EKSIL INDONESIA DI BELANDA MEMPERINGATI HUT RI

EKSIL INDONESIA DI BELANDA MEMPERINGATI HUT RI

BY BARI MUCHTAR ON AUGUST 16, 2015, posted by Chalik Hamid chalik.hamid@yahoo.co.id  to: GELORA45@yahoogroups.com
daridepanLagu-lagu jadul seperti “Waktu Hujan Sore-sore” terdengar dari luar gedung De Schakel, di Diemen, kota kecil dengan Amsterdam. Dan di dalam, acaranya terlihat memang meriah. Pada hari Ahad tanggal 16 Agustus 2015 masyarakat Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Persaudaraan merayakan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 70. Mayoritas anggota perhimpunan ini adalah orang-orang yang terhalang pulang atau sering juga disebut eksil.
Peristiwa G30S
Ibrahim Isa (85), salah seorang tokoh eksil yang termasuk senior, mendefinisikan peristwa 65 sebagai perubahan politik fundamental yang mendadak. “Saat itu Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan dari tangan Soekarno,” kata seorang eksil yang pernah lama tinggal di Mesir ini.
Para eksil dulu adalah mahasiswa, wartawan, diplomat RI yang setelah terjadi peristiwa 1965 tidak bisa pulang ke Indonesia. Ibrahim Isa (85), mengatakan, oleh kedutaan RI dan atase militer mereka disuruh mengutuk pemberontakan G30S dan mendukung Soeharto. Tapi mereka tidak mau, karena mereka tetap setia kepada presiden Soekarno sebagai “kepala negara yang sah”. Akibatnya paspor mereka dicabut dan dituduh subversif.
Setelah terpaksa mengembara ke bermacam negara akhirnya kebanyakan dari mereka bermukim di Belanda. Dan ada pula yang tinggal di Jerman dan Prancis. Kebanyakan di antara mereka terpaksa menjadi warga negara asing. Namun demikian mereka tetap merasa orang Indonesia. “Kami nasionalis dan setia kepada Soekarno.” Itulah ungkapan yang sering mereka sebutkan.penuh
Tujuan kemerdekaan
Ketua Perhimpunan Persaudaraan, Sungkono, mengatakan organisasinya didirikan sebagai paguyuban dengan berbagai kegiatan di segala bidang dari budaya sampai politik. Dan peringatan hari kemerdekaan ini merupakan kegiatan terpenting dari Perhimpunan sejak didirikan sekitar 20 tahun lalu. Ditanya apa arti kemerdekaan, mantan mahasiswa permesinan di Moskow ini mengatakan, tujuan kemerdekaan adalah masyarakat adil dan makmur.
Ibnu Fikri, seorang mahasiswa di Vrije Universteit, Amsterdam, yang hadir di acara ini mengaku sebagai generasi muda tidak mengetahui betul peristiwa 65. Tapi setelah banyak berbicara dengan para eksil ia mulai menyadari bahwa penulisan tentang peristiwa itu ada salahnya. “Ini adalah kesalahan sistem. Artinya sistem penulisan sejarah,” katanya. Menurut dia, perlu diungkapkan apa sebenarnya yang terjadi kala itu.
Generasi muda
tarianIbrahim Isa dalam dialognya dengan Ibnu Fikri mengatakan, di Indonesia sekarang sudah banyak tulisan tentang peristiwa 30 September 1965. Salah satunya adalah tulisan John Rosa. Ibnu Fikri mengatakan, masalahnya orang awam belum bisa menerima versi lain tentang peristiwa itu. Makanya perludisosialisasikan.” Generasi muda harus dibuka pemirikannya tentang masyarakat eksil.” Menurut Ibrahim Isa, pemuda Indonesia seperti Ibnu Fikri hendaknya peduli dan pro aktif untuk menggali peristiwa 65. “Mesti ada kepedulian”. Sungkono menegaskan tuduhan bahwa mereka terlibat pemberontakan di Indonesia pada 1965, adalah tidak benar. “Bagaimana kami terlibat. Kami di luar negeri kok. Itu tuduhan yang tidak berdasar.”
Kehadiran diplomat KBRI
Farida Isaja, eksil yang dulu pernah tinggal di Vietnam, berpendapat, untuk menyelesaikan peristiwa 1965 diperlukan ketelitian dan kesabaran. Tapi ia menilai, penuntasan sangat perlu. “Demi masa depan Indonesia masalah ini harus dituntaskan,” kata Ketua Yayasan Dian ini. Farida menilai sejak presiden Gus Dur hubungan antara Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan para eksil cukup baik. Acara setengah hari itu memang dihadiri oleh beberapa diplomat KBRI Den Haag. “Raden Usman Effendi dan satu lagi pak Deden,“ kata ibu yang berjilbab ini. Kehadiran para diplomat seperti ini adalah suatu hal yang mustahil pada zaman Orde Baru masih kuasa.
Merdeka dan gembira
diplomatnyanyiSatu jam sebelum acara berakhir, para hadirin makin banyak yang minta diri. Namun acara menyanyi berlangsung terus, yang tetap menunjukkan suasana kegembiraan. Meski tidak ada yang menyebutkannya secara eksplisit, para hadirin sepertinya berharap agar ke depan rakyat Indonesia benar-benar merdeka dan gembira.

Posted by: Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>


Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: