KEUNGGULAN PERHIASAN ETNIK INDONESIA DI PASAR DUNIA

ANTARA News
KEUNGGULAN PERHIASAN ETNIK INDONESIA DI PASAR DUNIA
Rabu, 26 Agustus 2015 18:59 WIB |
Keunggulan perhiasan etnik Indonesia di pasar dunia

Perajin perak Bali Desak Nyoman Suarti (kanan) dan Happy Salma (tengah) dalam peluncuran biografi “The Warrior Daughter” di Galeri Indonesia Kaya, Rabu (26/8/2015) (ANTARA News/ Nanien Yuniar)
Jakarta (ANTARA News) – Perhiasan berbentuk cantik dengan motif menawan tidak cukup untuk merebut hati pasar dunia.

Desak Nyoman Suarti, salah satu pionir perajin perak Bali yang telah memasarkan kerajinan Indonesia di ranah internasional, mengemukakan keunggulan perhiasan Indonesia yang tidak dimiliki perajin negara lain: secuplik budaya di balik tiap motif etnik.

“Yang mereka sukai bukan hanya perhiasan indah, tapi sedikit bagian dari budaya di dalamnya, cerita di baliknya,” kata Suarti di Jakarta, Rabu.

Setiap kisah di balik motif merupakan senjata utama untuk menarik perhatian pembeli internasional, terutama dari AS, Inggris dan Tiongkok.

Tren perhiasan memang terus berganti seiring waktu. Suarti yang telah bergelut selama dua dekade di industri ini menjelaskan perkembangan model perhiasan yang disukai pembeli di luar negeri

Ketika awal masuk ke pasar AS, tema yang digemari adalah etnik.

“Lima tahun kemudian, yang disukai campuran barat dan timur,” kata pembuat perhiasan ¬†perak berhias motif Nusantara.

Kini yang disukai adalah model sederhana. Kendati demikian, perhiasan sederhana pun dapat laris terjual bila ada cerita di balik motifnya.

“Itu yang kita menang, itu ujung tombaknya,” imbuh dia.

Selain menggarap kekayaan budaya dari kampung halamannya di Bali, Suarti juga mengeksplorasi pulau-pulau lain di Indonesia sebagai inspirasi merancang motif baru. Saat ini, dia baru menjelajahi Bali, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

Dari sekian banyak tempat, Suarti menyebut Kalimantan sebagai inspirasi favorit, salah satu yang ingin diangkatnya ke dalam perhiasan perak adalah kaharingan, kepercayaan tradisional suku Dayak.

“Ke sana tiga bulan cari unsur-unsurnya karena dekat dengan hindu, ada banyak peninggalan di Kalimantan Tengah,” jelas dia.

Editor: Ruslan Burhani

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: