TARKIB ISLAM NUSANTARA

Tarkib Islam Nusantara

Oleh: M Alim Khoiri
Jelang muktamar NU yang ke-33 di Jombang, perbincangan seputar Islam Nusantara kian hari semakin ramai. Puluhan—bahkan boleh jadi sudah ratusan—artikel tentang Islam Nusantara tersebar di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Beragam perspektif ditampilkan guna menjelaskan maksud istilah Islam Nusantara, dari mulai perspektif fiqh hingga perspektif ushul fiqh, dari maslahah mursalah hingga ‘urf. Semuanya ditulis supaya tema Islam Nusantara tak disalahpahami.

Tulisan ini pun bertujuan sama, ingin menjelaskan Islam Nusantara. Bedanya, jika banyak yang melihatnya dari sisi sosial dan budaya, maka dalam tulisan ini Islam Nusantara dilihat dari sudut pandang bahasa. Kenapa harus bahasa? Sebab bahasa adalah alat komunikasi. Supaya komunikasi tak disalahpahami, alatnya harus diketahui.

Penulis menemukan sebuah syair Islam Nusantara yang saat ini sedang banyak beredar di jejaring sosial. Petikan syairnya berbunyi:

Fa man bihi ja’a  islam Nusantara #  tis’atu auliyaillah fi jawa

Wa man yurafidluhu la ya’lamu fi # babi idhafatin lidzaka fa’rifi

Li annahu al-islam fi Nusantara # nawiyatan fi laysa min au laman

Arti dari syair tersebut kurang lebih:

Siapa yang membawa Islam Nusantara? # merekalah wali songo di Jawa

Barang siapa yang menolak Islam Nusantara # dia belum mengerti idhafah, maka ketahuilah

Islam Nusantara itu Islam di Nusantara # menyimpan makna fi bukan min atau li

Tiga bait syair di atas mencoba menjelaskan Islam Nusantara dari sisi bahasa. Ini terlihat jelas dalam bait kedua dan ketiga yang berisi bahwa tarkib (susunan) dari kalimat Islam Nusantara adalah tarkib idhafi yang menyimpan makna fi (di dalam), bukan makna min (dari) atau li (untuk).

Sebelum syair tersebut beredar di jagad maya, al-mukarram KH. Musthafa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus sudah terlebih dahulu menegaskan bahwa susunan kalimat Islam dan Nusantara adalah penyandaran idhafi yang menyimpan makna fi. Beliau lalu mengilustrasikan dengan istilah “air gelas” yang berarti air di dalam gelas, bukan airnya gelas. Begitu pun Islam Nusantara, ini tak berarti Islamnya Nusantara tetapi harus dipahami dengan Islam di Nusantara.

Selain tarkib idhafi, susunan kalimat Islam dan Nusantara sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai tarkib washfi (na’at man’ut). Artinya, Islam dianggap sebagai man’ut (yang disifati) dan kalimat Nusantara dijadikan na’at (yang menyifati). Dalam kajian bahasa, sifat itu tidak selalu berupa washf (isim fa’il atau isim maf’ul), tetapi bisa juga berupa nama tempat atau daerah. Model sifat seperti ini biasanya dengan menggunakan bantuan ya’ nisbah. Imam ibnu Malik dalam syairnya menyatakan:

“ya’an ka ya al-kursiyyi zaadu li an-nasab # wa kullu ma talihi kasruhu wajab

(Huruf ya’ yang ada pada lafadz ‘kursiyyun’ (berkenaan dengan kursi) mereka tambahkan untuk tujuan nasab, dan semua huruf yang menyertainya wajib dibaca kasrah).”

Berdasar bait di atas, maka sah-sah saja menyifati nama Nawawi misalnya, dengan kalimat Banten yang merupakan nama daerah dengan menambahkan ya’ nisbah, menjadi Nawawi al-Bantaniy. Demikian juga dengan term Islam dan Nusantara. Tak mengapa meyifati kalimat Islam dengan Nusantara dengan meniatkan ya’ nisbah di dalamnya, menjadi al-Islam an-Nusantaraiy atau al-Islam al-Indunisiy. Jadi, Islam Nusantara tetap bisa diartikan sebagai Islam “yang” bercitarasa Nusantara.

Kasus yang sama boleh jadi ada pada susunan kalimat “soto Lamongan” atau “sate Madura”. Kalimat soto Lamongan berarti soto khas daerah Lamongan atau sate Madura dipahami sebagai sate rasa Madura. Penyebutan soto Lamongan dan sate Madura dalam hal ini tidak dimaksudkan mereduksi makna soto atau sate secara umum. Soto ya soto, sate ya tetap sate. Bahan-bahan utama dalam soto Lamongan, Kudus atau Madura tetaplah satu dan sama. Yang membedakan adalah racikan dan cara penyajiannya saja. Menjadi lucu, bila ada yang melarang berjualan soto Lamongan dengan dalih soto kok dilamongankan atau dikuduskan, sama lucunya dengan mereka yang bilang Islam kok di-Nusantarakan? []

*) Penulis adalah pengajar di STAIN Kediri Jawa Timur

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com> to: ppiindia@yahoogroups.com, Thursday, 27 August 2015, 12:10

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: