LAGI TANGGAPAN-TANGGAPAN TERHADAP PERNYATAAN MENHAN RIYACUDU TENTANG MAAF TERHADAP KORBAN HAM

LAGI TANGGAPAN-TANGGAPAN TERHADAP PERNYATAAN MENHAN RIYACUDU TENTANG MAAF TERHADAP KORBAN HAM

On Friday, 21 August 2015, 1:33, “‘Lusi D.’ lusi_d@rantar.de [nasional-list]” <nasional-list@yahoogroups.com> wrote:

Itu Jendral Riyacudu ngomongnya kok kayak jagoan kampung saja. Mestinya
sedikit ngerti sejarah perang kemerdekaan dan pendidikan politik ttg
peristiwa 30 September dong. Apa tingkat pendidikan jendral-jendral
Indonesia lainnya seperti itu? Diangkat jadi menteri pertahanan lagi.

Hai Thu, 20 Aug
2015 16:05:37 +0200 schrieb “‘arif.harsana@t-online.de’
arif.harsana@t-online.de [GELORA45]” <GELORA45@yahoogroups.com>:

Dalam pembelaannya, Kol. Latief menyatakan, bahwa tidak ada maksud
untuk membunuh para jendral, tetapi hanya ingin menghadapkannya kepada
Presiden Sukarno untuk mengklarifikasi tentang adanya berita tentang
rencana kudeta oleh Dewan Jendral yang akan dilakukan pada tgl
5.Oktober 1965.

Belakangan terungkap, bahwa yang menyuruh agar membunuh para
jendral ternyata Komandan pasukan yang bernama Doel Arif.

Lettu. [1] Doel Arif adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam
menangkap jenderal-jenderal [2] Angkatan Darat yang diduga akan
membentuk Dewan Jenderal [3] dalam peristiwa Gerakan 30 September [4]
1965 [5].

Sebagai komandan Pasukan Pasopati [6] yang menjadi operator
G30S [7], ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi
penculikan jenderal-jenderal [8] pimpinan AD [9].

Belakangan terungkap, bahwa Doel Arif adalah seorang
kepercayaan, malah dibilang anak kesayangan Ali Murtopo. Dan Ali
Murtopo bersama Yoga Sugama adalah dua tokoh utama yang bersama
Suharto sebagai Trio (Suharto-Ali Murtopo-Yoga Sugama) yang berperan
menentukan dalam setiap langkah Suharto dalam melancarkan kudeta
merangkak, dengan dukungan Blok Barat dibawah pimpinan CIA /AS
menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno.

Nasib Lettu. Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali
Moertopo [10], hilang bak ditelan bumi, sampai sekarang tidak ada
yang tahu.

*****

http://ochasaja.blogspot.de/2009/01/mengapa-soeharto-dituduh-sbg-dalang.html

Kenapa Suharto pantas diduga sebagai dalang dibalik G30S ?

Pada tanggal 21 September 1965, Kapten Soekarbi mengaku
menerima radiogram dari Soeharto yang isinya perintah agar Yon 530
dipersiapkan dalam rangka HUT ABRI ke-20 pada tanggal 5 Oktober 1965
di Jakarta dengan perlengkapan tempur garis pertama. Setelah
persiapan, pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal
25,26, dan 27 September.

Pada tanggal 28 September pasukan diakomodasikan di kebun Jeruk
bersama dengan Yon 454 dan Yon 328. Tanggal 30 September seluruh
pasukan melakukan latihan upacara. Pukul tujuh malam semua Dan Ton
dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530, Mayor Bambang
Soepono. Dalam briefing tersebut disebutkan bahwa Ibu kota Jakarta
dalam keadaan gawat. Ada kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan
kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah. Briefing berakhir pada pukul
00.00. Pukul dua pagi tanggal 1 Oktober, Kapten Soekarbi memimpin sisa
Yon 530 menuju Monas. Di kompleks Monas mereka berkedudukan di depan
istana. Pada saat itu, karena kedudukan mereka dekat Makostrad,
pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil. Karena
tidak ada teguran dari Kostrad, berarti Kostrad tahu bahwa mereka ada
di sana.

Pukul setengah delapan Kapten Soekarbi melapor pada Soeharto tentang
keadaan ibu kota yang gawat serta adanya isu Dewan Jenderal. Namun
Soeharto menyangkal berita tersebut.
Kapten Soekarbi sendiri mengaku tidak mengetahui terjadinya penculikan
para Jenderal. Ia tetap merasa aman karena Pangkostrad Soeharto telah
menjamin keadaan tersebut. Namun ia berpendapat bahwa Soeharto pasti
lah tahu tragedi penculikan para Jenderal tersebut. Karena pada
tanggal 25 September Kolonel Latief telah memberikan masukan tentang
keadaan yang cukup genting tersebut kepada Soeharto. Jadi sebenarnya
mustahil apabila Soeharto tidak mengetahui tragedi tersebut.

Yang patut dipertanyakan lagi adalah mengapa Soeharto tidak melakukan
pencegahan terjadinya tragedi tersebut. Kebiasaan dalam militer,
apabila ada gerakan yang disinyalir akan membunuh atasan akan langsung
dicegah. Namun kenyataanya Soeharto tidak sedikit pun mengambil sikap.
Padahal apabila ditelusur ia sangat mampu mencegah kejadian tersebut.
Pada saat itu, mereka sedang mempersiapkan HUT ABRI. Kostradlah yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan acara tersebut. Jadi semua pasukan
di Jakarta berada di bawah kendali Kostrad. Seharusnya Soeharto bisa
memerintahkan pasukan untuk mencegahnya.

Dalam cerita versi Soeharto dan Orde Baru disebutkan terdapat pasukan
liar di sekitar Monas. Kesaksian Kapten Soekarbi juga mematahkan
pernyataan tersebut. Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada
Kapten Soekarbi untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta. Tentunya ia
mengenali pasukan siapa yang berada di Monas kala itu. Kostrad pun
mengetahui kehadiran Yon 530. Namun pada kenyataannya Soeharto
membiarkan pernyataan yang mengatakan bahwa terdapat pasukan liar pada
saat itu.

***
Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan Soeharto adalah
pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief saat
menjengu anaknya, Tomy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dalam
versinya ia hanya mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal dimana
anaknya dirawat. Namun kejadian yang sebenarnya adalah mereka sempat
berbincang-bincang. Pada saat itu Kolonel Latief melaporkan bahwa
besok pagi akan ada tujuh jenderal yang akan dihadapkan pada presiden.
Namun pada saat itu Soeharto tidak bereaksi. Ia hanya menanyakan siapa
yang akan menjadi pemimpinnya. Tapi dari hasil wawancara Soeharto
dengan seorang wartawan Amerika, ia mengatakan”…….Kini menjadi
jelas bagi saya, bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk
menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rpanya
ia hendak membuktikan kebenaran berita , sekitar sakitnya anak saya,
……”.

Sedangkan dalam majalah Der Spiegel (Jerman Barat) Soeharto
berkata.”Kira-kira jam 11 malam itu, Kolonel Latief dan komplotannya
datang ke Rumah Sakit untuk membunuh saya, tetapi tampaknya ia tidak
melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.”
Dengan demikian ada tiga versi yang dikeluarkan oleh Soeharto sendiri
tentang pertemuannya dengan Kolonel Latiendral kok bicaranya kayak
jagoan kappung sajaf. Hal ini sangat lah memancing kecurigaan bahwa
Soeharti hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya.
***
Penyajian adegan penyiksaan ke enam jenderal dalam film G/30/S/PKI
ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita
versi Soeharto. Serka Bungkus adalah anggota Resimen Cakrabirawa. Pada
saat itu ia mendapat tugas ”menjemput” M.T Haryono. Ia turut
menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya. Ia
menyatakan bahwa proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui
proses penyiksaan seperti pada film G/30/S/PKI. Satu per satu Jenderal
dibawa kemudian duduk di pinggir lubang setelah itu ditembak dan
akhirnya masuk ke dalam Lubang. Serka Bungkus mengetahui adanya visum
dari dokter yang menyatakan tidak ada tindak penganiayaan. Namun
sepengetahuannya Soeharto melarang mengumumkan hal itu.

Selain itu salah satu dokter yang melakukan visum, Prof. Dr. Arif
Budianto juga menyatakan bahwa tidak ada pelecehan seksual dan
pencongkelan mata seperti yang ditayangkan dalam film. Memang pada
saat dilakukan visum ada mayat dengan kondisi bola matanya
’copot’. Tapi hal itu terjadi karena sudah lebih dari tiga hari
terendam bukan karena dicongkel paksa. Karena di sekitar tulang mata
pun tidak ada bagian yang tergores.
Tentu kita tidak dapat menduga-duga apa tujuan dan motif Soeharto
menyembunyikan hasil visum. Dalam hal ini ia terkesan ingin
memperparah citra PKI agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang
tragedi ini semakin kuat. Kebencian masyarakat pada PKI pun akan
memuncak dengan melihatnya.
***
Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi tersebut adalah
banyaknya orang-orang yang dituduh mendukung PKI dan pada akhirnya
dijebloskan ke penjara. Antara lain adalah Kolonel Latief, Letkol Heru
Atmodjo, Kapten Soekarbi, Laksda Omar Dani, Mayjen Mursyid, dan masih
banyak lagi. Kebanyakan dari mereka ditahan tanpa melalui proses
peradilan. Orang- orang tersebut kebanyakan mengetahui bagaiman
sebenarnya hal itu terjadi. Seperti contohnya Kapten Soekarbi. Ia
ditahan setelaha membuat laporan tentang kejadian yang ia alami pada
tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965. Penahanan tanpa proses
peradilan ini dapat disinyalir sebagai sebuah upaya yang dilakukan
Soeharto agar saksi-saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang
sesungguhnya pada khalayak. Ketakutan yang dialami Soeharto ini
tentunya justru semakin memperkuat anggapan bahwa dialah dalang di
balik peristiwa G/30/S/PKI.

***
—–Original-Nachricht—–

Betreff: Re: [GELORA45] Fw: Menhan sebut PKI sudah bunuh 7
jenderal, permintaan maaf tak perlu

Datum: Thu, 20 Aug 2015 01:55:15 +0200

Von: “Yoseph T Taher ariyanto@bigpond.com [GELORA45]”
<GELORA45@yahoogroups.com>

An: GELORA45@yahoogroups.com, Jonathan Goeij
<jonathangoeij@yahoo.com>

Jam 11.00 malam tanggal 30 September 1965, Kol. A. Latief bertemu
(melapor?) kepada Soeharto di RSPAD, mengatakan bahwa “aksi” akan
dilakukan beberapa jam lagi. Setelah itu Soeharto pulang dengan jeep
yang distirnya sendiri sambil keliling kota Jakarta melihat sampai
dimana “persiapan”. Dan kira-kira jam 5.00 pagi berlangsunglah
penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh anak buah Untung/Latief
terhadap para Jenderal………! Soeharto tidak menangkap
Untung/Latief, karena sesungguhnya dia berkepentingan untuk
melenyapkan para jenderal rivalnya semenjak di Kodam Diponegoro ketika
ketahuan Soeharto sebagai koruptor/penyelundup di Kodam Diponegoro .
Ataukah dibalaik layar, memang Soeharto-lah Komandan G30S?

On 20/08/2015 9:21 AM, Jonathan Goeij jonathangoeij@yahoo.com [11]
[GELORA45] wrote:

Letkol Untung adalah anak buah Soeharto, bahkan yg
merekomendasikan Untung ke Cakrabirawa adalah Soeharto
http://www.merdeka.com/peristiwa/soeharto-yang-rekomendasikan-untung-masuk-tjakrabirawa.html
[12]
Kol Latief dalam pledoinya mengatakan Soeharto terlibat G30S.

Baik Jendral Ryamizard (menhan) maupun Jendral Gatot (Panglima TNI,
mantan KSAD) dalam komentar2nya terkesan sangat anti PKI/Komunis

Gatot:
http://www.swaranews.com/berita-kasad–komunisme-merupakan-bahaya-laten-dan-musuh-bersama.html
[13]

Ryamizard:
http://www.merdeka.com/peristiwa/menhan-sebut-pki-sudah-bunuh-7-jenderal-permintaan-maaf-tak-perlu.html
[14]

Dan justru kedua beliaulah yg dipilih Jokowi. Saya rasa wacana
rekonsiliasi yg di-dengang dengungkan itu hanya tinggal wacana saja.
Jangan bermimpi yg muluk2.

—In GELORA45@yahoogroups.com [15], <ariyanto@…> [16] wrote :

Jenderal, tidakkah Jenderal menyelidiki bahwa yang bunuh 7 Jenderal
itu adalah Soeharto yang menggunakan anak buahnya sendiri yaitu Letkol
Untung dan Kol. A. Latief dengan suatu aksi yang bernama G30S sebagai
langkah pertama untuk menggulingkan Bung Karno? Silahkan Jenderal
tanya sendiri hal ini kepada keluarga Jenderal A. Yani almarhum!
Mereka tahu bahwa yang membunuh A. Yani dan Jenderal lainnya adalah
Jenderal Soeharto.

On Friday, 21 August 2015, 1:33, “‘Lusi D.’ lusi_d@rantar.de [nasional-list]” <nasional-list@yahoogroups.com> wrote:

Itu Jendral Riyacudu ngomongnya kok kayak jagoan kampung saja. Mestinya
sedikit ngerti sejarah perang kemerdekaan dan pendidikan politik ttg
peristiwa 30 September dong. Apa tingkat pendidikan jendral-jendral
Indonesia lainnya seperti itu? Diangkat jadi menteri pertahanan lagi.

Bukti Terbaru G30S/PKI : Soeharto Dalang Pembunuhan Ahmad Yani?

 Posted  by Jo                                                                                                                                                                                               10 months ago

Kesaksian mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama HARYA SUDIRJA bahwa Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi Presiden kedua bila kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui isteri  dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut.

“Bapak sendiri sudah cerita kepada kami (isteri dan putra-putri Yani) bahwa dia bakal menjadi Presiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang sama orang lain”, ujar putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani,Yuni Yani dan Edi Yani – Sebelumnya diberitakan dalam acara diskusi “Jakarta – Forum Live, Peristiwa G-30S/PKI, Upaya Mencari Kebenaran” terungkap kesaksian baru, yaitu beberapa hari sebelum peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus, Bung Karno pernah meminta Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikan dirinya menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun.  

Kesaksian tersebut disampaikan salah satu peserta diskusi: Harya Sudirja. Menurut mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama ini, hal itu disampaikan oleh Letjen Achmad Yani secara pribadi pada dirinya dalam perjalanan menuju Istana Bogor tanggal 11 September 1965.

Putra-putri Achmad Yani kemudian menjelaskan, kabar baik itu sudah diketahui pihak keluarga 2 (dua) bulan sebelum meletusnya peristiwa berdarah G-30S/PKI. “Waktu itu ketika pulang dari rapat dengan Bung Karno beserta para petinggi negara, Bapak cerita sama ibu bahwa kelak bakal jadi presiden”, kenang Yuni Yani, putri keenam Achmad Yani. “Setelah cerita sama ibu, esok harinya sepulang main golf, Bapak juga menceritakan itu kepada kami putra-putrinya. Sambil tertawa, kami bertanya, “Benar nih Pak?” Jawab Bapak
ketika itu, “Ya”, ucapnya. Menurut Yuni, berita baik itu juga mereka dengar dari ajudan Bapak yang mengatakan Bapak bakal jadi presiden. Makanya ajudan menyarankan supaya siap-siap pindah ke Istana.

Sedangkan menurut Elina Yani (putri keempat), saat kakaknya Amelia Yani menyusun buku tentang Bapak, mereka menemui Letjen Sarwo Edhie Wibowo sebagai salah satu nara sumber. “Waktu itu, Pak Sarwo cerita bahwa Bapak dulu diminta Bung Karno menjadi presiden bila kesehatan Proklamator itu tidak juga membaik. Permintaan itu disampaikan Bung Karno dalam rapat petinggi negara. Di situ antara lain, ada Soebandrio, Chaerul Saleh dan AH Nasution”, katanya. “Bung Karno bilang, Yani kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi Presiden”, kata Sarwo Edhie seperti ditirukan Elina.  

Pada prinsipnya, tambah Yuni pihak keluarga senang mendengar berita Bapak bakal jadi Presiden. Namun ibunya (Alm.Nyonya Yayuk Ruliah A.Yani) usai makan malam membuat ramalan bahwa kalau Bapak tidak jadi presiden, bisa dibunuh. “Ternyata ramalan ibu benar. Belum sempat menjadi presiden menggantikan Bung Karno,Bapak dibunuh secara kejam dengan disaksikan adik-adik kami. Untung dan Eddy. “Kalau Bapakmu tidak jadi presiden, ya nangendi (bahasa Jawa artinya :kemana) bisa dibunuh”, kata Nyonya Yani seperti ditirukan Yuni.  Lalu siapa pembunuhnya ?

Menurut Yuni, Ibu dulu mencurigai dalang pembunuhan ayahnya adalah petinggi militer yang membenci Achmad Yani. Dan yang dicurigai adalah Soeharto. Mengapa Soeharto membenci A.Yani ? Yuni mengatakan,sewaktu Soeharto menjual pentil dan ban yang menangkap adalah Bapaknya. “Bapak memang tidak suka militer berdagang.Tindakan Bapak ini tentunya menyinggung perasaan Soeharto”.

“Selain itu, usia Bapak juga lebih muda, sedangkan jabatannya lebih tinggi dari Soeharto”, katanya.  Sedangkan Rully Yani (putri sulung) yakin pembunuh Bapaknya adalah prajurit yang disuruh oleh atasannya.”Siapa orangnya, ini yang perlu dicari”, katanya.Mungkin juga, lanjutnya, orang-orang yang tidak suka terhadap sikap Bapak yang menentang upaya mempersenjatai buruh, nelayan dan petani. “Bapak dulu kan tidak suka rakyat dipersenjatai. Yang bisa dipersenjatai adalah militer saja”, katanya.  Menurut dia, penjelasan mantan tahanan politik G-30S/PKI Abdul Latief bahwa Soeharto dalang G-30S/PKI sudah bisa menjadi dasar untuk melakukan penelitian oleh pihak yang berwajib. “Ini penting demi lurusnya sejarah. Dan kamipun merasa puas kalau sudah tahu dalang pembunuhan ayah kami”, katanya.

Dia berharap, kepada semua pelaku sejarah yang masih hidup bersaksilah supaya masalah itu bisa selesai dengan cepat dan tidak menjadi tanda tanya besar bagi generasi muda bangsa ini.

Kesaksian istri dan putra-putri A.Yani bahwa Bapaknyalah yang ditunjuk Bung Karno untuk jadi Presiden kedua menggantikan dirinya, dibenarkan oleh mantan Asisten Bidang Operasi KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Marsekal Madya (Purn)  Sri Mulyono Herlambang dan ajudan A.Yani, Kolonel (Purn) Subardi.

Apa yang diucapkan putra-putri Jenderal A.Yani itu benar. Dikalangan petinggi militer informasi tersebut sudah santer dibicarakan. Apalagi hubungan Bung Karno dan A.Yani sangat dekat, ujar Herlambang. Baik Herlambang maupun Subardi menyebutkan, walaupun tidak terdengar langsung pernyataan Bung Karno bahwa dia memilih A.Yani sebagai Presiden kedua jika ia sakit, namun keduanya percaya akan berita itu.

“Hubungan Bung Karno dengan A.Yani akrab dan Yani memang terkenal cerdas, hingga wajar jika kemudian ditunjuk presiden”,kata Herlambang. “Hubungan saya dengan A.Yani sangat dekat, hingga saya tahu betapa dekatnya hubungan Bung Karno dengan A.Yani”, ujar Herlambang yang saat ini sedang menyusun buku putih
peristiwa G-30S/PKI.  

Menyinggung tentang kecurigaan Yayuk Ruliah A.Yani (istri A.Yani), bahwa dalang pembunuh suaminya adalah Soeharto, Herlambang mengatakan bisa jadi seperti itu. Pasalnya 2 (dua) bulan sebelum peristiwa berdarah PKI, Bung Karno sudah menunjuk A.Yani sebagai penggantinya.

Tentu saja hal ini membuat iri orang yang berambisi jadi presiden.Waktu itu peran CIA memang dicurigai ada, apalagi AS tidak menyukai Bung Karno karena terlalu vokal. Sedangkan Yani merupakan orang dekat Bung Karno. Ditambahkan Herlambang, hubungan A.Yani dengan Soeharto saat itu kurang harmonis. Soeharto memang benci pada A.Yani. Ini gara-gara Yani menangkap Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban. Selain itu Soeharto juga merasa iri karena usia Yani lebih muda, sementara jabatannya lebih tinggi.

Terlebih saat A.Yani menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Bung Karno meningkatkan status KASAD menjadi Panglima Angkatan Darat. “Dan waktu itu A.Yani bisa melakukan apa saja atas petunjuk Panglima Tertinggi Soekarno, tentu saja hal ini membuat Soeharto iri pada A.Yani. Dijelaskan juga, sebenarnya mantan presiden Orde Baru itu tidak hanya membenci A.Yani,tapi semua Jenderal Pahlawan Revolusi. D.I.Panjaitan dibenci Soeharto gara-gara persoalan pengadaan barang dan juga berkaitan dengan penjualan pentil dan ban. Sedangkan kebenciannya terhadap MT. Haryono berkaitan dengan hasil sekolah di SESKOAD. Disitu Soeharto ingin dijagokan tapi MT.Haryono tidak setuju. Terhadap Sutoyo, gara-gara ia sebagai Oditur dipersiapkan untuk mengadili Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban itu.

Menurut Subardi, ketahuan sekali dari raut wajah Soeharto kalau dia tidak menyukai A.Yani. Secara tidak langsung istri A.Yani mencurigai Soeharto. Dicontohkan, sebuah film Amerika yang ceritanya AD disuatu negara yang begitu dipercaya pemerintah, ternyata sebagai dalang kudeta terhadap pemerintahan itu. Caranya dengan meminjam tangan orang lain dan akhirnya pimpinan AD itulah yang menjadi presiden. “Peristiwa G-30S/PKI
hampir sama dengan cerita film itu”, kata Nyonya Yani seperti ditirukan Subardi.

Catatan penulis:
Saya ambil artikel ini dari berbagai sumber dan milis-milis dengan harapan klarifikasi dari para pembaca yang budiman. Sampai saat ini masih menggelayut pertanyaan di setiap kepala rakyat Indonesia tentang bagaimana fakta yang sebenarnya dari peristiwa kelam ini. Masih ada tokoh-tokoh dan narasumber dari kisah kelam sejarah  masa lalu ini yang masih hidup.

Disinilah perlunya penuntasan 100% dan jawaban yang adil dan penyelidikan yang transparan bagi masalah yang menyangkut peristiwa G30S. Masih diperlukan penyelidikan lanjutan yang independen untuk menyingkap fakta-fakta seputar sejarah kelam ini.

JASMERAH : Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah! demikian kata Bung Karno.
http://www.memobee.com/bukti-terbaru-g30s-pki-soeharto-dalang-pembunuhan-ahmad-yani-7262-eij.html

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: