INTELEK ACEH DI MATA KOMBATAN

Intelek Aceh di Mata Kombatan

Aktifis LSM SAPAS. Foto: bongkarnews.com

Para pejuang [kombatan-red] yang berusaha memperjuangkan misi perjuangan baik di masa perang maupun di masa damai sering di kambing hitamkan oleh segelintir tokoh yang menganggap diri mereka intelek namun intelektual mereka tanpa sengaja sudah melupakan kepentingan bangsanya sendiri dan membuka lebar jalan buat kepentingan kolonialisme yang terselubung demokrasi di Aceh.

Mengapa SAPAS berani berasumsi se sedemikian ……?

Coba anda pelajari filsafat penjajahan modern yang dirangkum dalam beberapa metode demokrasi global, khususnya Inggris, jika ditilik dari kesuksesan merekan, praktek penjajah Inggris di seantero dunia mereka tidak tanggung-tanggung dalam hal menjaga kepentingannya di negara jajahan mereka. Dengan kebijakan menyekolahkan rakyat jajahannya agar dapat menjaga kepentingan bangsa penjajah (Inggris) dari bahaya kesadaran anak bangsa yang dijajah untuk menjaga kepentingan bangsanya sendiri.

Kesimpulan yang kita bahas saat ini, mereka yang menamakan diri intelek-intelek Aceh (khususnya lulusan sarjana Indonesia) apakah mereka sadar, ilmu yang mereka dapat sudah di sesuaikan sedemikian rupa dengan cara berpikir serta praktek-praktek yang di sterilkan dengan arus politik dan cara berpikir untuk menjaga kepentingan negara yang terselubung demokrasi lalu di sesuaikan dengan payung hukum Negara (Indonesia-red) dan Hukum Internasional.

Singkat kata ilmu dan idealis mereka harus dilingkaran kepentingan negara kolonialisme di mana mereka menuntut dengan tujuan agar mereka tidak berani berpikir dengan kepentingan bangsanya sendiri.

Pertanyaannya,,,,,?

Apakah  mereka sadar atau tidak, bahwa mereka sudah diarahkan sesuai kepentingan dan keinginan kolonialis itu sendiri (integritas) dalam meyimpulkan segala sesuatu baik itu tindakan ataupun pernyataan yang mereka buat, menyangkut berbagai hal yang berhubungan degan metode bangsanya sendiri yang sedang berjuang melawan ketidak adilan yang terselubung dibawah demokrasi yang sudah disesuaikan sedemikian rupa dengan hukum Internasional dan Hak Asasi Manusia.Berangkat dari landasan pendidikan yang berbasis kepentingan negara (kolonialisme) apakah mereka berani berasumsi demi kepentingan bangsanya, walau hal itu bertentangan dengan ilmu yang di ajarkan oleh kolonialis yang mendidiknya.

Jawabannya…!

Hanya ada pada mereka sendiri, itupun bila mereka mau mengkaji ulang apa yang telah mereka pelajari dan terapkan selama ini. Yang pasti mereka hanya pandai mengkritik tanpa ada yang bisa mereka buat sesuatu dan kenyataannya mereka selalu mengedepankan alasan kepentingan negara dan masyarakat tanpa memperhitungkan untung rugi pada kepentingan bangsanya sendiri  (apa benar ……..? mereka tergolong intelek bangsa ini?). Wallahua’lam bissawaf.

Penulis : Musi (Ketua DPD – SAPAS Aceh)
HP. 0852 6080 5112

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: