MITRA STRATEGIS TIONGKOK

Tajuk

Mitra Strategis Tiongkok

Jumat, 24 Juli 2015 | 07:17

Krisis global memang menurunkan laju ekonomi Tiongkok. Namun, negeri ini masih sangat kokoh. Setelah tumbuh rata-rata hampir dua digit per tahun dalam dua dekade, ekonominya terus melesat dan kini hanya kalah dengan Amerika Serikat. Negeri dengan penduduk terbanyak di dunia itu sangat strategis digandeng sebagai mitra, termasuk oleh Indonesia.

RRT yang kini telah menjelma menjadi raksasa dunia memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 10,36 triliun, hampir 12 kali PDB Indonesia. Dengan surplus neraca perdagangan yang besar dan tingginya investasi asing yang masuk, negeri komunis itu bahkan memiliki cadangan devisa US$ 3,73 triliun. Jumlah itu 34 kali lipat lebih dibandingkan RI yang hanya sekitar US$ 108 miliar. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, RRT sangat penting bagi Indonesia, yang ekonominya tengah melambat, untuk menuju keseimbangan baru.

Era Presiden Joko Widodo saat ini memang jauh berbeda dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih beruntung. SBY dilantik jadi presiden pada 2004, setelah ekonomi Indonesia pulih. Penyehatan perbankan lewat program Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan rekapitalisasi perbankan membuahkan hasil. Restrukturisasi korporasi, eks debitur perbankan, berjalan cukup sukses.

Pada periode kedua masa pemerintahannya, SBY juga mendapatkan keberuntungan. Untuk memulihkan krisis ekonomi 2008, AS meluncurkan kebijakan quantitative easing (QE). Bank sentral AS, The Fed, mencetak uang untuk membantu perbankan dan korporasi yang sedang kesulitan.

Pada 2008 hingga pertengahan 2013, The Fed menggelontorkan stimulus QE besar-besaran untuk memulihkan ekonomi AS, selain menurunkan suku bunga hingga 0-0,25%. Akibatnya, banjir dolar pun merembes ke emerging markets seperti Indonesia. Pemompaan likuiditas dolar oleh The Fed yang menembus US$ 85 miliar per bulan itu juga mengalir ke bursa komoditas, memicu permintaan dan harga-harga komoditas melambung.

Alhasil, kinerja sektor komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan mineral yang menjadi andalan ekspor Indonesia bersinar cemerlang. Rupiah pun terus menguat, capital inflow menderas, dan pertumbuhan ekonomi melaju di atas 6 persen selama tiga tahun, menjelang akhir periode 10 tahun pemerintahan SBY.

Setelah ekonomi AS membaik, program quantitative easing alias cetak dolar dihentikan sejak tahun lalu. The Fed juga berencana menaikkan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam itu, sehingga dolar pulang kandang dan dunia memasuki fase normalisasi. Dampaknya, dolar menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, termasuk rupiah. Selain itu, aliran dana murah dari AS yang semula mengerek bisnis komoditas akhirnya berkurang drastis. Akibatnya, harga komoditas batu bara, mineral, hingga minyak sawit mentah terjun bebas dan ekspor kita jatuh. Neraca perdagangan RI defisit dan hal ini ikut memicu defisit transaksi berjalan yang membesar, yang semakin menekan rupiah. Untuk menjaga rupiah dan menstabilkan ekonomi, Bank Indonesia pun harus menaikkan suku bunga acuan, BI rate.

Akibat tekanan depresiasi rupiah, pelemahan ekspor, sekaligus berkurangnya laju investasi, pertumbuhan ekonomi nasional melambat. Pertumbuhan ekonomi RI kuartal I tahun ini minus dibanding kuartal sebelumnya. Banyak perusahaan pun mulai harus mem-PHK karyawannya karena penjualan anjlok.

Dalam kondisi seperti ini, makin urgen bagi Pemerintah Indonesia untuk menciptakan terobosan guna menarik investor Tiongkok sebagai mitra strategis. Apalagi, RRT kini juga membutuhkan ekspansi ke luar negeri menyusul turunnya pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya keuntungan investasi di negaranya. Selain itu, Tiongkok praktis telah rampung membangun infrastruktur besar-besaran menyongsong pesta akbar Olimpiade 2008. Negara itu juga harus mulai meninggalkan industri padat karya, karena upah minimum buruh terus naik.

Untuk itu, investasi dari Tiongkok harus bisa didorong masuk ke berbagai sektor di Tanah Air, mulai dari infrastruktur, industri manufaktur, hingga pasar modal. Di sektor-sektor yang butuh dibangun kuat di negeri ini, RRT punya pengalaman, teknologi, jaringan, maupun pendanaan kuat. Investasi ini hanya masuk jika ada jaminan regulasi dan iklim yang ramah bisnis, selain insentif pajak yang bisa menyaingi paket negara lain seperti Singapura dan Thailand.

Di sinilah, demi kepentingan nasional, semua jajaran pemerintahan pusat-daerah dan DPR harus bergandengan tangan menciptakan regulasi dan iklim yang ramah bisnis. Kepastian hukum harus ditegakkan, termasuk dalam soal perburuhan dan pengupahan yang memberi ruang pertumbuhan industri. Perizinan harus bisa dipercepat dengan waktu selesai satu minggu, demikian pula pembebasan lahan dipastikan rampung enam bulan misalnya. Dengan didukung banyaknya sumber energi, sumber bahan baku, dan pasar Indonesia yang besar, investor dipastikan akan kerasan dan ekonomi Indonesia berkembang.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: