HAK ASAL-USUL

Komunitas Papua di Palangka Raya dalam Pawai Budaya Festival Budaya Isen Mulang, 2013 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Komunitas Papua di Palangka Raya dalam Pawai Budaya Festival Budaya Isen Mulang, 2013 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Paguyupan Jawa di Palangka Raya dalam Pawai Budaya Isen Mulang 2013. Apakah kesenian yang diperagakan ini adalah kebudayaan Kalteng dan bagian dari kebudayaDayak seperti yang dikatakan oleh sebutan sementara petinggi penyelenggara Negara di Kalteng, ataukah kesenian Jawa yang ada di Kalteng. Apa maksud pernyataan begini? (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Paguyupan Jawa di Palangka Raya dalam Pawai Budaya Isen Mulang 2013. Apakah kesenian yang diperagakan ini adalah kebudayaan Kalteng dan bagian dari kebudayaDayak seperti yang dikatakan oleh sebutan sementara petinggi penyelenggara Negara di Kalteng, ataukah kesenian Jawa yang ada di Kalteng. Apa maksud pernyataan begini? (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Reog atau kuda lumping apakah kesenian Dayak, kesenian Kalteng ataukah kesenian Jawa? (Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantana Tengah/ Andriani S. Kusni, 2013)

Reog atau kuda lumping apakah kesenian Dayak, kesenian Kalteng ataukah kesenian Jawa? (Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantana Tengah/ Andriani S. Kusni, 2013)

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
HAK ASAL-USUL

Setelah Pawai Budaya dalam rangka peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus, yang diikuti oleh berbagai etnik yang ada di Sampit dan Palangka Raya di mana Pawai Budaya tersebut berlangsung, di media massa cetak provinsi ini muncul beberapa tanggapan. Tanggapan tersebut ada yang berasal dari petinggi penyelenggara Negara dan ada pula yang dari warga masyarakat. Salah seorang dari petinggi penyelenggara Negara provinsi ini mengatakan bahwa budaya yang diparadekan ia pandang sebagai bagian dari kebudayaaan Dayak Kalimantan Tengah. Sedang warga masyarakat yang dikutip oleh wartawan berkomentar bahwa “ternyata di Kalteng bukan hanya terdapat kebudayaan Dayak”. Karena itu budaya-budaya itu patut dilestarikan. Dengan alasan melestarikan kebudayaan Jawa di Kalimantan Tengah, maka seorang penulis asal Yogyakarta melalui sebuah harian (sekarang sudah tidak terbit lagi) saban hari menyiarkan artikel dan cerita Jawa dalam bahasa Jawa. Mengenai soal ini waktu berada di kecamatan Parenggean, kabupaten Kotawaringin Timur, saya mendengar seorang penggiat yang mengatakan bahwa komunitas Jawa pun adalah suatu masyarakat adat. Sementara Balai Bahasa dalam papan-papan anjurannya di Jln Yos Sudarso Palangka Raya menyerukan agar masyarakat mengutamakan bahasa Indonesia. Di mana tempat bahasa local?
Sejalan dengan pandangan di atas, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tentang Pengembangan , Pembinaan , Dan Perlindungan Bahasa Dan Sastra (Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, 2010), Pasal 21 ayat (3) menulis “Bahasa daerah yang diajarkan sebagaimana dimaksud pada ayat //92) huruf a dan huruf b adalah: b. bahasa daerah yang penuturnya paling banyak di wilayah tersebut” (hlm.7).
Di Kalteng sekarang, warga Jawa merupakan mayoritas, sementara warga Dayak menduduki posisi kedua. Jika pikiran RPP di atas dirunut lebih jauh maka bahasa daerah yang diajarkan adalah bahasa Jawa – apalagi menurut petinggi yang baru saja datang ke Kalteng budaya-budaya dari etnik non-Dayak adalah bagian dari budaya Dayak Kalteng. Posisinya sama dengan budaya Dayak. Jika pikiran ini dikembangkan maka tidak mustahil jika yang tampil keluar mewakili Kalteng bukan lagi kesenian Dayak tapi adalah kesenian Jawa atau etnik mayoritas lainnya.
Pendapat-pendapat di atas nampaknya lupa akan ‘’hak asal-usul’’ yang disebutkan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Bahwa komunitas atau paguyuban non Dayak bisa dibilang sebagai masyarakat adat juga tetapi masyarakat adat yang tidak mempunyai hak asal-usul di Kalimantan Tengah. Apabila komunitas-komunitas ini ingin memelihara budaya asal mereka, tentu saja suatu hak wajar dan bisa dipahami. Budaya asal yang mereka pelihara itu memang adalah budaya-budaya yang ada di Kalteng tetapi bukan budaya Kalteng. Budaya yang mereka lestarikan dan paradekan di pawai-pawai budaya tetap budaya asal mereka. Lebih tidak dan lebih-lebih bukan merupakan bagian dari kebudayaan Dayak. Akan menjadi lain apabila ada kreasi baru hibridis yang menggunakan unsur-unsur budaya asal mereka dengan budaya lokal, cq Dayak. Budaya hibridis inilah yang bisa disebut budaya baru Kalteng hasil dari pembauran. Sementara sekarang pembauran itu sangat kurang intens. Etnik-etnik hidup dalam ghetto dengan budaya ghettonya yang menjalar ke bidang politik menjadi budaya politik ghetto. Budaya hibridis diuntungkan oleh kemajemukan budaya di Kalteng. Sebaliknya apabila kemajemukan ini dipelihara dalam ghetto-ghetto, saya khawatir ia menjadi dasar budaya bagi munculnya suatu konflik sosial dan berkembangnya kolonialisme internal. Kalteng oleh tidak sedikit mereka yang non-Dayak, tidak dipandang sebagai kampung-halaman mereka sendiri, tetapi sebagai “kebun belakang halaman rumah mereka di tempat lain”. Pepatah filosofis “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” memang bisa dimanfaatkan agar kedua tangan bisa menggarong. Karena itu filosofi yang niscayanya ditanam dan dikembangkan adalah “di mana langit dijunjung, di situ bumi dibangun”. Bumi yang dibangun itu adalah kampung-halaman mereka sendiri, bukan kebun belakang halaman rumah mereka di tempat lain. Saya kira filosofi inilah yang menjadi dasar pembauran antar warganegara dan salah satu isi dari rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan serta yang dituntut oleh perkembangan zaman. Bukan yang disebut filosofi bétang yang dangkal dan tidak menyentuh hakekat budaya Dayak serta ankronis..
Ada yang mengatakan bahwa yang penting “action” (tindakan), seperti halnya slogan Jokowi-JK :”Kerja! Kerja!”. Action atau kerja tanpa arah dan keteguhan memegang arah itu akan menabrak tembok di kanan-kiri. Nyatanya action itu tidak membuat pembauran jadi berkembang, sebaliknya ghetto dan budaya ghetto masih merupakan tembok tebal yang menyekap para warga dalam ruang pengap-apak, bahkan menjadi budaya politik.
Ada yang lahir, besar dan bekerja di Kalteng, tapi sepatah kata bahasa Dayak pun tidak ia pahami. Bahkan apa yang disebut kalakai pun ia tidak tahu. Masih banyak contoh kongkret lain lagi yang memperlihatkan bahwa tidak sedikit dari orang-orang dari etnik-etnik non-Dayak di Kalteng yang secara hakekat masih menjadi wisatawan jangka panjang atau pekerja migran musiman.Hanya saja mereka ini menjadi basis sosial yang dimainkan oleh politisien.
Tanpa menyadari bahayanya ghetto budaya dan budaya politik ghetto, perang antar ghetto bukan tidak mungkin terjadi lagi. Budaya ghetto dan budaya politik ghettoistik memang tidak mengakui hak asal-usul karena dalam budaya ghetto itu tersimpan keinginan menginvasi dan menganeksi menggunakan jalur politik, ekonomi dan budaya. Ghettoisme secara hakekat tidak memahami sari budaya itu sendiri, termasuk budaya asalnya. Yang dipungut hanyalah bentuk luarnya saja. Kemajemukan itu indah dan bermanfaat jika hak asal-usul diperhitungkan, jika Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai diresapi, apabila Kalimantan Tengah sebagai konsep dan program dipahami. Sedangkan untuk orang Dayak, patut diketahui bahwa orang akan menghormati dan memperhitungkan hak asal-usulnya jika mereka kuat dan bermutu. Berangkat dari hak asal-usul ini, kepada Jakarta, saya sarankan agar stop program transmigrasi model lama dan stop keluarga berencana pukul rata dihentikan. []

SAJAK WS RENDRA
KEMERDEKAAN

Ketika udara bising oleh basa-basi nyanyian kemerdekaan,
bendera-bendera dikibarkan asal rame,
dan para birokrat berpidato tanpa didengarkan orang,
di dalam keranjang bekas tempat bawang,
di samping gudang pasar,
di tepi got pembuangan pabrik,
seorang anak kecil berbaring,
dibius influenza,
memeluk seratus perak kertas kumal,
dan ia bertanya :
“Apaan sih itu merdeka ?”
Ya, apakah artinya sebuah kata yang ditulis diatas pasir ?
Apakah artinya undang-undang yang dicetak diatas air ?
Derap barisan langkah-langkah terdengar.
Barisan langkah-langkah siapa ?
Tak ada apa-apa
Tak terjadi apa-apa
Kesepian tanpa keheningan.
Kebisuan tanpa angin.
Kemacetan yang kukuh
Dipuja seperti berhala.
Ketika buruh-buruh wanita antri uang gaji.
Hari senja dan mandor-mandor menaksir tetek mereka;
Ketiak seorang guru membaca catatan hutang-hutangnya,
Matahari condong dan istrinya menyodorkan rekening listrik,
Seorang pencopet yang tangannya patah digebok polisi,
Tergeletak di sel dan bertanya :
“Apakah gunanya kemerdekaan ?”
Ya, apakah artinya upacara untuk kata-kata kosong ?
Dimanakah ujung dari muslihat-muslihat yang disadari ?
Aku mendengar deru derap langkah-langkah berjalan.
Langkah-langkah siapa ?
Dari mana datangnya ?
Rumput melindungi kuman-kuman t.b.c. para buruh percetakan,
yang tumbuh bersama ludah yang mereka semburkan,
ketika mereka membaca koran-koran
yang penuh kebohongan dan penjilatan.
Apabila buah pikiran telah dibentur dengan sangkur.
Apabila dalam komunikasi hanya boleh sama pihak yang bicara.
Seandainya kekuasaan hanya menciptkan tahta dan penjara,
Seandainya pilihan untuk keselamatan hanyalah
menjadi burung beo atau penjahat resmi,
sudah lumrah apabila pagi ini
seorang gadis yang berwajah penasaran bertanya kepada saya :
“Apakah Mas Willy percaya kepada kemerdekaan ?”
Apakah artinya janji yang ditulis diatas pasir ?
Apakah artinya pegangan yang hanyut di air ?
Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan ?
Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini ?
Aku mendengar deru derap langkah-langkah kaki.
Kemudian aku bertanya :
Di dalam kemelut kentut jaman ini,
deru derap barisan siapakah itu ?
deru derap barisan penindasan ?
ataukah deru derap barisan pembebasan ? []

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: