JEMBATAN KASONGAN

Cerpen Ibnu HS *
SANG TERSANGKA
Desa Gempar yang biasanya tenang tiba-tiba dikejutkan dengan peristiwa terbakarnya rumah Pak Lurah pada suatu pagi. Kebakaran yang terjadi tiba-tiba. Masih untung cepat segera diketahui sehingga masih bisa ditanggulangi dan kebakaran tidak meluas ke mana-mana.
Polisi yang datang memeriksa di tempat kejadian menemukan sejumlah benda mencurigakan; pecahan kaca dari sebuah botol minuman dan sebuah sumbu yang telah hangus pada ujungnya. Maka segera ditarik sebuah kesimpulan bahwa rumah Pak Lurah sengaja dibakar oleh seseorang dengan menggunakan bom molotov!
Persoalannya sekarang, siapa yang bertanggung jawab atas terbakarnya rumah Pak Lurah tersebut. Segera saja berita terbakarnya rumah Pak Lurah dan siapa tersangka pelakunya menjadi perbincangan orang-orang desa. Sejak hari itu tidak ada dua orang warga desa yang bertemu jika tidak menjadikannya sebagai bahan obrolan.
Persoalan yang kemudian lebih mengemuka adalah siapa sosok yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Di mata masyarakat desa, ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk diungkapkan. Boleh jadi lawan politiknya waktu pemilihan lurah dulu, atau orang lain yang memang tidak suka dengan Pak Lurah secara pribadi.
Kalau sudah menyangkut kategori yang ke dua itu, menjadi makin sulit untuk ditebak. Sebab bicara tentang siapa yang tidak suka dengan Pak Lurah maka begitu banyak orang di desa itu yang tidak senang dengan Pak Lurah. Di mata warga desa selama ini Pak Lurah adalah orang yang sombong dan arogan.
Tapi tiga hari setelah peristiwa tersebut, teka-teki tentang siapa pelaku yang dianggap bertanggung jawab atas terbakarnya rumah Pak Lurah tampaknya mulai terkuak. Polisi yang bekerja keras menyelidiki peristiwa itu selama tiga hari menangkap salah seorang warga desa sebagai tersangka tunggal. Orang itu adalah To’ Brahim, lelaki tua yang selama ini bekerja sebagai guru mengaji anak-anak desa.
Peristiwa itu mengejutkan banyak orang. Sebagian kalangan menilai polisi tentu telah bekerja keras dan menemukan sejumlah petunjuk yang mengarah kepada To’ Brahim sebagai tersangka utama.
Bagi mereka yang tidak percaya dengan tudingan bahwa To’ Brahim adalah tersangka pembakaran rumah Pak Lurah adalah karena selama ini mereka mengenal orang tua itu sebagai orang yang lembut, sabar dalam mengajari anak-anak, dan rajin membantu warga yang butuh pertolongan. Jika ada saluran air yang tersumbat selama ini maka tanpa disuruh To’ Brahim akan langsung turun tangan membersihkannya.
Mereka yang setuju dengan dugaan bahwa tersangkanya adalah To’ Brahim adalah orang-orang yang selama ini dikenal dekat dengan Pak Lurah. Kata mereka To’ Brahim punya motif yang jelas untuk membakar rumah Pak Lurah.
“Orang tua itu marah dengan Pak Lurah karena Pak Lurah tidak menyuruh anak-anaknya belajar mengaji padanya,” seru salah satu pendukung setia Pak Lurah yang berapi-api bicara pada orang banyak seperti seorang pejabat yang menggelar konperensi pers di pasar desa pagi itu.
Sebagian orang yang mendengar omongan itu mencibirkan bibir. Wajar saja Pak Lurah tidak menyuruh anak-anaknya mengaji pada To’ Brahim. Pak Lurah kan tidak punya anak kecil lagi?
Bagaimanapun – percaya atau tidak – polisi telah menangkap To’ Brahim sebagai tersangka. Pagi itu lelaki yang hidup sendirian sejak meninggalnya sang istri dijemput polisi untuk dimintai keterangan meski sedang menggigil demam.
Penangkapan To’ Brahim membuat Bujang, seorang pemuda warga desa marah. Penyebabnya adalah karena sesungguhnya pelempar bom molotov ke rumah Pak Lurah itu adalah dirinya. Bukan To’ Brahim!
Sepele sebenarnya. Adalah ia yang dikenal sebagai lelaki luntang-lantung itu suatu hari sedang berkumpul di pinggir jalan dengan teman-temannya. Saat itu ia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita temannya dan berjalan sempoyongan di tengah jalan. Waktu itulah ia tidak sengaja menabrak Pak Lurah.
“Matamu buta ya?” semprot Pak Lurah dengan mata yang melotot ke arah si pemuda.
Meskipun merasa jengkel saat itu ia membiarkan saja Pak Lurah memarahinya. Tapi sikap diamnya membuat ia diejek oleh teman-temannya sebagai pengecut. Ejekan teman-temannya membuat semangatnya terlecut. Ia harus membuktikan pada orang-orang itu bahwa ia tidak takut dengan Pak Lurah.
Maka subuh buta itu, waktu hari belum terang tanah ia melemparkan bom molotov yang telah disiapkannya ke rumah Pak Lurah dan menghebohkan orang banyak. Tapi tertangkapnya To’ Brahim sebagai tersangka utama menimbulkan kejengkelannya. Ia yang melakukan kenapa orang tua itu yang dapat nama karenanya?
Dalam kejengkelannya ia keluar menemui orang-orang. Setiap ada orang yang menceritakan tentang peristiwa itu pasti ia mendekat dan mengaku sebagai pelaku pembakaran rumah Pak Lurah.
“Polisi telah salah tangkap. Mereka tidak tahu kalau akulah yang melemparkan bom molotof itu!” serunya lantang di depan orang ramai.
Pengakuannya itu membuat orang menjadi ribut. Belum selesai satu polemik, muncul satu polemik lagi. Sebagian meragukan pengakuannya, sebagian lain percaya.
Keresahan yang timbul dimasyarakat atas pengakuan Bujang membuat polisi kembali gerah hati. Wibawa polisi menurun karenanya. Petang hari itu ia dipanggil untuk menjelaskan semuanya.
Di depan polisi ia kembali mengulangi pengakuannya. Bahwa polisi salah menangkap orang. Bahwa sesungguhnya yang mencoba membakar rumah Pak Lurah itu adalah dirinya. Bukan To’ Brahim.
Pengakuannya itu membuat pimpinan polisi menjadi berang. Ini berbahaya. Pengakuan itu membahayakan wibawa polisi. Orang bisa tidak mempercayai polisi lagi karenanya.
Di depan Bujang ia mencoba meyakinkan pemuda itu bahwa bukan ia yang menjadi tersangka.
“To’ Brahim itu punya motif. Selama ini menurut Pak Lurah orang itu adalah pengganggu ketentramannya. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau suatu hari ia akan membakar rumah Pak Lurah,” tukasnya sambil mendekatkan wajahnya pada Bujang.
Jadi polisi tetap pada kesimpulannya semula. To’ Brahim adalah tersangka utama percobaan pembakaran rumah Pak Lurah. Kalau ada yang mengakui bahwa ia adalah pelakunya, maka itu jelas sebuah kebohongan. Tujuannya adalah merusak citra polisi dan Pak Lurah di mata masyarakat.
Saat itu juga ia dimasukkan ke dalam sel. Bukan atas tuduhan mencoba membakar rumah Pak Lurah, melainkan sebagai penyebar kebohongan publik. Ini mengecewakannya karena tujuannya membuktikan pada banyak orang bahwa ia tidak takut pada Pak Lurah tidak tercapai.
Di dalam sel ia bertemu dengan orang yang dituduh polisi dan diyakini Pak Lurah sebagai musuh besarnya. Tersangka utama percobaan pembakaran rumah Pak Lurah.
Melihat sosok dengan mata seteduh telaga itu tiba-tiba saja hatinya tergetar. Ia yang selama ini tidak pernah menyesali perbuatannya tiba-tiba merasa sangat bersalah. Perbuatan yang dilakukannya untuk mencari ketenaran itu telah memakan korban yang tidak bersalah.
Di depan lelaki tua itu ia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Laki-laki tua itu tidak marah padanya. Dengan bijak ia menasehati pemuda itu untuk tidak memperturutkan hawa nafsu.
Tengah malam itu ia terbangun ketika ia mendengar suara orang menangis. Dilihatnya lelaki tua itu bersimpuh di atas sajadah. Tubuhnya menggigil oleh tangis.
“Kenapa To’ Brahim menangis. Dato’ takut?,” ucapnya perlahan sambil mendekati orang tua itu.
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya.
“Dato’ bukannya takut atau sedang sakit. Dato’ sedang sedih. Sebentar lagi subuh tiba dan Dato’ tak bisa lagi mengumandangkan azan subuh dari surau desa. Sesuatu yang telah begitu lama Dato’ lakukan. Sesuatu yang sangat membahagiakan. Kebahagiaan karena bisa membangunkan orang untuk mengingat Sang Pencipta,” tuturnya sedih.
Kebiasaan inilah yang tidak disenangi oleh Pak Lurah. Ini dirasakannya sebagai gangguan, sebagai teror karena corong mikrofon surau yang cuma satu tepat menghadap rumah Pak Lurah. Mengusik ketenangan mimpi lelapnya.
“Saya kan berhak untuk tidur lelap setelah seharian penuh mengabdikan diri bagi rakyat. Eh, To’ Brahim begitu lancang memamerkan suara buruk tiap subuh langsung ke kamar tidur saya!”
Begitu pernah Pak Lurah memanggilnya. Tapi To’ Brahim mana perduli. Baginya mengumandangkan azan subuh adalah tugas suci. Tentu saja itu membuat Pak Lurah menjadi jengkel dan menempatkan orang tua itu sebagai musuh nomor satu.
Dan kini karena perbuatan yang tidak dilakukannya sama sekali ia harus meringkuk di balik terali besi. Kehilangan kebahagiaannya membangunkan orang-orang untuk mengingat Sang Pencipta.
Polisi kemudian memindahkan To’ Brahim ke Kabupaten untuk mengikuti proses persidangan. Pak Lurah bisa bernafas lega karena sejak itu tidak akan ada lagi suara buruk yang menggangu tidur lelapnya. Polisi pun melepaskan Bujang dengan janji tidak lagi mengaku-ngaku sebagai tersangka.
Sejak pertemuannya dengan To’ Brahim di tahanan polisi itu orang banyak melihat perubahan pada diri Bujang. Pembawaannya menjadi lebih tenang. Ia mulai melaksanakan sholat. Mulai mengajak para pemuda desa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.
Dan lebih mengagetkan lagi ketika subuh itu ia mengumandangkan azan di surau desa. Menyentakkan Pak Lurah dari tidur lelapnya dan menjadi berang karenanya.
“Dasar teroris …!” pekik Pak Lurah dari dalam kamarnya.

Kota Kuntilanak, 22 Desember 2002.

• Penulis tinggal di Sukamara. Cerpen ini diunduh dari kumpulan cerpen borneo dari pengarang-pengarang asal Borneo (Kalimantan/Indonesia, Sabah, Sarawak, Labuan/Malaysia dan Brunei Darussalam)

Sajak Kusni Sulang
DI JEMBATAN KASONGAN

di jembatan kasongan
katingan mengalir dan
segala kisah
tanpa bendungan

terasa benar harapan yang dijaga sangat menyiksa
apalagi di sini, di kampunghalaman yang
kusambangi tanpa sesal oleh hutang patut dibayar

kembali terasa sulitnya sungguh-sungguh
mencintai apalagi stigma
masih mengintai diam-diam di kanan-kiri – petinggi jadi berhala

di sungai-sungai yang mengalir
asin airnya yang mengalir airmata
bulan tembaga matahari tembikar
memancar kegeraman berdarah
orang hilang pegangan

angin bermain di daun-daun
mengangguk mengenalku, aku pun mengenalnya
karena dukanya dan dukaku
dua saudara seibu sebapak

untuk mengenal benar kampung kelahiran
kita patut turun tangga hingga jauh ke gunung
ucapan petinggi 99 persen dusta
hanya membagus-baguskan diri
sebab petinggi hari ini tidak suka kenyataan

untuk mengenal para panarung kita perlu ketemu tetua kampung yang pendiam
sebab petinggi merasa diri pahlawan sendiri
sedangkan yang sungguh mereka bunuh
juga kau, hausmann
di jembatan kasongan
katingan mengalir dan
segala kisah
tanpa bendungan

aku pulang mencari
menjumpainya
pahit atau manis
aku menjumpaimu []

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: