CPO FUND DAN HILIRISASI SAWIT

Sinar Harapan Online

CPO Fund dan Hilirisasi Sawit

Sejak 1 Juli 2015, pemerintah memberlakukan pungutan ekspor dari segala jenis produk kelapa sawit.

 

ist

Sejak 1 Juli 2015, pemerintah memberlakukan pungutan ekspor dari segala jenis produk kelapa sawit. Besar pungutan berkisar US$ 10-50 per ton. Untuk setiap ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), misalnya, dikenakan pungutan US$ 50 per ton. Dasar hukumnya adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61/2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Fokus utama penggunaan dana CPO Fund ini, selain untuk peremajaan kembali tanaman sawit seluas 3-4 juta hektare dan menangkal kampanye hitam (black campaign) dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing juga diharapkan untuk pengembangan riset hilirisasi industri  minyak sawit, seperti termaktub dalam Perpres Nomor 61/2015 Pasal 11 Ayat 2.
Dalam rangka penguatan  penelitian, diharapkan dapat fokus pada inovasi produk sekaligus mengejar ketertinggalan hilirisasi CPO dari kompetitor Malaysia. Indonesia pun dapat menjadi pemain utama hilirisasi sawit untuk membuka lapangan kerja baru.

Keberhasilan pemerintah menjadikan Indonesia menjadi penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia mendorong perluasan perkebunan secara masif. Indonesia  menjadi produsen CPO terbesar di dunia sejak 2006 dengan memproduksi 16 juta ton. Angka ini mengungguli Malaysia.
Tahun 2013, hasil produksinya terkatrol lagi menjadi 26  juta ton.  Kini industri kelapa sawit nasional dinobatkan menjadi sektor ekonomi penyumbang devisa terbesar. Permintaan pasar yang terus meningkat membuat produksi minyak sawit Indonesia kian melejit.

Data terbaru memperlihatkan, luas areal kelapa sawit tahun 2014 sudah 10,9 juta hektare dengan produksi CPO 29,3 juta ton. Prestasi ini semakin memperkokoh posisi  Indonesia di puncak klasemen negara-negara produsen CPO  dunia.
Namun belakangan, muncul tuduhan  masyarakat Barat  bahwa industri minyak sawit di Indonesia tidak berkelanjutan. Tuduhan ini diduga karena iri dengan keunggulan bisnis sawit kita. Mereka pun melakukan kampanye hitam atas minyak sawit  yang tidak bersahabat dengan lingkungan.

Pembukaan lahan baru perkebunan sawit lewat pembakaran hutan disebut sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbon perusak lapisan ozon. Hal ini digunakan sebagai  amunisi membendung masuknya minyak sawit ke negara-negara Barat.
Kampanye hitam menjadi tantangan industri kelapa sawit nasional. Pemerintah harus menaikkan kasta minyak sawit nasional di tengah persaingan pasar global terkait isu lingkungan hidup dan visi kelapa sawit ke depan. Pemahaman aspek keberlanjutan harus dibangun dan dilihat sebagai sesuatu yang amat penting sehingga Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) adalah bagian dari kebijakan strategis.

Perusahaan pemegang sertifikat ISPO akan mendapat keuntungan nyata. Kita boleh bangga sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia.

Di sisi lain, kita dituduh melakukan perusakan hutan  secara bermakna dan mereduksi hak hidup sebagian masyarakat lokal di sekitar perkebunan kelapa sawit. Kelimpahan kekayaan yang diperoleh sebagian orang yang bermain di bisnis kelapa sawit tidak serta-merta mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia secara signifikan.

Pangan Nutrasetikal
Produksi CPO Indonesia yang meningkat setiap tahun seharusnya mendorong hilirisasi  industri minyak sawit nasional. Produksi CPO 2014 mencapai 29,3 juta ton, namun sekitar  75 persen masih diekspor  dalam bentuk CPO dengan nilai tambah yang kecil.

Berbeda dengan Malaysia, hilirisasi industri di negeri jiran ini  mampu mengolah CPO menjadi 120 jenis produk baru bernilai tambah besar. Sekitar 80 persen ekspornya  sudah dalam bentuk produk industri hilir.
Sebaliknya, Indonesia baru mengembangkan sekitar 30 jenis produk olahan kelapa sawit. Alokasi CPO masih terbatas hanya  untuk minyak goreng dan komoditas ekspor.

Ke depan harus didorong untuk bahan baku industri hilir farmasi, kosmetika, dan biosolar. Selain itu, negeri ini harus memanfaatkan peluang baru, yakni untuk industri pangan nutrasetikal. Pasalnya, sekitar 80 persen penggunaan CPO adalah untuk keperluan bahan makanan.

Di tengah kecenderungan masyarakat yang kian suka mengonsumsi makanan nutrasetikal –  memilih makanan tidak sebatas kelezatannnya tetapi sudah pada bagaimana kontribusinya untuk menjaga kesehatan tubuh—minyak sawit berpotensi diaplikasikan di industri pangan nutrasetikal karena memiliki komposisi asam lemak yang berimbang antara asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Keseimbangan ini membuat minyak sawit bersifat unik, semisolid, tidak mengandung asam lemak trans (zero trans fat), dan bisa difraksinasi untuk menghasilkan  minyak goreng dengan tingkat stabilitas oksidatif yang tinggi (Jang dkk, 2005). Produk pangan yang  diformulasikan dengan minyak sawit akan mempunyai daya simpan yang lebih lama sehingga minyak nabati ini memiliki prospek yang amat baik.

Dengan potensi ini, CPO dapat diolah menjadi beragam produk pangan nutrasetikal. Mulai dari  minyak sawit merah, margarin, es krim, cocoa butter equivalent (CBE), whipping cream, food femulsifier, konsentrat karotenoid, palm vitamin E, hingga produk healhty oil lainnya yang didesain secara khusus. Minyak sawit merah yang diproduksi lewat teknik permurnian khusus yang tidak menghilangkan karotenoid dan tokotrienol memiliki prospek baik.

Program riset  di industri hilir sawit patut terus dikembangkan untuk  mendapat  produk baru yang bernilai tambah lebih besar. Kita arahkan energi CPO Fund untuk menjaring nilai tambah. Itu guna memperbaiki kondisi perekonomian yang saat ini tidak hanya memburuk, tetapi juga kesenjangan kesejahteraan–yang dalam ekonomi diperlihatkan oleh meningkatnya indeks ini– kian membesar. Pemerintah harus mempunyai peta jalan pengembangan hilirisasi industri sawit demi percepatan peningkatan inovasi produk turunan CPO.

Penulis adalah Guru Besar Ilmu Pangan di  Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika Santo Thomas, Sumatera Utara.

Sumber : Sinar Harapan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: