UTANG LUARNGERI BERTAMBAH 24 TRILIUN

Utang Luar Negeri Bertambah Rp 24 Triliun
rupiah7
rupiah2

sharia.co.id – Pemerintah berniat menambah utang untuk membiayai anggaran di tahun depan. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016, total pembiayaan yang dibutuhkan Rp 273,2 triliun.

Selain dari dalam negeri, melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), utang luar negeri juga ditambah. Utang itu tentu akan menambah outstanding utang pemerintah pusat yang per akhir Juni 2015 sebesar Rp 2.864,18 triliun.

Pemerintah beralasan kenaikan utang sejalan dengan kenaikan belanja negara 6,91% menjadi Rp 2.121,3 triliun pada 2016.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, strategi front loading alias pencarian utang di awal tahun tetap akan dipakai tahun depan.

Strategi itu dipakai karena Presiden Joko Widodo meminta sejak Januari 2016 penyerapan belanja pemerintah sudah berjalan.

Terkait kondisi ekonomi yang belum stabil, pemerintah akan melihat waktu yang tepat untuk menerbitkan SBN, baik valuta asing atau non valas.

“Cari waktu terbaik,” ujar Bambang, akhir pekan lalu.

Utang luar negeri naik

Pada tahun depan pemerintah akan menambah porsi pinjaman multilateral dan bilateral dari Rp 48 triliun tahun ini menjadi Rp 72,8 triliun. Pinjaman program naik, pinjaman proyek diturunkan. Kebijakan ini membuat pembiayaan luar negeri neto tercatat Rp 1,2 triliun.

Itu artinya, penarikan pinjaman luar negeri lebih tinggi dibandingkan pembayaran cicilan pokok utang dan penerusan pinjaman.

Ini di luar kebiasaan, karena setiap tahun biasanya penarikan pinjaman lebih kecil dibanding cicilan pokok.

Direktur Strategis dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemkeu Schneider Siahaan mengatakan, pinjaman luar negeri ditambah untuk meningkatkan cadangan devisa.

“Kita dapat keuntungan dua kali,” paparnya.

Saat ini pemerintah juga sedang mendekati lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB) untuk kembali masuk dalam pembiayaan program tahun 2016.

Schneider optimistis target utang di 2016 tercapai karena kondisi pasar finansial lebih cerah. Asumsinya bank sentral AS sudah menaikkan suku bunga sehingga pasar minim goncangan.

“Pasar sudah priced in antisipasi The Fed menaikkan bunga. Tidak shock lagi,” terangnya.

Schneider bilang pemerintah akan akan mengatur porsi utang valas maksimal 30% di 2016. Untuk paruh pertama 2016, porsi penerbitan utang akan mencapai 70%.

Namun porsi itu tergantung posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada akhir 2015. Jika nominal SAL besar, front loading akan dilakukan tak terlalu besar.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat strategi pemerintah memperbesar pinjaman multilateral dan bilateral cukup baik. Jika Indonesia terlalu banyak merilis SBN, rentan gejolak.

Namun di tengah kondisi eksternal yang masih cenderung bergejolak di 2016, pemerintah perlu menjaga rasio utang dalam level aman untuk menghindari gejolak kurs.(kontan)

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: