PENDIRIAN PARTAI PRIBOEMI


Pendirian Partai Priboemi

Siauw Tiong Djin

Pada tanggal 17 Agustus 2015 telah lahir sebuah partai politik baru yang dinamakan Partai Priboemi.

Ironis-nya, partai ini dideklarasikan pada waktu Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 70. Usia Republik Indonesia yang ke 70 seharusnya menunjukkan dunia bahwa negara ini sudah melalui perjalanan panjang membangun bangsa (nasion) Indonesia dan sudah berhasil memenuhi sebagian besar cita-cita para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Landasan mendetail Partai Priboemi belum kita ikuti.  Akan tetapi visi yang dicanangkan oleh Ketua Harian Bambang Smit, jelas menunjukkan bahwa partai ini memiliki program kerja yang bertentangan dengan citra para pejuang kemerdekaan Indonesia. Visi yang dicanangkan adalah: memperjuangkan masyarakat pribumi agar menjadi tuan di negeri sendiri dan mendesak parlemen melahirkan UU pembatasan hak non pribumi. Bambang juga menyatakan pada para wartawan bahwa yang dimaksud dengan pembatasan hak non pribumi antara lain adalah pembatasan hak politik, pembatasan hak penguasaan lahan, pembatasan hak penimbunan barang kebutuhan rakyat.

Rupanya para pendiri partai ini kurang memahami sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kurang menyelami pandangan para pencetus konsepsi kebangsaan Indonesia, di antaranya Dr Tjipto Mangunkusumo, Soekarno, Mohamad Yamin dan Siauw Giok Tjhan.

Para pendiri partai ini tidak menyadari bahwa visi yang dicanangkan ketua harian partai Bambang Smit sebenarnya melanggar UU ke 40 2008, yaitu UU yang menyatakan bahwa rasisme dan tindakan atau pandangan yang mengandung rasisme melanggar hukum.

Nasion Indonesia lahir sebagai hasil sebuah perjuangan. Dan salah satu tujuan utama perjuangan tersebut adalah lahirnya sebuah nasion yang ber Bhinneka Tunggal Ika, nasion yang terdiri atas berbagai suku bangsa.

Bangsa atau nasion Indonesia bukan a single race nation. Tidak ada Indonesian race. Yang terwujud dari perjuangan mencapai kemerdekaan 70 tahun yang lalu adalah bangsa atau nasion Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Indonesia didirikan sebagai sebuah negara yang  bersandar atas Kewarganegaraan Indonesia. Setiap warga negara, apa-pun latar belakang ras-nya, memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Berdasarkan pengertian ini, istilah pribumi atau yang pada tahun 50-an disebut “Indonesia asli” tidak memiliki legitimasi untuk hadir dalam konteks politik-hukum, kebudayaan dan ekonomi Indonesia.

Partai Priboemi ingin menghidupkan kembali aliran politik “asli-asli-an” yang sempat berkembang pada tahun 50-an, dan yang kemudian dilaksanakan sebagai kebijakan resmi pemerintah Orde Baru (1966-1998).  Sebuah kebijakan rasis yang terbukti merugikan pembangunan bangsa Indonesia.

Negara-negara maju seperti Canada dan Australia telah mengundangkan program Multi-kulturalisme yang pada dasarnya seirama dengan Bhinneka Tunggal Ika.  Setiap warga negara, apapun latar belakang ras-nya didorong untuk menyumbangkan kemampuan dan tenaganya untuk kebaikan negara-negara tersebut. Tidak ada pembatasan hak politik yang hanya berlaku untuk warga negara keturunan asing.  Tidak ada pembatasan hak pemilikan lahan. Tidak ada pembatasan kegiatan dagang. Tidak ada pembatasan penguasaan ilmu.

Kebijakan rasis yang menyimpang dari citra perjuangan Angkatan 45 ini merupakan kelanjutan kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial Belanda beratus tahun. Rupanya keinginan untuk membangkitkan kebijakan usang di zaman kolonialisme inilah yang mendorong para pendiri partai Priboemi menggunakan ejaan yang dipergunakan di zaman itu.  Ejaan kuno yang merefleksikan keinginan sebuah pendirian politik yang sudah dibuang jauh-jauh oleh banyak negara maju.[]

Posted by 

“‘Chan CT’ SADAR@netvigator.com to  [nasional-list]” <nasional-list@yahoogroups.com> , Monday, 24 August 2015, 16:29

1 comment so far

  1. xfactorindon on

    Jgn kembali ke masa lalu. Indonesia sdh melewati phase tsb. Indonesia negara multirasialisme, berlatar belakang banyak suku dan agama. Bhineka Tunggal Ika. Tidak ada Indonesia asli atau Indonesia tidak asli. Itu istilah zaman kolonialisme yg tdk relevant utk negara dgn latar belakang bhineka tunggal ika


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: