NEGARA JANGAN DIKUASI MAFIA

SP Logo

Negara Jangan Dikuasai Mafia
Harian Suara Pembaruan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2015 | 16:22

ilustrasi mafia. [Istimewa] ilustrasi mafia. [Istimewa]
Belum tuntas persoalan harga daging sapi yang melonjak dan sulit dijangkau, kini masyarakat kembali dihadapi dengan persoalan daging ayam. Kelangkaan dan harga daging sapi serta ayam itu menunjukkan bahwa masih ada mafia pangan yang bermain dengan memanfaatkan situasi dalam negeri untuk menangguk keuntungan besar. Setelah sebelumnya rakyat Indonesia dipermainkan dengan persoalan beras, mulai dari harga yang melambung hingga isu beredarnya beras plastik, kini publik kembali resah dengan harga ayam yang merangkak naik.

Permainan harga pangan ini harus segera diakhiri jika pemerintah tidak ingin dicap telah memberi angin segar bagi sepak terjang para mafia pangan. Harga pangan yang kian melonjak itu sebenarnya bisa diturunkan hingga terjangkau oleh masyarakat.

Harga daging sapi, misalnya, bisa berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per kg. Syaratnya, pemerintah membuka besarbesaran impor daging sapi beku. Saat ini, harga daging sapi beku asal Australia dan Selandia Baru berada pada kisaran Rp 62.000 per kg. Sebaliknya, apabila impor dalam bentuk sapi hidup, harga daging sapi di dalam negeri sulit turun di bawah Rp 100.000 per kg.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemdag), rata-rata harga daging sapi secara nasional pada 19 Juli 2015 mencapai Rp 115.000 per kg. Bahkan, di sejumlah daerah, harga daging sapi sempat tembus Rp 120.000 hingga Rp 130.000 per kg. Harga sempat turun menjadi Rp 107.000 per kg pada awal Agustus 2015. Namun, pada 17 Agustus 2015, harga daging sapi melonjak lagi rata-rata menjadi Rp 110.000 per kg.

Presiden Jokowi telah berjanji bahwa pemerintah akan mengupayakan harga murah untuk daging sapi. Menurutnya, harga daging sapi melonjak tajam karena ada oknum yang menimbun stok daging tersebut. Pemerintah akan membeli langsung dengan cara impor daging sapi agar harganya murah.

Pernyataan Presiden bahwa ada pihak yang menimbun stok daging sapi itu menunjukkan bahwa praktik mafia masih merajalela di sektor pangan. Praktik seperti ini terkesan sulit diungkap, namun masyarakat merasakan keberadaan mereka.

Mafia pangan terkesan sulit diungkap karena patut diduga mereka menyusup di segala lini, mulai dari pengusaha hingga eksekutif dan legislatif. Selain masyarakat yang menjadi korban karena harga pangan yang melambung tinggi, para mafia juga tak segan-segan mendorong agar pejabat negara, terutama menteri, yang secara tegas menolak kehadiran mereka untuk dicopot. Ada sejumlah menteri yang menjadi korban mafia pangan tersebut.

Momentum kenaikan harga atau kelangkaan pangan pokok sering kali terkait dengan perombakan kabinet. Contohnya, pada Januari 2014, Menteri Perdagangan di era Presiden SBY, Gita Wirjawan mengundurkan diri ketika muncul polemik terkait impor beras yang menjadi perhatian publik.

Gita yang sempat lolos dari tekanan polemik harga daging sapi, akhirnya tak kuat juga menghadapi mafia pangan saat mereka memainkan harga beras. Ritme politik seperti itu kembali dirasakan masyarakat saat terjadi perombakan kabinet pada 12 Agustus lalu.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel diberhentikan saat polemik harga daging sapi mencuat. Rachmat Gobel diberhentikan justru saat dia konsisten untuk tidak membuka ruang yang luas bagi importir sapi.

Gobel diganti saat dia berusaha memperkuat peran negara dalam menyediakan pangan yang layak dan murah bagi rakyat serta memberdayakan Bulog sebagai penyangga pangan nasional. Selain itu, kebijakan-kebijakan Kementerian Perdagangan di bawah kepemimpinan Rachmat Gobel selalu mengarah untuk melindungi produk-produk lokal dari merebaknya produk luar negeri. Akibatnya, kebijakan tersebut kerap membuat Gobel bermusuhan dengan para mafia impor.

Salah satu faktor yang membuat para mafia pangan bebas beraksi adalah soal data konsumsi dan ketersediaan pangan di Tanah Air. Selama ini, data pemerintah soal pangan amburadul dan itu sangat berpengaruh pada kebijakan yang diambil.

Selama ini, pemerintah hanya mengandalkan data BPS yang hanya berbasis pada perhitungan tertentu. Contohnya, produksi beras nasional selama 2014 tercatat sebesar 43 juta ton dengan konsumsi beras kurang lebih 139 kg per kapita per tahun. Dengan data itu, seharusnya Indonesia masih surplus beras, tapi kenyataannya malah krisis beras.

Sejumlah pakar mengatakan, simpang siur data pangan terjadi karena perbedaan metode survei yang dilakukan yang berakibat pada ketidakvalidan data. Selama ini ada dua cara pengumpulan data, yakni lewat metode survei di lapangan dan lewat pendekatan. Pengumpulan data lewat pendekatan itu yang kerap tidak akurat, karena hanya menduga-duga.

Celakanya, kekacauan data pangan itu telah terjadi bertahun-tahun. Kita mendukung penuh upaya yang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi terkait kesediaan pangan bagi rakyat. Rakyat berharap pemerintah bisa segera menuntaskan persoalan pangan ini dan masalah serupa tidak kembali terulang pada tahun-tahun mendatang. Jangan sampai masalah pangan, yakni masalah harga dan pasokan, menjadi persoalan yang bersifat periodik setiap tahun.

Pemerintah harus segera membenahi data pangan di Tanah Air. Akurasi data tersebut sangat vital untuk menentukan kebijakan seputar pangan, termasuk kebijakan impor. Sebab, pemenuhan kebutuhan dalam negeri merupakan hal prioritas, baik melalui produksi dalam negeri maupun impor.

Dalam penentuan impor, pemerintah harus bersikap realistis dan benar-benar berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Itu hanya bisa dilakukan jika memiliki data yang akurat, bukan data “kira-kira”. Jangan sampai kesalahan data itu justru membuat mafia bisa dengan leluasa memainkan harga dan pasokan pangan, terutama pangan pokok bagi rakyat seperti beras.

Dengan kebijakan yang tepat itu pula petani di Indonesia bisa semakin sejahtera seperti salah satu Nawa Cita yang dicanangkan Presiden Jokowi, yakni membangun dari pinggiran. ***

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: