FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA

“Budaya bisa diibaratkan sebagai sebuah air yang jernih, sehingga ketika menyelaminya pun akan mendapatkan sebuah pencerahan. Budaya adalah rasa rakyat yang tepat

Sri Sultan Hamengku Buwono x – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta XXIII (ANTARA News)

Sejarah FKY

Festival Kesenian Yogyakarta ?

Satu dialog membicarakan masalah kesenian terjadi di gedung DPRD-GR pada tahun 1968, dihadiri beberapa pejabat Dinas P dan K para anggota legislative Seksi II Bidang Kesejahteraan Rakyat. Memang tidak terlalu sering Dewan itu membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesenian. Tetapi apa yang diacarakan pada sidang dan terjadinya dialog waktu itu cukup penting. Karena pada waktu itu selalu anggota DPRD kami mengajukan usul agar diselenggarakan PORSENI (Pekan Olah raga dan Seni) untuk murid-murid Sekolah Dasar.

Pemikiran dasarnya adalah agar sejak usia muda anak-anak sudah mendapat pendidikan kesenian disamping olahraga. Diadakannya satu pekan kegiatan dapat menjadi sarana pemacu pemacu Sidang setuju, Kepala Dinas P dan K Bapak A. Sudarsono setuju, Kepala Inspeksi Kebudayaan Bapak Sudarsono Pringgobroto mendukung, Kepala Inspeksi Pendidikan Dasar Bapak Drs. Sinto Ariwibowo setuju demikian pula Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani.

Namun setelah keputusan itu akan diikuti dengan kegiatan operasional timbul dengan kegiatan operasional timbul kebimbangan. Masalahnya karena dalam rapat Panitia Anggaran untuk keperluan PORSENI hanya “keduman” biaya (istilah Pak A. Sudarsono) atau kebagian beberapa ratus ribu rupiah saja. Kami sebagai pengusul balik ditanya Kepala Dinas P dan K, uang hanya sekecil itu untuk apa, jika akan menyelenggarakan PORSENI. Spontan kami jawab bahwa PORSENI yang pertama cukup dengan lomba “Kasti” dan “Panembrama” saja. Yang penting (tercatat dalam Buku Anggaran Belanja dan Pendapatan Pemda DIY). Nanti bila sudah terwujud berikutnya dikembangkan dan ditingkatkan terus. Demikianlah jadinya PORSENI pertama terlaksana walau tidak hanya kasti dan panembrama. Dan tahun berikutnya tampak lebih bergairah. Sayang juga bahwa pada tahun-tahun kemudian mulai muncul ekses-ekses dalam penyelenggaraan yang kami sendiri tidak menghendaki.

Setelah PORSENI pertama-kedua berlangsung timbul pula gagasan mengenai dimungkinkannya diselenggarakan PEKAN SENI untuk masyarakat luas. Ide dasarnya ialah agar masyarakat semakin mencintai kesenian dan para seniman mendapat tempat dan kesempatan berolah seni dalam pecan kegiatan setahun sekali. Para pejabat Dinas P dan K sangat setuju dengan gagasan tersebut. Hanya dengan kalimat dan ungkapan halus, Dinas merasa belum sanggup melaksanakan dengan mengingat anggaran belanja DIY demikian terbatasnya.

Beberapa waktu kemudian Bapak Sudarso Pringgobroto Kepala Inspeksi Kebudayaan mengajukan usul brilian, agar Pekan Kesenian dapat juga diselenggarakan tetapi dibatasi dulu mata kegiatan berupa Festival Sendratari. Sudah tentu Seksi II DPRD-GR DIY menyambut baik. Apalagi ditambahkan dan ditegaskan bahwa sendratari dimaksud tidak harus mengambil ceritera dari etos Ramayana. Perlu ceritera rakyat dari DIY digali dan diangkat dengan daya kreativitas dalam pemanggungan. Sekitar tahun 1971 gagasan Pekan Seni realisasinya terwujud walau terbatas dalam festival Sendratari.

Namun gagasan untuk suatu waktu terjadinya Pekan Seni yang memberi peluang masyarakat luas dan seniman berbagai cabang seni berkiprah, tidaklah lenyap tak terbekas. Masalahnya, hanya karena belum sampai pada “titi wanci”. Maka demikianlah pada tahun 1988 melalui Dewan Kesenian DIY ide Pekan Seni disuguhkan pada siding pleno Dewan Kesenian dan secara aklamasi dapat diterima.

Ide dasar Pekan Seni DIY adalah bahwa DIY yang memiliki “gelar yekti sebagai salah satu pusat Kebudayaan Nasional harus dipelihara. Salah satu jalan yang dapat menghangatkan pemeliharaan itu ialah dengan media Pekan Seni. Juga Yogyakarta walau sempit areal geografisnya, tetapi amat kaya dengan potensial seni yang tidak akan mengalami jenuh bila secara rutin diadakan Pekan Seni. Demikian beberapa dasar pertimbangan, masih jelas pemikiran dasar lain-lain demi peningkatan peran dan mutu karya para senimannya. Segera dibentuk Panitia, mulai rapat-rapat dan berbagai pembenahan dilakukan. Sampailah pada sidang pleno Panitia membahas nama atau istilah Pekan Seni.

Cukup hangat masalah nama kegiatan itu didiskusikan. Ibu Ir. Dra. Suliantoro Sulaiman, Sdr. Bagong Kussudiardjo, Sdr. Drs. AMri Yahya, Sdr. Drs. Wisnoe Wardhana berkecenderungan mengubah nama Pekan Seni dengan istilah Festival. Beberapa argumentasi disebutkan al. akan mudahkan pendatang mancanegara bila mendengar istilah tersebut, cepat mengerti dan tertarik. Juga istilah Festival tidak membatasi waktu kegiatannya hanya satu pecan.

Festival lebih banyak menyajikan sesuatu yang bermutu dan menjadi tolok ukur peningkatannya dari penyelenggaraan berikutya. Walaupun ada beberapa yang bertahan dengan mempergunakan nama Pekan Seni, atas beberapa tambahan pertimbangan maka istilah festival dapat disepakati. Dan tambah lengkap disempurnakan menjadi Festival Kesenian Yogyakarta disingkat FKY.

FKY lahir dan hadir mulai 7 Juli tahun 1989 dengan start bersamaan waktunya pada saat rakyat Yogyakarta memperingati 40 tahun “Jogja Kembali” yang ditandai dengan peresmian Monumen Jogja Kembali oleh Presiden R.I. Jadi FKY diadakan bukan karena “latah” berhubung beberapa Provinsi lain telah lebih dulu menyelenggarakan Pekan Seni, Pekan Budaya, Pesta Kesenian dan lain sebagainya. Ide adanya Pekan Seni yang dimantapkan dengan FKY bagi Yogyakarta telah ada sejak tahun 1970. Hanya karena terbatasnya dana dan belum masak sampai pada waktunya, gagasan itu tertunda pemunculan dan realisasinya.

FKY yang pertama dengan anggaran yang hanya berjumlah 20 juta telah terlaksana. Kecilnya dana yang tersedia tidak membuat “grogi”. DK DIY dan Panitia, karena dasar pendirian yang penting ialah dapat dimulai, juga menjadi bahan tolok ukur apakah kehadiran FKY itu diterima tidaknya oleh masyarakat seniman dan masyarakat umum dengan anggaran sekecil itu. Karena pelaksanaannya benar-benar dijiwai semangat pengabdian bagi kemajuan seni dan tidak atas dasar model “tanggapan” mengejar keuntungan uang semata-mata.

Demikianlah FKY pertama berlangsung selamat dengan mata acara sekitar delapan macam, berlokasi di kota Yogyakarta saja. Drai FKY pertama 1989 DK DIY mendapat “green light” dari Pemda DIY untuk dapat diselenggarakan lagi tahun 1990. Dengan beberapa dukungan moril-materiil. Yaitu amanat Gubernur Kepala daerah yang menegaskan agar FKY melembaga dan kegiatannya berlangsung “ajeg” sedang DPRD DIY dalam keputusan mnegenai APBD tahun berikutnya 1990 memperbesar anggaran menjadi 80 juta. Macam dan mata acara dengan demikian dapat dilipat gandakan dan wilayah kegiatannya dapat diperluas sampai ke daerah-daerah Kabupaten se DIY. Angka 80 juta yang begitu dianggap besar, terasa kecil yang bila dibelanjakan untuk kegiatan Pawai Seni yang melibatkan 29 group, Pameran Seni Rupa dengan peserta sekitar 200 seniman dengan materi pameran lebih dari 200 macam lukisan, patung, seni batik, dll. Juga besar biayanya untuk penyelenggaraan acara Panggung Kesenian Terbuka di Alun-Alun Utara yang didukung sekitar 57 group mulai dari group anak-anak SD, PS. Remaja, Tari klasik atau baru group remaja, Dagelan, Keroncong, Ketoprak, dll. Pergelaran wayang kulit/golek di Pagelaran Keraton, Pentas Tari Klasik dan Kreasi Baru dari Sanggar dan group yang kenamaan berlokasi di Bugisan, Teater, Pameran Seni Foto, Pameran Seni Lukis anak-anak, Sastra Jawa, Pasar Seni, Pentas Kesenian Rakyat Tradisional. Masih ditambah lagi acara kesenian antar kecamatan yang diadakan di Kotamadya, pergelaran kesenian antar Kabupaten se DIY yang kesemuanya memerlukan pembiayaan.

Sesudah secara nyata eksistensi FKY diterima masyarakat luas, mewajibkan untuk tahun-tahun berikutnya meningkaan mutunya, walau tidak harus memakai jalan pintas dan drastis.

Festival Kesenian Yogyakarta telah melakukan kiprahnya selama 24 tahun. Dan di tahun 2013 ini memasuki penyelenggaraan yang ke-25.

kutipan artikel karya: Ki Nayono

Comments

  1. […] Festival Kesenian Yogyakarta lahir dan hadir mulai 7 Juli tahun 1989 dengan start bersamaan waktunya pada saat rakyat Yogyakarta memperingati 40 tahun “Jogja Kembali” yang ditandai dengan peresmian Monumen Jogja Kembali oleh Presiden R.I. Jadi FKY diadakan bukan karena “latah” berhubung beberapa Provinsi lain telah lebih dulu menyelenggarakan Pekan Seni, Pekan Budaya, Pesta Kesenian dan lain sebagainya. Ide adanya Pekan Seni yang dimantapkan dengan FKY bagi Yogyakarta telah ada sejak tahun 1970. Hanya karena terbatasnya dana dan belum masak sampai pada waktunya, gagasan itu tertunda pemunculan dan realisasinya. – Info Fky […]

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: