TUGU DEMOKRASI, TANDA PERDAMAIAN PERANG SAUDARA DI PUNCAK PAPUA

DetikNews

Ini Tugu Demokrasi, Tanda Perdamaian Perang Saudara di Puncak Papua

Elza Astari Retaduari – detikNews

Senin 17 Aug 2015, 00:59 WIB

 

Ini Tugu Demokrasi, Tanda Perdamaian Perang Saudara di Puncak Papua
Foto: Elza Astari/detikcom

Papua – Perang saudara sempat terjadi di Kabupaten Puncak, Papua, saat masa pilkada pada tahun 2011. Peristiwa yang menewaskan 51 warga itu kini diabadikan dengan berdirinya Tugu Demokrasi Perdamaian di ibukota kabupaten yakni Distrik Ilaga.

Diceritakan oleh Bupati Puncak Willem Wandik, perang terjadi dalam proses Pilkada dalam kurun waktu 2 tahun. Usai pilkada pada tahun 2013, suasana pun masih mencekam sampai pada awal tahun 2015 ini.

“Kejadiannya perang mulai tahun 2011, perang akibat dualisme rekomendasi dari partai Gerindra sehingga menimbulkan gejolak. 2011-2012 di sini dalam suasana tidak damai, mencekam,” ungkap Willem di Ilaga, Minggu (16/7/2015).

Kala itu perang terjadi antara pendukung Silom Alom dan Elvis Tabune yang merupakan perwakilan dari Distrik Gome dan Distrik Ilaga. Pemilihan langsung bupati dilaksanakan pada 14 Februari 2013 di mana akhirnya memenangkan Willem yang merupakan politisi PDIP itu dan wakilnya, Revinus Telenggen.

“Dalam kurun waktu itu 51 orang meninggal akibat perang saudara. Di kali (penghubung Gome-Ilaga) terjadi baku hantam. Pak Simon ini meninggal saat perang, dia bupati pertama di Puncak,” kata Willem.

Usai dilantik, Willem pun berusaha membangun komunikasi antara pendukung kedua belah pihak. Dibantu personel TNI/Polri, Willem melakukan rekonsiliasi hingga akhirnya kesepakatan damai pun berhasil dilakukan.

“Saya menyelesaikan itu tahun 2015. Penyelesaian secara adat. Saya temukan 2 belah pihak di lokasi itu (tempat Tugu Perdamaian berdiri). Mereka meletakkan batu dan berjanji tidak akan berperang lagi,” jelas bapak 4 anak itu.

Pemkab Puncak harus membayar Rp 1 miliar untuk per satu kepala korban meninggal. Setelah perdamaian, masyarakat pun menggelar tradisi bakar batu. Kedua belah pihak berpesta dan menari bersama. Jika sebelumnya 2 wilayah tidak bisa dimasuki oleh masing-masing pihak, kini jalan kembali dibuka dan sudah aman.

“Bayar kepala 1 orang paling tinggi Rp 1 Miliar lebih 500 juta. Dibayar oleh masyarakat sendiri dibantu oleh pemerintah. Untuk mendamaikan. TNI dan Polri, pemda dan pusat juga bantuk. Menkopolhukam, Gubernur Papua,” ucap Willem.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian yang dulu masih menjabat sebagai Kapolda Papua pun disebut Willem cukup berperan besar dalam usaha perdamaian ini. Saat ini suasana di Ilaga dan Gome sudah terkendali. Baik warga bersama personel TNI/Polri juga terjalin persaudaraan erat.

“Pak Tito, itu dia yang dulu sempat datang mendamaikan. dari Kodam Cenderawasih juga. Pak Tito itu orang hebat. Selain karena membantu perdamaian, saat dia Kapolda Papua bisa jaga keamanan saat proses pemungutan suara,” ujar Willem.

Kini Tugu perdamaian telah berdiri gagah di dekat sungai perbatasan Gome-Ilaga. Di kelilingi gunung-gunung di Kab Puncak, Tugu dilengkapi dengan lambang Garuda di bagian puncaknya. Hanya saja belum ada keterangan nama tertera di lokasi tugu, namun pemda akan segera melengkapi penanda perdamaian itu.

“Tugu itu namanya Tugu Perdamaian Demokrasi. Saat pilkada lalu di Kab Puncak kan pemilihan langsung dan itu salah satu pilkada dengan korban tumpah darah terbesar,” tukas Willem.

Cerita perang saudara juga diceritakan oleh salah seorang warga, Lina Tabo. Ia adalah saksi mata terjadinya perang besar yang menewaskan banyak orang.

Beruntung ia selamat dan kini wanita yang akrab dipanggil Mama Lina itu telah sukses menjadi wirausahawati di Ilaga dan beberapa wilayah di Papua lainnya.

“Saya saksi sejarah. Pas pagi subuh serangan besar. Itu jam 04.00 WIB mereka sudah kurung kami. Itu dari musuhnya pak Elvis. Jam 05.00 WIB sudah serang. Rumah-rumah dengan manusia dibakar. Ada yang menyelamatkan diri dari rumah kena tancap panah,” cerita Mama Lina di Ilaga, Minggu (16/8) malam.

“Saya waktu itu di dalam rumah, musuh serang kami kaget bangun. Mau lari keluar takut dapat panah. Akhirnya hanya pasrah saja di dalam rumah, untung tidak kena bakar. Rumah sebelah sampai bawah dekat sungai sudah habis terbakar. Honai-Honai deretan itu habis semua. Sekarang sudah aman, sudah bebas,” tutupnya.

(elz/fdn)

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: