KEHILANGAN

KEHILANGAN
Oleh Kusni Sulang

Prof. Haji Kena Muhamad Aini, MA bin Matseman Usop, dalam, potret cat minyak. Lahir di Balawang, Kuala Kapuas, 5 Juli 1936, meninggal di RSU Dr. Syaiful Anwar Malang pada 16 Agustus 2015  pukul 06.10 WIB. Dikebumikan di pemakaman umum Km.12 Palangka Raya pada 17 Agustus 2015. Seorang pemuka masyarakat Dayak Kalimantan Tengah telah pergi selamanya. (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015).

Prof. Haji Kena Muhamad Aini, MA bin Matseman Usop, dalam, potret cat minyak. Lahir di Balawang, Kuala Kapuas, 5 Juli 1936, meninggal di RSU Dr. Syaiful Anwar Malang pada 16 Agustus 2015 pukul 06.10 WIB. Dikebumikan di pemakaman umum Km.12 Palangka Raya pada 17 Agustus 2015. Seorang pemuka masyarakat Dayak Kalimantan Tengah telah pergi selamanya. (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015).

Setelah mendapat telpon dari seorang teman di Banjarmasin, pagi-pagi 16 Agustus 2015, saya menelpon Dr.Sidik Usop menanyakan apakah benar Prof. KMA Usop, abang kandungnya telah meninggal? Sidik Usop membenarkan berita tersebut dan lebih lanjut merincikan berita. Dia katakan juga bahwa jenazah akan sampai di Palangka Raya pada 16 Agustus malam sekitar jam 21.00. Berita meninggalnya Prof. KMA Usop juga dikonfirmasi oleh Kaji Kelana putera almarhum yang menemani beliau hingga hembusan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Dr.Syaiful Anwar Malang,
Sebelum banyak pelayat, agar bisa berbicara leluasa dengan Mutiara Usop, isteri almarhum, pagi-pagi pukul 07.00 WIB saya dan istri sudah berada di Rumah Duka di Jalan Damang Salilah, Palangka Raya. Sementara istri saya membacakan Surat Yasin saya berbicara dengan Ny. Mutiara yang saya kenal sejak tahun 90-an, ketika mula-mula bekerja di Kalimantan Tengah.
Sejak tahun 90-an itu, saya sangat sering berjumpa dengan KMA Usop. Saya pun hadir dalam Kongres I Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah (LMMDD-KT) yang berlangsung di Gedung Pertemuan Umum Tambun-Bungai, di mana KMA Usop mencetuskan yang sekarang dikenal dengan istilah “budaya bétang”. Sejak itu pula, saya dapatkan diri saya sering memiliki pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak-belakang dengan KMA Usop tentang banyak soal.
Di samping peti jenazah hal demikian, yang tentu saja juga diketahui benar oleh Ny. Mutiara Usop saya katakan kembali. Sekarang dengan perginya KMA Usop saya tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Dan sesuatu yang berharga itu adalah patner diskusi. Lawan debat. Mitra berpolemik. Sejak berkenalan dan berdiskusi, kami tidak pernah menyembunyikan pendapat kami. Perbedaan pendapat itu mengasah pikiran dan pemikiran saya yang tidak pernah lupa menyediakan ruang besar kepada kebenaran pihak lawan diskusi atau debat. Betapa pun tajamnya bahkan bertolak-belakang pendapat, kami tetap saja mempunyai hubungan yang baik. Sementara terdapat pihak-pihak lain yang memandang, perbedaan dan kritik sebagai permusuhan dan meludahi muka seseorang di depan publik. Yang berbeda pendapat dan pengkritik lalu dikucilkan dan diperlakukan sebagai musuh. Perbedaan pendapat dan saling kritik, tidak dilihat sebagai upaya mendekati kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya. Adanya debat dan atau polemik tidak dipahami sebagai petunjuk berkembangnya budaya kritis dan merupakan tradisi dalam dunia akademi yang pertama-tama mempertanyakan sesuatu. Tidak berkembangnya budaya kritis, memberi peluang leluasa bagi tumbuh dan dominasi neo-feodalisme, otoritarianisme, orangtua (Uluh Bakas)-isme. Asal Bapak Senang, perilaku menjilat ke atas menekan ke bawah, menyikut ke samping, menohok teman seiring dari belakang, instanisme, main kroyok (seakan-akan kebenaran dan mayoritas adalah identik), dan lain-lain pola pikir dan mentalitas sejenis.
Menanggapi rasa kehilangan patner debat ini, Ny. Mutiara mengatakan bahwa suaminya memandang hal demikian dalam dunia akademi merupakan hal yang jamak. Apakah semua yang bekerja di dunia akademi (untuk tidak menggunakan istilah akademisi atau cendikiawan), terutama di Kalimantan Tengah sudah bersikap akademisi?
Sikap akademis, sikap ilmiah, budaya kritis masih belum mentradisi di Kalteng walau pun di antara 2,5 juta penduduk Kalteng, tiap 28 orang paling tidak terdapat seorang yang menyandang gelar akademi Strata 1 (Satu). Memelihara pola pikir, mentalitas dan perilaku non akademis yang secara lain mau saya sebutkan primitif dan takhayul saya tidak yakin Kalteng akan bisa maju melesat. Sebaliknya Kalteng akan lari ke belakang dan makin mapan di atas kerusakan. Apakah dengan kepergian KMA Usop, sikap akademis akan melenyap pula ataukah dijadikan warisan yang patut dikembangkan? Jawaban persoalan ini akhirnya terpusat pada dunia pendidikan di daerah ini. []

Ny. Mutiara Usop menatap pilu peti jenazah suaminya dimasukkan ke lubang kuburan (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015)

Ny. Mutiara Usop menatap pilu peti jenazah suaminya dimasukkan ke lubang kuburan (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015)

DOKUMENTASI
Catatan Andriani S. Kusni

Dengan kepergian Prof. H. KMA Usop, MA, Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali kehilangan seoang lagi figur pentingnya. Walau pun almarhum telah mempunyai karya-karya tulis dan dokumentasi tentang almarhum cukup ada, tapi kiranya dokumentasi tentang KMA Usop tetap saja belum memadai.
Seusai membaca Surat Yasin di depan peti jenazahnya, saya berpikir mengapa pihak-pihak terkait seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah tidak berprakarsa untuk memperkuat dokumentasi provinsi ini? Dokumentasi di Kalteng nampaknya masih sangat lemah dan belum menjadi perhatian benar serta belum disadari arti pentingnya.
Tidak sedikit tokoh-tokoh sejarah dan orang-orang berjasa di berbagai bidang di Kalteng yang meninggal tanpa terdokumentasi sama sekali seperti Walman Narang, Tiyel Djelau, Kapten Mulyono, Hausmann Baboe, G. Obos, Mahir Mahar, tokoh-tokoh Lasykar Perempuan Dayak, Pasukan Gerakan Revolusi Indonesia, Peter Sawong, dll.
TVRI Kalteng pada masa pimpinan Bordju, pernah mengambil prakarsa membuat film documenter tentang tokoh-tokoh dan pelaku sejarah di Kalteng. Pada masa pimpinan Borju, TVRI Kalteng pernah membuat film-film dokumenter tentang TT. Suan dan Imanuel Nuhan, penerjun pertama yang waktu itu masih hidup. Dilihat dari segi sejarah, kebudayaan, pendidikan dan dokumentasi, saya kira langkah yang pernah dilakukan oleh TVRI Kalteng patut dilanjutkan. Kalau bujet untuk itu dirasakan oleh TVRI Kalteng terlalu berat ditanggung sendiri, tanggungan berat itu barangkali bisa menjadi lebih ringan apabila Dinas-Dinas Badan-Badan Pemerintah terkait bekerjasama memikulnya.
Berada di antara jejeran karangan bunga duka dari para politisi yang membuat kepergian KMA Usop terasa sangat berbau politis, apalagi menjelang pilkada Gubernur, saya disentak oleh pertanyaan: Seberapa jauh kehidupan dan kegiatan KMA Usop terdokumentasi? Seberapa serius Kalteng memperhatikan masalah dokumentasi dan arsip? Jika dokumentasi dan arsip masih tidak menjadi perhatian, bisa dipastikan Uluh Kalteng akan asing dengan dirinya sendiri. []

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: