SAMPAH PENGUNJUK RASA DAN BUDAYA BANGSA

 

SAMPAH PENGUNJUK  RASA DAN BUDAYA BANGSA
Kompasiana.Com, 02 September 2015 01:01:50
Sampah Pengunjuk Rasa dan Budaya Bangsa

Ketika puluhan ribu warga Hongkong melakukan unjuk rasa besar-besaran menuntut pemilihan langsung pemimpin Hongkong, di jalan-jalan raya di kawasan Causeway, Hongkong, Oktober 2014 lalu, media internasional melihat ada sesuatu yang lain, yang luar biasa, selain unjuk rasa itu sendiri.

Yaitu, meskipun puluhan ribu orang turun ke jalan raya melakukan unjuk rasa itu selama berhari-hari, namun jalan raya dan sekitarnya tempat mereka berunjuk rasa itu tetap bersih dari segala jenis.  Demikian juga dengan perilaku para demonstran yang tetap menjaga ketertiban dan kesopanan selama melakukan unjuk rasa itu.

Media barat pun sampai “heran” melihat kenyataan itu, maka mereka pun menulis liputan dan analisanya tentang itu.

Harian  New York Times, misalnya, menulis laporan dengan judul “Aksi Protes Hongkong tanpa Pemimpin, tetapi Tertib dan Bersih”. BBC membuat judul “Hal-hal yang Hanya Terjadi dalam Unjuk Rasa di Hongkong.”

Beberapa pengamat menulis analisanya di media, menyebutkan bahwa keteraturan tersebut menunjukkan ciri-ciri budaya yang unik yang layak dipuji dari warga Hongkong, yang mereka gambarkan sebagai lebih bertanggung jawab dan damai ketimbang para pengunjuk rasa di belahan lain dunia (Indonesia harap jangan tersinggung, karena saya akan menulis tentang kita di bawah).

Kebersihan itu tetap terjaga dikarenakan sejak semula para pengunjuk rasa itu secara sadar dan inisiatif sendiri, membentuk tim-tim khusus pemungut dan pembersih sampah di antara mereka. Tim-tim ini bekerja sepanjang hari, berkeliling dengan kantong-kantong sampahnya. Setelah penuh, dibawa dan dikumpulkan ke suatu tempat yang sudah disediakan khusus untuk itu. Dari situ petugas kebersihan pemerintah datang untuk mengangkutnya pergi ke tempat pembuangan sampah akhir.

Fenomena serupa kembali terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia, barusan ini. Saat puluhan ribu rakyat turun ke jalan-jalan raya  secara serentak, selama dua hari berturut-turut, 29 dan 30 Agustus 2015, menuntut Perdana Menteri Najib Razak turun karena dituduh terlibat korupsi.

Meskipun melibatkan puluhan ribu orang (pihak pengunjuk rasa mengklaim mencapai 100 ribuan), seperti di Hongkong, jalan-jalan raya tempat mereka unjuk rasa itu tetap bersih dari sampah.

Serupa dengan di Hongkong pula, para pengunjuk rasa di Kuala Lumpur itu membentuk juga tim-tim khusus pembersih sampahnya. Berkeliling di antara teman-teman mereka, para pengunjuk rasa itu untuk memungut san membuang sampah pada suatu tempat yang sudah dipusatkan untuk itu.

Ada puluhan orang yang bertugas untuk memunguti sampah-sampah yang tercecar. Sampah-sampah itu kemudian diikat rapi, dikumpulkan di suatu tempat, untuk kemudian diangkut oleh mobil pembawa sampah.

Ada pula orang yang ditugasi untuk membawa poster-poster dan berkeliling. Di poster itu tertulis peringatan agar massa menjaga kebersihan lingkungan dan selalu membuang sampah ke tempat yang disediakan.

Selain itu, ada pula orang-orang yang ditugasi mencari volunteer (sukarelawan). Para sukarelawan ini jika bersedia akan ditugasi memunguti sampah dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan. Tampak banyak pemuda pemudi yang bersedia melakukannya.

Baik di Hongkong, Tiongkok, maupun di Kuala Lumpur, Malaysia, hal itu bisa terjadi karena rakyatnya sudah sedari kecil dididik secara nyata untuk berdisiplin, dan selalu menjaga kebersihan. Sadar bersih itu penting dan bisa mewujudkan itu hanya bisa dilakukan karena mereka sudah terbiasa hidup dalam kedisplinan yang tinggi. Jika disiplinnya rendah, slogan “kebersihan itu penting dan indah”, pasti hanya sebatas slogan saja. Seperti di Indonesia sampai sekarang.

Nah, bagaimana dengan kebersihan jalan-jalan raya, taman kota, dan sekitarnya, jika ada unjuk rasa di Indonesia?

Jangankan melibatkan massa sampai puluhan ribu atau seratusan ribu orang, dengan massa hanya ratusan sampai ribuan orang saja, dalam tempo hanya beberapa jam saja, sudah cukup membuat jalan-jalan raya dan taman-taman kota dan lokasi sekitar unjuk rasa itu seketika berubah menjadi lautan sampah, dan taman-taman kota yang asri dan dipelihara bertahun-tahun dengan biaya tak sedikit hancur berantakan.

Fenomena yang berbanding terbalik dengan Hongkong dan Kuala Lumpur, setiap kali ada unjuk rasa itu, selalu saja terjadi di Indonesia, terutama sekali di DKI Jakarta. Apakah yang melakukannya itu  dari kalangan yang relatif tingkat pendidikannya rendah sampai dengan yang tingkat pendidikannya tinggi, seperti mahasiswa. Dari buruh, nelayan, rakyat biasa, sampai mahasiswa.

Tanpa berpanjang kalimat, marilah kita telusuri saja fakta-fakta tentang fenomena pengunjuk rasa dan puluhan ton sampahnya di Jakarta sebagai contoh kongkritnya. Diambil dari beberapa berita di media massa sejak sekitar setahun lalu sampai sekarang.

1. 11 Agustus 2014: Usai Demo, Pendukung Prabowo-Hatta Sisakan Sampah

2. 20 Oktober 2014: Pesta Rakyat untuk Jokowi di Monas Sisakan Sampah

3. 26 Februari 2015: Demonstrasi Nelayan Bikin Taman Rusak dan Tinggalkan Sampah

4. 26 Februari 2015: Derita Petugas Kebersihan Usai Nelayan Demo

5. 1 Mei 2015: Puluhan Ton Sampah yang Ditinggalkan Saat Peringatan Hari Buruh Sedunia

6. 12 Mei 2015: Imbas Unjuk Rasa Mahasiswa Trisaksi, Monas Dipenuhi Samah

Dan, yang terkini, kemarin, Selasa, 1 September 2015: Demo Buruh Bubar, Jalan Medan Merdeka Dipenuhi Sampah (Sindonews.com)

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Salah satu faktor utamanya adalah karena tingkat kesadaran dan kedisplinan rata-rata rakyat Indonesia masih sangat rendah terhadap sangat pentingnya membuang sampah selalu pada tempatnya, demi terciptanya kebersihan dan kesehatan yang baik, dan tidak merusak lingkungan hidup seperti banjir,  dan keindahan pemandangan alam.

Seorang warga Kampung Pulo yang terkena gusur dan kini sudah direlokasi Pemprov DKI Jakarta ke rusunawa Jatinegara, ketika diwawancara mengenai kesan-kesannya tinggal di rusun itu dengan di pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, antara lain bilang, enaknya tinggal di Kampung Pulo, karena kalau mau buang sampah tinggal dibuang saja ke Sungai Ciliwung! (Kompas.com).

Itulah salah satu contoh yang memperlihatkan betapa rendahnya tinggal kesadaran dan kedisplinan rakyat Indonesia terhadap pentingnya kebersihan, kesehatan dan lingkungan hidup dengan tidak membuang sampah secara sembarangan.

Mau Jakarta bebas banjir, tetapi buang sampah sembarangan, termasuk di sungai-sungai yang seharusnya merupakan aliran utama air dalam jumlah sangat besar ketika turun hujan lebat. Mau Jakarta bebas banjir, tetapi  membuat bantarankali sebagai pemukimannya, dan membuang segala jenis sampah langsung ke kali.

Kalau rakyat Hongkong dan Kuala Lumpur pantang membuang sampah sembarangan di jalanan, maka bagi orang Indonesia, jangankali jalanan, sungai dan kali pun merupakan “tempat paling ideal” untuk membuang sampah, langsung dari rumah, praktis dan efesien!

*****

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: