MENGENAL BAHASA JAWA

SUARAMERDEKA.com – Berita dan Informasi Jawa Tengah

Mengenal Bahasa Jawa

20 Agustus 2015 17:54 WIB

(Foto: www.smashingmagazine.com)

DALAM buku Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tujuh unsur. Salah satu dari unsur tersebut adalah bahasa. Dengan bahasa, seseorang mampu berkomunikasi dengan lawan bicaranya secara mudah.

Ada banyak bahasa di dunia ini, namun hanya beberapa bahasa ibu yang masih setia memiliki penutur. Bahasa Jawa adalah salah satunya. Hingga hari ini, sekitar 70 juta penutur di dunia masih melestarikan bahasa Jawa, mengalahkan penutur bahasa Perancis, Korea, dan Italia.

Bahasa Jawa memang memiliki kekayaan tersendiri. Antara lain tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa yang memberi batasan dengan siapa seseorang berbicara. Antara lain ngoko kasar dan ngoko alus untuk lawan bicara yang lebih muda atau sebaya; krama madya, krama inggil dan krama alus untuk lawan bicara yang lebih tua; dan bahasa bagongan yang biasa digunakan pada percakapan di keraton.

Selain itu bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri berkat aksara-nya. Pastinya pembaca sudah sangat mengenal aksara ini. Yakni ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-dha-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga. Konon aksara ini diciptakan oleh Prabu Ajisaka yang menjadi penguasa tanah Medang. Selain keduapuluh aksara itu, masih ada lagi aksara-aksara pelengkap seperti pasangan dan sandangan.

Huruf Jawa (Foto: yogyakarta.panduanwisata.id)

Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki syair dan pantun yang berbeda dengan syair dan pantun kebanyakan. Syair atau pantun ini biasa disebut dengan purwakanthi. Purwakanthi bisa juga berisikan petuah-petuah yang berguna bagi kehidupan. Ada dua macam purwakanthi yaitu purwakanthi guru swara dan purwakanthi guru sastra. Purwakanthi guru swara adalah persamaan bunyi, sementara purwakanthi guru sastra adalah persamaan huruf. Semsial, desa mawa cara negara mawa tata (purwakanthi guru swara); Ruruh,rereh,ririh ing wewarihipun, mrih reseping para muyarsi (purwakanthi guru sastra).

Salah satu karya kakawin yang sudah dialihtransliterasikan. (Foto: Istimewa)

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: