BENTROK TNI-POLRI ISYARAT DEMORALISASI

ANTARA News

Kasus bentrok TNI – Polri Sudah Pada Tingkat Demoralisasi

Selasa, 1 September 2015 08:33 WIB

Kasus bentrok TNI - Polri sudah pada tingkat demoralisasi

TB Hasanuddin (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) – Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menyebutkan, perkelahian anggota TNI dan Polri akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan, termasuk bentrokan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia bahkan menyebutnya sudah pada tingkat demoralisasi.

“Ini sudah lewat dari kewajaran, sudah bukan disebut pelanggaran disiplin lagi, tapi sudah menjurus kepada demoralisasi,” kata TB Hasanuddin dalam rilisnya di Jakarta, Selasa.

Alasannya, kata politisi PDIP ini, kejadian itu terus menerus terjadi dengan frekuensi yang sangat tinggi hampir tak bisa dikendalikan.

“Pelakunya sudah bukan perorangan lagi, tapi selalu dalam hubungan kelompok dan sudah tak punya rasa takut pada hukuman bahkan ancaman. Mulai dari perwira rendah, panglima, kepala staf bahkan presiden sudah turun, tapi tak ada hasilnya, konflik terus saja berlanjut,” kata purnawirawan TNI AD itu.

Dia melihat demoralisasi ini merata terjadi di wilayah NKRI hanya karena masalah sepele.

“Presiden harus serius turun tangan meminta pertanggungjawaban perwira level atas setingkat Pangdam dan Kapolda. Berikan sanksi bila kasus terjadi di wilayahnya,” kata dia.

Kalau masih terus terjadi tanpa bisa dihentikan, akan sangat fatal dan bukan semata mengganggu integritas aparatur negara tapi bisa menjurus ke konflik yang lebih besar.

“Dan kepercayaan rakyat lama-kelamaan akan pudar. Siapa yang akan mengawal NKRI kalau mereka sibuk berkelahi?” demikian TB Hasanuddin.

Editor: Jafar M Sidik

Tempo.Co

Senin, 31 Agustus 2015 | 11:41 WIB

TNI-POLRI RIBUT DI POLEWALI MANDAR: POS POLISI DAN 7 KENDARAAN DIBAKAR

TNI-Polri Ribut di Polewali Mandar: Pos Polisi dan 7 Kendaraan Dibakar  
Ilustrasi. TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO.CO, Makassar – Situasi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sempat memanas dan mencekam pasca-penembakan yang menewaskan Prajurit Dua Yuliadi, anggota Batalion Infanteri 721/Makkasau, Ahad, 30 Agustus 2015. Juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, mengatakan pasca-penembakan itu, sejumlah sarana dan prasarana milik Korps Bhayangkara dibakar dan dirusak.

Berdasarkan hasil pendataan, Barung mengatakan sarana dan prasarana milik kepolisian yang dibakar adalah 1 pos polisi di Palippis, 1 mobil boks milik Kepolisian Resor Polewali Mandar, dan 6 sepeda motor dinas. Di samping itu, terdapat satu sepeda motor yang merupakan barang bukti dan satu sepeda motor milik anggota kepolisian.

“Pos polisi Palippis dan enam sepeda motor dibakar habis. Lalu mobil dirusak, pecah kaca depan dan samping. Juga ada sepeda motor barang bukti dan sepeda motor milik anggota kepolisian,” ucap Barung, Senin, 31 Agustus 2015. Di samping itu, dua polisi terluka di bagian kepala dan lebam pada muka.

Barung menuturkan pihaknya masih bersama Komando Daerah Militer VII/Wirabuana akan melakukan penyelidikan ihwal perkara pokok berupa penembakan yang menewaskan prajurit TNI tersebut. Di samping penyidik kepolisian, TNI tentunya akan menerjunkan Polisi Militer guna mengusut kasus itu. Hasil penyelidikan nantinya merupakan domain pihak pimpinan untuk mengeksposnya.

Kasus penembakan itu diawali pertengkaran yang melibatkan anggota patroli bermotor Polres Polewali Mandar dengan salah seorang anggota Kodim 1401/Majene, Prajurit Kepala Laksmono. Laksmono bersama temannya sedang menonton balapan road race. Karena memasuki lintasan balapan, Laksmono ditegur dan didorong anggota kepolisian itu.

Saat Laksmono menyampaikan bahwa dia merupakan anggota TNI, korban didatangi dan dipukuli polisi itu. Perkelahian pun tidak terhindarkan. Beruntung, Kepala Polres Polewali Mandar dan pihak Kodam VII/Wirabuana langsung ke TKP dan melerai perkelahian. Kedua pihak yang bertikai pun langsung didamaikan.

Berselang dua jam kemudian, terdengar letusan di area sirkuit, tapi bukan di lokasi pertama. Saat dilakukan pemeriksaan, anggota Kompi B Batalion Infanteri 721/Makkasau, Prajurit Dua Yuliadi, sudah ditemukan bersimbah darah dengan luka tembak pada bagian perut sebelah kiri. “Setelah terjadi tembakan, korban coba dibawa ke rumah sakit tapi sudah tidak tertolong,” ucap Kepala Staf Kodam VII/Wirabuana Brigadir Jendral TNI Kurnia Dewantara.

Jenazah Prada Yuliadi rencananya akan dimakamkan hari ini di kampung halamannya di Dusun Kading, Desa Wae Kecce’e, Kecamatan Lapri, Kabupaten Bone, pukul 12.30 Wita, Senin, 31 Agustus 2015.

Pemakaman Pratu Yuliadi dilakukan secara militer dan rencananya akan dihadiri langsung oleh Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayjen TNI Bachtiar.

Kepala Penerangan Masyarakat (Kapenrem) Korem 141 Toddopuli Mayor Rudi menuturkan pemakaman militer akan dilakukan hari ini di rumah kediaman Prada Yuliadi. Almarhum merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Dire dan Hj Wati.

“Pukul 12.30 Wita nanti akan dikebumikan. Jajaran Korem 141 Toddopuli sudah di lokasi terlebih dahulu untuk mensterilkan lokasi,” kata Mayor Rudi.

ANDI ILHAM | TRI YARI KURNIAWAN

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: