DISKUSI TENTANG NEOLIBERALISME

DISKUSI TENTANG NEOLIBERALISME

[wahana-news] Trs: [perhimpunanpersaudaraan] Re: {URECA_SGT} Re: Bls: [GELORA45] Kolom INRAHIM ISA — “NEO-LIBERALISME” — SUDAH JADI MASA LALU — People
Chalik Hamid chalik.hamid@yahoo.co.id [wahana-news]

To

DISKUSI FORUM HLD Jaringan Kerja Indonesia Wahana News Sastra Pembebasan NASIONAL-LIST YAHOOGROUPS
Today at 11:17 AM
Pada Rabu, 19 Agustus 2015 20:59, “Sie Tik Tan sietik.tan@yahoo.com [perhimpunanpersaudaraan]” <perhimpunanpersaudaraan@yahoogroups.com> menulis:
Apakah disebut gagasan ekonomi liberal Adam Smith , Mendel, Ricardo dll, ataupun Keynesian yg menganjurkan juga campurtanggan negara , ataupun neo-liberal yg jelas penindasan manusia oleh manusia tertus berlaku jadi intinya tetap saja sama:

Imperialisme sebagai sebuah tahapan khusus dari kapitalisme

V.I. Lenin (1916)


Sumber: Bab ke VIII dari “Imperialisme, Tahapan Tertinggi Kapitalisme”
Penerjemah: Ted Sprague (Mei 2011)

Kita sekarang harus mencoba merangkum, menarik benang-benang dari apa yang sudah kita diskusikan di atas mengenai imperialisme. Imperialisme muncul sebagai perkembangan dan kelanjutan langsung dari karakteristik-karakteristik fundamental kapitalisme secara umum. Tetapi kapitalisme hanya menjadi kapitalisme imperialisme pada sebuah tahapan tertentu dan paling tinggi dari perkembangannya, ketika beberapa karakteristik fundamentalnya mulai berubah menjadi kebalikannya, ketika fitur-fitur dari epos transisi dari kapitalisme ke sebuah sistem sosial dan ekonomi yang lebih tinggi telah mengambil bentuk dan menunjukkan diri mereka dalam semua bidang. Secara ekonomi, hal utama di dalam proses ini adalah pergeseran kapitalisme persaingan bebas oleh kapitalisme monopoli. Persaingan bebas adalah fitur utama dari kapitalisme dan produksi komoditas secara umum; monopoli adalah kebalikan dari persaingan bebas, menciptakan industri skala-besar dan menggeser industri kecil, menggantikan industri skala-besar dengan industri yang berskala bahkan lebih besar, dan membawa konsentrasi produksi dan kapital ke sebuah titik dimana darinya telah tumbuh dan sedang tumbuh monopoli: kartel-kartel, sindikat-sindikat, dan perserikatan-perserikatan perusahaan, dan lalu mereka merger dengan kapital dari lusinan bank yang memanipulasi ribuan juta dolar. Pada saat yang mana, monopoli-monopoli ini, yang telah tumbuh dari persaingan bebas, tidak menghapus persaingan bebas, tetapi eksis di atasnya dan bersamanya, dan oleh karenanya menyebabkan sejumlah antagonisme-antagonisme, friksi-friksi, dan konflik-konflik yang sangat akut dan intens. Monopoli adalah transisi dari kapitalisme ke sebuah sistem yang lebih tinggi.
Bila kita harus memberikan imperialisme sebuah definisi yang paling singkat, kita dapat mengatakan bahwa imperialisme adalah tahapan monopoli dari kapitalisme. Definisi semacam ini akan mengikutsertakan hal-hal yang paling penting; di satu pihak, kapital finansial adalah kapital dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang merger dengan kapital dari asosiasi-asosiasi monopoli industrialis; dan di pihak yang lain, pembagian dunia adalah transisi dari sebuah kebijakan kolonial yang telah meluas tanpa halangan ke daerah-daerah yang belum direbut oleh kekuatan kapitalis, ke sebuah kebijakan kolonial kepemilikan monopoli atas daerah-daerah dunia, yang telah dibagi-bagi sepenuhnya.
Tetapi definisi-definisi singkat, walaupun memudahkan karena mereka merangkum poin-poin utama, tetaplah tidak memuaskan, karena kita harus menarik kesimpulan dari mereka beberapa fitur khusus dari fenomena yang masih harus didefinisikan. Dan oleh karenanya, tanpa melupakan watak kondisional dan relatif dari semua definisi secara umum, yang tidak akan pernah bisa merangkul semua keterkaitan dari sebuah fenomena dalam perkembangan penuhnya, kita harus memberikan imperialisme sebuah definisi yang akan mengikutsertakan lima fitur utama seperti berikut ini:
(1) Konsentrasi produksi dan kapital telah berkembang ke sebuah tahapan yang begitu tinggi sehingga menciptakan monopoli-monopoli yang memainkan sebuah peran menentukan di dalam kehidupan ekonomi; (2) Merger antara kapital perbankan dan kapital industrial, dan pembentukan, berdasarkan “kapital finansial” ini, sebuah oligarki finansial; (3) Ekspor kapital, yang berbeda dari ekspor komoditas, menjadi jauh lebih penting; (4) Pembentukan asosiasi-asosiasi monopoli kapitalis internasional yang membagi dunia di antara diri mereka sendiri, dan (5) pembagian teritorial dari seluruh dunia oleh kekuatan-kekuatan kapitalis terbesar telah selesai. Imperialisme adalah kapitalisme pada tahap perkembangan dimana dominasi monopoli dan kapital finansial telah menjadi kenyataan, dimana ekspor kapital telah menjadi sangat penting; dimana pembagian dunia di antara sindikat-sindikat internasional telah dimulai; dimana pembagian teritori-teritori dunia di antara kekuatan-kekuatan kapitalis terbesar telah selesai.
Kita akan lihat selanjutnya bahwa imperialisme dapat dan harus didefinisikan secara berbeda bila kita mempertimbangkan bukan hanya konsep-konsep ekonomi dasar murni – yang merupakan batasan dari definisi di atas – tetapi juga secara historis dimana tahapan kapitalisme ini dalam hubungannya dengan kapitalisme secara umum, atau hubungan antara imperialise dan dua tren utama di dalam gerakan kelas buruh. Hal yang harus dicatat sekarang adalah bahwa imperialisme, seperti yang diartikan di atas, tidak diragukan lagi mewakilkan sebuah tahapan khusus di dalam perkembangan kapitalisme. Untuk memungkinkan para pembaca memahami gagasan paling dasar dari imperialisme, saya sengaja mengutip sebanyak mungkin ahli-ahli ekonomi borjuis yang harus mengakui fakta-fakta yang tidak bisa disangkal berhubungan dengan tahapan ekonomi kapitalis yang terbaru ini. Dengan maksud yang sama, saya telah mengutip dengan detil statistik-statisitk yang memungkinkan kita untuk melihat sampai tingkatan mana kapital perbankan, dll., telah tumbuh, dan dimana tepatnya perubahan kuantitas-ke-kualitas dari kapitalisme-maju ke imperialisme terekspresikan. Tentunya semua batas-batas di dalam alam dan masyarakat adalah konvensional dan dapat berubah, dan adalah konyol untuk berdebat, misalkan, mengenai tepatnya tahun berapa atau dekade ke berapa imperialisme “benar-benar” menjadi kenyataan.
Namun, dalam hal mendefinisikan imperialisme, kita harus masuk ke sebuah argumentasi, terutama, dengan Karl Kautsky[1], ahli teori Marxis utama dari apa-yang-disebut periode Internasionale Kedua[2] – yakni dua-puluh-lima tahun antara 1889 dan 1914. Gagasan-gagasan fundamental yang terekspresikan di dalam definisi imperialisme kami diserang dengan sangat keras oleh Kautsky pada tahun 1915, dan bahkan pada bulan November 1914, ketika dia mengatakan bahwa imperialisme tidak boleh dilihat sebagai sebuah “fase” atau tahapan ekonomi, tetapi sebuah sebuah kebijakan, sebuah kebijakan tertentu “yang disukai” oleh kapital finansial; bahwa imperialisme tidak bolah “diidentifikasikan” dengan “kapitalisme jaman-sekarang”’; bahwa jika imperialisme dimengerti sebagai “semua fenomena dari kapitalisme jaman-sekarang” – kartel, proteksionisme, dominasi kapitalis finansial, dan kebijakan kolonial – maka pertanyaan apakah imperialisme dibutuhkan oleh kapitalisme terreduksi menjadi “tautologi [pengulangan semantik] yang paling hambar”, karena dengan begitu maka “kapitalisme secara alami adalah kebutuhan vital bagi kapitalisme”, dan seterusnya. Cara terbaik untuk menunjukkan gagasannya Kautsky adalah dengan mengutip definisinya sendiri mengenai imperialisme, yang bertentangan dengan isi gagasan yang telah saya kedepankan (karena keberatan-keberatan yang datang dari kamp kaum Marxis Jerman, yang telah menyokong gagasan-gagasan yang serupa selama bertahun-tahun, yang telah dikenal oleh Kautsky sebagai keberatan-keberatan dari sebuah tendensi tertentu dalam Marxisme).
Definisi Kautsky adalah sebagai berikut:
“Imperialisme adalah sebuah produk dari kapitalisme industrial yang sangat maju. Imperialisme adalah hasrat dari setiap negeri kapitalis industrial untuk mengendalikan atau menjajah semua daerah-daerah agraria luas [penekanan dari Kautsky], tidak peduli negara mana yang mendudukinya.”[3]
Definisi ini tidak berguna sama sekali karena ia berat-sebelah, yakni tanpa basis jelas definisi ini hanya mempertimbangkan masalah kebangsaan (walaupun ini adalah sangat penting juga dalam hubungannya dengan kapitalisme), definisi ini tanpa basis jelas dan dengan keliru menghubungkan masalah ini hanya dengan negara-negara kapitalis industrial yang menjajah negara lain, dan dengan cara yang sama serampangan dan keliru mengedepankan penjajahan daerah-daerah agraria.
Imperialisme adalah sebuah hasrat untuk menjajah – ini adalah aspek politik dari definisi Kautsky. Ini benar, tetapi sangat tidak lengkap, karena secara politik, imperialisme adalah, secara umum, sebuah tendensi menuju kekerasan dan reaksi. Namun untuk sementara kita tertarik pada aspek ekonomi dari permasalahan ini, yang Kautsky sendiri masukkan ke definisinya. Kekeliruan dari definisi Kautsky sangatlah mencolok. Karakter utama dari imperialisme bukanlah kapital industrial tetapi kapital finansial. Bukanlah sebuah kebetulan kalau di Prancis justru perkembangan pesat dari kapital finansial, dan melemahnya kapital industrial, yang dari tahun 80an menyebabkan intensifikasi kebijakan penjajahan (kolonial) secara ekstrim. Karakter utama dari imperialisme justru adalah hasratnya untuk menjajah bukan hanya daerah-daeran agraria, tetapi bahkan daerah-daerah yang paling terindustrialisasi (nafsu Jerman akan Belgia; nafsu Prancis akan Lorraine), karena (1) kenyataan bahwa dunia telah terbagi-bagi memaksa mereka yang memikirkan pembagian-ulang (redivision) untuk meluas ke setiap macam daerah, dan (2) karakter utama dari imperialisme adalah persaingan antara beberapa negara besar untuk meraih hegemoni, yakni perebutan teritori bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk melemahkan musuhnya dan melemahkan hegemoni musuhnya. (Belgia terutama penting bagi Jerman sebagai sebuah basis operasi melawan Inggris; Inggris membutuhkan Baghdad sebagai basis operasi melawan Jerman, dsb.)
Kautsky merujuk terutama – dan berulang kali – pada para penulis Inggris yang, menurutnya, telah memberikan arti politik murni pada kata “imperialisme” dalam artian yang dia, Kautsky, pahami. Kita ambil karya oleh Hobson, seorang penulis Inggris, berjudul Imperialisme, yang terbit pada tahun 1902, dan di sana kita membaca:
“Imperialisme yang baru berbeda dengan yang lama; pertama, imperialisme yang baru menggantikan ambisi sebuah kekaisaran tunggal dengan teori dan praktek kekaisaran-kekaisaran yang saling bersaing, tiap-tiap dari mereka termotivasi oleh nafsu kemegahan politik dan laba komersial yang serupa; kedua, dalam dominasi finansial atau investasi terhadap kepentingan perdagangan.”[4]
Kita lihat bahwa Kautsky sangatlah keliru dalam merujuk pada para penulis Inggris secara umum (kecuali kalau maksudnya adalah para kaum imperialis Inggris yang vulgar, atau para peminta-maaf imperialisme). Kita lihat bahwa Kautsky, sementara mengklaim bahwa dia terus mendukung Marxisme, pada kenyataan mengambil satu langkah mundur dibandingkan dengan Hobson yang sosial-liberal, yang dengan lebih tepat mempertimbangkan dua karakter imperialisme moderen yang “konkrit secara historis”: (1) persaingan antara beberapa negara imperialis, dan (2) dominasi kaum finansier atas kaum pedagang. Bila imperialisme secara utama adalah masalah penjajahan negara-negara agraria oleh negara-negara industrial, maka perang kaum pedagang ditaruh di depan.
Definisi Kautsky bukan hanya keliru dan tidak-Marxis. Definisinya menjadi dasar dari seluruh sistem pemikiran yang menandakan perpecahan dengan teori Marxis dan praktek Marxis. Saya akan berbicara mengenai ini nanti. Argumen mengenai istilah-istilah yang diungkit oleh Kautsky, yakni apakah tahapan terakhir dari kapitalisme bisa disebut kapitalisme atau tahapan kapital finansial tidaklah layak diberikan perhatian serius. Mau kita panggil apapun, ini tidak ada bedanya. Esensi dari masalah ini adalah bahwa Kautsky memisahkan politik imperialisme dari ekonominya, berbicara mengenai penjajahan sebagai sebuah kebijakan “yang lebih dipilih” oleh kapital finansial, dan mempertentangkannya dengan kebijakan borjuasi yang lain yang, menurutnya, adalah mungkin di atas basis kapital finansial yang sama. Dari sini, maka kesimpulannya adalah bahwa monopoli-monopoli adalah kompatibel dengan metode-metode non-monopoli, damai, non-kolonial dalam politik. Kesimpulannya adalah bahwa pembagian dunia, yang diselesaikan selama epos kapital finansial ini, dan yang menjadi basis dari bentuk persaingan yang unik sekarang ini antara negara-negara kapitalis terbesar, adalah kompatibel dengan kebijakan non-imperialis. Hasilnya adalah penyangkalan dan penumpulan kontradiksi-kontradiksi yang paling dalam dari tahapan kapitalisme yang terbaru ini, alih-alih mengekspos kedalaman kontradiksi ini; hasilnya adalah reformisme borjuis dan bukannya Marxisme.
Kautsky terlibat dalam sebuah perdebatan dengan seorang apologis imperialisme dan penjajahan dari Jerman, Cunow, yang dengan janggal dan sinis berargumen bahwa imperialisme adalah kapitalisme jaman-sekarang; perkembangan kapitalisme adalah niscaya dan progresif; oleh karenanya imperialisme adalah progresif; oleh karenanya kita harus menyembah dan memuliakannya! Ini adalah seperti karikatur Marxis Rusia yang digambarkan oleh kaum Narodnik[5] pada tahun 1884-1885. Mereka berargumen: bila kaum Marxis percaya bahwa kapitalisme adalah sebuah keniscayaan di Rusia, bahwa ia adalah progresif, maka mereka baiknya memnuka sebuah kedai minuman dan mulai menanam kapitalisme! Jawaban Kautsky kepada Cunow adalah seperti berikut ini: imperialisme bukanlah kapitalisme jaman-sekarang; ia hanyalah salah satu bentuk kebijakan dari kapitalisme jaman-sekarang. Kebijakan ini dapat dan harus kita lawan; lawan imperialisme, penjajahan, dsb.
Jawaban ini tampak cukup masuk akal, tetapi sebenarnya ini adalah sebuah advokasi perdamaian dengan imperialisme yang lebih halus dan terselubung (dan oleh karenanya lebih berbahaya), karena sebuah “perlawanan” terhadap kebijakan sindikat-sindikat dan bank-bank yang tidak mempengaruhi basis ekonomi mereka adalah semata-mata reformisme borjuis dan pasifisme, semata-mata ekspresi mimpi belaka yang penuh-kebajikan dan tidak berbahaya. Menghindari kontradiksi-kontradiksi yang ada, melupakan yang paling penting dari mereka, alih-alih mengekspos kedalaman mereka – inilah teori Kautsky, yang tidak ada hubungannya dengan Marxisme sama sekali. Secara alami, “teori” semacam ini hanya dapat mendukung persatuan dengan Cunow!
“Murni dari sudut pandang ekonomi,” tulis Kautsky, “tidaklah mustahil kalau kapitalisme akan sekali lagi melalui sebuah fase yang baru, yakni sebuah fase perluasan kebijakan kartel-kartel ke kebijakan luar negeri, fase ultra-imperialisme,”[6]  yakni sebuah fase super-imperialisme, sebuah persatuan imperialisme seluruh dunia dan bukannya pertentangan antara mereka, sebuah fase dimana perang-perang akan berhenti di bawah kapitalisme, sebuah fase “penghisapan bersama oleh kapital finansial internasional yang tersatukan”.[7]
Kita harus menjawab “teori ultra-imperialisme” ini nanti untuk menunjukkan secara detil bagaimana teori ini secara menentukan dan penuh pecah dengan Marxisme. Sekarang, sesuai dengan tujuan umum dari karya ini, kita harus memeriksa data ekonomi sehubungan dengan pertanyaan ini. “Dari sudut pandang ekonomi,” apakah “ultra-imperialisme” mungkin, atau ini adalah ultra-omongkosong?
Bila sudut pandang ekonomi murni dimaksukan sebagai “abstraksi” murni, maka semuanya dapat direduksi ke proposisi seperti berikut ini: perkembangan bergerak ke arah monopoli-monopoli, maka dari ini, menuju ke sebuah monopoli dunia tunggal, menuju ke sebuah sindikat dunia tunggal. Ini tidak dapat diperdebatkan, tetapi ini juga sama sekali tidak mengandung makna apapun seperti halnya pernyataan bahwa “perkembangan bergerak” ke arah manufaktur pangan di laboratarium. Dalam pengertian ini, “teori” ultra-imperialisme tidak kalah konyolnya dibandingkan dengan “teori ultra-agrikultural”.
Akan tetapi, bila kita mendiskusikan kondisi “ekonomi murni” dari epos kapital finansial sebagai sebuah epos historis yang konkrit yang dimulai pada awal abad ke duapuluh, maka jawaban terbaik yang dapat kita berikan kepada abstraksi “ultraimperialisme” yang kaku (yang memiliki tujuan yang paling reaksioner, yakni mengalihkan perhatian dari kedalaman antagonisme-antagonisme yang ada sekarang) adalah dengan mempertentangkannya dengan realitas ekonomi yang konkrit dari perekonomian dunia sekarang ini. Pembicaraan Kautsky yang tidak ada artinya mengenai ultra-imperialisme mendorong, di antara lain, gagasan yang sangatlah keliru yang hanya mendukung kaum apologis imperialisme, yakni kapital finansial mengurangi ketidakseimbangan dan kontradiksi-kontradiksi perekonomian dunia, sementara pada kenyataannya ia justru meningkatkan mereka.
R. Calwer, di buku kecilnya, An Introduciton to the World Economy,[8] membuat sebuah usaha untuk merangkum data ekonomi yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan gambaran hubungan-hubungan internal dari perekonomian dunia di awal abad ke duapuluh. Dia membagi dunia menjadi lima “daerah ekonomi utama”: (1) Eropa Tengah (seluruh Eropa kecuali Rusia dan Inggris); (2) Inggris Raya; (3) Rusia; (4) Asia Timur; (5) Amerika. Dia memasukkan koloni-koloni ke “daerah-daerah” yang dimiliki oleh lima negara utama tersebut dan “tidak mengikutsertakan” beberapa negara seperti Persia, Afghanistan, dan Arabia di Asia, Moroko, Abissinia di Afrika, dsb.
Di bawah ini adalah rangkuman data ekonomi daerah-daerah tersebut.
Daerah ekonomi utama
Luas daerah (juta mil persegi)
Jumlah penduduk (juta)
Transportassi
Perdagangan
Industri
Rel kereta api (ribu kilometer)
Armada laut perdagangan (juta ton)
Import, eksport (milyar marks)
Output Batu bara (juta ton)
Output Besi mentah (juta ton)
Jumlah pemintal kapas (juta)
Eropa Tengah
27.6 (23.6)
388 (146)
204
8
41
251
15
26
Inggris
28.9 (28.6)
398 (355)
140
11
25
249
9
51
Rusia
22
131
63
1
3
16
3
7
Asia Timur
12
389
8
1
2
8
0.02
2
Amerika
30
148
379
6
14
245
14
19
Catatan: Angka dalam tanda kurung adalah daerah dan populasi koloni-koloni.
Kita lihat ada tiga daerah dengan kapitalisme yang sangat maju (perkembangan alat produksi, perdagangan dan industri yang maju): Eropa Tengah, Inggris, dan Amerika. Di antara mereka adalah tiga negara yang mendominasi dunia: Jerman, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Persaingan imperialis dan pertentangan antara negara-negara ini telah menjadi teramat tajam karena Jerman hanya memiliki daerah yang kecil dan beberapa koloni; pembentukan “Eropa Tengah” masih merupakan masalah masa depan, ia sedang dilahirkan di tengah perjuangan yang akut. Untuk sekarang, fitur utama dari seluruh Eropa adalah perpecahan politik. Di pihak lain, di daerah-daerah Inggris dan Amerika, konsentrasi politik sangatlah maju, tetapi ada jurang besar antara koloni-koloni besar dan koloni-koloni kecil. Namun, di dalam koloni-koloni ini kapitalisme barulah mulai berkembang. Pertentangan untuk merebut Amerika Latin menjadi semakin tajam.
Ada dua daerah dimana kapitalisme tidak maju: Rusia dan Asia Timur. Di Rusia, penduduknya tersebar; di Asia Timur, penduduknya padat; di Rusia konsentrasi politik tinggi, di Asia Timur, konsentrasi politik tidak eksis. Partisi Cina barulah dimulai, dan perjuangan merebut Cina antara Jepang, Amerika, dan negara-negara lain semakin menajam.
Bandingkan realitas ini – perbedaan kondisi-kondisi ekonomi dan politik yang besar, perbedaan yang ekstrim dalam laju perkembangan berbagai negara, dsb., dan pertentangan penuh kekerasan antara negara-negara imperialis – dengan dongeng kecil konyolnya Kautsky mengenai ultra-imperialisme yang “damai”. Bukankah ini adalah usaha reaksioner dari seorang filistin yang ketakutan untuk bersembunyi dari kenyataan? Bukankah kartel-kartel internasional yang dibayangkan oleh Kautsky sebagai embrio “ultra-imperialisme” (seperti halnya seseorang “dapat” membayangkan manufaktur tablet-tablet di sebuah laboratorium sebagai embrio ultra-agrikultural) sebenarnya adalah contoh dari pembagian dan pembagian-ulang dunia, transisi dari pembagian yang damai ke pembagian tidak-damai dan sebaliknya? Tidakkah Amerika dan kapital finansial lainnya, yang membagi seluruh dunia secara damai dengan partisipasi Jerman dalam, contohnya, sindikat rel kereta api internasional atau sindikat pelayaran, sekarang terlibat di dalam pembagian-ulang dunia berdasarkan perimbangan kekuatan-kekuatan yang baru yang sekarang sedang diubah dengan metode-metode yang sama sekali tidak-damai?
Kapital finansial dan sindikat-sindikat tidaklah mengurangi tetapi justru meningkatkan perbedaan-perbedaan laju perkembangan dari berbagai bagian perekonomian dunia. Segera setelah perimbangan kekuatan-kekuatan diubah, solusi apa yang dapat ditemukan di bawah kapitalisme selain solusi dengan kekerasan? Statistik rel kereta api[9] menyediakan data yang sangat akurat mengenai perbedaan laju tumbuh kapitalisme dan kapital finansial di dalam perekonomian dunia. Dalam beberapa dekade terakhir perkembangan imperialis, jumlah total panjang rel kereta api telah berubah seperti berikut ini:
Rel kereta api (000 kilometer)
1890
1913
Perubahan
Eropa
224
346
+122
AS
268
411
+143
Semua Koloni
82
125
210
347
+128
+222
Negara-negara merdeka dan semi-merdeka di Asia dan Amerika
43
137
+94
TOTAL
Jadi, perkembangan rel kereta api adalah paling cepat di koloni-koloni dan di negara-negara merdeka (dan semi-merdeka) di Asia dan Amerika. Di sini, seperti yang kita ketahui, kapital finansial dari empat atau lima negara kapitalis terbesar memegang kendali besar. Dua ratus ribu kilometer rel kereta api baru di koloni-koloni  dan di negara-negara lain di Asia dan Amerika mewakilkan kapital lebih dari 40 milyar marks yang diinvestasikan dengan baik, dengan jaminan laba besar dan order besi yang menguntungkan, dsb., dsb.
Kapitalisme tumbuh dengan kecepatan yang paling besar di koloni-koloni dan di negara-negara luar Eropa. Di antara yang belakangan, kekuatan-kekuatan imperialis baru sedang tumbuh (contohnya Jepang). Pertentangan antara kekuatan-kekuatan imperialis dunia menjadi semakin akut. Laba yang didapatkan oleh kapital finansial dari koloni-koloni dan negara-negara luar-Eropa yang paling menguntungkan semakin meningkat. Dalam pembagian ‘jarahan’ ini, sebagian besar jatuh ke tangan negara-negara yang kecepatan perkembangan kekuatan produksi mereka tidak selalu yang terbesar. Di antara negara-negara paling besar, bersama dengan koloni-koloni mereka, jumlah total rel kereta api adalah sebagai berikut:
(000 kilometer)
1890
1913
Amerika Serikat
268
413
+145
Inggris Raya
107
208
+101
Rusia
32
78
+46
Jerman
43
68
+25
Prancis
41
63
+22
TOTAL
491
830
+339
Jadi, sekitar 80 persen dari total rel kereta api yang ada terkonsentrasikan di tangan lima negara terbesar. Tetapi konsentrasi kepemilikan rel kereta api ini, konsentrasi kapital finansial ini, adalah jauh lebih besar karena para jutawan Prancis dan Inggris, contohnya, memiliki banyak saham dan surat-surat berharga di rel-rel kereta api Amerika, Rusia, dan lainnya.
Karena koloni-koloninya, Inggris Raya meningkatkan panjang rel keretanya sebanyak 100 ribu kilometer, empat kali lebih banyak daripada Jerman. Sementara kita ketahui bahwa di periode tersebut perkembangan kekuatan produksi di Jerman, dan terutama perkembangan industri batu-bara dan besi, adalah jauh lebih cepat dibandingkan dengan Inggris – apalagi dibandingkan dengan Prancis dan Rusia. Pada tahun 1892, Jerman memproduksi 4.900.000 ton besi dan Inggris memproduksi 6.800.000 ton; pada tahun 1912 Jerman memproduksi 17.600.000 ton dan Inggris 9.000.000 ton. Oleh karenanya Jerman jauh lebih unggul daripada Inggris dalam hal ini.[10] Pertanyaannya adalah: Selain perang, adakah cara lain di bawah kapitalisme untuk mengatasi jurang perbedaan antara perkembangan kekuatan-kekuatan produksi dan akumulasi kapital di satu pihak, dan pembagian koloni dan lingkup pengaruh kapital finansial di pihak yang lain?

Catatan:
[1] Karl Kautsky (1854-1938) menyandang reputasi sebagai kawan lama Engels, ia termasuk pendiri Internasionale Kedua, dan pembela Marxisme di masa awal dalam menghadapi revisionisme Berstein. Akan tetapi, dengan semakin mendekatnya tugas-tugas praktek dari revolusi, makin bimbanglah Kautsky, dengan lihai ia menutupi penolakannya terhadap Marxisme revolusioner dengan menggunakan tetek bengek sofis dan ungkapan-ungkapan ‘Marxis’. Ia menjadi duri dalam daging dalam Revolusi Oktober di Rusia 1917.
[2] Internasional Kedua. Pada tahun 1880, Partai Sosial Demokrat Jerman mendukung seruan dari kamerad-kamerad Belgia untuk mengadakan kongres sosialis internasional pada tahun 1881. Kota kecil bernama Chur dipilih dan kaum sosialis Belgia, Parti Ouvrier dari Perancis, Sosial Demokrat Jerman dan Sosial Demokrat Swiss berpartisipasi dalam persiapan kongres yang akhirnya menuju pada pembentukan Sosialis Internasional atau Internasionale Kedua. Tidak seperti Internasionale Pertama, Internasionale Kedua terdiri dari partai-partai politik yang memiliki pemimpin terpilih, program politik dan keanggotaan yang berbasiskan di negerinya masing-masing. Seksi nasional dari Internasionale Kedua membangun serikat buruh, terlibat dalam pemilihan umum dan sangat terlibat dalam kehidupan klas pekerja di negerinya masing-masing. Pada tahun 1914, Internasionale Kedua mendukung Perang Dunia Pertama, dan ini menandai awal dari kehancuran organisasi tersebut.
[3] Die Neue Zeit, 1914, 2 (B. 32), S. 909, Sept. 11, 1914; cf. 1915, 2, S. 107 et seq. (Catatan Lenin)
[4] Hobson, Imperialism, London, 1902, p. 324. (Catatan Lenin)
[5] Narodnik pada awalnya adalah nama untuk kaum revolusioner Rusia pada tahun 1860an dan 1870an. Narodniki berarti “bergerak ke rakyat”. Kelompok Narodnik dibentuk unuk merespon konflik yang semakin besar antara kaum tani miskin dan kaum tani kaya (kulak). Kelompok tersebut tidak mendirikan organisasi yang konkrit, namun memiliki tujuan umum sama untuk menggulingkan monarki dan kulak, serta mendistribusikan tanah untuk kaum tani. Kaum Narodnik secara umum percaya bahwa kapitalisme bukan merupakan sebuah keharusan akibat perkembangan industri, dan bahwa dimungkinkan untuk melewati kapitalisme secara langsung dan masuk ke dalam masyarakat sejenis sosialisme. Kaum Narodnik percaya bahwa kaum tani adalah klas revolusioner yang akan menggulingkan monarki, menganggap komune desa sebagai embrio sosialisme. Namun mereka tidak percaya bahwa kaum tani akan mampu mencapai revolusi dengan usahanya sendiri. Sejarah hanya dapat dibuat oleh pahlawan, individu yang luar biasa, yang akan memimpin kaum tani menuju revolusi.
[6] Die Neue Zeit, 1914, 2 (B. 32), S. 921, Sept. 11, 1914. Cf. 1915, 2, S. 107 et seq. (Catatan Lenin)
[7] Ibid., 1915, 1, S. 144, April 30, 1915. (Catatan Lenin)
[8] R. Calwer, Einfü hrung in die Weltwirtschaft, Berlin, 1906. (Catatan Lenin)
[9] Statistisches Jahrbuch für das deutsche Reich, 1915; Archiv für Eisenbahnwesen, 1892. Detil-detil kecil untuk distribusi rel kereta api di koloni-koloni berbagai negara pada tahun 1890 harus diestimasi. (Catatan Lenin)
[10] Bandingkan juga Edgar Crammond, “The Economic Relations of the British and German Empires” in The Journal of the Royal Statistical Society, July 1914, p. 777 et seq.  (Catatan Lenin)

Karya-karya V.I. Lenin | Séksi Bahasa Indonesia M.I.A.

On Wednesday, August 19, 2015 2:07 AM, “‘Chan CT’ SADAR@netvigator.com [URECA_SGT]” <URECA_SGT@yahoogroups.com> wrote:
Saya juga ingin ikutan kasih komentar, …
Kalau dikatakan “Neo-liberalisme” sudah berlalu didunia ini, TENTU saja BELUM! Masih jauhlah. Tapi, … kalau dikatakan “Neolib” sudah berlalu didaratan Tiongkok, itu ada betulnya! Mengapa? Bukankah kita semua bisa melihat, RRT selama ini, atau katakanlah dalam 30 tahun terakhir ini TIDAK BERLAKUKAN NEOLIB dineegerinya! Pemerintah Tiongkok masih berpegang TEGUH pada prinsip Ekonomi Sosialisme-nya, dimana Pemerintah tetap pegang kuat-kuat TALI-KENDALI ekonomi nasional, PEMERINTAH tidak segan-segan TURUN-TANGAN begitu melihat jalannya PASAR dianggap merugikan ekonomi nasional, dianggap MERUGIKAN kehidupan RAKYAT BANYAK! Selama ini, Pemerintah Tiongkok tidak mempedulikan, dimaki-maki oleh dunia barat, khususnya AS dalam hal ikut campurnya Pemerintah dalam mengendalikan nilai Yuan, termasuk mendevaluasi nilai Yuan kemarin ini, dalam mengendalikan perkembangan kapitalis dinegerinya, dan, … terakhir ini usaha menyetop anjloknya nilai SAHAM. Banyak ekonom barat marah dengan keterlibatan Pemerintah TIongkok mengendalikan PASAR, mereka merasa dirugikan Pemerintah Tiongkok yang tidak membiarkan pasar-saham berkeembang secara alamiah!
Tentu kita semua juga jelas, perlawanan yg dilakukan Pemerintah Tiongkok dengan turun-tangan mengendalikan arah perkembangan pasar ekonomi Tiongkok, merupakan pertarungan sengit antar kapitalis-kapitalis! Dalam hal ini juga jelas Pemerintah Tiongkok sedang berhadapan dengan kapitalis-kapitalis dunia yg hendak menghancurkan ekonomi Tiongkok. Hanya saja, sementara ekonom juga mempertanyakan sampai dimana kemampuan Pemerintah Tiongkok menunjang nilai saham yang anjlok drastis itu? Yaah, semua itu tergantung dari kekuatan-kekuatan yang sedang bertarung. Berapa besar kekuatan kapitalis-dunia dan berapa besar kekuatan Pemerintah Tiongkok! Yang jelas, kapitalis-kapitalis dunia sulit akan mencapai kekompakkan dalam menghadapi RRT, bukankah saat RRT membentuk AIIB Amerika tidak berhasil mencegah Jerman dan Inggris ikut serta? Begitulah diantara negara-kapitalis itu tetap terjadi persaingan tersendiri yang makin sengit demi kepentingan masing-masing, sedang Pemerintah Tiongkok sekalipun juga terjadi perselisihan pendapat didalam, sementara ini tetap KOMPAK dan cukup kuat menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
Maju teruss, … RRT tidak akan hanya mewujudkan masyarakat adil dan makmur dinegerinya sendiri, tapi juga akan sekuat tenaga mendorong maju perdamaian dunia dan kemakmuran bersama! Bukan jalankan NEOLIB apalagi IMPERIALISME yg mengangkangi dunia menggantikan peran AS!
Salam,
ChanCT
—–原始郵件—–
From: ‘DR. Alexander Tjaniago’ yskp45@yahoo.co.id [GELORA45]
Sent: Tuesday, August 18, 2015 11:22 PM
To: GELORA45@yahoogroups.com ; isa
Subject: Bls: [GELORA45] Kolom INRAHIM ISA — “NEO-LIBERALISME” — SUDAH JADI MASA LALU — ,Suatu ‘PANDANGAN BARU’ YANG PERLU DIPELAJARI . .
Sedikit Komentar.
GLOBALISASA yang akan diteruskan dengan TTIP, Perdagangan bebas, artinya Darwinisme Abad ke-XXI, yang menghancurkan seluruh batas-batas Souverenitas Negara, itu adalah isi dari NEOLIBERALISME yang belum berlalu, melainkan sedang berjalan dan dipaksakan oleh USA & EU/NATO.
Tjaniago
——————————————–
Pada Sab, 15/8/15, isa i.bramijn@chello.nl [GELORA45] <GELORA45@yahoogroups.com> menulis:
Judul: [GELORA45] Kolom INRAHIM ISA — “NEO-LIBERALISME”  — SUDAH JADI MASA LALU  — ,Suatu ‘PANDANGAN BARU’ YANG PERLU DIPELAJARI . .
Kepada: “GELORA45” <GELORA45@yahoogroups.com>
Tanggal: Sabtu, 15 Agustus, 2015, 8:10 PM
 Kolom IBRAHIM ISA, Sabtu, 15  Agustus 2015
            “NEO-LIBERALISME”  — SUDAH JADI MASA LALU . . .          
 
               Suatu ‘PANDANGAN BARU’ YANG PERLU DIPELAJARI
             “Neo-Liberalisme” sebagai suatu konsep ekonomi dunia yang dikaitkan dengannama-namamantan Presiden Ronald Reagan dan mantan PM Inggris M. Thatcher,– dikatakan,inti-sarinya adalah  suatu kebijakan ekonomi yang menyerahkan    segala-galanya pada mekanisme ‘pasarbebas’ ; dan di segilainnya  memotong sebanyak mungkin’campur-tangan               pemerintah. “Neo-liberlisme” —menurut Budayawan dnFuturolog  BURHAN ROSYID,  sudah mengalami kegagalan, dan bahwa”Kebangkitan ekonomi Republik Rakyat Cina (RRC) pada abad 21, menjadi penentu terhadap perubahan arah ekonomi politik dunia saat ini.”
               Di saat, — ketika politik ekonomi PresidenJokowi oleh sebagian orang dinilai, justru  sebagai pelaksanaan konsep  ekonomi ‘neo-liberalism’, maka, adalahmenarik ungkapan Burhan Rosyidi bahwa: Apa yang terjadi sekarang ialah
“Sebuah perubahan  kekuatan ekonomi politik dunia sedang berlangsung dari  kekuasaan neoliberalisme yang diwarisi dari
masa perang  dingin (cold war) menuju jaman yang lebih terbuka, setara dan adil. Perubahan ini merupakan keniscayaan
sejarah peradaban dunia yang tidak bisa dihindari dan dihalang-halangi oleh kekuatan manapun.
Perubahan dunia  ini membawa perubahan signifikan di Indonesia.”

Burhan Rosyidi  menandaskan: —–“Suka atau tidak suka, neoliberalisme, hari ini adalah masa lalu di tengah           perjalanan sejarah peradaban umat manusia.Jadi aneh dan kasihan kalau masih ada orang yang tidak bisa membaca arah  angin global yang sedang meluas di Indonesia saat ini,”  Tidakkah menarik para pakar dan penulis ekonomiIndonesia,          untuk  memberikan cukup perhatian terhadap pandangan yang  merupakan ´gebrakan-tantangan’  terhadap pandangan ‘mainstream’ yang  menyatakan sebaliknya. Seperti yang dinyatakannya:

         Burhan Rosyidi: — Berbeda dengan 1998, perkembangan ekonomi terakhir dengan menguatnya dollar atas rupiah dan jatuhnya harga minyak  dan batubara merupakan pintu masuk bagi kebangkitan nasional yaitu dengan membangun kekuatan ekonomi  berbasiskan BUMN dan pembangunan industri energi dari nuklir dan minyak gas dan batubara yang
dikuasai oleh negara yang mengabdi pada pembangunan dalam negeri.
         “Kita tidak menolak investasiTapi sistimnya dirubah. Sekarang titik tekannya keuntungan untuk dalam negeri. Silahkan
siapapun bisa bekerjasama dengan Indonesia. Tapi yang menentukan harus  kita,” tegasnya (Web Warouw)
          Burhan Rosyidi menegaskan:
        “Jalan satu-satunya bagi  Indonesia adalah persatuan nasional dan melaksanakan doktrin Tri Sakti Bung Karno. Hanya saja kalau dulu Tri Sakti adalah doktrin negara dibawah kepemimpinan presiden,–saat ini istana masih belum kelar. Karena masih pertempuran. Yang pasti saat inilah momentum bagi bangsa Indonesia,”
           Baca selengkapnya berita di bawah ini:
            Selasa, 11 Agustus 2015
           Budayawan dan Futurolog, Burhan Rosyidi (Ist)‏JAKARTA- Sebuah perubahan kekuatan ekonomi politik dunia
sedang berlangsung dari kekuasaan neoliberalisme yang diwarisi  dari masa perang dingin (cold war) menuju jaman yang lebih  terbuka, setara dan adil. Perubahan ini merupakan keniscayaan sejarah peradaban dunia yang tidak bisa          dihindari dan dihalang-halangi oleh kekuatan manapun. Perubahan dunia ini membawa perubahan signifikan di               Indonesia. Hal ini disampaikan oleh budayawan dan  futurolog, Burhan Rosyidi kepada Bergelora.com di Jakarta,               Selasa (11/8).
         Menurutnya, neoliberalisme adalah proyek gagal dari imperialisme semenjak masa Ronald Reagan  and Margaret Thatcher di era 80’an, yang mendorong pasar  bebas dan melucuti peran negara-negara dalam mengurus  rakyatnya. Kebangkitan ekonomi Republik Rakyat Cina (RRC) pada abad 21, menjadi penentu terhadap perubahan arah ekonomi politik dunia saat ini.
         “Suka atau tidak suka,   neoliberalisme, hari ini adalah masa lalu di tengah perjalanan sejarah peradaban umat manusia.Jadi aneh dan kasihan kalau masih ada orang yang tidak bisamembaca arah angin global yang sedang meluas di Indonesia saat ini,”  ujarnya.
         Puncak dari kompleksitas neoliberalisme menurut aktivis mahasiswa 1978 ini adalah krisis ekonomi akibat kejenuhan barang atas pasar, diikuti dengan runtuhnya sistim keuangan dunia dan dominasi penguasaan energi sumberdaya alam yang menyebabkan ketidak seimbangan global. Dipihak lain, RRCmenunjukkan kebangkitan ekonomi yang kuat dan signifikan tidak terpengaruh atas krisis global dan menjadi penopang bagi sistim keuangan dunia yang sudah
ambruk.
         “Para penguasa ekonomi dunia kemudian mendesak agar perjanjian-perjanjian dan lembaga-lembaga ekonomi dunia membuka diri atas Cina.   Lebih jauh lagi, ada evaluasi kritis terhadap   neoliberalisme dan kebangkitan Cina.
Kesimpulannya adalah kembalinya peran negara atas pasar,”ujarnya.
         Alumni Institute Tehnologi Bandung (ITB) Jurusan Astronomi ini menjelaskan bahwa kekuatan global saat ini merubah tatanan negara-negara dunia dengan tema jaman baru yang lebih setara (equal) dan adil (fair) dan terbuka (transparant) dalam mengurus dunia tidak lagi dengan senjata dan militer tetapi dengan kekuatan ekonomi.
         “Memang ada perlawanan dari  kekuatan lama yang tadinya menguasai sumberdaya alam dan mineral serta keuangan. Namun ditingkatan eksekusi, bisa  dipatahkan karena kekuasaan di Amerika Serikat dan Eropa juga sudah diganti dengan rezim-rezim baru,”ujarnya.
         Menurutnya kebijakan terbuka  pemerintahan Amerika Serikat, Barrack Obama terhadap Iran  adalah pukulan berat bagi kekuatan-kekuatan ekonomi lama  yang menguasai sumber daya alam di Timur-Tengah.
         Padang Kurusetra
         “Keterbukaan Amerika terhadap Kuba  juga merupakan optimisme dalam melihat masadepan peradaban manusia yang akan menentukan masadepan sejarah dunia. Hubungan Cina dan Amerika memang masih dalam  proses, namun sejarah punya jalannya sendiri,” tegasnya.
         Fenomena pemerintahan Joko Widodo menurutnya masih seperti padang kurusetra antara kekuatan  neoliberalis lama dengan kekuatan baru yang menginginkan Indonesia baru yang berdaulat dan bermartabat.
         “Jalan satu-satunya bagi  Indonesia adalah persatuan nasional dan melaksanakan doktri Tri Sakti Bung Karno. Hanya saja kalau dulu Tri Sakti adalah doktrin negara dibawah kepemimpinan  presiden,–saat ini istana masih belum kelar. Karena masih pertempuran. Yang pasti saat inilah momentum bagi  bangsa Indonesia,” ujarnya.
         Oleh karena itu menurut Burhan Rosyidi, berbeda dengan 1998, perkembangan ekonomi terakhir dengan menguatnya dollar atas rupiah dan jatuhnya harga minyak dan batubara merupakan pintu masuk bagi kebangkitan nasional yaitu dengan membangun kekuatan ekonomi  berbasiskan BUMN dan pembangunan industri energi dari  nuklir dan minyak gas dan batubara yang dikuasai oleh negara yang mengabdi pada pembangunan dalam negeri.
         “Kita tidak menolak investasi. Tapi sistimnya dirubah. Sekarang titik tekannya keuntungan untuk dalam negeri. Silahkan siapapun bisa bekerjasama  dengan Indonesia. Tapi yang menentukan harus kita,” tegasnya (Web Warouw)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: