“…NRMnews.com – JAKARTA, Keributan pecah saat personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dikerahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menggusur bangunan yang dihuni oleh warga Kampung Pulo, Jakarta Timur, pada Kamis (20/08/2015). Pemprov DKI beralasan penggusuran Kampung Pulo merupakan bagian dari rencana pemerintah menormalisasi sungai Ciliwung.

Rencana normalisasi tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana tata Ruang Wilayah Tahun 2030 dan Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detil Tata Ruang (RDTR), rencana sodetan untuk pembangunan danau serta perubahan peruntukan tanah di Kampung Pulo dan Bidara Cina.

Direktur Ciliwung Merdeka, I.Sandyawan Sumardi menjelaskan Kampung Pulo memiliki nilai sejarah yang kuat. Kampung seluas 8,5 hektare dengan 3.809 Kepala keluarga bertempat kawasan bantaran sungai Ciliwung tersebut dahulu merupakan bagian dari kawasan Messter Cornelis pada masa kolonial Belanda.

Meskipun demikian pemerintah mengklaim bahwa warga tinggal secara ilegal di lahan negara. Kini, Kampung bersejarah tersebut digusur dengan alasan normalisasi sungai Ciliwung. Terkait kerusuhan yang terjadi, Romo Sandyawan mengatakan mereka telah bersepakat untuk tidak melawan.

“…Kesepakatan itu masih dipatuhi meski warga sudah berhadapan langsung dengan aparat gabungan. Warga bersedia mundur setelah barisan aparat gabungan mundur lebih dulu…”, tuturnya.

Warga, kata Sandyawan, juga mengajukan surat kesepakatan bersama tentang penggusuran. Isinya, permintaan agar penggusuran hanya dilakukan kepada rumah yang sudah dikosongkan pemiliknya. Aparat menyetujuinya. Namun, Camat Jatinegara Sofyan Taher menolak menandatangani surat tersebut.

Menurut Sandyawan, Sofyan menyatakan semua rumah yang terdata wajib dibongkar. Pernyataan itu memicu kemarahan warga. Selain itu, di saat yang bersamaan ada anggota aparat gabungan yang menembakkan gas air mata ke arah warga. “…Warga jadi terprovokasi,selanjutnya keributan pun terjadi…”, kata dia.

Sandyawan berujar keadaan semakin buruk lantaran banyaknya warga yang tumpah ke Jalan Jatinegara Barat. Informasi simpang siur yang beredar di kalangan warga juga semakin beragam dan menimbulkan banyak spekulasi tentang kelanjutan penggusuran.

( Oleh : Red.NRMnews.com / Dwi Pravita – Editor : A. Dody R.)

Keterangan: Huruf tebal dalam artikel ini berasal dari Redaksi NRMnews.com.