TAKTIK PERJUANGAN KAUM NASIONALIS INDONESIA

Taktik Perjuangan Kaum Nasionalis Indonesia
Selama Pendudukan Jepang.

I. Pendapat Berbagai Kaum Pergerakan Terhadap Perang Pasifik.

Melihat pertarungan yang mulai menajam antara Amerika Serikat, Jepang dan Inggris dikawasan Pasifik, Sukarno memperkirakan bahwa pertentangan ini dapat memicu timbulnya Perang Pasifik. Analisa ini dikemukakan oleh Sukarno untuk pertama kalinya di depan kongres P.P.P.K.I (Permufakatan Perkumpulan Politik Kebangsaan Indonesia) kedua yang diselenggarakan tanggal 25 hingga 27 di Solo.

Keesokan harinya tanggal 28 Desember 1929, Sukarno berpidato di depan sebuah rapat umum di Yogyakarta mengulangi kesimpulannya tentang kemungkinan pecahnya Perang Pasifik. Hari berikutnya Sukarno ditangkap pemerintah kolonial Belanda bersama Gatot Mangkupradja lalu dibawa dengan kereta api dan dijebloskan ke penjara Banceuy di Bandung.

Selanjutnya Sukarno berpendapat meskipun Perang Pasifik tidak akan mendatangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi perang itu akan dapat mempercepat datangnya kemerdekaan itu. “Mempercepat” dapat diartikan sebagai datangnya suatu kesempatan bagi kaum nasionalis Indonesia “memanfaatkan pertentangan antara kolonialis Belanda dengan fasisme Jepang” sebagaimana Sukarno membuktikannya dikemudian hari.

Paro kedua tahun 1932 setelah menyelesaikan pendidikannya, Hatta kembali ke Indonesia. Ketika itu telah terdapat perbedaan pendapat mengenai taktik perjuangan antara Partindo yang dipimpin oleh Sukarno dengan PNI-Pendidikan yang dipimpin oleh Hatta.

Sukarno berpendapat bahwa tugas utama sekarang adalah melakukan agitasi dan aksi massa untuk machtsvorming. Pendapat Sukarno ini jelas berhubungan dengan analisanya tentang kemungkinan terjadinya Perang Pasifïk dimana ia mengatakan “Janganlah hendaknya kita belum sedia, kalau nanti musuh-musuh kita berkelahi satu sama lain dengan cara mati-matian di dekat negeri kita dan barangkali di dalam daerah negeri kita juga. Janganlah hendaknya kita kebutaan sikap, kalau lain-lain bangsa Asia dengan merapatkan diri satu sama lain tahu menentukan sikapnya didalam keributan ini.”

Sedangkan Hatta berpendapat bahwa PNI-Pendidikan mengutamakan pembentukan kader yang tahan uji dan mendidik massa. Pendapat Hatta ini di dasarkan kepada kenyataan bahwa kaum pergerakan belum cukup kuat, sehingga memerlukan waktu lama untuk dapat menumbangkan kolonialis Belanda di Indonesia. Kaum kolonialis Belanda dapat menggunakan kekuasaannya di Hindia Belanda menangkap, memenjarakan dan mengasingkan para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dengan pendidikan, kita dapat menyiapkan banyak calon-calon pemimpin. Bila pemimpin yang sekarang ditangkap dan dibuang oleh Belanda, maka telah tersedia pemimpin-pemimpin muda yang akan tampil memimpin perjuangan. “Agitasi baik pembuka jalan! Didikan membimbing Rakyat ke organisasi! Sebab itu usaha kita sekarang: Pendidikan!”.

Dalam usaha mencari titik temu antara Partindo dengan PNI-Pendidikan, pada tanggal 25 September 1932 Hatta berkunjung ke rumah Sukarno di Bandung dan bertemu dengan Sukarno dan Sartono. Dalam tukar pikiran tersebut, Sukarno mengatakan kepada Hatta bahwa mendidik rakyat supaya cerdas memerlukan waktu bertahun-tahun dan baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat. Hatta menjawab bahwa kemerdekaan mungkin tidak akan tercapai selagi ia masih hidup. Karena itulah dengan memberikan pendidikan kepada generasi muda, kita mengharapkan agar mereka meneruskan ajaran-ajaran kita dikemudian hari sehingga tercapailah kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang kita cita-citakan.

Perdebatan ini tidak mencapai kata sepakat diantara keduanya. Tanggal 31 Juli 1933 Sukarno dan beberapa pimpinan Partindo lainnya ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda. Sukarno akhirnya dibuang ke Ende, Flores. Penangkapan ini dilanjutkan dengan larangan bersidang dan berapat bagi partai-partai non-kooperasi (non-ko) seperti Partindo, PNI-Pendidikan, PSII dan Permi. Tak lama kemudian, pada tanggal 25 Februari 1934, Hatta dan beberapa pimpinan PNI-Pendidikan lainnya seperti Sjahrir, Bondan ditangkap dan dibuang ke Boven Digul, Irian Barat.

Melihat kemungkinan serangan Jepang ke Hindia Belanda, Hatta mengajukan pandangan agar rakyat Indonesia dan pergerakan rakyat tidak mengambil pendirian pro-demokrasi Barat atau kontra fasisme Jepang, tetapi tetap kepada cita-cita Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Kemudian dalam maklumat yang dibuat Hatta atas permintaan Mr. Amir Sjarifudin menjelang serangan Jepang, Hatta menulis bahwa perang yang terjadi di Hindia Belanda adalah perang antara tentara Jepang dengan angkatan bersenjata kolonial Belanda.

Perang Dunia kedua yang berkecamuk di Eropa dan Asia-Pasifik mengubah pandangan kaum pergerakan. Sjahrir dan Dr. Tjipto berpendapat fasisme lebih berbahaya bagi pergerakan nasional daripada kolonialis Belanda. Mereka menarik kesimpulan bahwa perlawanan terhadap kaum kolonialis Belanda tidak lagi merupakan tugas utama dari propaganda kaum pergerakan nasional. Pergerakan nasional hendaknya melepaskan sikap non-kooperasi terhadap Belanda. Kemerdekaan Indonesia berkaitan erat dengan kompleksitas situasi dunia dewasa ini. Tanpa sekutu, kita mungkin tidak bisa mempertahankan eksistensi kita. Disinilah terletak dasar dari politik praktis kita untuk melakukan kerjasama dengan Belanda. Pada umumnya para pemimpin gerakan nasional Indonesia merasakan ancaman yang lebih berbahaya datang dari negara-negara Poros bila dibandingkan dari kaum kolonialis Belanda. Dr. Tjipto Mangunkusumo yang menurut pandangan Sjahrir adalah seorang ‘pejuang terbesar yang pernah dimiliki oleh pergerakan nasional kita’ segera menyurati Thamrin dan Sukarno menyatakan pendapatnya bahwa ia berpihak kepada negara-negara Sekutu dalam melawan negara-negara Poros.

Untuk menyatukan langkah, kaum pergerakan kemerdekaan aliran kooperatif (aliran-ko) membentuk GAPI (Gabungan Politik Indonesia) di Jakarta pada bulan Mei 1939 yang dipimpin oleh Muhammad Husni Thamrin, Mr. Amir Syarifuddin, Abikusno Tjokrosujono. Tanggal 17 Desember 1939 GAPI mengadakan aksi diseluruh Indonesia menuntut Indonesia ber-Parlemen. Kemudian pada tanggal 25 Desember 1939 dibentuklah Kongres Rakyat Indonesia untuk memperkuat tuntutan Indonesia ber-Parlemen.

Tuntutan Indonesia berparlemen disokong oleh kaum nasionalis di dalam Volksraad dimana pada bulan Februari 1940 anggota Volksraad Wiwoho mengajukan sebuah mosi mendukung Indonesia ber-Parlemen. Pemerintah Belanda menganggap sepi saja tuntutan Indonesia ber-Parlemen tersebut, bahkan pemerintah kolonial Hindia Belanda memperketat izin mengadakan rapat. Setelah negeri Belanda di duduki Jerman, pada awal tahun 1941, pemerintah Belanda di pengasingan di London mengirimkan komisi Visman ke Indonesia untuk “mendengar” berbagai pendapat di Indonesia.

Setelah komisi Visman kembali ke London, pemerintah kerajaan Belanda dipengasingan menyatakan bahwa bila perang selesai, akan dilangsungkan konperensi kerajaan yang juga akan dihadiri oleh pemimpin rakyat dilingkungan kerajaan Belanda untuk membicarakan perubahan-perubahan tata-negara di tanah jajahan Belanda. Sekarang belum waktunya mengadakan perubahan! Tidak ada perubahan sikap penjajah Belanda menghadapi tuntutan kaum pergerakan, selain Dr. Charles nan der Plas atas nama pemerintah kolonial Hindia Belanda (N.E.I) memberikan uang sebesar 25.000 gulden kepada Mr. Amir Sjarifuddin sebagai biaya membangun gerakan bawah tanah menentang Jepang.

Demikianlah terdapat tiga sikap kaum pergerakan nasional Indonesia dalam menghadapi kemungkinan pecahnya Perang Pasifik. Sukarno menganggap Perang Pasifik adalah suatu kesempatan baik bagi kaum pergerakan nasional Indonesia; Hatta menganggap perang Pasifik yang akan terjadi merupakan perang antara fasisme Jepang dengan kolonialis Belanda; sedangkan sebagian kaum nasionalis seperti Dr. Tjipto, Sjahrir; kaum Komunis Indonesia dan kaum pergerakan lainnya menyatakan sikap memihak Belanda (Sekutu) melawan fasisme Jepang.

II. Pertemuan Dengan Pemerintah Militer Jepang

Menjelang pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia menyerah kepada Jepang, Sukarno diungsikan dari tempat pembuangannya di Bengkulu ke Padang. Setelah tentara pendudukan Jepang tiba di Padang dan Bukittinggi, pimpinan tentara Jepang di Bukittinggi, Kolonel Fujiyama meminta bertemu dengan Sukarno di Bukittinggi. Terjadilah pembicaraan antara Fujiyama dengan Sukarno sebagaimana yang dituturkan Sukarno dalam autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams sebagai berikut :
Fujiyama: “Peperangan ini bertujuan membebaskan Asia dari penaklukan kolonialisme Barat. ….. Didalam pengertian inilah kami ingin mengetahui, apakah tuan mempunyai keinginan untuk memberikan bantuan kepada tentara Dai Nippon”.

Sukarno: “Sekarang saya mengetahui apa yang tuan inginkan, saya kira tuan mengetahui keinginan saya”.

Fujiyama: “Tidak tuan Sukarno, saya tidak tahu. Apakah yang sesungguhnya dikehendaki oleh rakyat Indonesia ?

Sukarno : “Merdeka”.

Fujiyama: “Sebagai seorang patriot yang mencintai rakyatnya dan menginginkan kemerdekaan mereka, tuan harus menyadari bahwa Indonesia Merdeka hanya dapat dibangun dengan bekerja-sama dengan Jepang”.

Sukarno: “Ya, sekarang sudah jelas dan terang bagi saya bahwa tali-hidup kami berada di Jepang. Maukah pemerintah tuan membantu saya untuk kemerdekaan Indonesia ?”

Fujiyama: “Kalau tuan menjanjikan kerja-sama yang mutlak selama masa pendudukan kami, kami akan berikan janji yang tidak bersyarat untuk membina kemerdekaan tanah air tuan.”

Selanjutnya Sukarno menyatakan bahwa “ini adalah pertama kali aku menceritakan kisahku tentang bagaimana, bilamana dan di mana, dan mengapa aku mengambil keputusan untuk menyeret diriku untuk berdampingan dengan Jepang.”

Pemerintah kolonial Hindia Belanda juga memindahkan tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dari Banda Neira ke sekolah polisi Sukabumi, Jawa Barat. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda, pimpinan tentara pendudukan Jepang di Jawa mengirimkan seorang perwiranya menemui Hatta di Sukabumi. Kolonel Ogura menyatakan bahwa kepala Pemerintahan Militer Jepang di Jawa ingin bertukar pikiran dengan tuan Hatta, dan apakah tuan bersedia bersama-sama berangkat ke Jakarta.

Pertemuan berlangsung di rumah Gunseikan dimana telah menunggu Sumobucho dan opsir-opsir tinggi pembantunya. Setelah menanyakan keadaan Hatta selama pembuangan, mereka menanyakan apakah Hatta bersedia bekerjasama dengan Pemerintah Militer Jepang. Sebelum menjawab, Hatta bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia ? Sumobucho menjawab bahwa sama sekali tidak. Jepang datang kemari akan menolong memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Hatta menyatakan kesediaannya bekerjasama sebagai penasehat saja, tidak sebagai pegawai pemerintah tentara pendudukan Jepang. Gunseikan setuju dan memerintahkan tuan Miyoshi yang bertindak sebagai penterjemah mencarikan kantor buat Hatta yang akan diberi nama “Cabang I dari Gunseikanbu”. Menurut keterangan Hatta, tujuannya menerima kerjasama dengan Pemerintah Militer Jepang sebagai penasehat adalah sebagai usaha mencoba meringankan tekanan tentara Jepang kepada rakyat.

Berbeda dengan sikap Sukarno dan Hatta tersebut diatas, Sjahrir menghindarkan diri berhubungan dengan pejabat-pejabat Jepang. Setelah keberangkatan Hatta dari Sukabumi ke Jakarta, Sjahrir menitipkan anak-anak angkatnya kepada iparnya, lalu melakukan perjalanan keberbagai kota di Jawa.

III. Kesepakatan Sukarno, Hatta dan Sjahrir

Untuk mendapatkan bantuan yang lebih besar dari para pemimpin rakyat Indonesia, Panglima Tentara Pendudukan Jepang di Jawa, Jenderal Imamura berpendapat perlu dibentuk suatu Pemerintahan Sipil dengan melibatkan para pemimpin bangsa Indonesia.

Kaum nasionalis yang berada di Jawa menolak ikut serta dalam pemerintahan sipil tersebut tanpa Sukarno. Dengan dukungan kuat dari Hatta, pemimpin nasionalis di Jawa ketika itu meminta kepada tentara pendudukan Jepang agar Sukarno didatangkan ke Jawa”.

Maka Jenderal Imamura meminta Kolonel Fujiyama, panglima pasukan Jepang di Sumatera agar Soekarno dibawa ke Jakarta. Tanggal 9 Juli 1942 kapal yang membawa Soekarno dan keluarganya dari Palembang berlabuh di pelabuhan Pasar Ikan. Sukarno menghubungi seorang famili Hatta yang berada di Pasar Ikan agar disampaikan pesan kepada Hatta bahwa ia sudah tiba dari Sumatera. Dan tidak akan bicara dengan siapapun sebelum bertemu dengan Hatta. Setelah menerima pesan Sukarno, Hatta minta diberitahukan kepada Sukarno bahwa ia akan datang menjemput Sukarno ke pelabuhan Pasar Ikan sore hari itu juga.

Disebuah ruangan di Pasar Ikan, kedua pemimpin tersebut bertemu. Hatta menyatakan rasa gembiranya dapat bertemu kembali dengan Sukarno, Ibu Inggit dan anak angkat mereka setelah terpisah hampir sepuluh tahun. Ketika ditanya oleh Hatta bagaimana pendapatnya mengenai perang Asia Timur, Sukarno menyatakan bahwa Jepang akan kalah …. asal kita tidak menentang mereka secara terang-terangan. Setelah berbicara selama lebih kurang setengah jam, Hatta mengajak Sukarno dan keluarganya menginap dirumahnya. Sukarno meminta kepada Hatta agar malam itu juga mereka bertiga dengan Sjahrir dapat bertukar pikiran.

1. Lahirnya Dwitunggal Sukarno Hatta.

Setelah makan malam bersama di rumah Hatta tanggal 9 Juli 1942, Sukarno, Hatta dan Sjahrir mulai berembuk.

Sukarno memulai pembicaran dengan mengatakan : “Bung Hatta dan saya di masa yang lalu telah mengalami pertentangan yang mendalam. Memang disatu waktu kita tidak berbaik satu sama lain. Akan tetapi sekarang kita menghadapi suatu tugas yang jauh lebih besar daripada yang dapat dilakukan oleh salah seorang dari kita. Perbedaan dalam hal partai atau strategi tidak ada lagi. Pada waktu sekarang kita satu. Dan kita bersatu di dalam perjuangan bersama.” Hatta segera menyatakan persetujuannya. Keduanya berjabat tangan dengan kesungguhan hati. Kemudian Sukarno melanjutkan : “Inilah janji kita sebagai Dwitunggal. Inilah sumpah kita yang jantan untuk bekerja berdampingan dan tidak akan berpecah hingga negeri ini mencapai kemerdekaan sepenuhnya.”

“Sebenarnya jiwa dan praktek Dwi Tunggal itu terutama berbentuk kebulatan kami berdua yang tidak tertulis dengan resmi, yaitu berupa tekad kami berdua, bahwa di dalam memimpin negara dalam revolusi dan perjuangan kemerdekaan, kebijakan dan tindakan-tindakan senantiasa diambil dengan kebulatan kami berdua. Banyak dokumen yang kami tandatangani berdua. Akan tetapi, apabila salah seorang diantara kami berdua tidak berada di ibukota, maka tindakan salah satu akan didukung dan dijunjung pula oleh yang lainnya”.

2. Jepang Pasti Kalah Dalam Perang Dunia Kedua ini.

Hatta mengatakan bahwa Jepang memang mendapat kesempatan memukul terlebih dahulu, tetapi industrinya ketinggalan dari industri Amerika. Amerika dapat memperbaiki alat perangnya dan dalam beberapa waktu dapat muncul kembali sebagai kekuatan yang mengatasi Jepang.

Menurut keterangan Sjahrir, “Kelihatannya, Abdul Rahman (nama samaran yang digunakan Sjahrir untuk Sukarno) sangat terpengaruh oleh sukses yang diperoleh Jepang. Jelas pula ia telah diperlakukan dengan kasar oleh Jepang di Sumatera. Ia menganggap Jepang adalah fasis murni, dan menganggap bahwa kita musti menggunakan cara perlawanan yang halus dalam berhadapan dengan mereka,……. . Lebih lanjut, ia memperkirakan bahwa masa depan jauh dari harapan kita, karena ia menganggap perang dengan Jepang paling kurang akan memakan waktu sepuluh tahun. Saya menyampaikan pandangan saya bahwa perang akan jauh lebih singkat, dan kita harus mengembangkan tujuan revoluioner kita. Dia maupun Hafil (nama samaran yang digunakan Sjahrir untuk Mohammad Hatta) tidak menentang pendapat tersebut, ….. “..

Kesimpulan akhir adalah : Sukarno, Hatta maupun Sjahrir sependapat bahwa Jepang akan kalah dalam Perang Asia Timur ini. Mereka bertiga hanya berbeda dalam perkiraan waktu berapa lama Jepang baru mengalami kekalahan dalam perang Pasifik.

3. Memadukan Perjuangan Legal dan Illegal Selama Masa Pendudukan
Jepang.

Bertiga mereka menyusun taktik perjuangan selama masa pendudukan Jepang. Hatta mengatakan bahwa ia menerima kerjasama dengan Pemerintah Militer Jepang sebagai penasehat untuk dapat meringankan tekanan tentara Jepang kepada rakyat. Lalu Sjahrir menyambung perkataan Hatta mengatakan bahwa Sukarno dan Hatta barangkali tidak dapat mengelakkan kerjasama tersebut. Namun ia yang tidak begitu terkenal akan tetap tinggal seperti sekarang ini.

Menurut keterangan Sukarno, mereka bertiga menyusun rencana-rencana gerakan untuk masa yang akan datang. Disetujui bersama bahwa mereka bertiga akan bekerjasama dengan dua cara. Sukarno dan Hatta bekerja diatas tanah secara terang-terangan, sedangkan Sjahrir bekerja dibawah tanah secara rahasia. Menurut Sjahrir “….. kami setuju bahwa mereka akan melakukan tindakan yang dimungkinkan secara legal untuk memberikan bantuan kepada perjuangan nasional secara luas, dan bersamaan dengan itu secara rahasia membantu perjuangan perlawanan. Kami menyadari bahwa Jepang akan mencoba menggunakan popularitas Rahman untuk tujuan propaganda, dan kami sependapat bahwa Jepang harus ditekan untuk mendapatkan konsesi politik bagi kaum nasionalis.”

”Yang satu memenuhi tugas yang tidak dapat dilakukan oleh cara yang lain. “Untuk memperoleh konsesi-konsesi politik yang berkenaan dengan pendidikan militer dan jabatan-jabatan pemerintahan bagi orang-orang kita, kita harus memperlihatkan diri dengan cara kolaborasi”, kata Sukarno. Biarlah saya, kata Sjahrir menyarankan , “untuk mengadakan gerakan bawah tanah dan menyusun bagian penyadap berita dan gerakan rahasia lainnya”.

4. Membangun dan Menyusun Kembali Pergerakan Rakyat.

Dalam pertemuan tersebut, Hatta menyarankan agar Sukarno tidak memasuki Gerakan 3 A ( Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) yang dipimpin oleh Shimizu. Gerakan 3 A dibenci orang karena banyak menggolong daripada menolong. Gerakan tersebut tidak memberikan apa-apa kepada rakyat kita. Lagi pula Jepang sangat membesar-besarkan peranan Gerakan 3 A ini. Tidak ada pemimpin bangsa Indonesia terkemuka yang duduk di dalam pimpinan Gerakan 3 A tersebut. Betul, kata Sjahrir. Gerakan tersebut tujuannya hanya untuk mengumpulkan bahan makanan dari rakyat kita, merampas kekayaan alam kita dan bahkan mengumpulkan tenaga manusia kita untuk kepentingan Jepang.

Sukarno berpandangan lain. Ia justru hendak memasukinya. Karena Gerakan 3 A ini tidak menguntungkan kita, maka dengan memasukinya, kita dapat membubarkannya dari dalam dan menggantinya dengan gerakan lain. Selanjutnya Sukarno mengatakan bahwa kita harus melancarkan “gerakan kebangsaan”. Kita tidak bisa diam-diam menyuruh rakyat kita berjuang tanpa adanya bimbingan. Bila kita tidak bisa membangun gerakan, maka kita tentu dapat melakukan infiltrasi kedalam gerakan yang sudah ada yang dibuat oleh Jepang. Kita harus membangun dan menyusun kembali pergerakan rakyat menuju cita-cita Indonesia Merdeka.

5. Mendidik dan Mempersiapkan Rakyat Menuju Kemerdekaan.

Sukarno selanjutkan mengatakan “Rakyat kita adalah bangsa yang suka damai, mau senang dan mengalah, dan pemaaf. Sungguhpun rakyat Indonesia hampir mencapai jumlah tujuh puluh juta dan diperintah oleh hanya 500.000 orang, akan tetapi darah rakyat tidak pernah bergolak sedemikian panas sehingga sanggup bertempur melawan Belanda. Belanda menenteramkan penguasaannya dengan memberikan kebaikan-kebaikan palsu.”

“Jepang tidak. Kita tahu bahwa Jepang tidak segan-segan memenggal kepala orang dengan sekali ayunan pedangnya. Kita mengetahui muslihat mereka, memaksa si korban meminum berliter-liter air dan kemudian melopat keatas perutnya. Kita sudah mengenal jeritan ditengah malam yang menakutkan yang keluar dari markas Kempeitai. Orang Jepang memang keras. Kejam. Cepat melakukan tindakan kurang ajar. Dan ini akan membuka mata rakyat guna mengadakan perlawanan….. Kondisi-kondisi inilah yang akan menciptakan suatu kebulatan tekad. Kalau rakyat kita betul-betul digencet, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu revolusi fisik”.

Hatta mengatakan bahwa kita bisa menggunakan kemenangan tentara Jepang atas tentara Belanda untuk meningkatkan kepercayaan diri bangsa kita sendiri, sehingga tidak ada lagi anggapan dikalangan rakyat bahwa bangsa Asia lebih rendah dari orang Barat.

“Sebenarnya strategi kami adalah satu-satunya pilihan yang mungkin dijalankan ketika itu. Jadi kami tidak mempunyai pilihan lain. Pendudukan Jepang adalah kesempatan yang besar dan bagus sekali untuk mendidik dan mempersiapkan rakyat kita.”

Strategi dan Taktik perjuangan yang dibicarakan mereka bertiga tersebut diatas bertujuan mempersiapkan rakyat dan pergerakan kemerdekaan Indonesia selama pendudukan Jepang, menunggu kesempatan saatnya Jepang mengalami kekalahan dari Sekutu untuk menyatakan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia telah menentukan nasibnya sendiri, yaitu Indonesia Merdeka. Tugas selanjutnya adalah menghadapi Belanda yang tergabung dalam negara-negara Sekutu sebagai pemenang perang yang akan datang kembali menjajah Indonesia.

Pertemuan Sukarno dengan Penguasa Militer Jepang di Jawa

Apakah strategi perjuangan tersebut diatas dapat dilaksanakan tergantung kepada pembicaraan Sukarno dengan penguasa militer Jepang di Jawa esok harinya. Ketika bertemu, Letnan Jenderal Imamura-lah mula-mula membuka pembicaraan : “Saya memanggil tuan ke Jawa dengan maksud yang baik. Tuan tidak akan dipaksakan bekerja bertentangan dengan kemauan tuan. Hasil dari pembicaraan kita —- apakah tuan bersedia untuk bekerjasama dengan kami atau tetap sebagai penonton saja —- sama sekali tergantung kepada tuan sendiri.”

“Boleh saya bertanya, apakah rencana Dai Nippon Teikoku untuk Indonesia?”

Menjawab Imamura, “Saya hanya Panglima Tertinggi dari tentara ekspedisi. Teno Heika sendirilah yang berhak menentukan, apakah negeri tuan akan diberi otonomi dalam arti yang luas dibawah lindungan pemerintahnya. Ataukah akan memperoleh kemerdekaan sebagai negara-bagian dalam suatu federasi dengan Dai Nippon. Ataupun menjadi negara merdeka dan berdaulat penuh. Saya tidak dapat memberikan janji yang tepat tentang bentuk kemerdekaan yang akan diberikan kepada negeri tuan. Keputusan yang demikian tidak dapat diambil sebelum peperangan ini selesai. Sungguhpun demikian, kami dapat memahami cita-cita dan syarat-syarat tuan, dan ini sejalan dengan cita-cita kami.”

Kalimatku selanjutnya adalah, “Terima kasih Jenderal. Terima kasih karena tuanlah orang yang mendupak Belanda yang terkutuk itu keluar. Saya mencobanya selama bertahun-tahun. Negeri saya mencoba selama berabad-abad. Akan tetapi Imamuralah orang yang berhasil.” “Untuk memimpin rakyat kami sesuai dengan pemerintahan militer, saya memerlukan orang sebagai pembantu pimpinan. Urusan pemerintahan hanya dapat dilancarkan, kalau orang Indonesia ditempatkan pada jabatan-jabatan pemerintahan….”.

“Kalau ini pemecahan yang terbaik untuk memajukan kemakmuran dan kesejahteraan, maka orang Indonesia akan diberi kesempatan ikut dalam menyelesaikan urusan dalam negeri secara meningkat. Jabatan-jabatan dalam pemerintahan akan diberikan kepada bangsa Indonesia dengan segera.”

Kita berterima kasih kepada Bernhard Damn yang telah melakukan penelitian mengenai kebenaran keterangan Sukarno tersebut diatas. Damn mengutip keterangan Letnan Jenderal Imanura dalam buku kenangannya menyebutkan bahwa kepada Sukarno dijelaskan : “apakah Indonesia akan mendapat status otonom di dalam Imperium Jepang, menerima kemerdekaan sebagai suatu persekutuan, atau kemerdekaan penuh, merupakan soal yang akan diputuskan oleh pemerintah Jepang dan Tenno sendiri; ia tidak bisa ikut menentukannya. Hal itu tak disangsikan lagi baru akan dibicarakan sesudah perang, dan sampai saat itu yang berkuasa adalah rezim militer. Namun ia berjanji kepada Sukarno bahwa kesejahteraan penduduk akan diperhatikan, dan bahwa orang-orang Indonesia akan diikutsertakan dalam tugas-tugas pemerintah dan administratif.”

Pada saat itu tidak disinggung mengenai pelatihan militer bagi orang-orang Indonesia. Tetapi dalam kenyataan dikemudian hari, ketika terdesak dalam perang Pasifik, penguasa militer Jepang di Indonesia menyetujui tuntutan Sukarno untuk membentuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang terlatih dalam kemiliteran.

IV. Pelaksanaaan Strategi Perjuangan Bersama.

Kegiatan Sukarno-Hatta

Kerjasama dengan penguasa militer Jepang telah menciptakan pandangan dikalangan rakyat bahwa Sukarno-Hatta, terutama Sukarno adalah pemimpin terpandang bangsa Indonesia. Yang lebih penting lagi adalah kerjasama tersebut juga menciptakan saluran tetap yang menghubungkan mereka dengan massa rakyat. Saluran tetap itu berupa pidato-pidato radio yang dapat di dengar diseluruh pelosok kota dan desa di Jawa, kunjungan ke berbagai kota di Jawa, rapat-rapat umum yang dikunjungi rakyat sampai ratusan ribu orang, serta melalui organisasi Putera, Jawa Hokkokai, Peta, Barisan Pelopor, BPKUPKI dan BPKI yang dipimpin oleh Sukarno. Bulan Maret 1943, untuk pertama kalinya Sukarno memegang jabatan resmi dalam suatu badan yang baru dibentuk bernama Pusat Tenaga Rakyat disingkat PUTERA. Tokyo menganggap PUTERA ini sebagai alat dari Sukarno untuk mengerahkan bantuan rakyat digaris belakang bagi kepentingan perang Jepang. Tetapi Sukarno mengartikannya sebagai alat yang nomor dua paling baik guna melengkapkan suatu badan penggerak politik yang sempurna.

Pada pertengahan kedua tahun 1943, lengkaplah bagian kedua dari rencana-rencana Sukarno. Yaitu kesiapan rakyat dibidang militer berbentuk tentara sukarela dengan nama PETA (Pembela Tanah Air). Jepang menderita kekalahan-kekalahan yang mengejutkan di seluruh daerah yang didudukinya di Pasifik dan tentaranya tersebar meliputi daerah pendudukan Jepang yang luas sekali. Mereka ingin agar prajuritnya mendapat tenaga bantuan dari para pemuda Indonesia yang tidak pengalami pendidikan Belanda dan dengan demikian tidak mempunyai perasaan pro-Barat. …. Para pemuda ini akan disuntik dengan pikiran-pikiran anti-Barat dan digembleng untuk berperang. Komando Tinggi Jepang menyetujui tentara PETA sebagai tentara yang dipersiapkan untuk melawan Sekutu jika mereka datang menyerbu Indonesia. Jenderal-jenderal itu tentu berpendapat, bahwa lebih baik menumpahkan darah bangsa Indonesia daripada mengorbankan prajurit-prajuritnya sendiri.

Sebaliknya Sukarno memandang peristiwa ini sebagai sesuatu kesempatan baik bagi rakyat Indonesia untuk menjadi tentara yang terlatih. Ini adalah kesempatan yang pertama kalinya bagi bangsa Indonesia belajar menggunankan senapan dan untuk pertama kali pula mereka belajar mempertahankan dirinya sendiri. Komando Tinggi Jepang mengharapkan bantuan Sukarno dalam menarik calon-calon yang baik untuk dididik menjadi perwira. “Tuan-tuan,” aku menegaskan. “Orang tidak akan mempertahankan negerinya secara sukarela, kecuali jika dia seorang patriot. Perasaan kebencian terhadap Sekutu yang sifatnya negatif dan yang akan tuan tanamkan harus diperkuat dengan cinta kepada tanah-air yang sifatnya positif seperti yang saya ajarkan.”

“Kalau begitu tuan Sukarno,” mereka memutuskan, “berikanlah kepada kami nama orang orang yang kesetiannya terhadap tanah airnya dapat tuan jamin sendiri.”

Juli 1944 Pulau Saipan yang sangat strategis jatuh ketangan Amerika. Ini berarti tembusnya garis pertahanan Jepang di kepulauan Mariana. Oleh karena itu, Jepang mempercepat pemberian konsesi pada usaha kemerdekaan Indonesia. 7 September 1944 Tokyo mengumumkan janji kemerdekaan Indonesia dengan segera, dan tanggal yang baik akan ditentukan lebih lanjut. Lalu disiapkanlah sebuah badan baru, bernama Jawa Hokokai yang berada dibawah pimpinan Sukarno dan akan bekerja sebagai aparat pemerintahan sipil yang pertama. Jawa Hokokai membentuk dewan-dewan setempat diseluruh pulau Jawa. Penggunaan bahasa Indonesia serta diperbolehkannya mengibarkan bendera merah putih mempunyai arti penting dalam meningkatkan rasa kebangsaan Indonesia. Semua ini merupakan persiapan penting bagi suatu revolusi nasional dimasa datang. Dewan-dewan ini dikemudian hari telah memungkinkan pemerintah RI yang baru merdeka melaksanakan wewenangnya sampai ke desa-desa diseluruh Jawa.

Tanggal 1 April 1945 tentara Amerika mendarat di Okinawa. Tanggal 29 April, Kaisar Jepang menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia disingkat BPUPKI. Tanggal 7 Mei Jerman bertekuk lutut. 28 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidangnya yang pertama. Menjelang kekalahan Jepang, pada tanggal 7 Agustus BPKUPKI di bubarkan dan diganti dengan organisasi baru bernama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia disingkat PPKI dengan Sukarno sebagai ketua dan Mohammad Hatta sebagai wakil Ketua. Jelaslah sekarang tidak ada lagi yang dapat menghentikan gerakan kemerdekaan Indonesia yang berlangsung dibawah pimpinan Sukarno-Hatta dan organisasi PPKI.

Terbentuknya BPUPKI dan PPKI telah memberikan kesempatan kepada para pemimpin nasional yang berasal dari hampir seluruh kepulauan Indonesia untuk berkumpul di Jakarta membicarakan dasar negara serta undang-undang dasar negara Indonesia yang hendak didirikan. Tanpa persiapan-persiapan tersebut diatas sudah pasti para pemimpin dan bangsa Indonesia tidak mungkin dapat menyambut datangnya kesempatan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia begitu Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dan mengorganisasi perlawanan menentang kembalinya Belanda menjajah Indonesia.

Kegiatan Perlawanan Dibawah Tanah.

Atas persetujuan saudara perempuannya yang memiliki rumah, tanah dan sawah di daerah Cipanas, Sjahrir membangun pusat gerakan bawah tanah pimpinannya disana.

Mula-mula menghubungi kolega dari PNI-Pendidikan yang bergerak dibawah tanah menentang Jepang. Beberapa kawan seperjuangan lama yang dapat dipercaya Sjahrir sering datang berhubungan dengannya di Cipanas. Sebagian orang yang tidak mengetahui kegiatan Sjahrir mengatakan ia sedang mendapat gangguan mental, dan sebagian lagi mengatakan bahwa Sjahrir sedang memulihkan kesehatannya dari penyakit tbc di Cipanas. Berita-berita bohong seperti itu membantu juga mengelabui Kempeitai, sehingga kegiatan bawah tanah Sjahrir yang berpusat di Cipanas tidak menjadi perhatian Jepang.

Sjahrir membangun hubungan dengan kegiatan dibawah tanah menentang Jepang yang dilakukan oleh orang-orang Indo-Belanda dan Tionghoa. Untuk memperoleh senjata, ia membangun hubungan dengan mantan tentara kolonial yang mengetahui dimana senjata senjata ex-tentara kolonial disembunyikan. Juga berusaha membina hubungan dengan grup Belanda yang anti Jepang seperti pengarang de Willingen dan seorang dari politikus reformis Belanda Jacques. Mr. Sutjipto aktif berhubungan dengan pemuda intelektual dan mahasiswa, serta turut memberikan bantuan finansial kepada kegiatan Sjahrir.

Dalam waktu-waktu tertentu Sjahrir melakukan perjalan dengan kereta api keberbagai kota di Jawa menghubungi beberapa grup kaum nasionalis yang bekerja di bawah tanah di Jawa. Pada suatu ketika, Sjahrir ditawari seorang nyonya Belanda apakah mau menyewa rumahnya di Jakarta dengan sewa yang murah. Sjahrir kemudian menjadikan rumah tersebut sebagai salah satu pos pergerakan bawah tanah di Jakarta hingga Jepang menyerah. Pertemuan-pertemuan diantara beberapa grup dibawah tanah tersebut menghasilkan sebuah program bersama yang menjadikan Indonesia Merdeka sebagai tujuannya.

Program tersebut disampaikan kepada Hatta di Jakarta. Disamping menerima laporan kegiatan bawah tanah yang dipimpin oleh Sjahrir, Hatta selalu menyampaikan apa yang ia ketahui mengenai tindakan yang akan dilakukan Jepang yang dapat membahayakan gerakan bawah tanah. Selama pendudukan Jepang, Hatta tetap berhubungan dengan gerakan bawah tanah pimpinan Sjahrir.

Selain kelompok Sjahrir, Mr. Amir Sjarifuddin dan PKI illegal juga melakukan kegiatan bawah tanah menentang Jepang. Kempeitai (dinas rahasia Jepang) segera dapat mencium kegiatan bawah tanah Mr. Amir Sjarifuddin, sehingga beberapa orang-orangnya ditangkap Jepang. April 1942, melalui seorang mahasiswa hukum Mr. Amir Sjarifuddin mengirim pesan kepada Hatta di Jakarta agar Hatta dapat menolongnya. 29

Oleh Hatta ia diminta datang ke Jakarta dan mengusulkan agar Amir Sjarifuddin mengambil sikap “bekerjasama” dengan Jepang. Hatta menjelaskan kepada pihak Jepang bahwa Amir Sjarifuddin ditangkap Belanda dan disuruh memilih untuk bekerja pada pemerintah Belanda atau dibuang ke Boven Digul. Tetapi ia adalah seorang pemimpin pergerakan rakyat menentang kolonial Belanda. Kemudian Mr. Amir Sjarifuddin dipekerjakan oleh Jepang pada organisasi propaganda Jepang. Tahun 1943 ia bersama beberapa koleganya ditangkap Jepang dan dijatuhi hukuman mati. Berkat campur tangan Sukarno dan Hatta, hukuman Mr. Amir Sjarifuddin diubah menjadi hukuman seumur hidup dan ia bebas setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.

Secara terpencar-pencar, PKI illegal juga melancarkan gerakan bawah tanah menentang Jepang berpedoman kepada keputusan Sidang ke-7 Komintern tahun 1935 yang menganjurkan kepada kaum komunis untuk membentuk Front Rakyat menentang fasisme. Keputusan Komintern ini dibawa oleh Musso ketika ia secara rahasia kembali ke Indonesia tahun 1936. Diantaranya grup bawah tanah yang dipimpin oleh Pamoedji dan Widarta yang menggunakan Gerindo sebagai organisasi legalnya dan menerbitkan lembaran berita tidak tetap bernama ‘Menara Merah’. Ada pula organisasi PKI illegal yang bergerak di Lasem-Pemalang. Tidak jelas apakah gerakan PKI illegal yang terpencar-pencar ini berada dibawah pimpinan Amir Sjarifuddin yang menurut pengakuannya telah masuk menjadi anggota PKI illegal ketika Musso kembali ke Indonesia tahun 1936.

Menjelang kekalahan Jepang, terdapat juga kelompok-kelompok pemuda dan mahasiswa yang melakukan kegiatan dibawah tanah menetang Jepang. Kegiatan mereka terutama terpusat di Jakarta. Kelompok mahasiswa Kedokteran terpusat di asrama mahasiswa Jl. Prapatan 10. Satu lagi berpusat diasrama Baperpi di Cikini 71. Yang lain adalah kelompok Asrama Angkatan Baru, Menteng yang didirikan oleh Departemen Propaganda Jepang. Kemudian ada Asrama Indonesia Merdeka yang didirikan atas usaha Laksamana Maeda, perwira penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang ke-16 yang memerintah pulau Jawa.

Tokoh-tokoh kaum nasionalis, seperti Sukarno dan Hatta memberikan kuliah dan ceramah di berbagai kelompok tersebut secara legal. Pertengahan tahun 1944, perwakilan Angkatan Laut Jepang juga meminta Sjahrir ikut memberikan kuliah di Asrama Indonesia Merdeka.

Tidaklah mudah bagi Sukarno dan Hatta melakukan pekerjaan legal selama masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia.

Menurut penuturan Sukarno “Kemanapun aku pergi, aku diiringi oleh perwira-perwira Jepang atau menelitiku secara diam-diam. Seringkali Kempeitai datang diwaktu yang tidak tertentu. Aku harus menjaga diriku setiap saat. Orang Jepang tidaklah bodoh. Mereka tidak pernah mempercayaiku sepenuhnya. Kaki-tangan kami dalam gerakan-gerakan bawah tanah mengabarkan, bahwa ada rencana Jepang hendak membunuh semua pemimpin bangsa Indonesia. Pun orang mengatakan, bahwa Jepang masih memerlukan tenagaku guna mengambil hati rakyat untuk kepentingan mereka. Akan tetapi disaat tugas ini selesai, gilirankupun akan datang pula. Aku senantiasa dalam bahaya.”

Selama bekerjasama dengan Jepang, Hatta juga menghadapi bahaya besar. Kempeitai Jepang pernah merencanakan suatu “kecelakaan lalu lintas” untuk membunuh Hatta. Tetapi pimpinan Pemerintah Militer Jepang merasa Hatta masih diperlukan, sehingga rencana membunuh Hatta dibatalkan. Kemudian atas desakan Kempeitai, pemerintah militer Jepang di Jawa setuju untuk menahan Hatta di Jepang. Sebelum berangkat ke Jepang, Mr. Hendromartono, seorang teman yang bekerja pada Departemen Perburuhan meminta Hatta untuk tidak berangkat ke Jepang dan ia bersedia menyembunyikan Hatta pada suatu tempat yang dikuasai oleh kawan kita. Ia mendengar bahwa Jepang berencana hendak menahan Hatta di Jepang. Hatta menjawab “Daripada jatuh ketangan Pemerintah Militer Jepang disini, yang hasilnya pasti aku akan dibunuhnya, lebih baik aku dibuangnya ke Tokyo”.

Hasil yang dicapai oleh Sukarno-Hatta selama pendudukan Jepang ini tak terlepas dari perjuangan terus menerus yang mereka lakukan terhadap penguasa militer Jepang seperti yang diakui sendiri oleh Yamamoto, pimpinan penguasa militer Jepang di Jawa : “Terjadi perselisihan berkepanjangan antara kaum nasionalis radikal (Indonesia) dan Tentara ke-16 (Jepang). Pihak pertama selama perang menuntut kemerdekaan segera, hal ini membuat kami kehilangan muka. Situasi perang membuat kami berusaha keras bertahan dalam persatuan, tetapi dalam kenyataannya terjadi perjuangan keras, jika tidak menggunakan kata perjuangan, maka negosiasi akan berlangsung tanpa akhir diantara kedua belah pihak. Keadaan yang menekan ini berlangsung sampai Jepang menyerah.”

Menjelang kekalahan Jepang pasukan PETA yang terlatih secara militer pada akhir tahun 1945 berjumlah lebih kurang 38.000 orang. Seinendan (Barisan pemuda) yang membantu peningkatan produksi, mempersiapkan tanah-tanah untuk ditanami, memperbaiki jalan-jalan berjumlah kira-kira 500.000 orang, sedangkan Keibodan yang membantu polisi menjaga keamanan kota dan desa berjumlah lebih dari 1.000.000 orang. Seinendan dan Keibodan menghimpun para pemuda berumur 14 sampai 25 tahun. Selain itu ada Barisan Pelopor dan Hisbullah masing-masing menghimpun 60.000 dan 50.000 dan Heiho berjumlah 50.000 orang. Mereka ini semuanya merupakan cikal-bakal kekuatan perlawanan bersenjata terhadap Belanda yang berusaha menjajah Indonesia kembali.

V. Taktik Perjuangan Tidak Sama dengan “Kolaborator”.

Semua kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia memahami dengan jelas bahwa Jepang menduduki Indonesia bukanlah untuk mengusir penjajah Belanda dan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Hal ini dapat kita baca dari tulisan-tulisan Sukarno maupun Hatta sebelum perang Pasifik meletus. Belanda telah menjajah Indonesia ratusan tahun dan sekarang Jepang datang merampasnya juga dengan tujuan untuk menjajah Indonesia. Bagi Indonesia, baik Belanda maupun Jepang adalah dua negara penjajah Indonesia.

Bila demikian, lalu apakah yang seharusnya menjadi dasar bagi penentuan sikap kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia: Apakah akan bekerjasama dengan Belanda atau dengan Jepang atau menentang keduanya?

Pada umumnya, setelah Jepang menduduki Indonesia tinggal 2 sikap berbeda yang diambil oleh kaum pergerakan nasional. Menentang Jepang dengan gerakan bawah tanah atau pura-pura bekerjasama dengan Jepang demi mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Sukarno bersama-sama dengan Hatta mengambil sikap “bekerjasama” dengan Jepang. Selain itu, sebagian besar pemimpin Islam Indonesia juga mengambil sikap “bekerjasama” dengan Jepang. Sedangkan kaum Komunis mengikuti pedoman Komintern agar bekerjasama dengan kaum penjajah Belanda membentuk front bersama anti-fasis. Kaum Sosialis juga mengambil sikap bekerjasama dengan Belanda mengikuti sikap yang diambil oleh kaum Sosialis Eropa Barat yang bekerjasama dengan pemerintahnya melawan fasisme Jerman.

Belanda sebagaimana negara-negara Eropa Barat lainnya serta Uni Soviet adalah negara-negara merdeka yang berdaulat yang sedang menghadapi agresi dan pendudukan fasisme Jerman. Menjadi kewajiban bagi pemerintah, bangsa dan rakyatnya untuk melawan kaum agresor. Mengambil sikap bekerjasama dengan Jerman tidak bisa lain harus dipandang sebangai pengkhianatan terhadap bangsa, rakyat dan pemerintah mereka. Front anti-fasis yang mereka anjurkan kepada negeri-negeri jajahan adalah taktik untuk menggalang front seluas mungkin mengalahkan negara Poros. Bila negara Poros dapat dikalahkan, maka otomatis negara-negara tersebut dapat memperoleh kembali kemerdekaan tanah airnya.

Hal ini berbeda sekali dengan keadaan Indonesia saat itu. Indonesia adalah negara jajahan Belanda yang menghadapi agresi dan pendudukan Jepang. Bagi Indonesia perang antara Belanda dan Jepang adalah perang diantara dua negara penjajah dalam memperebutkan tanah jajahan yang ketika itu dinamai Hindia Belanda. Bila Belanda yang tergabung dalam Sekutu mencapai kemenangan dari Jepang tidaklah otomatis Indonesia menjadi negara merdeka. Belanda, sebagaimana kenyataan membuktikan setelah perang, akan datang kembali untuk memulihkan penjajahannya terhadap Indonesia.

Demikian juga, bagi Indonesia, peperangan antara Jepang dengan Belanda di Indonesia samasekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan antara demokrasi dan fasisme. Bila menganggap Belanda mewakili kekuatan demokrasi, apakah perbuatan Belanda membunuh, memperbudak, merampok dan menjajah Indonesia ratusan tahun itu merupakan bagian dari sistem demokrasi? Dan bila bersikap bekerjasama dengan Belanda melawan Jepang, apakah setelah Jepang dikalahkan, Belanda akan membiarkan Indonesia menentukan nasibnya sendiri? Kenyataan menunjukkan samasekali tidak!

Oleh karena itu, sikap yang diambil kaum pergerakan kemerdekaan untuk bekerjasama dengan Belanda atau dengan Jepang hanya dapat dipandang sebagai taktik dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Sikap tersebut tidak dapat dipandang sebagai perbedaan sikap antara paham demokrasi atau faham fasisme ! Taktik atau siasat adalah cara untuk mendekatkan atau untuk mencapai tujuan. Tujuan kaum pergerakan adalah secepatnya mencapai Indonesia Merdeka. Karena itu, apakah selama perang Pasifik kaum pergerakan akan bekerjasama dengan Belanda/Sekutu atau Jepang atau menentang kedua-duanya, tergantung kepada analisa yang tepat tentang sikap manakah yang lebih menguntungkan bagi perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

Bagaimanakah sikap Belanda terhadap kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia sebelum meletusnya perang Pasifik ? Pertama-tama Belanda melakukan usaha mengancurkan kaum pergerakan aliran non-ko dengan melakukan penangkapan dan pembuangan terhadap para pemimpin mereka, seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir.

Menjelang Jepang menyerang Sumatera, Gubenur Jenderal Belanda menolak usul Residen Bengkulu agar Sukarno dikebalikan ke Jawa, karena kuatir akan adanya “hasil-hail yang tidak menguntungkan” dari perjumpaan Sukarno dengan orang-orang Jepang. Sukarno dipindahkan ke Padang agar dapat diungsikan dengan kapal ke Australia melalui pelabuhan Teluk Bayur. Kapal pengungsi yang sedianya tiba di Teluk Bayur di bom oleh Jepang di dekat pulau Enggano, sehingga maksud Belanda melanjutkan pembuangan Sukarno keluarnegeri tidak terlaksana.

Sebelum Jepang mendarat di Hindia Belanda, Mr. Amir Sjarifuddin dan Mr. Sutjipto mengunjungi Hatta dan Sjahrir ditempat penahanannya di Sukabumi. Mereka mengajukan dua soal. Pertama, meminta Hatta dan Sjahrir berpidato di radio menentang serbuan Jepang ke Indonesia. Kedua, menanyakan apakah Hatta dan Sjahrir tidak lebih baik menyingkir ke luarnegeri. Sjahrir langsung menolak dan menyatakan ia akan tetap tinggal di Indonesia. Hatta menolak menyingkir keluar negeri bila bergantung kepada pemerintah kolonial Belanda.

Semua itu adalah usaha pemerintah kolonial Belanda untuk mengisolasi Sukarno-Hatta-Sjahrir agar tidak dapat berhubungan dengan Jepang dan rakyat Indonesia, karena takut akan “dimanfaatkan” oleh Jepang atau takut mendapat manfaat dari pendudukan Jepang di Indonesia. Belanda berusaha agar Sukarno-Hatta-Sjahrir tidak menggunakan pendudukan Jepang mempersiapkan kemerdekaan yang dapat menyusahkan Belanda dalam usahanya kembali menjajah Indonesia setelah perang Pasifik usai.

Begitulah sikap Belanda yang terakhir terhadap kaum pergerakan sebelum menyerahkan Indonesia kepada Jepang tanggal 9 Maret 1942. Sebagai penjajah baru yang telah menduduki wilayah taklukan yang begitu luas dari Korea, Taiwan, Manchuria, sebagian dari Tiongkok, Indo-China, Thailand dan Birma, serta beberapa kepulauan di Pasifik, dan sedang melancarkan perang terhadap kekuatan Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Belanda) yang kuat, Jepang sangat memerlukan “kerjasama” dari para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kepada Sukarno dan Hatta, Jepang menawarkan akan membina kemerdekaaan Indonesia dalam apa yang mereka namakan “Persemakmuran Asia Timur Raya” dibawah pimpinan Jepang, apabila bersedia membantu Jepang dalam perang Pasifik.

Berdasarkan pertimbangan bahwa bantuan para pemimpin Indonesia hanya dapat terlaksana apabila kepada mereka diberikan kesempatan melakukan agitasi, mengadakan rapat-rapat umum, membentuk berbagai organisasi baik sipil maupun militer, maka Sukarno menganggap tawaran Jepang ini “adalah kesempatan yang besar dan bagus sekali untuk mendidik dan mempersiapkan rakyat kita.” Pidato Sukarno di awal pendudukan Jepang berulang-kali menyebutkan bahwa “Nippon mengasih kans kepada kita”

Apakah strategi dan taktik perjuangan yang disepakati oleh Sukarno-Hatta-Sjahrir selama pendudukan militer Jepang di Indonesia tersebut dipandang sebagai berkolaborasi dengan Jepang ? Dan Sukarno-Hatta dipandang sebagai “kolaborator Jepang”, sebagaimana yang dituduhkan Belanda ketika baru kembali berusaha menjajah Indonesia ?

Masalah bekerjasama dengan Belanda atau dengan Jepang adalah semata-mata merupakan masalah “taktik perjuangan” mencapai Indonesia merdeka. Sama sekali tidak dapat dipandang sebagai sesuatu sikap kolaborasi dengan pihak penjajah.

Tahun 1940 dalam usaha mencari bantuan untuk gerakan kemerdekaan Birma, Aung San, ayah dari pejuang hak asasi Birma saat ini Aung San Suu Kyi pernah bekerjasama dengan Jepang. Aung San dilatih di Jepang, lalu dikirim ke Birma oleh Jepang melancarkan perlawanan terhadap Inggris dan membantu invasi Jepang tahun 1942 ke Birma. Tetapi ia tidak puas terhadap perlakuan Jepang di Birma, maka kemudian ia membalik menentang Jepang. Setelah perang dunia ke-2 berakhir Aung San menentang kembalinya Inggris menjajah Birma dan pada 19 Juli 1947 ia dibunuh. Jenderal Aung San hingga kini tetap dianggap sebagai bapak pendiri Birma Merdeka dan seorang pahlawan nasional Birma.

Selama perang dunia kedua, Uni Sovjet dan Nazi Jerman pernah mengadakan perjanjian tidak saling mengagresi yang ditandatangani di Moskow 23 Agustus 1939 yang dikenal sebagai Pakta Molotov-Ribbentrop. Pakta ini berakhir tanggal 22 Juni 1941 ketika Jerman tiba-tiba menyerang Uni Sovjet. Uni Sovyet juga pernah mengadakan Pakta Netralitas dengan fasis Jepang tanggal 13 April 1941 dimana Uni Sovyet mengakui kemerdekaan negara boneka Jepang Manchuria dan Jepang mengakui kemerdekaan Mangolia. Kedua perjanjian perdamaian ini merupakan taktik Uni Sovjet untuk mempersiapkan diri sebelum perang meletus dengan fasis Jerman dan Jepang.

Bila kolaborasi itu diartikan bekerjasama dengan penjajah untuk tujuan yang sama, maka Sukarno dan Hatta tidak pernah dalam masa pendudukan Jepang menyatakan sikap mempunyai tujuan yang sama dengan Jepang. Sukarno dan Hatta selalu mengatakan bahwa tujuan mereka hanya satu, yaitu mencapai Indonesia merdeka. Pandangan mereka ini dinyatakan secara terbuka, baik ketika pertama kali bertemu dengan pejabat militer Jepang, dalam pidato-pidato dan juga dalam tindakan selama tiga setengah tahun itu.

Dalam sebuah rapat besar tahun 1942 yang dihadiri “Tuan-tuan Pembesar Bala Tentara Dai Nippon” Hatta mengatakan “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tidak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali”.

Bekerjasama dengan Jepang adalah satu bagian dari strategi dan taktik perjuangan keseluruhannya selama pendudukan Jepang yang direncanakan bersama oleh Sukarno-Hatta-Sjahrir. Kerjasama dengan Jepang adalah cara yang mereka sebut sebagai bekerja diatas tanah secara terang-terangan. Bagian lainnya adalah bekerja di bawah-tanah secara rahasia yang dipimpin oleh Sjahrir. Seperti penjelasan Sukarno “Yang satu memenuhi tugas yang tidak dapat dilakukan oleh cara yang lain. ….. Strategi kami adalah satu-satunya pilihan yang mungkin dijalankan ketika itu”.

Mengenai penilaian taktik Sukarno-Hatta-Sjahrir, salah seorang tokoh pemuda pendorong proklamasi Soebadio Sastrosatomo menulis : “Adapun pandangan dan penilaian kami terhadap Sukarno-Hatta lebih ditentukan oleh keadaan yang nyata daripada penilaian yang didasarkan atas paham demokrasi di satu pihak dan fasisme di lain fihak. Kedua tokoh ini seolah-olah tidak dapat dinilai atas paham sosialisme atau fasisme. Mereka hanya dapat dinilai dan diperlakukan sebagai tokoh-tokoh utama pemimpin bangsa Indonesia. Seolah-olah harus dinilai diluar paham demokrasi atau sosialisme. Mereka berdiri diluar atau diatas kedua paham ini. Mereka diterima oleh rakyat dan bangsa Indonesia sebagai pemimpin bangsa Indonesia.”
Ryan
Jakarta, April 2015

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: