SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIAA BELUM MENCERMINKAN RASA MERDEKA

SP Logo

Sistem Pendidikan Di Indonesia Belum Mencerminkan Rasa Merdeka
Sabtu, 22 Agustus 2015 | 9:15

Syafii Maarif. [Dok. SP]Syafii Maarif. [Dok. SP]

[YOGYAKARTA] Sistem pendidikan kita belum mencerminkan rasa merdeka, sebab sarjana-sarjana Indonesia masih terbelenggu dan tidak memiliki jiwa  entrepreneur.

“Pendidikan di Indonesia tidak menciptakan lapangan kerja, tapi justru merengek-rengek meminta pekerjaan, sarjana kita selalu mengandalkan lowongan kerja, berbondong-bondong melamar menjadi PNS,”  demikian dikatakan oleh Prof Dr Syafii Maarif saat pidato kebangsaan kampus Universitas Sanata Dharma (USD)  dalam acara “Indonesia 70 Tahun: Kemerdekaan, Demokrasi dan Partisipasi Masyarakat”, di Yogya, Jumat (21/8) malam.

Kemerdekaan, ujar Buya, masih diartikan sebatas mengusir penjajah. Sedang masalah kemiskinan, korupsi, ketimpangan pembangunan kota dan desa, kerusakan ekologi, intoleransi, kasus pelanggaran HAM dan kekerasan berlatar SARA tetap menjadi prolem keseharian bangsa kita yang membuat kita tetap tertindas dan terpenjara.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini melihat bertumpuknya persoalan seharusnya kita menyadari kemerdekaan memang tidak bisa diurus sendirian, melainkan harus diisi dengan keterlibatan masyarakat untuk memperkokoh kemerdekaan tersebut.

Syafii kemudian mengutip isi pidato Bung Karno yang disiarkan RRI dan televisi beberapa waktu lalu. Dalam pidato itu, Bung Karno mengatakan melawan penjajah itu mudah, tapi melawan bangsa sendiri itu sulit.

Buya mengatakan, sifat penjajah itu adalah eksploitatif, memeras dan diskriminatif. Meski sekarang ini Indonesia sudah tidak dijajah Belanda dan Jepang namun justru di jajah oleh londo ireng.  “Sekarang dilakukan londo ireng dan masih berlangsung,” kata Buya.

Masih banyak hak-hak minoritas yang kurang dihargai. Aksi kekerasan dengan mengatasnamakan apapun juga masih ada. “Itu tidak boleh ada lagi,” sebut guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Buya kembali menegaskan, tujuan merdeka adalah kesejahteraan umum, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Namun, selama 70 tahun merdeka, keadilan sosial belum dijadikan pedoman utama dalam pembangunan.

”Semua itu adalah salah kita sendiri. Jangan ada pikiran untuk menyalahkan pihak lain,” ujar Buya.

Menurut Buya, salah jika kondisi bangsa seperti ini adalah akibat dijajah selama 350 tahun. Buya menyatakan anggapan itu salah. Benar sebagian wilayah Indonesia dikuasai VOC. Aceh pun dikuasai sampai 30 tahun.

“Jadi, kalau kita mengatakan kita pernah dijajah selama 350 tahun, maka itu adalah mengingkari fakta sejarah, masih banyak wilayah yang tidak tersentuh VOC. Jika saja Belanda tidak masuk wilayah Indonesia, barang-kali sampai saat ini tidak ada NKRI,” ujar Buya.

Dari kaca-mata Buya, ada baiknya Belanda menjajah Indonesia, karena dengan itu Indonesia menjadi bersatu dan merdeka.

Sebagai salah satu tokoh agama, Buya pun berkomentar bahwa segala bentuk intoleransi beragama, harus disudahi. Kuncinya, tulus beragama. “Bahkan kaum atheis pun berhak hidup di muka bumi,” tegas Buya.[]

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: