MENELUSURI JEJAK TUHAN

Sinar Harapan Online

Menelusuri Jejak Tuhan

Agama-agama lokal di Nusantara merupakan salah satu unsur kebudayaan Austronesia.

29 Agustus 2015 17:02
 

Antara Foto / Budi Candra Setya

RITUAL SUKU OSING – Seorang anak menarikan tarian Seblang Olehsari di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (28/7). Seblang Olehsari merupakan tarian magis ritual suku Osing yang bertujuan untuk bersih desa dan menolak bala.

Apakah Tuhan itu dan bagaimana rupanya? Di Indonesia, di masa lalu, rupa Tuhan muncul dalam berbagai bentuk, tergantung mata pencahariannya. Ia adalah sesuatu yang tidak sama dengan manusia. Sebaliknya, Ia adalah sesuatu yang lebih di luar manusia.

Sejarawan dari Universitas Padjajaran (Unpad), Widyo Nugrahanto, mengungkapkan rupa Tuhan telah muncul jauh sebelum budaya dan agama dari mancanegara masuk ke daratan Indonesia—dulu Nusantara. Rupa Tuhan itu kemudian muncul dalam kepercayaan atau agama-agama lokal di tingkat kesukuan.

Dari sisi sejarahnya, agama-agama lokal di Nusantara merupakan salah satu unsur kebudayaan Austronesia. Setiap suku memiliki perbedaan tentang Yang Maha Kuasa, yang harus disembah. Suku yang hidup di daerah agraris akan menyembah Dewi Kesuburan. Suku yang bermatapencaharian di laut akan menyembah Dewa Angin ataupun Petir.
Penggunaan dewa atau dewi karena adanya konsep Bumi dan langit. Bumi mewakili perempuan, langit mewakili simbol lelaki. “Awal mulanya kepercayaan timbul berdasarkan mata pencaharian,” ujarnya kepada SH, Rabu (26/8).

Namun, bangsa Austronesia yang menyebar di berbagai pulau di Nusantara memiliki bahasa yang sama dalam menyebut nama Tuhan, dengan sebutan Sang Hyang, artinya sesuatu yang melebihi kita. Itu bisa dilihat dari bahasa yang digunakan di Sunda Tua, Jawa, dan Bali.

“Nenek moyang kita menyembah roh. Awalnya dinamisme, mereka beranggapan semua benda di dunia ini memiliki daya gerak. Itu kemudian berubah menjadi bukan daya gerak, melainkan benda memiliki roh. Di situlah awalnya animisme. Itu lalu berubah lagi, bukan sekadar roh atau jiwa, melainkan Maha, yang dijuluki dengan Sang,” tuturnya.

Penemuan kata Sang itu menjadi titik awal, mereka menemukan ketuhanan. Sang tersebut muncul dalam berbagai macam gambar di laut maupun gunung. Namun, kebanyakan Sang pada masa itu tidak berwujud.

“Wujud Sang berubah berdasarkan suku-suku. Ada yang berwujud dan tidak berwujud,” katanya. Perbedaan wujud Sang terjadi karena perkembangan pola pikir yang berasal dari internal maupun eksternal.

Ada dua teori penyebaran kebudayaan, yakni Monogenesis dan Poligenesis. Monogenesis adalah munculnya kebudayaan di satu tempat kemudian menyebar ke mana-mana seperti aliran sungai. Polygenesis, kebudayaan muncul di mana-mana, tetapi tidak seperti aliran sungai yang mengalir di mana pun.
Sinkretis

Perkembangan agama-agama lokal tersebut mulai tereduksi ketika Indianisasi pada awal abad pertama Masehi. Indianisasi ini mewarnai tata cara yang dipakai untuk menyebut Sang. “Di sana mulai ditambahi dewa. Ada tiga dewa dalam Hindu,” katanya.

Meski demikian, tata cara penyembahan Hindu-Buddha yang masuk ke Indonesia dilakukan secara sinkretis, berdampingan dengan upacara ala Austronesia. Salah satu upacara ala Austronesia yang masih tersisa saat ini adalah Serentaun.
Upacara ini merupakan penghormatan pada Dewa Kesuburan yang dilakukan oleh masyarakat Sunda agraris. Upacara ini merupakan ucapan syukur atas keberhasilan panen setelah satu tahun bekerja keras di pertanian. “Mereka bersyukur dengan cara berbagi dengan tetangganya,” ujarnya.
Contoh perkawinan antara budaya Hindu dan Austronesia muncul pada masyarakat Bali. Dalam upacara Galungan atau Nyepi, masyarakat Bali membawa simbol-simbol nasi gunungan. “Itu asli Austronesia. Hindu di India tidak seperti itu. Nasi gunungan mewakili bentuk Gunung Mahameru,” tuturnya.

Gunung dalam budaya Jawa menjadi perlambang kesucian karena dianggap sebagai penyambung antara langit (lelaki) dan Bumi (perempuan). Konsep ini kebalikan dari budaya Sunda. “Hujan adalah proses pembuahan, sehingga membuahkan kesuburan,” ucapnya.

Masa akhir Austronesia ditandai dengan kemampuan nenek moyang membuat punden berundak sebagai tempat ibadah, dengan cara memberikan sesaji kepada Tuhan mereka. Pada masa itu, Sang Yang bukan lagi animism, melainkan politeisme. Sisa-sisa kebudayaan ini masih ada. “Dalam masyarakat Jawa, setiap tempat ada penguasanya yang disebut danyang atau Tuhan kecil. Di sana ada proses ritual tersendiri untuk menghormatinya. Namun, sembahyang adalah ritual untuk menyembah Tuhan yang Sang,” katanya.

Penyebaran Hindu-Buddha ke Indonesia terjadi ketika Iskandar Zulkarnaen (Alexander The Great) melakukan ekspansi ke India. Akibat ekspansi itu, banyak pendeta lari ke timur menuju pulau di Indonesia. Pelarian ke timur ini dilatarbelakangi cerita Ramayana. Dalam cerita itu, Hanoman ditugasi mencari pohon Sang Jiwani untuk menyembuhkan Laksmana.

“Perintahnya ke arah matahari terbit di timur. Mereka terus menemukan gunung bersalju,” ujarnya. Namun, ada perbedaan mengenai gunung tersebut. Ada yang berpendapat gunung tersebut adalah Gunung Kinabalu, sebagian lainnya menyebut Gunung Jaya Wijaya. “Saat itulah mereka menyebarkan pengaruhnya, kemudian terjadi percampuran,” ucapnya.

Dalam penyebarannya, pengaruh India tersebut tidak sampai ke Indonesia Timur. Penyebaran mereka hanya ke wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Bali, dan Lombok. Kebudayaan mereka paling banyak bertahan di Pulau Jawa dan Bali. “Tapi yang di Bali itu Hindu sinkretis,” ujarnya.

Ada empat teori besar terkait penyebaran agama Hindu-Buddha ini. Teori satria menyebutkan, penyebaran dilakukan dengan cara penaklukan yang dibuktikan dengan penghancuran Sriwijaya. Teori Waisya menyebutkan, penyebaran agama melalui perdagangan yang terjadi antara Indonesia dan India. “Orang India beli padi dan tarum ke Indonesia,” katanya.

Teori Brahmana menyebutkan, selain penaklukan dan perdagangan, datang pula kaum Brahmana. Mereka kemudian mengajari agama. “Keempat adalah teori arus balik. Orang-orang Indonesia berlayar ke India kemudian mereka membawa kembali ajaran itu ketika pulang,” ujarnya.Setelah Hindu-Buddha, budaya dan agama dari Timur Tengah datang Indonesia. Islam datang pada abad VII, IX, dan XIII. “Tapi itu debatable karena ada yang menyebutkan abad XV. Peran Tiongkok dalam penyebaran Islam luas sekali,” katanya.

Untuk sampai ke Indonesia, mereka menggunakan jalur perdagangan yang sama dengan India. Mereka saat itu belum mengetahui keberadaan Selat Malaka sehingga berlayar melalui pantai barat Sumatera. Setelah mengetahui keberadaan Selat Sunda, mereka berlayar ke utara dan mendarat di Jawa. “Setelah menemukan Malaka, kemudian Jawa, mereka masuk pada bandar perdagangan. Penyebaran Islam ke Indonesia karena adanya dorongan politis, ekonomi, dan agama. Dorongan politis itu diwujudkan dalam pembentukan kerajaan-kerajaan. Perdagangan diwujudkan dengan masuknya kaum muslim tersebut menjadi bandar-bandar dagang. Dorongan agama dengan cara membentuk pesantren-pesantren,” tuturnya.

Penyebaran Islam merata hampir di seluruh wilayah Nusantara. “Namun, ada yang pengaruhnya kuat, ada yang sedikit,” ucapnya. Belakangan pada abad XVI, agama Nasrani masuk dengan cara kolonilaisasi oleh bangsa-bangsa Eropa, yakni Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol. Namun, dalam praktiknya, negara-negara tersebut memiliki karakteristik kolonialisasinya. Belanda dan Inggris adalah negara yang mempraktikkan imperialisme di bidang ekonomi. “Jadi, yang diperas ekonominya,” ujarnya.

Portugis dan Spanyol melaksanakan imperialism secara budaya. “Jadi, dipaksakan penghancuran budaya-budayanya,” ujarnya. Daerah-daerah yang tidak terlalu kuat pengaruh Islamnya menjadi tujuan penyebaran agama Nasrani.

Kenapa agama-agama lokal di Indonesia akhirnya tersisih dibandingkan agama dari mancanegara? Widyo mengatakan, perbandingan agama luar negeri dan lokal bagaikan industri rumahan (home industry) yang bermodal kecil dan kapitalis yang bermodal besar. “Banyak tempat yang disucikan orang Jawa direbut agama-agama dari luar negeri,” katanya.  (*)

Sumber : Sinar Harapan

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: