LESTARIKAN BAHASA DAERAH

Ayo Lestarikan Bahasa Daerah
Jumat, 03 Oktober 2014, 16:00 WIB

Bahasa-bahasa yang tersebar di sejumlah negara di dunia perlu dilestarikan agar terhindar dari ancaman kepunahan. Dari total 2.303 bahasa di Asia, sekitar 879 bahasa terancam atau hampir punah. Terancam dalam arti bahasa tersebut dikuasai orang tua, tapi tidak diajarkan kepada anak-anak mereka. Hampir punah dalam arti orang tua tidak menggunakan bahasa tersebut. Di Indonesia, dari 706 bahasa, ada 330 bahasa yang terancam atau hampir punah.

Pakar Pendidikan Sheldon Shaeffer mengatakan, bahasa daerah atau bahasa ibu perlu digunakan dalam dunia pendidikan agar tetap lestari. Menurutnya, dunia pendidikan memegang peranan penting untuk kelestarian budaya daerah. Bahasa daerah yang aktif digunakan sebagai pengantar di sekolah berpotensi bisa terus hidup.

Penggunaan bahasa daerah  juga mampu membantu anak didik lebih memahami pelajaran yang diterima di sekolah. Pasalnya, di berbagai daerah tidak semua siswa mampu berbahasa Indonesia. Alhasil, penggunaan bahasa daerah di sekolah memiliki dua sisi positif. Di satu sisi, akan melestarikan bahasa, di sisi lain akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diterima di sekolah.

Kebanyakan anak di daerah belum bisa berbahasa Indonesia. Kalau guru memaksa mereka menggunakan bahasa Indonesia, akan sulit. “Tapi jika pengantar menggunakan bahasa daerah, orang tua mereka bisa membantu mengajarkan di rumah,” kata Sheldon.

Ia menyayangkan sistem pendidikan di Indonesia tidak menggunakan bahasa adat sebagai pengantar. Sekolah-sekolah tidak menggunakan bahasa ibu sehingga para siswa tidak mengenal bahasa ibu mereka.

Sheldon mengatakan penting bagi guru untuk memahami fase belajar yang disesuaikan dengan perkembangan anak dalam berbahasa. Jika dalam kehidupan sehari-hari mereka biasa mendapatkan bahasa ibu maka hendaknya digunakan pula dalam pengantar di sekolah. Saat ini ia melihat masih banyak anak di pelosok nusantara yang menghadapi kendala dalam memahami pelajaran dan akhirnya prestasi belajar mereka tidak optimal.

Hasil survei yang dilakukan oleh Southeast Asian Minister of Education Organization Regional Centre of Quality Improvement of Teacher and Education Personal (SEAMO QITEP) in Language menunjukkan penggunaan bahasa daerah perlu dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia, terutama di wilayah pelosok di Indonesia.

Direktur SEAMO QITEP Felicia Nuradi Utorodewo mengatakan bahwa program pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu memfokuskan daerah menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar yang selanjutnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar.

Felicia mengatakan bahwa idealnya pada kelas 4 SD barulah para guru menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di dalam kelas. Hal ini pula yang dilakukan di beberapa negara, seperti Filipina, Thailand, dan Kamboja. Negara tersebut mendapatkan dukungan dari kementerian pendidikan setempat dan UNESCO. Mereka menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar hingga kelas 3 SD. “Dari kelas 1-3 siswa diajarkan bahasa ibu, setelah itu kemudian bahasa kedua,” ujarnya.

Belum berpihak

Staf pengajar Universitas Lambung Mangkurat Jumadi mengatakan bahwa Kurikulum 2013 belum berpihak pada penggunaan bahasa daerah. Meski ada mata pelajaran muatan lokal alias mulok yang wajib diajarkan di sekolah, tidak semua sekolah mengajarkan bahasa daerah untuk kegaiatan mulok. Ada sekolah-sekolah yang berinisiatif untuk mengajarkan pelajaran membatik atau seni budaya daerah sebagai mulok. Hal ini, menurutnya, mengurangi potensi penggunaan bahasa daerah di sekolah meskipun tidak ada salahnya juga sekolah mengajarkan seni budaya daerah. Muatan lokal memang memberikan kebebasan bagi sekolah untuk menentukan apa yang akan diajarkan. “Yang suka membatik, sekolah akan memilih membatik sebagai mulok,” katanya.

Hal serupa juga dikemukakan Staf Ahli Dinas Pendidikan, Pemuda dan  Olahraga Provinsi Bali I Wayan Widana. Ia mengatakan bahwa penggunaan bahasa daerah cukup menemui banyak hambatan. Di Bali misalnya, masyarakatnya lebih tertarik menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bukan tanpa alasan lantaran bahasa Inggris dinilai bisa mendatangkan uang. Padahal, bahasa Bali juga erat berkaitan dengan budaya dan ritual agama Hindu.

Staf  pengajar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Udjang Basir mengungkapkan penggunaan bahasa daerah di Jawa Timur tak bisa lepas dari dukungan pemerintah. Bersama para guru bahasa daerah, wilayah Surabaya akhirnya bisa meng-goal-kan penggunaan bahasa daerah sebagai mulok yang wajib diterapkan di semua sekolah di Jawa Timur. Dengan instruksi dari gubernur, ternyata penggunaan bahasa daerah bisa dimasifkan di lingkungan sekolah.

Hal serupa juga dilakukan di Papua. Ketua PGRI Papua Nomensen ST Mambraku mengatakan, di Papua kini diupayakan makin memopulerkan bahasa daerah. Wilayah paling timur Indonesia ini memiliki lebih dari seratus bahasa daerah. Menurutnya, bahasa daerah sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar lantaran anak-anak lebih akrab dengan bahasa mereka sehari-hari. Jika tidak digunakan di sekolah, ia juga khawatir bahasa Papua akan hilang.

Meski demikian bahasa merupakan budaya yang tak cukup diajarkan di sekolah saja. Kepala Pusat Penelitian kebijakan (Puslitjak) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bambang Indsriyanto, mengatakan selain sekolah, komunitas di daerah juga perlu mendukung agar bahasa daerah bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. rep:dwi murdaningsih ed: hiru muhammad

BAHASA DAERAH SEMAKIN PUNAH
Rabu, 05 Maret 2014, 12:00 WIB
Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA —  Ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia, kian terancam punah. Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 746 bahasa daerah. Namun yang berhasil dipetakan oleh Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ada 594 bahasa daerah.

Kepala Balai Bahasa DI Yogyakarta, Tirto Suwondo mengatakan, kebanyakan bahasa daerah yang punah berada di luar pulau Jawa.  ‘’Kemungkinan bahasa daerah yang belum dipetakan tersebut punah karena tidak ada pemakainya lagi,’’ kata Tirto di kantornya, Selasa (4/3).

Pemetaan bahasa daerah tersebut dilakukan sekitar tiga atau empat tahun lalu. Jumlah bahasa daerah di Indonesia, menurut peneliti asing maupun dari Indonesia , jumlahnya tidak sama. Data terakhir menyebutkan jumlahnya sekitar 726 bahasa.

Tirto mengatakan, dari 400 lebih bahasa daerah yang berhasil dipetakan, jumlah penutur yang lebih  dari satu juta orang hanya ada 13 bahasa.  Antara lain Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Bugis, Bahasa Minang, Bahasa Bali.

Salah satu penyebab punahnya bahasa daerah karena jumlah penuturnya semakin sedikit. Biasanya, kata Tirto, bahasa daerah hanya dikuasai oleh para orang tua.  Sedangkan anak dan cucu mereka, kehidupannya sudah modern sehingga banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa asing. Tirto mengakui, bahasa daerah bisa tetap hidup selama penuturnya masih ada.

Bahasa Jawa, kata Tirto, pemakainya masih banyak. Namun dalam pergaulan anak-anak sekarang sudah tidak dipakai lagi. Untuk bahasa daerah yang jumlah pemakainya masih besar seperti  Jawa, Sunda dan Bali, di sekolah masih diajarkan. Bahkan untuk bahasa Jawa,  penuturnya tesebar di tiga provinsi yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Karena itu, dia memperkirakan bahasa Jawa belum akan punah namun mengalami penurunan jumlah penutur. ‘’Bahasa Jawa punahnya mungkin masih ratusan tahun,’’ kata Tirto.

Di sekolah formal mulai dari SD hingga SMA, saat ini  masih ada pelajaran bahasa Jawa. Pemda setempat pun, kata dia, masih gencar melakukan pembinaan bahasa Jawa kepada para guru. Disamping penuturnya masih banyak, keuntungan lain bahasa Jawa karena jenisnya tidak banyak.

Berbeda halnya dengan di Nusa Tenggara Barat misalnya, yang memiliki ragam bahasa daerah hingga 20 jenis. ‘’Akibatnya, pemerintah kesulitan untuk memilih bahasa mana yang akan dibina,’’ kata dia.

Meski masih terbilang banyak penuturnya, bahasa Sunda juga tergolong bahasa yang terancam punah. Kepala UPTD Balai Pengembangan Bahasa Daerah Jawa Barat, Husen M Hasan mengatakan, sudah banyak warga atau para pemuda khususnya yang meninggalkan bahasa Sunda.

Menurutnya, salah satu pengaruh yang terbesar adalah budaya asing yang masuk melalui media internet. Hasan mengatakan, globalisasi tidak bisa dihindari tapi upaya pencegahan agar budaya lokal tidak tergerus arus bisa dilakukan. Caranya, kata Hasan, para orang tua diimbau untuk selalu menggunakan bahasa Sunda sehari-hari di keluarganya masing-masing.

Dukungan pemerintah Jawa Barat, melalui pelajaran muatan lokal bahasa daerah yang wajib diajarkan di tingkat SD hingga SMP juga sangat mendukung. ‘’Tapi itu hanya dua jam pelajaran seminggu. Jadi yang paling penting itu dari keluarga sehari-hari,’’ katanya.

Di Sumatera Selatan (Sumsel), ancaman kepunahan bahasa daerah belum terlalu mengkhawatirkan.Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumsel, Aminulatif Ikob, mengatakan berbagai bahasa daerah yang ada di daerah itu masih banyak penuturnya

Bahasa ibu di sejumlah daerah di Sumsel, kata dia, masih terus dipakai untuk berkomunikasi di masing-masing komunitas. ‘’Bahasa Palembang, bahasa Komering, bahasa Kayuagung, bahasa Enim dan bahasa Lintang bisa dengan mudah kita jumpai di tengah masyarakat,’’ katanya.

Peran pemerintah daerah dengan memasukkan bahasa daerah dalam mata pelajaran yang diajarkan setiap satu minggu sekali, diakuinya sangat membantu. Dengan cara ini, pelestarian bahasa daerah ke generasi muda diharapkan bisa tercapai.

Peneliti bahasa dan sastra Lampung, Evi Maha Kastri mengatakan, penggunaan bahasa Lampung secara lisan masih dipergunakan masyarakat terutama di daerah dan pinggiran kota. Sedangkan di perkotaan, ia menegaskan hanya kalangan tertentu terutama sesama orang Lampung yang menggunakannya.

Menurutnya, bahasa Lampung belum bisa dikatakan terancam punah, karena masih terpakai baik lisan dan tulisan di berbagai daerah atau ulun di Lampung. ‘’Saya kurang setuju kalau dikatakan terancam punah. Tapi,kalau terjadi pergeseran barangkali.  Terutama di perkotaan yang masyarakatnya multikultural,’’ ujarnya.  N neni ridarineni/maspril aries/mursalin yasland, c30 ed: andi nur aminah.

Informasi dan berita lain selengkapnya bisa dibaca di Republika, terimakasih.[]

IKHTIAR SELAMATKAN BAHASA

Senin, 08 September 2014, 12:00 WIB

Globalisasi dimafhumi tak hanya mengantarkan informasi dan modernisasi ke pelosok negeri. Satu hal yang juga menjadi korbannya adalah keberagaman lokal, utamanya bahasa daerah.

Pendataan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak lama sudah mengungkapkan kian berkurangnya penggunaan bahasa daerah. Tak hanya itu, bahasa daerah juga kian lama terancam punah. Sejumlah bahasa malah sudah mengalami nasib tersebut.

Pulau Kalimantan secara keseluruhan adalah wilayah dengan bahasa-bahasa yang beragam. Terlebih, daerah tersebut ditinggali suku-suku yang beragam.

Kekhawatiran tersebut juga menyergap pihak Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). “Diperlukan solusi konkret untuk mencegah bergesernya bahasa daerah akibat perkembangan dan kemajuan zaman, sehingga bahasa daerah tetap lestari,” kata Ketua Tim Legsikograf Balai Bahasa Kalsel Musdalifah, Ahad (7/9).

Terkait kekhawatiran itu, menurut Musdalifah, Balai Bahasa tak tinggal diam. Mereka akan mengundang para peneliti dari seluruh Indonesia untuk menggagas cara menyelamatkan bahasa-bahasa daerah.

Para guru besar dari berbagai universitas akan dikumpulkan di Kabupaten Banjar, Kalsel, 10-11 September 2014. Para ahli tersebut, kata Musdalifah, akan mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan pergeseran bahasa daerah di seluruh Indonesia sekaligus mencari solusinya.

Sebelumnya, Balai Bahasa Kalsel juga telah melakukan perekaman bahasa daerah yang hampir punah di provinsi setempat. Saat itu, Musdalifah bersama empat anggota tim turun ke lapangan untuk melakukan perekaman terhadap bahasa yang hampir punah di beberapa kabupaten. “Salah satu kabupaten yang kami kunjungi adalah Kabupaten Barito Kuala tepatnya di Kecamatan Berangas Desa Berangas Timur untuk melakukan perekaman Bahasa Dayak Berangas yang diperkirakan hampir punah,” ujarnya.

Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 726 bahasa daerah. Tapi, yang berhasil dipetakan ada 456 bahasa daerah. Kebanyakan bahasa daerah yang punah di luar Jawa. ”Kemungkinan bahasa daerah yang belum dipetakan tersebut punah karena tidak ada pemakainya lagi,” kata Kepala Balai Bahasa DIY Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tirto Suwondo, beberapa waktu lalu.

Dari 400 lebih bahasa daerah yang berhasil dipetakan tersebut, jumlah pemakai yang lebih dari satu juta orang hanya ada 13 bahasa. Di antaranya, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Minang, bahasa Bali.

Menurut tirto,penyebab punahnya bahasa daerah karena jumlah pemakainya semakin sedikit. Biasanya, bahasa daerah itu hanya dikuasai para orang tua, sedangkan anak-anaknya dan cucunya kehidupannya sudah modern, sehingga banyak menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa asing. antara ed: fitriyan zamzami

***
Bahasa Punah

Mapia (Papua)
Tandia (Papua)
Bonerif (Papua)
Saponi (Papua)

Terancam Punah:
Lom (Sumatera)
Budong-budong (Sulawesi)
Dampal (Sulawesi)
Bahonsai (Sulawesi)
Baras (Sulawesi)
Lengilu (Kalimantan)
Punan Merah (Kalimantan)
Kareho Uheng (Kalimantan)
Hukumina (Maluku)
Kayeli (Maluku)
Nakaela (Maluku)
Hoti (Maluku)
Hulung (Maluku)
Kamarian (Maluku)
Salas (Maluku)

Sumber: Balai Bahasa

Duh, 3.000 Bahasa di Dunia Terancam Punah

Rabu, 24 September 2014, 14:35 WIB

[ist]
Unesco
Unesco

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyebutkan sebanyak 3.000 dari 6.000 bahasa di dunia hampir punah, sebagian besar merupakan milik etnis minoritas.

“Hampir 50 persen hampir punah, terutama bahasa suku atau etnis minoritas,” kata mantan Direktur UNESCO wilayah Bangkok Sheldon Shaeffer di Jakarta, Rabu.

Dalam seminar internasional bertema “Penggunaan bahasa daerah/ibu untuk meningkatkan kompetensi siswa sekolah dasar” yang digelar SEAMEO QITEP in Language, Sheldon mengatakan pelestarian bahasa daerah mendesak dilakukan.
Ia mengatakan dari 6.000 bahasa di dunia tersebut sebanyak 40 persen berstatus terancam punah dan hanya 10 persen yang aman.

“Sekitar 96 persen bahasa-bahasa ini digunakan oleh hanya 4 persen populasi dunia,” ungkapnya.

Khusus di wilayah Asia, dari 2.303 bahasa, 879 bahasa terancam atau hampir punah. Sedangkan di Asia Tenggara, dari 1.253 bahasa, sebanyak 527 bahasa terancam atau hampir punah. Data ini dapat dilihat lebih rinci di ‘ethnologue languages of the world.

Pengertian hampir punah adalah orang tua tidak menggunakan bahasa tersebut. Sedangkan terancam artinya bahasa dikuasai orang tua, tetapi tidak digunakan dengan anak-anak mereka. Sheldon mengatakan punahnya sebuah bahasa akan menghilangkan identitas atau budaya tertentu. Karena itu bahasa daerah atau bahasa ibu harus dikembangkan atau dihidupkan lagi karena bahasa menyimpan sejarah, dan bahasa membantu pembelajaran.

Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ainun Naim mengatakan pengembangan bahasa daerah di Indonesia dilakukan dengan integrasi pelajaran bahasa daerah dalam muatan lokal. “Muatan lokal dengan seni dan buadaya juga sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan bahasa daerah,” ujarnya.[]

Balai Bahasa Rekam Bahasa Hampir Punah di Kalsel

Rabu, 23 April 2014, 18:08 WIB
Antara/Dewi Fajrian
Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).
Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU — Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan melakukan perekaman bahasa daerah yang hampir punah di provinsi setempat.  Itu dilakukan untuk menyelamatkan bahasa yang menjadi ciri khas suatu daerah terutama di pelosok dan daerah pinggiran kota.

Ketua Tim Legsikograf Balai Bahasa Kalsel Musdalifah SS MPd di Banjarbaru, Rabu (23/4) mengatakan, pihaknya bersama empat anggota tim sudah turun ke lapangan untuk melakukan perekaman terhadap bahasa yang hampir punah pada beberapa kabupaten di provinsi setempat.

“Salah satu kabupaten yang kami kunjungi adalah Kabupaten Barito Kuala tepatnya di Kecamatan Berangas Desa Berangas Timur untuk melakukan perekaman Bahasa Dayak Berangas yang diperkirakan hampir punah,” ujarnya.

Disebutkan, empat anggota tim Legsikograf dari Balai Bahasa Kalsel yang terjun langsung ke lapangan melakukan perekaman bahasa adalah Siti Jamzaroh M Hum, Ahmad Zaini SAg MPd, Anasabiqatul Husna SS, dan Laila SPd.

Dijelaskan Musdalifah didampingi Siti Jamzaroh yang merupakan peneliti di Balai Bahasa Kalsel, pihaknya melibatkan tujuh nara sumber yang merupakan tetuha masyarakat Berangas yang masih aktif menggunakan bahasa daerah itu.

“Proses perekaman dilakukan di Balai Desa Berangas Timur Kecamatan Berangas Barito Kuala selama lima hari sejak Selasa (22/4) hingga Sabtu (26/4) dan hasilnya akan disusun kemudian dijadikan kamus Bahasa Dayak Berangas,” ungkapnya.

Dikatakan, tujuan perekaman adalah mengumpulkan seluruh kosakata dan sastra yang masih digunakan dan berkembang di lingkungan masyarakat Berangas baik tertulis maupun lisan sehingga bisa disusun dan ke depannya menjadi kamus bahasa dayak setempat.[]

 

Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Punah

Selasa, 04 Maret 2014, 14:48 WIB

Sekolah dwibahasa/ilustrasi

Sekolah dwibahasa/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA –  Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 726 bahasa daerah. Namun yang berhasil dipetakan ada 456 bahasa daerah. Kebanyakan bahasa daerah yang punah di luar Jawa.

”Kemungkinan bahasa daerah yang belum dipetakan tersebut punah karena tidak ada pemakainya lagi,”kata Kepala Balai Bahasa DIY Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tirto Suwondo di kantornya, Selasa (4/3).

Pemetaan bahasa daerah tersebut dilakukan sekitar 3-4 tahun yang lalu. Namun menurut peneliti asing maupun dari Indonesia yang meneliti bahasa daerah  di seluruh Indonesia tidak sama jumlahnya. Namun data terakhir menyebutkan jumlah bahasa daerah di Indonesia  sekitar 726 bahasa.

Dari 400 lebih bahasa daerah yang berhasil dipetakan tersebut, jumlah pemakai yang lebih dari satu juta orang hanya ada 13 bahasa antara lain: Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Bugis, Bahasa Minang, Bahasa Bali.

Penyebab punahnya bahasa daerah karena jumlah pemakainya semakin sedikit. Biasanya bahasa daerah itu hanya dikuasai oleh para orang tua, sedangkan anak-anaknya dan cucunya kehidupannya sudah modern sehingga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan bahkan bahasa asing.

Diakui Tirto bahasa itu hidup sehingga mau tidak mau akan punah bila pemakainya sudah tidak ada. Karena bahasa hidup, maka bahasa yang besar akan mendesak bahasa yang kecil pemakainya.

“Perekaman kosakata bahasa Dayak Berangas untuk mendokumentasikan kosakata dan berbagai tradisi serta sastra lisan yang pernah hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat tetapi mulai ditinggalkan bahkan hampir punah,” ujarnya.[]Q

Balai Bahasa Abadikan Bahasa Hampir Punah di Kalimantan

Rabu, 23 April 2014, 11:33 WIB

Antara/Dewi Fajrian

Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).
Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU– Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan merekam bahasa daerah yang hampir punah di provinsi setempat untuk menyelamatkan bahasa yang menjadi ciri khas suatu daerah terutama di pelosok dan pinggiran kota.

Ketua Tim Legsikograf Balai Bahasa Kalsel Musdalifah SS MPd di Banjarbaru, Rabu, mengatakan pihaknya bersama empat anggota tim sudah turun ke lapangan untuk melakukan perekaman terhadap bahasa yang hampir punah pada beberapa kabupaten di provinsi setempat.

“Salah satu kabupaten yang kami kunjungi adalah Kabupaten Barito Kuala tepatnya di Kecamatan Berangas Desa Berangas Timur untuk melakukan perekaman Bahasa Dayak Berangas yang diperkirakan hampir punah,” ujarnya.

Disebutkan, empat anggota tim Legsikograf dari Balai Bahasa Kalsel yang terjun langsung ke lapangan melakukan perekaman bahasa adalah Siti Jamzaroh, Ahmad Zaini, Anasabiqatul Husna, dan Laila.

Dijelaskan Musdalifah didampingi Siti Jamzaroh yang merupakan peneliti di Balai Bahasa Kalsel, pihaknya melibatkan tujuh nara sumber yang merupakan tetuha masyarakat Berangas yang masih aktif menggunakan bahasa daerah itu.

“Proses perekaman dilakukan di Balai Desa Berangas Timur Kecamatan Berangas Barito Kuala selama lima hari sejak Selasa (22/4) hingga Sabtu (26/4) dan hasilnya akan disusun kemudian dijadikan kamus Bahasa Dayak Berangas,” ungkapnya.

Dikatakan, tujuan perekaman adalah mengumpulkan seluruh kosakata dan sastra yang masih digunakan dan berkembang di lingkungan masyarakat Berangas baik tertulis maupun lisan sehingga bisa disusun dan ke depannya menjadi kamus bahasa dayak setempat.

“Perekaman kosakata bahasa Dayak Berangas untuk mendokumentasikan kosakata dan berbagai tradisi serta sastra lisan yang pernah hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat tetapi mulai ditinggalkan bahkan hampir punah,” ujarnya.

Ditambahkan, perekaman merupakan lanjutan kegiatan tahun lalu dengan lokasi berbeda yakni di Desa Alalak Utara Kota Banjarmasin dan menurut informasi nara sumber penutur aktif bahasa itu hanya tersisa sekitar 60 orang di Desa Alalak Utara sedangkan di Berangas lebih sedikit.

“Jumlah penutur aktif bahasa Dayak Berangas yang diperkirakan lebih sedikit itu menandakan bahasa daerah yang digunakan hampir punah sehingga kami berupaya menyelamatkannya sehingga ke depan bisa disusun menjadi sebuah kamus,” katanya.[]

PENDIDIKAN

Universitas Leiden Garap Perpustakaan Studi Bahasa Indonesia

Senin, 03 Maret 2014, 18:15 WIB
alternativesnews.org
Universitas Leiden
Universitas Leiden

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Universitas Leiden ingin memperkuat hubungan dengan Indonesia. Universitas tertua di Belanda ini mengunjungi Indonesia untuk makin mempererat hubungan. Hubungan Indonesia dan Leiden memang telah terjalin lama. Caspar Reinwardt, pendiri kebun raya Bogor, adalah profesor dan direktur kebun raya di Universitas Leiden.

Delegasi yang dipimpin oleh Rektor Carel Stolker ini mencari peluang kolaborasi baru dengan universitas, lembaga penelitian dan organisasi pemerintah.  Secara khusus, Stolker mendapatkan misi dari Leiden untuk mengembangkan perpustakaan studi Bahasa Indonesia.

“Kami akan melakukan kemitraan yang erat dengan rekan-rekan kami di Indonesia, juga akan dilakukan digitalisasi proyek-proyek ini sehingga materi yang tersedia dapat dinikmati oleh para sarjana di seluruh dunia,” kata Stolker.

Baru-baru ini, perpustakaan Universitas Leiden telah menjadi penanggung jawab atas koleksi buku-buku dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian Studies dan Karibia ( KITLV ) dan Royal Tropical Institute (KIT). Dikombinasikan dengan koleksi milik Leiden sendiri, akan tercipta pusat penelitian terbesar mengenai Indonesia di dunia.

Lebih dari 10 kilometer arsip yang terdiri dari buku-buku, jurnal, peta dan manuskrip, akan menjadi bagian dari perpustakaan Asian masa depan di Universitas Leiden. Sejak tahun 1969, sebagian besar buku-buku dan jurnal ini dibeli oleh KITLV yang berkantor kantor di Jakarta. Kegiatan ini akan terus dilakukan. Mulai tanggal 1 Juli KITLV juga akan mewakili Universitas Leiden di Indonesia .

Tak hanya itu, Universitas yang didirikan tahun 1575 ini menandatangani perjanjian dengan Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Leiden dan UI akan memfasilitasi pertukaran pelajar di bidang humaniora. Fakultas Kedokteran dari kedua universitas sepakat untuk memperpanjang kerjasama dan pertukaran mereka di bidang parasitologi.[]

Kamus Bahasa Lampung Pertama Dikembalikan ke Lampung

Kamis, 27 Februari 2014, 06:36 WIB
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG — Kamus bahasa Lampung pertama yang disusun oleh Herman Neubronner van der Tuuk (1824–1894), ahli bahasa dan budaya Nusantara asal Belanda, setelah sekitar 1,5 abad tersimpan di Belanda, kini telah kembali ke Lampung.

Menurut Manager Lembaga Amil Zakat (LAZ) Lampung Peduli Umaruddin Ismail mendampingi J Panji Utama, wakil dari pihak yang berinisiatif mengembalikan kamus karangan H N van der Tuuk itu, di Bandarlampung, Kamis (27/2), kamus bahasa Lampung yang pertama disusun tersebut dibuat saat van der Tuuk menetap di Lampung (1868–1869), tepatnya di tepi Sungai (Way) Seputih.

Namun, informasi tersebut tidak banyak diketahui bahwa kamus tersebut selama ini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda selama sekitar 1,5 abad lamanya. Bahkan, diperkirakan belum ada orang Lampung yang pernah melihat bentuk dan isi kamus tersebut.

Masyarakat Lampung melalui konsolidasi dan fasilitasi Lampung Peduli telah berupaya mendapatkan kembali kamus tersebut secara mandiri. Atas bantuan dan kerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda, perpustakaan Universitas Leiden Belanda, dan Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta, kamus bahasa Lampung pertama karya H N van der Tuuk itu kini telah kembali ke Lampung.

Herman Neubronner van der Tuuk adalah yang pertama kali membuat kamus bahasa Batak, Bali, dan Lampung. Ahli bahasa dan pembuat kamus (leksikografer) itu juga menjadi editor kamus Melayu (Von den Wall), Jawa, dan lain-lainnya.

Menurut Panji Utama, kamus bahasa Lampung pertama karangan van der Tuuk dapat diibaratkan sebagai salah satu harga diri Lampung yang sekian lama terabaikan.

“Upaya untuk mendapatkan kembali kamus tersebut adalah langkah konkret yang telah dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya pengembangan dan pelestarian budaya, sejarah, dan bahasa Lampung,” katanya pula.[]

Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap (HR Muslim )

Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)((HR. Bukhari))

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: