ACEH LABORATORIUM PENYELESAIAN KONFLIK

Aceh Laboratorium Penyelesaian Konflik

Negara lain yang sedang mengalami konflik bersenjata, mempelajari proses perdamaian di Aceh.

aceh.tribunnews.com /

Mantan Ketua Aceh Monitoring Mission, Pieter Feith (dua dari kiri) mantan penasihat politik Ketua AMM, Juha Christensen (dua dari kanan) disambut Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Malik Mahmud, dan Rektor Unsyiah Samsul Rizal saat tiba dalam jamuan makan malam di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (11/8) malam.

BANDA ACEHKonflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia telah berakhir 10 tahun lalu, setelah kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani perjanjian damai pada 15 Agustus 2005 atau beberapa bulan setelah bencana tsunami melanda Aceh.

Setelah perjanjian damai ditandatangani dan pihak GAM bersedia bergabung dengan Republik Indonesia, banyak perubahan yang terjadi di Bumi Serambi Mekkah itu, seperti mantan petinggi GAM menjadi pemimpin di Aceh baik sebagai gubernur maupun bupati atau walikota, serta berdiri partai lokal di Provinsi Aceh.

Penyelesaian konflik Aceh secara damai, telah menarik perhatian sejumlah negara yang mengalami konflik bersenjata di negara mereka. Buktinya, setelah konflik Aceh berakhir, banyak utusan negara sahabat mengunjungi Aceh untuk mengetahui bagaimana proses perdamaian bisa terbangun di Aceh.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah pada Simposium Internasional Perdamaian Aceh yang difasilitasi oleh Aceh Peace Forum, Rabu (12/8), mengatakan penyelesaian konflik bersenjata di Aceh telah menginspirasi banyak negara dan para peneliti untuk mengetahui bagaimana transformasi politik di Aceh bisa terlaksana.

“Saat ini Aceh menjadi laboratorium penyelesaian konflik bersenjata bagi banyak negara,” ujar Zaini Abdullah yang juga mantan Menteri Luar Negeri GAM itu. “Bahkan, mantan pasukan GAM dapat kembali hidup di masyarakat. Ini jadi pengalaman berharga yang bisa dicontoh oleh daerah lain dalam penyelesaian konflik bersenjata,” ungkapnya dalam acara yang dihadiri oleh Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM), Pieter Feith dan sejumlah orang yang pernah terlibat dalam proses perdamaian di Aceh.

Menurut Zaini, konflik bersenjata dapat diakhiri karena semua pihak punya niat untuk berdamai, tidak punya keinginan untuk saling menaklukkan, mendominasi atau menyalahkan. Saat itu, kedua belah pihak berkomitmen untuk duduk bersama mencari solusi.

Diakui bahwa saat ini masih ada sejumlah poin dalam perjanjian damai antara RI dan GAM yang belum terpenuhi, tapi banyak perubahan yang telah terjadi di Aceh, termasuk dalam hal kesejahteraan rakyat.

Ketua AMM, Pieter Feith mengaku sangat bangga dapat terlibat dalam proses perdamaian di Aceh. Ia juga menyatakan perdamaian telah memberikan kontribusi terhadap daerah dan sumber daya manusia. “Saya sangat terhormat berada dalam proses perdamaian di Aceh. Perdamaian juga telah membawa harapan baru bagi masyarakat Aceh dan masyarakat dunia,” tegasnya.

Sumber : Sinar Harapan
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: