

Tanggal : Selasa, 15.September 2015, mulai jam 19:00 sampai selesai.
Tempat : Die Brücke, Wilmersgasse 2, 48143 Münster, Germany.

Acara diselenggarakan dalam rangka kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Münster
dengan SOAI (Südostasien-Informationsstelle) dan atas sponsor dari “Um Verteilen” -Yayasan untuk satu dunia yang bersolidaritas.

Kontak person:
Arif Harsana – arif.harsana@t-online.de -(SOAI)
Irvan Kowaas – irvan.kowaas@yahoo.co.id -(PPI Münster)

***
Die antikommunistischen Massenmorde in Indonesien, denen Mitte der 1960er Jahre Hunderttausende Menschen zum Opfer fielen, zählen zu den schlimmsten Verbrechen des 20. Jahrhunderts. Die Gewalt geschah weder spontan noch isoliert: Der Westen unterstützte den Militärdiktator Suharto mit Geld und Logistik. Suharto revanchierte sich, indem er das größte und rohstoffreichste Land Südostasiens für westliche Firmen öffnete.

Viele, die die Gewalt überlebten, verbrachten Jahre im Gefängnis, zumeist ohne Gerichtsverfahren. Die meisten „65er-Häftlinge“ kamen erst Ende der 1970er Jahre frei. Danach blieben sie und ihre Familien Stigmatisierte – und sind es bis heute.

Das politische Lesebuch „Indonesien 1965ff.“ (regiospectra, Mai 2015) ist der erste deutschsprachige Sammelband zum Thema, in dem ausschließlich indonesische AutorInnen zu Wort kommen. Überlebende berichten vom Mord an ihren Angehörigen, von Haft und Folter; aber auch von der Solidarität jener, die der Entmenschlichung mutig die Stirn boten.

WissenschaftlerInnen und AktivistInnen beschreiben, wie schwierig sich die Aufarbeitung der Vergangenheit angesichts bis in die Gegenwart zementierter Machtstrukturen und Denkmuster gestaltet.

Das Jahr 1965 wird oft als „das Jahr, das niemals endete“ bezeichnet. Es spaltet die indonesische Gesellschaft bis heute. Von staatlicher Seite gibt es so gut wie keine Bemühungen um Aufarbeitung. Im Gegenteil, die Täter haben noch immer Machtpositionen inne. Umso mutiger sind jene IndonesierInnen, die mit künstlerischen, publizistischen und/oder Bildungsinitiativen versuchen, das Schweigen zu brechen.

Anett Keller, Herausgeberin von „Indonesien 1965ff.“, hat während der letzten Jahre in Indonesien gelebt und von dort als freie Journalistin berichtet. Sie hat Überlebende der Massaker getroffen und in verschiedenen Medien Artikel zur Aufarbeitung der Kommunistenverfolgung publiziert. Anett Keller wird über die Hintergründe der Ereignisse von 1965 berichten, über ihre Auswirkungen bis in die Gegenwart und über die Versuche der indonesischen Zivilgesellschaft, mit den alten Denkmustern der Suharto-Ära zu brechen.

Eine Veranstaltung der Südostasien-Informationsstelle und Perhimpunan Pelajar Indonesia PPI di Münster

***
Pembunuhan massal tanpa proses pengadilan terhadap orang2 yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia, yang pada pertengahan tahun 1960-an mengakibatkan jatuhnya korban ratusan ribu jiwa manusia adalah termasuk kejahatan paling buruk pada
abad ke-20. . ..Kekejaman itu tidak terjadi secara spontan maupun tersendiri : Negara2 Blok Barat mendukung diktator militer Suharto dengan uang dan perlengkapan. Suharto membalasnya, yaitu dengan langkahnya membuka pintu bagi masuknya perusahaan-perusahaan negara Blok Barat untuk beroperasi di Indonesia -sebuah negara di Asia Tenggara yang kaya raya akan bahan mentah.

Banyak korban 65 yang selamat dari pembunuhan massal harus menjalani kehidupannya di penjara-penjara, yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, tanpa melalui proses peradilan hukum. Sebagian besar „para tahanan 65“ , yang oleh pihak penguasa diberikan stigma ‘tapol’ -tahanan politik, baru bebas pada akhir tahun 1970-an. Kemudian para mantan tapol 65 dan keluarganya masih tetap mengalami stigmatisasi, berupa perlakuan diskriminatif, yaitu pembatasan hak-hak asasinya sebagai warga negara seutuhnya atas dasar stigma yang secara resmi pernah dibuat oleh pihak penguasa terhadap korban 65 dan keluarganya. .Misalnya para keluarga tapol tidak dijamin keamanannya oleh aparat keamanan ketika para keluarga korban 65 bermaksud berkumpul mengadakan silaturahmi antar korban bersama lembaga-lembaga advokasi korban. Dan stigmatisasi itu masih terus berjalan sampai sekarang.

Buku bacaan politik „Indonesien 1965ff“ (regiospectra, Mai 2015) adalah kumpulan tulisan-tulisan dalam bahasa Jerman pertama tentang tema, yang diutarakan hanya oleh para penulis Indonesia. .Dalam buku tersebut para korban yang masih hidup, menguraikan tentang pembunuhan terhadap anggota keluarganya, tentang kehidupan dipenjara dan siksaan, tetapi juga tentang solidaritas dari semua orang yang dengan berani menentang segala perbuatan yang tidak berperikemanusiaan.

Dalam buku tersebut, para pakar ilmiah dan para aktifist pergerakan pembela HAM (Hak Asasi Manusia) memaparkan mengenai kesulitan yang harus diatasi dalam dalam kegiatannya tentang penanggulangan beban sejarah kelam masa lalu, dalam situasi dimana sampai saat ini masih belum ada perubahan yang signifikan, masih kokohnya struktur kekuasaan dan cara berpikir yang terbentuk sebagai warisan sejarah kelam masa lalu, masa berkuasanya rezim Orba /Suharto.

Tahun 1965 disebut sebagai „tahun yang tidak pernah berakhir“. Sampai sekarang tahun tersebut membelah masyarakat Indonesia. Dari pihak negara bisa dikatakan tidak ada usaha yang diperlukan untuk menanggulangi beban sejarah kelam masa lalu. Justru sebaliknya, para pelaku kejahatan masih mendominasi posisi penting dalam sistem kekuasaan negara. Betapa semakin beraninya warga Indonesia yang dengan berbagai kegiatannya dibidang seni, publisistik dan /atau gerakan pendidikan memecah kebisuan, bangkit melakukan kerja-kerja pencerahan demi tegaknya keadilan dan kemanusiaan.

Anett Keller adalah editor buku „Indonesien 1965ff“ bersama SOAI sebagai penerbit, pada tahun-tahun terakhir tinggal di Indonesia membuat laporan berita sebagai seorang jurnalis independent, bertemu dengan para korban 65 yang masih hidup dan mempublikasikan diberbagai media berbagai tulisan-tulisannya yang mengungkap tentang perlakuan diskriminatif yang masih berjalan sampai sekarang terhadap keluarga korban 65, yang sebagian besar adalah keluarga anggota atau simpatisan partai komunis di Indonesia, parpol yang sejak 50 tahun yang lalu masih dilarang oleh pihak penguasa. Pada presentasi bukunya, Anett Keller akan memaparkan latar belakang peristiwa 1965, imbasnya sampai masa sekarang ini dan tentang usaha kegiatan masyarakat sipil Indonesia dalam mematahkan cara berpikir warisan jaman Suharto yang sudah usang.

Acara pertemuan Diskusi Bedah Buku „Indonesien 1965ff“ diselenggarakan oleh Lembaga Informasi Asia Tenggara (SOAI) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Münster.[]

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: