TEATRIKAL CILIWUNG LARUNG

“…PENTAS sENI tEATRIKAL CILIWUNG LARUNG…” Ekspresi Seni Komunitas Remaja Bantaran Kali

“…NRMnews – Jakarta – Pada tanggal 5-6 Juni 2011 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Komunitas warga bantaran Sungai Ciliwung Bukit Duri – Kampung Pulo mengadakan pementasan budaya berupa teater musikal yang bertajuk “…Ciliwung Larung…” Bagi warga bantaran kali, Ciliwung bukanlah sekedar nama sungai, namun juga ruang hidup dimana seluruh tatanan kehidupan berlangsung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh warga Bukit Duri – Kampung Pulo. Suatu komunitas ruang sisa yang hidup diantara rel kereta api dan pinggir sungai Ciliwung di Ibukota Negara.

“…Larung…” dalam bahasa Jawa secara harfiah artinya dihanyutkan di sungai atau laut. Tapi bukan dalam arti dibuang, namun “…di Sucikan…” atau di Sempurnakan…” Dalam teater ini, istilah Larung merupakan doa / harapan agar perjuangan sekelompok manusia bantaran Sungai Ciliwung ini dalam memperoleh hak dan martabatnya menjadi suatu simbol “…Perjuangan Kebangkitan yang di Sucikan…” Sehingga dapat lebih Bebas Merdeka, lebih hidup, tumbuh, berkembang dan bangkit.

Ciliwung Larung mengisahkan tentang Siti Nurani, anak perempuan dari Mak Dukana, pemimpin moral spiritual sejati bagi warga bantaran kali. Karena pergaulannya sebagai aktivis kampung, Siti Nurani yang sudah lama ditinggalkan suaminya yang menikah lagi. Kemudian berkenalan dan menikah dengan Gibon seorang ketua pemuda kampung yang dinamis, vokal, dan atraktif.

Gibon kerap berinteraksi dengan warga kampung dan berdialog tentang berbagai permasalahan dari BBM, korupsi, masalah nafkah hidup, tata hidup bertetangga, tata ruang hingga isu penggusuran yang kerap dibantah oleh tokoh-tokoh elit kampung. Namun kenyataannya penggusuran tetaplah dilakukan…! Dikirimkanlah polisi, aparat Satpol PP dan para preman yang menjadi garda depan proses penggusuran paksa.

Maka Warga tentu saja melawan. Wujud perlawanan Siti, Gibon, Mak Dukana, dan solidaritas warga adalah dengan perjuangan aktif tanpa kekerasan. Dengan solidaritas dan keswadayaan, berdiri di atas kaki sendiri. Dan harapan itu pun tersalurkan melalui datangnya dua orang Aktivis Mahasiswa di tengah obrolan warga kampung. Bersama-sama mereka merancang program Ciliwung Merdeka. Pendidikan alternatif, swadaya kesehatan masyarakat, tata ruang kampung swadaya, pendidikan swadaya ekonomi masyarakat, pendidikan seni budaya rakyat, pendidikan lingkungan hidup, dan pusat latihan daya pinggiran menjadi program perjuangan warga Ciliwung.

Klimaks cerita terjadi saat kampung luluh lantak akibat banjir, kebakaran, dan penggusuran paksa, tepat pada saat akhir penggusuran paksa tersebut. Mak Dukana, orangtua yang menjadi ibu bagi seluruh perjuangan warga kampung selama ini pun meninggal dunia. Dan pada saat yang sama Siti Nurani pun melahirkan anaknya. Kekontrasan yang ditunjukkan dengan adanya kematian dan kelahiran pada saat bersamaan mendatangkan kesadaran baru baik bagi Siti Nurani dan Gibon, maupun seluruh warga kampung. Kesadaran kritis bahwa hidup ini harus diperjuangkan, diretas dan dibebaskan..! Sungguh merupakan rahmat Tuhan sang Pembebas sebagai pengalaman kebangkitan bersama..!

Adalah Romo I. Sandyawan Sumardi, Rohaniwan Katholik sekaligus Budayawan dan Aktivis Pejuang HAM Kondang sejak masa Orde Baru itu adalah , yang mengakrabi warga bantaran kali Ciliwung sekaligus membantu menetaskan embrio seni yang terpendam dalam komunitas pinggiran yang terasing dari pesatnya kemajuan Ibukota Jakarta. Sekitar 75 anak-anak dan warga Bukit Duri dan Kampung Pulo, yang sebagian besar adalah anak-anak dan remaja, unjuk kemampuan dalam mengungkapkan aspirasi masyarakat melalui media seni teater ini.

“…Larung sebagai suatu simbol Ritual disini merupakan sebuah pengalaman hidup. Gerak bersama tumbuhnya kesadaran kolektif untuk bangkit bersama dari stigma keterpurukan. Mereka membuktikan kepada diri sendiri untuk bisa mencapai kesetaraan. Memang dalam cerita ini lebih banyak diangkat perjuangan anak muda dan perempuan dengan kisah tentang Penggusuran Paksa…” Ungkap Romo Sandyawan kepada Red NRMnews. Dalam pendekatan kepada warga Kampung Pulo-Bukit Duri ini, Romo Sandyawan telah menghabiskan waktu hampir 11 tahun hingga saat ini. Namun baru pada Tahun 2010 Romo Sandyawan menulis naskah dan lagu untuk ekspresi seni budaya Remaja Bantaran Kali Ciliwung.

“…Sebenarnya ini adalah karya bersama, saya hanya menulis lagu dan menyampaikan plot cerita, kemudian anak-anak itu yang meneruskannya, jadi ini seperti reality show, saya hanya menambahkan bagian-bagian yang berisi kalimat sastra dan meramu sedikit masalah politik…” Ujar Romo Sandyawan lebih lanjut kepada Red NRMnews “…Ternyata anak-anak ini sangat berbakat dan banyak sekali pemain alam. Bahkan kadang orang – orang pun tak percaya…Masa sihitu Anak – anak Ciliwung…? lanjut Romo Sandyawan sambil tertawa.

Bantaran Sungai Ciliwung memang bukanlah tempat yang ideal untuk hidup. Resiko banjir, penyakit, kebakaran besar dan penggusuran selalu merongrong warga tiap tahunnya. Apalagi ancaman banjir bandang tiap 5 tahun yang melanda Ciliwung. Sebenarnya hampir semua warga pinggiran tidak ada yang mengiginkan tempat seperti itu. Mereka ilegal menurut hukum dan selalu kalah. Pendekatan yang di inginkan mereka dari Pemerintah adalah melalui pendekatan Hak – hak Asasi. Seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD 45. Yang mencakup Hak atas tanah, tempat tinggal, pekerjaan dan pendidikan sosial, namun hal itupun seakan sulit mereka dapatkan.

Pemerintah dirasa timpang dalam hal penegakan hukum bagi masyarakat kelas bawah dan atas. Misalkan perizinan tinggal di bantaran sungai. Warga urban diilegalkan namun setelah digusur boleh dibangun Perumahan Elite atau Mall – Mall…” Maka mereka mengusahakan daerah sesempit apapun untuk dikelola secara efektif. Mereka berusaha mendesain kampungnya sendiri dan mereka ajukan pada pemerintah untuk menunjukkan bahwa mereka mampu mengelola tempat tersebut.

Melihat kenyataan yang ada, maka Romo Sandyawan dan Komunitas Warga Bukit Duri-Kampung Pulo lewat syair-syair balada, musik kerakyatan, seni ekspresi, seni gerak tubuh, seni teater kontekstual meramu Pementasan Budaya Teater Musikal Ciliwung Larung. Teater Musikal Koreografis yang total sebagai pedagogi belajar Komunitas Pinggiran. Agar orang-orang yang menontonnya di harap dapat melihat, mendengar, merasakan , dan mencerna suara ungkapan Jiwa para warga. Tidak hanya situasi ketidakpastian, keterasingan, situasi batas daya kemampuan hidup mereka, tetapi juga dengan kerinduan, semangat perjuangan bersama, kegembiraan, dan harapan-harapan mereka. Melalui kesempatan ini pula Romo Sandyawan mengungkapkan harapannya agar Pendidikan Kesetaraan untuk memandang sesama dalam Kebhinekaan ini perlu dihargai. Karena setiap komunitas memiliki suatu kemampuan dan kearifan lokal untuk survive dari situasi alam atau politik yang tidak menguntungkan sekalipun. Dan sebagian harapan tersebut sudah dapat direalisasikan dalam Program Ciliwung Merdeka. Pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan keterampilan untuk survive di tempat yang baru. Dengan memasukkan berbagai kegiatan Swadaya yang Kreatif. Sebagai bekal Ketrampilan bagi mereka, jikalau pada akhirnya mereka terpaksa harus TERGUSUR.

Oleh  :  Red NRMnews / Santi Widianti

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: