WAWANCARA SURYA PALOH

 Wawancara

Degradasi di Sana-Sini, Kita Kehilangan Kebanggaan

Harian Media Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2015 Penulis: Putra Ananda
PERAYAAN hari ulang tahun ke-70 kemerdekaan Republik Indonesia baru saja berlalu. Pasang surut dan suka duka mewarnai perjalanan bangsa ini sejak diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

“Lalu pertanyaan yang muncul sekarang, apakah kita sudah benar-benar merdeka di semua sektor kehidupan? Apakah kita masih punya jati diri sebagai sebuah bangsa yang besar? Itu harus dijawab karena itu amanat konstitusi yang digariskan Bapak Pendiri Bangsa,” kata Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyikapi perjalanan bangsa ini.

Ia melihat masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh generasi sekarang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Tidak cuma PR untuk pemerintah, tapi juga rakyatnya.

Berikut petikan perbincangannya dengan wartawan Media Indonesia Putra Ananda di Kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, kemarin (Selasa, 18/8/2015).

Bagaimana Anda melihat 70 tahun kemerdekaan Indonesia, apakah di usianya yang ke-70 ini cita-cita bangsa kita sudah tercapai?
Kita telah mengalami 70 tahun perjalanan bangsa ini dengan pasang surut. Kita telah memiliki tujuh kepala pemerintahan dan sekarang ini yang ketujuh. Bisa saya katakan setiap era tentu tantangan zamannya berbeda. Tantangannya berbeda karena dimensi, situasi, dan keadaan di setiap waktu berbeda.

Bicara refleksi 70 tahun kemerdekaan, kita harus bisa menerima kondisi objektif yang ada. Saya ingin mengumpamakan ketika seorang anak kecil bertanya kepada orangtuanya, “Ayah coba sebutkan apa yang menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia?”
Itu pertanyaan yang sederhana. Tapi ketika seorang ayah ingin memberikan jawabannya, keningnya berkerut. Dia tidak bisa menjawabnya secara spontan lagi.

Ketika dia mau menjawab kita adalah bangsa yang besar dalam arti kata memiliki disiplin nasional yang kuat, dia takut jawaban itu salah. Ketika dia menyatakan Indonesia hebat sebagai bangsa yang besar karena memiliki etos kerja yang kuat, dia juga semakin takut.

Ketika dia mengatakan kita adalah bangsa yang memiliki kultur budaya yang kita pegang teguh dan tidak bergeser sedikit pun, takut juga dia.

Kita menyatakan yang mengandalkan nilai-nilai peradaban yang memiliki semangat dan pendekatan nilai-nilai kemanusiaan, takut juga dia. Bangsa yang memiliki semangat kegotongroyongan, lebih takut, semua takut. Bangsa yang menjalankan prinsip-prinsip tut wuri handayani, pada kenyataannya juga tidak.

Jadi, apa yang mau dibanggakan? Maka untuk menjawab pertanyaan yang sederhana itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Artinya kita kehilangan kebanggaan?
Ya, kita kehilangan kebanggaan. Ini permasalahan kita sebagai suatu bangsa. Kita mulai mencari-cari kompensasi diri sebagai suatu bangsa untuk menemukan kembali kebanggaan kita.

Para pemikir besar kita di mana? Ilmuwan-ilmuwan besar kita di mana? Negarawan-negarawan besar kita di mana? Ulama-ulama besar kita pun di mana? Sastrawan dan budayawan besar di mana? Sosiawan-sosiawan besar juga di mana?

Artinya di hampir semua aspek kehidupan kita mengalami situasi yang kritis. Ini dalam konteks sebagai suatu bangsa. Meskipun ada juga percikan-percikan api yang masih ada dan magnet-magnet nilai positif ada, secara potret keseluruhan kita mengalami krisis.

Ada proses degradasi yang harus kita pahami dari waktu ke waktu yang terjadi di negeri ini. Ulama besar kita menjadi ulama yang setengah besar dan terus menjadi kecil. Negarawan besar menjadi negarawan kecil dan lama-lama tidak jadi negarawan.

Akar persoalannya di mana?
Pembangunan karakter nasional yang tidak kita jaga, itu akarnya. Nation and character building tidak kita jalankan secara konsisten. Kita membiarkan merasuknya pemikiran-pemikiran pragmatisme, mengalahkan keyakinan dan kepercayaan kepada ideologi.

Penghormatan terhadap nilai-nilai ideologi kita hilang maka terjadilah perubahan penyikapan. The new character of Indonesia, new chapter, new characters, kita masuk kepada manusia Indonesia hari ini yang individualistis dan pragmatis.

Apakah di era pemerintahan sekarang kita bisa mengembalikan lagi kebanggaan kita itu?
Harus kita kembalikan, tapi ini bukan permasalahan yang gampang. Tekad dan semangat harus menyertai. Selain dengan kebijakan dan otoritas yang dimiliki pemerintahan saat ini, kita harus memiliki kesadaran untuk tidak membiarkan pemerintahnya bekerja sendiri.

Tidak mungkin pemerintah berhasil kalau dia bekerja sendiri tanpa partisipasi publik. Kita semua adalah bagian dari partisipasi publik di luar pemerintahan. Ini kesadaran yang harus kita bangun.

Apakah mudah?
Pasti tidak. Tapi apakah ini tidak mungkin, tidak juga. Jangan pernah kita berharap orang atau bangsa lain yang datang untuk membawa perubahan di negeri ini. Bangsa ini yang bisa menentukan perubahan pada dirinya sebagai suatu bangsa.

Dia mau tenggelam, dia mau maju, dia mau mundur, dia mau bergerak, ya bangsa ini yang bisa membawa perubahan itu sendiri. Tapi saya mau mengingatkan kita harus mulai ini dari kesadaran membangun pemahaman meletakkan keyakinan kita.

Kita punya kesempatan untuk itu. Kita tidak boleh biarkan egoistik generasi saat ini untuk menyulitkan generasi berikutnya.

Ini menarik. Bicara regenerasi, bangsa ini terbiasa mewariskan utang kepada generasi berikutnya. Apa pandangan Anda?
Sepanjang utang itu digunakan untuk membangun bangsa ini, tidak ada yang salah dengan utang. Jangan takut, tapi jangan mempermainkan akal sehat karena malas bekerja, karena tidak mampu melahirkan kreativitas sehingga bisanya hanya berutang.

Utang adalah bagian dari upaya membangun kembali kekuatan fondasi, baik itu di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan lainnya. Bukan sebaliknya, pengelolaan utang yang tidak tepat dan karena kemalasan lalu melahirkan inovasi dan kreativitas berutang, itu berbahaya.

Ekonomi Indonesia saat ini 85% dikendalikan oleh modal asing. Apa ini bisa dikategorikan sebagai penjajahan model baru? Dan apa yang harus kita lakukan dalam kondisi saat ini?
Kita memerlukan investasi asing. Jangan kita terjebak pada retorika kita tidak memerlukan investasi asing, itu membodohi akal sehat kita.

Yang perlu kita lakukan sekarang ialah bagaimana kita membatasi atau menjaga agar investasi asing ini tidak mengurangi derajat dan kedaulatan kita sebagai suatu bangsa. Yang membuat peraturan perundang-undangan kita, yang mengawasi undang-undang kita, seharusnya kalau kita kelola ini secara baik, kita bisa menggunakan kekuatan asing untuk membangun national interest kita.

Kita tidak boleh menjadi object market, sebagai negara konsumen dari mereka yang sudah mapan sebagai negara industri. Ada satu simbiosis yang harus kita lihat terhadap kepentingan bilateral terhadap negara mana pun.

Apakah menteri yang baru dilantik oleh Presiden, terutama di sektor ekonomi, bisa menjalankan roda pembangunan bangsa ini?
Harusnya demikian, dan kita harapkan demikian, karena kita tidak mengharapkan itu gagal. Yang penting pemerintahan tidak korupsi, tidak pura-pura, ada kesungguhan.(P-1)

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: