NURANI KEMANUSIAAN YANG UNIVERSAL

Nurani Kemanusiaan yang Universal

Judul : Islam dan Urusan Kemanusiaan (Konflik, Perdamaian,
dan Filantropi)

Editor : Hilaman Latief dan Zezen Zaenal Muttaqin

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2015

Tebal : 413 halaman

ISBN : 978-602-290-024-5

Peresensi : Muhammad Ridha Basri, *mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Anggota Komunitas Sahabat Pena Nusantara.*

*“Kemanusiaan itu satu, seperti juga lapar. Tidak ada lapar secara Islam.
Tidak ada lapar secara Kristen.” (Muslim Abdurrahman)*

Perang dan damai merupakan rangkaian siklus tak terputus. Rotasi
kesinambungan ini sangat mengkawatirkan populasi manusia di seluruh dunia.
Di satu sisi, keberadaannya bisa dianggap wajar dalam setiap proses
interaksi manusia. Namun, berpasrah dengan bencana kemanusiaan ini bukanlah
sikap yang harus dikedepankan. Upaya yang serius untuk memutus siklus itu
sangat urgen segera dilakukan dengan beragam strategi jitu. Tanggung jawab
sebagai aktor perdamaian bukan hanya diemban oleh orang atau komunitas
tertentu saja, tapi juga oleh semua manusia yang memiliki nurani
kemanusiaan.

Holsti, mengutip hasil penelitian Zeev Maoz, menyebutkan bahwa sejak tahun
1815 (bertepatan dengan Kongres Viena) hingga tahun 1976, telah terjadi 827
macam konflik. Data sebelumnya, berdasarkan data Quincy Wright yang
mengidentifikasi perang di negara-negara Barat sejak 1480 hingga 1940,
menemukan adanya 278 konflik (Artikel Muhammad Amin Summa, hlm.70). Sampai
abad ke-21, gelombang konflik masih terus berlangsung. Diantara dalam
lingkup antar suku, intra negara, antar agama, hingga antar negara dan
kepentingan. Dan tidak ada yang bisa menjamin, konflik dan peperangan itu
akan berhenti atau semakin menjadi-jadi di masa yang akan datang.

Menyadari dampak negatif yang luar biasa dari beragam kasus tersebut, maka
buku ini hadir sebagai salah satu “alarm” untuk penyadaran segenap elemen.
Bagaimana seharusnya pensikapan terhadap dialektika, bagaimana menumbuhkan
rangsangan pensikapan secara tepat, landasan orientasi, dan hal lain yang
melingkupi konflik, perdamaian, dan filantropi akan dibahas dalam buku
ini.Utamanya adalah kalangan muslim Asia Tenggara, yang memiliki kekhasan,
menjadi keunikan dan sekaligus kelebihan. Dibanding dengan negara-negara
Arab tempat awal mula berkembangnya Agama, keberadaan perang seolah sudah
menjadi karakter atau hobi mereka. Sementara bagi kalangan rumpun Melayu
secara umun, watak “kemayu” terasa lebih kentara.

Dari segi respon terhadap keberadaan bencana kemanusiaan, baik yang berupa
bencana alam secara langsung atau pun bencana yang disebabkan oleh tangan
manusia layaknya perang, masyarakat Asia Tenggara juga memiliki keunikan.
Bencana tsunami Aceh, gempa bumi Yogyakarta, konflik di Maluku, Perang di
Timor Leste, ketegangan antar kelompok Muslim dan Budha di Myanmar,
peperangan di Mindanau dan Thailand selatan merupakan di antara peristiwa
yang telah menelan korban manusia yang tidak sedikit. Jatuhnya korban sipil
yang tidak bersalah, telah menstimulasi lahirnya berbagai lembaga
kemanusiaan dan filantropi di kawasan ASEAN, utamanya Indonesia. Mereka
lahir dari kumpulan berlatar agama atau latar ideologi organisasi atau
bahkan kesamaan visi misi sebagai aksi kemanusiaan.

Tulisan Hajriyanto Y Thohari di bagian awal buku ini mengemukakan
pentingnya merawat benih-benih kemanusiaan dan filantropi yang mulai tumbuh
subur di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menguatkan ikatan dan
menyamakan persepsi para tokoh agamawan dan pemuka Islam. Mereka adalah
orang-orang yang sanggup mempengaruhi opini publik untuk penegakan
kemanusiaan dan kebangsaan. Dakwah Islam kontesktual harus berorientasi
pada prinsip pengentasan ketidakadilan, konflik, kemiskinan, dan
keterbelakangan, serta menjunjung kebinnekaan dan anti kekerasan. Hal ini
sesuai dengan argumen Farish Noor, ang menyatakan bahwa kemenangan dan
kejayaan Islam akan segera nyata dan bersinergi dengan komitment umatnya
untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial,
kebhinnekaan, pemenuhan hak-hak kaum minoritas, keadilan gender, dan
prinsip-prinsip kebangsaan (Artikel Hajriyanto Y Thohari, hlm. 62).

Buku ini terasa lebih lengkap dengan adanya bahasan tentang perspektif
Muslim tentang jihad, konflik, dan perdamaian yang diulas pada bagian
kedua. Selama ini, kalangan tertentu sering “mengkambinghitamkan” doktrin
agama Islam merupakan pemicu utama tersulutnya api konflik di berbagai
belahan dunia. Sebelumnya, di bagian pertama buku ini terlebih dahulu
memaparkan prinsip umum tentang hukum humaniter Islam, yang memberi
gambaran tentang bagaimana Islam memaknai *fiqhal-siyar,* serta bukti-bukti
ketidakterlibatan antara ideologi Islam dengan kekerasan dan terorisme.
Dalam bab ketiga dan keempat, pembahasan terasa lebih membumi dan
menyangkut pengalaman langsung di ranah *grassroot*. Bab ketiga mengupas
tentang ragam rekonsiliasi perdamaian pascakonflik, dengan latar ulasan
kasus perseteruan Tanjung Priok dan Talang Sari. Artikel kedua bagian ini
mengupas perdamaian yang digagas AMAN (Asian Muslim Action
Network-Thailand), terhadap rekonsiliasi kerusuhan masyarakat Tionghoa di
Jawa Tengah. Bab keempat mengupas tentang filantropi dan kegiatan
kemanusiaan yang berkembang di masyarakat dengan lembaga konkrit; semisal
lembaga di bawah NU dan Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, dan Komunitas Tionghoa
Muslim.

Terakhir, buku ini mencoba menyempurnakan dan menggabungkan prinsip-prinsip
hukum Humaniter Internasional dengan ajaran agama Islam. Karena bagaimana
pun juga masa depan dunia dengan wajah perdamaian, konflik, bencana,
ketidakadilan, dan lainnya sangat ditentukan oleh watak penghuni planet
bumi itu sendiri –tentunya di bawah izin dan ketentuan Tuhan–. Sementara
umat Islam yang secara kuantitas lebih dari satu miliar, memiliki pengaruh
dan tanggung jawab moral yang besar untuk ikut serta mewujudkannya.
Indonesia sebagai pemegang rekor umat Muslim mayoritas dengan falsafah
kebangsaan Pancasila, memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam
percaturan urusan kemanusiaan di ranah lokal, nasional, dan international.
Termasuk urusan filantropi, kuantitas Muslim yang begitu besar sangat
potensial untuk mengumpulkan dana-dana kemanusiaan dari berbagai lapisan,
dan kemudian menyalurkan serta membantu setiap manusia yang membutuhkan
tanpa memandang perbedaan latar belakang agama, suku, dan bangsa. []


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

Posted by “Ananto pratikno.ananto@gmail.com  to [ppiindia]” <ppiindia@yahoogroups.com>, Monday, 24 August 2015, 16:35,

1 comment so far

  1. ACT on

    Salam peduli kemanusiaan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: