YOSEPH TUGIO TAHER TENTANG BUKU “PIKIR ITU PELITA HATI”

Sambutan Yoseph Tugio Taher, Buku Karya Suar Suroso “Pikir Itu Pelita Hati”

Posted by’Chan CT’ SADAR@netvigator.com [GELORA45] toGELORA_In,
Aug 31 at 2:06 PM

SAMBUTAN CHALIK HAMID

Penerbit ULTIMUS sudah menerbitkan karya Suar Suroso:
PIKIR ITU PELITA HATI, ILMU BERFIKIR MERUBAH DUNIA,
DARI MARXISME SAMPAI TEORI DENG XIAOPING.
BUNG KARNO memiliki cita‐cita luhur dan tinggi untuk membangun bangsa dan negara Indonesia. Sejak perjuangan pembebasan negeri hingga tercapainya kemerdekaan RI, Bung Karno senantiasa berjuang dengan teguh dan tanpa kompromi melawan kaum kapitalis dan imperialis serta budak‐budaknya, baik di dalam maupun di luar negeri.

Setelah tercapai kemerdekaan, lagi‐lagi Bung Karno menunjukkan niat dan tujuan bahwa negeri Indonesia jangan sampai dikuras oleh modal asing. Bung Karno memiliki sikap bahwa negeri Indonesia yang sudah dibebaskan dengan darah dan keringat, harus dibangun oleh bangsanya sendiri dengan menggunakan tenaga para pemuda Indonesia. Ia berusaha agar pembangunan negeri dilakukan oleh putra‐putri Indonesia, terbebas dari para ahli dan teknisi asing. Oleh sebab itu, sejak semula Bung Karno berusaha membangun kader‐kader muda dengan mengirimkan mereka untuk belajar ke luar negeri, di samping yang ditempa di berbagai universitas di dalam negeri. Bung Karno, melalui Kementerian Pendidikan, mengirim para
pemuda/i belajar ke Amerika Serikat dan Kanada, ke negeri‐negeri Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris, dan Belanda. Tidak kurang banyaknya juga dikirim ke Rusia (dulu pusat Uni Republik Sosialis Sovyet), Bulgaria, Hongaria, Republik Ceko (dulu bergabung dengan Slowakia menjadi Cekoslowakia), Rumania, Polandia, dan Albania. Banyak pula dikirim ke Tiongkok, Jepang, Korea, Australia, hingga Kuba. Namun, pada akhirnya cita‐cita luhur dan besar Bung Karno itu mengalami kegagalan sebagai akibat berhasilnya jenderal fasis Soeharto merampas kekuasaan dari tangan pemerintahan sah Bung Karno.

Soeharto dengan kejam menjadikan Bung Karno sebagai tahanan rumah dan akhirnya meninggal dunia karena penyakitnya tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Soeharto berhasil merekayasa Tap MPRS No.25/1966 yang melarang keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan melarang ajaran Marxisme–Leninisme di Indonesia. Soeharto juga berhasil menelurkan Tap MPRS No.33/1967, di mana Presiden Soekarno dinyatakan sebagai pengkhianat karena memihak PKI. Dengan demikian, seluruh kekuasaan negara RI sepenuhnya jatuh ke tangan Jenderal Soeharto dan dengan leluasa ia melakukan pembunuhan terhadap rakyat Indonesia. Tidak tanggung‐tanggung ia telah membunuh 3 juta rakyat Indonesia, mengasingkan ribuan patriot dan pejuang ke Pulau Buru. Penjara di seluruh Indonesia penuh sesak, pemerkosaan dan pencabulan terhadap kaum wanita yang dilakukan oleh ABRI terjadi di mana‐mana.

Demikian pula yang terjadi terhadap warga Indonesia yang berada di luar negeri. Terhadap para mahasiswa terutama yang belajar di Eropa Timur dilakukan pemaksaan. Beberapa KBRI orba di berbagai negara Eropa Timur memaksa para mahasiswa agar mengakui pemerintahan Soeharto sebagai pemerintahan yang sah. Namun, sebagian besar mahasiswa tidak mau mengakui kekuasaan Soeharto, mereka tetap mengakui Bung Karno sebagai Presiden RI dan bahkan mengutuk pemerintahan Soeharto.

Sebagai akibat perlawanan ini, beberapa KBRI orba Soeharto memanggil dan mencabut paspor para mahasiswa ikatan dinas (mahid) tersebut. Mereka kehilangan identitas dan terpaksa menjadi staatenloos (tidak memiliki kewarganegaraan). Mereka ini banyak terdapat di berbagai negeri, terutama di Eropa Barat seperti di Belanda, Jerman, Perancis, Swedia, dan negeri‐negeri
Eropa Timur seperti di Republik Ceko, Rusia, Hongaria, Polandia, Albania, Bulgaria, dan bahkan juga di Tiongkok, Hongkong, Kuba, dan Australia. Bersama dengan orang‐orang Indonesia lain yang pernah mendapat tugas di berbagai ormas internasional dan lembaga negara seperti KBRI, para mahid itu menjadi orang‐orang gelandangan di negeri orang. Sia‐sialah pengetahuan yang mereka peroleh dengan menamatkan studi yang mestinya diabdikan di Indonesia sesuai dengan keinginan dan harapan Bung Karno.

Suar Suroso, pengarang buku Pikir Itu Pelita Hati’ yang sedang kita hadapi ini merupakan salah seorang korban kebiadaban rezim fasis Jenderal Soeharto. Paspornya dirampas oleh KBRI di Moskow ketika itu. Ia termasuk orang yang dilarang pulang ke negeri leluhurnya, Indonesia. Betapa banyak orang sepertinya menjadi “orang kelayaban” di luar negeri, istilah yang dilontarkan Gus Dur ketika ia menjadi Presiden RI.

Saya kemukakan beberapa nama sekedar contoh sebagai orang yang tergusur dari negerinya. Duta Besar RI untuk RRT, Djawoto, dilantik Bung Karno bertugas di Beijing. Ia tak diizinkan pulang dan meninggal dunia di negeri Belanda. Saudara Sukrisno, pernah menjadi Dubes RI di Rumania dan Vietnam, meninggal dunia di Belanda dan dikubur di negeri itu. Saudara M. Ali Chanafiah, Dubes RI di Sri Langka, meminta suaka di Stockholm, Swedia. Kemudian kembali ke Indonesia dan meninggal dunia di sana. Saudara A.M. Hanafi, Duta Besar RI untuk Kuba, di zaman reformasi kembali dan meninggal dunia di Indonesia. Saudara Tahsin, Duta Besar RI di Mali, tidak bisa pulang
ke Indonesia, lalu minta suaka dan meninggal dunia di negeri Belanda.Beberapa nama lain yang pernah bertugas di berbagai lembaga internasional dan instansi negara di luar negeri: Yusuf Adjitorop (Josep Simanjuntak), anggota Politbiro CC PKI, Ketua Delegasi CC PKI di Tiongkok, meninggal dunia di Beijing; Wijanto Rachman, bertugas di Konakri, Guinea, meminta suaka dan meninggal dunia di Belanda; Agam Wispi, seorang penyair terkenal Indonesia, meninggal dunia di Belanda; A. Suhaimi, pemimpin redaksi harian Gotong Rojong Medan, meninggal dunia di Belanda; A.S.Munandar, dosen Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, meninggal dunia di Belanda; Z. Afif, dosen bahasa Indonesia di Universitas Kwangchow, meninggal dunia di Swedia; Sobron Aidit, dosen bahasa Indonesia di Universitas Beijing, meninggal dunia di Perancis; Anwar Dharma, wartawan Harian Rakjat Jakarta di Moskow, meninggal dunia Beijing; Kamaludin Rangkuti, dosen bahasa Indonesia di Bejing, meninggal dunia di
Belanda; Azis Akbar, sastrawan dari Medan, meninggal dunia di Jerman; Ibrahim Isa, perwakilan tetap Indonesia di Organisasi Internasional Solidaritas Rakyat‐Rakyat Asia–Afrika (OISRAA) di Kairo, kini berdomisili di Amsterdam, Belanda; Francisca Pattipilohy, kini bertempat tinggal di Amsterdam; Suar Suroso, mewakili Pemuda Indonesia dalam Gabungan Pemuda Demokratik Sedunia (GPDS) di Budapest, kini berdomisili di Tiongkok; Francisca Fanggidaej, berangkat ke luar negeri mengikuti Konferensi Yurist Internasional dan pernah mengikuti Konferensi Pemuda Asia Tenggara Kalkuta di India, meninggal dunia di Belanda; Umar Said, pemimpin redaksi harian Ekonomi Nasional Jakarta, meninggal dunia di Paris, Perancis; Utuy Tatang Sontany, pengarang drama (dramaturg) terkenal Indonesia, meninggal dunia di Moskow; Setiati Surasto, wakil SOBSI di Gabungan Serikat Buruh Sedunia berkedudukan di Praha, Republik Ceko, meninggal dunia di Swedia. Beberapa nama tokoh lainnya
adalah: Nungcik A.R.,Ketua Fraksi PKI dalam DPR GR meninggal dunia di Tiongkok; G.H. Simamora, meninggal dunia di Tiongkok; Rollah Sjarifah, penterjemah banyak karya Marxisme meninggal dunia di Belanda; Darmini mantan wakil Gerwani pada GWDS, Sofyan Waluyo, meninggal dunia di Swedia; Margono, wakil Pemuda Rakyat di Markas GPDS meninggal dunia di Paris; Budiman Sudharsono, anggota MPRS, mantan Ketua Umum IPPI, wakil sekjen DPP Pemuda Rakyat meninggal dunia di Paris; Willy Hariandja, meninggal dunia di Tiongkok; Supangat, meninggal dunia di Belanda; Aslam Hariadi, meninggal dunia di Belanda; Rustomo, meninggal dunia Tiongkok; Rumambi, meninggal dunia di Tiongkok; Zaelani, anggota Politbiro CC PKI, meninggal dunia di Belanda; Surjo Subroto, meninggal dunia di Belanda; Kondar Sibarani, meninggal dunia di Jerman; Supeno, pimpinan Kantor Berita Antara meninggal dunia di Belanda; Suryono, meninggal dunia di Belanda; Didi Wiharnadi wakil sekjen SOBSI dan
Suparna Sastradiredja, tokoh Sarbupri, meninggal dunia di Belanda. .

Saya sengaja menuliskan nama‐nama tersebut di atas agar orang bisa mengetahui apakah tokoh‐tokoh tersebut masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dengan demikian bisa diketahui di mana kuburnya. Sekaligus orang akan mengetahui betapa kejamnya perlakuan orde baru yang dikepalai Jenderal Soeharto terhadap warganya. Dalam nama nama tersebut di atas belum termasuk nama para mahid (mahasiswaikatan dinas) yang dilarang pulang ke Indonesia dan meninggal di luar negeri serta dikuburkan di negeri orang.

Sebenarnya Presiden Gus Dur pernah melakukan niat baik untuk memulangkan orang‐orang Indonesia yang terhalang pulang dan bergelandangan di luar negeri. Awal tahun 2001 ia mengirimkan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, agar memulangkan mereka ke Indonesia. Yusril pun berusaha mengumpulkan masyarakat Indonesia di Kedutaan Besar RI di Belanda. Ia menjelaskan bahwa dalam waktu dekat ia akan mengembalikan “orang‐orang kelayaban” itu ke tanah tumpah darahnya. Namun, setelah ia kembali ke Indonesia, ia pun melupakan janji yang pernah ia ucapkan. Ia mendapat tekanan dari partainya, PBB (Partai Bulan Bintang), seolah‐olah Yusril akan menghidupkan kembali komunisme di Indonesia. Sebuah pandangan yang tidak sesuai dengan kenyataan konkret di Indonesia, dan akhirnya menteri terhormat ini bungkam seribu bahasa. Tak lama kemudian Gus Dur pun terjungkal dari kursi kepresidenan. Usaha pemulangan para mahid itu pun lenyap bagaikan secangkir air tumpah
ke pasir.

Tulisan ini sudah menerawang jauh, hampir meninggalkan tugasnya sebagai kata sambutan terhadap terbitnya buku Pikir Itu Pelita Hati. Menurut pendapat saya, buku Suar Suroso yang kesepuluh ini hampir mirip dengan buku‐buku terdahulu, sejak yang pertama hingga yang kesembilan, Akar dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno, kecuali buku ketujuh—Jelita Senandung Hidup dan kedelapan—Pelita Keajaiban Dunia. Dua buku, ketujuh dan kedelapan itu, merupakan kumpulan puisi yang menyenandungkan tanah air Indonesia, keindahan alamnya, kekayaan buminya, kecintaan rakyat terhadap negerinya. Di luar dua buku ini, buku‐buku lainnya saling bertautan dan saling mengisi, merupakan sejarah perkembangan masyarakat pada zamannya.

Oleh sebab itu, buku‐buku ini sangat berguna bagi siapa pun, terutama bagi generasi muda dan penerus bangsa, agar bisa belajar dengan baik dalam meneliti perkembangan masyarakat dengan berbagai ideologi dan ajaran‐ajaran keyakinan yang berkembang sesuai dengan zamannya. Kita bisa belajar bagaimana berbagai ajaran Hindu, Buddha, Kejawen, bahkan sampai masuknya Islam ke Indonesia. Namun juga merupakan satu kenyataan, kita tidak bisa menampik, merasuk dan berkembangnya ajaran Marxisme–Leninisme lewat karyakarya Alimin, Tan Malaka, Njoto, D.N. Aidit, dan bahkan Bung Karno dengan tulisannya Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.

Sangat menarik dimuatnya dalam buku ini sebuah bantahan seolah Mao Zedong menghasut Aidit untuk mengadakan sebuah gerakan di Indonesia ketika Bung Karno menderita sakit. Bantahan demikian ini sangat diperlukan dalam usaha pelurusan sejarah yang dipelintir oleh orde baru, terutama untuk pembelajaran bagi generasi muda. Termasuk pelurusan anggapan bahwa PKI turut sebagai dalang G30S.

Dalam kumpulan puisi Di Negeri Orang, Nurdiana menulis sebuah puisi dengan judul “Adat Hidup”. Penulis Nurdiana tak lain adalah nama pena Suar Suroso dalam penulisan puisi. Dalam puisi itu ia menuliskan:

Bila dahaga,
sungguh terasa nikmatnya air,
di kala lapar,
terasa benar lezat makanan;
kapan kepanasan,
terasa nyaman embun di pagi hari;
ketika dingin,
amat terasa hangat api membara;
bilamana gelap dicengkam kelam,
betapa terasa terang sang Surya;
semasa terkurung di penjara,
alangkah terasa bahagia kebebasan.
Dan di kala terpaksa berkelana di pengasingan,
terasa nian
indahnya kampung halaman.

Buku Pikir Itu Pelita Hati, karya kesepuluh Suar Suroso ini mengandung banyak bahan pelajaran yang perlu diketahui oleh siapa pun, terutama bagi generasi muda penerus bangsa untuk meraih kemerdekaan penuh, terbebas dari neo‐kolonial dan neo‐liberal.

Presiden Jokowi ketika membagikan buku‐buku kepada anak‐anak generasi muda selalu berpesan, “Membacalah, dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan.”

Pada tanggal 16 Mei 2015, Suar Suroso genap berusia 85 tahun. Dalam usia tua ia masih terus kreatif melahirkan berbagai macam tulisan. Tentu saja kita menunggu karya‐karya Bung Suar selanjutnya yang sangat dibutuhkan anak bangsa.

Amsterdam, 10 Februari 2015

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: