WARISAN BUDAYA RUSAK KARENA PEMBANGUNAN

Warisan Budaya Rusak Karena Pembangunan
http://analisis.news.viva.co.id/news/read/570656-warisan-budaya-rusak-karena-pembangunan

ANALISIS
Jangan sampai aset Nusantara dibawa ke luar negeri. Senin, 22 Desember 2014 Oleh : Arinto Tri Wibowo, Amal Nur Ngazis VIVAnews – Arkeolog Universitas Indonesia, Mundardjito, menyabet Penghargaan Achmad Bakrie 2014, untuk kategori pemikir sosial tahun ini. Pria kelahiran Bogor 8 Oktober 1936 ini mengaku tak menyangka. Karena, seingat dia, belum pernah ada arkeolog yang menerima penghargaan serupa.

“Saya tentu terkejut, dinyatakan sebagai penerima penghargaan,” ujar Mundardjito dalam sambutan usai menerima penghargaan, pada Rabu 10 Desember 2014.

Mundardjito mengatakan, tugas arkeolog tidaklah mudah. Sebab, dituntut untuk mampu menghadirkan nilai budaya yang muncul dari masa lalu. Untuk itu, kerja lapangan menurut dia, tak tergantikan.

Kerja arkeolog adalah detektif masa lalu, yang membuatnya tak mudah untuk membuat cara hidup, dan proses kebudayaan yang terjadi di masa lalu bisa berbicara. Pria yang pernah menimba ilmu di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, itu mengatakan bahwa Indonesia tak hanya kaya dengan khazanah flora dan fauna, tetapi juga benda dan situs arkeologi.

Namun, sayangnya, kata dia, kekayaan itu seringkali terlupakan, ditelantarkan, dan dihancurkan atas nama pembangunan nasional dan daerah. “Pembangunan fisik kerap menabrak warisan budaya kita,” kritiknya.

Dalam wawancara dengan VIVAnews, “Guru Arkeologi Indonesia” itu membeberkan perkembangan kondisi arkeologi di Indonesia. Berikut petikannya:

Antropologi jadi ilmu yang terpinggirkan. Tanggapan Anda?
Antropologi adalah ilmu penting. Memang, pengembangan diri kita, bagaimana bisa hidup di berbagai daerah, mungkin ada di pesisir atau sawah. Manusia itu melahirkan berbagai peradaban. Itulah yang hendak digunakan dalam penelitian ini. Siapa pun yang di Indonesia punya hak untuk mengetahui diri sendiri, dan melihat bagaimana perkembangan dan pengaruh terhadap budaya kita. Bagaimana hubungan dengan antarmanusia, mengenai agama, semua yang dibuat di masa lalu adalah bagian dari warisan kita, itu kita buat, bukan orang lain yang buat.

Dalam perkembangan arkeologi, apakah ada peningkatan dari anggaran atau jumlah riset?
Sebenarnya ada peningkatan. Tapi jangan lupa bahwa di mana-mana kita buka tanah, selalu ada temuan, masih banyak. Dan ketika mereka bangun mal, lapangan terbang, bendungan, perumahan, masih ada yang ketemu. Nah, itu harus dilihat, dipelajari penyelesaiannya bagaimana. Bagaimana kita rekam atau lakukan pemugaran semuanya.

Kesadaran masyarakat atas situs bagaimana?
Bolehlah mereka sadar, tapi ada perut yang mereka pikirkan. Akhirnya mereka lupa dan banyak bangunan yang dijual. Ini penting, jadi ini masalah sosialisasi. Jadi, kalau kebijakan pemerintah itu terkait politik pelestarian, bagaimana itu bisa dilestarikan, artinya bagaimana itu dilindungi, dimanfaatkan, dan dikembangkan untuk semua kalangan, wisata, pengetahuan, untuk semua. Bagaimana kita bisa buat itu.

Penilaian politik pelestarian pemerintah sejauh ini bagaimana?
Harus ditingkatkan, dicari apa yang penting. Kadang kita meneliti tapi lupa harus melestarikannya. Banyak, di mana-mana ada, jadi harus ada kebijakan yang diseleksi betul-betul mana yang harus didahulukan.

Ada prioritas situs yang harus didahulukan?
Ya, seharusnya sekarang yang terbuka-buka itu harus dilestarikan. Jangan ditinggalkan, sayang. Jadi, Borobudur itu sekarang tangganya sudah mulai melengkung-melengkung. Jadi, harus kita amankan juga. Pengunjung juga makin banyak. Kalau sekarang, semua wisatawan dipersilakan masuk dalam jumlah ribuan, tak diatur. Untuk itu, di sana perlu diatur ada zona duanya. Jadi, sebelum masuk, mereka ke zona yang minum, belanja dulu, nonton museum dulu. Ini agar distribusi orang itu tidak langsung semuanya naik.

Situs sejarah Islam, apakah masih banyak?
Tentu masih ada, banyak. Dari zaman sebelum menulis (pra sejarah), Islam dan sampai kini ada semuanya. Sudah ada bagian risetnya.

Tapi, banyak situs Islam kurang terlihat?
Ada bangunan yang ketika ditemukan tidak ada orangnya, tak ada yang memanfaatkannya. Misalnya Borobudur. Saat ditemukan, tidak ada orangnya. Itu kita riset ilmiah terus menerus. Kalau kita mungkin lihat situs Islam, itu ada orangnya yang di situ. Jadi, mesti kita tanya, mau tidak orang itu (pindah). Jadi, kita berikan kemungkinan agar mereka menangani sendiri (situs) itu.

Situs Islam di Banten bagaimana pengelolaannya?
Itu sudah bagus, cuma masyarakat masih berdagang di situ, ruwet, belum ada manajemen yang baik. Jadi, kalau ada manajemen kita lindungi bangunannya, juga masyarakat, dan alamnya. Jangan masyarakatnya saja yang tidak bisa di-manage.

Situs Islam malah dipakai untuk ritual. Tanggapan Anda?
Itulah soal kepercayaan. Ada yang menganggap ini bagian dari agama tertentu. Dan ada kepercayaan saja, ada candi di atasnya ada makam Islam. Kita nggak bisa nolak (adanya ritual), dari dulu gitu. Ya kita hargai sebagai pusat upacara
mereka. Mereka bebas saja itu. Ada orang juga yang puja di lapisan bawahnya.

Di Kediri, Jatim, suatu gunung ada situs sejarah, namun dipakai untuk kegiatan yang tidak pantas. Tanggapan Anda?
Makanya, setiap situs itu harus dijaga, dikelola. Nah, kalau kita bisa, itu bisa dihindari. Pemerintah juga harus punya kesempatan melindungi. Bukan hanya pemerintah, tapi masyarakat juga harus berperan. Cagar budaya itu untuk semua.

Terkait Gunung Padang sedang heboh dan kontroversial. Ada debat antarpeneliti. Tanggapan Anda?
Artinya, kita belum mempunyai laporan yang lengkap mengenai di mana itu diambil datanya. Apakah ada rekaman yang kita bisa lihat. Jangan tertutup gitu. Kita belum tahu bagaimana caranya menggali.

Selama ini, sudah ada publikasi dan ekskavasi dari Tim Terpadu Riset Mandiri?
Ya, tapi kan bagaimana melakukannya, itu kan juga penting. Jadi kalau ambil, penanggalan itu prosesnya bagaimana? Sekarang kan batu-batu diangkat, di mana itu ditemukan kita kan nggak tahu.

Saran Anda?
Ya, tentu diusahakan, itu kan ada bukit dengan teras-teras. Itu belum dilestarikan, masih berantakan. Kita tata, luruskan dulu. Tim terpadu kan ambil yang di bawah, dan itu seharusnya dilarang melakukan apa-apa sebelum itu dilestarikan. Maksud saya, prioritasnya apa sih. Ya betulin dulu, itu batu-batu dibetulin. Karena air kan masuk dari atas, turun dan keluar lagi melalui batu-batu itu. Misalnya, jumlah pengunjung (Gunung Padang) berapa, itu kan tak banyak, dan diatur zona agar orang tak bisa akses ke sana.

Bagaimana terkait dengan risetnya?
Pemerintah kan yang punya tanggung jawab. Mereka sudah tahu. Sudah ada tahapannya. Borobudur misalnya, perlu beberapa tahapan. Misalnya sekarang survei dulu, mana yang perlu dilestarikan dulu.

Tim Terpadu Riset Mandiri eksistensinya sebaiknya bagaimana. Dilanjutkan atau dihentikan saja?
Kan sudah kita usulkan moratorium. Harus kita kaji, tujuannya apa sih? Kalau tujuannya kan untuk melestarikan yang di atas. Tujuannya lebih dalam, kalau itu dirusak (dari dalam) bisa terjadi erosi.

Dua kubu peneliti nggak ketemu. Solusinya bagaimana?
Memang nggak ketemu. Pemerintah lah (turun tangan). Kan punya UU, maka UU harusnya yang atur. Ya, ini ada politisasi. Dikerjakan oleh ahli yang kurang mampu. Kalau kita mau kerjakan itu, kita harus melihat hal yang lebih besar. Supaya nggak akan rusak (situsnya). Perlu dipikirkan berapa SDM timnya, berapa waktu pengerjaannya. Kalau hal-hal itu sudah ditentukan, bisa. Kalau tak ada rancangannya, uangnya juga nggak ada. Bagaimana bisa tanpa uang meneliti. Ini (TTRM) nggak ada. Kapan dia butuh, dia minta. Terus kurang tenaga pakai tentara. Nggak gitu dong. Kita harus gunakan rancangannya. Itu kekurangannya, studi kelayakan dan rancangannya betul-betul dilihat kita semua.

Versi Tim Terpadu Riset Mandiri, Gunung Padang akan mengguncang dunia dan lebih tua dari Piramida. Tanggapan Anda?
Belum tentu. Carbon dating-nya bagaimana. Kita nggak pernah tahu prosesnya, nggak pernah ada buktinya. Kalau ambil di sini, kita nggak lihat gambar, laporannya nggak ada. Itu gunakan uang negara, tapi nggak dilaporkan kegiatannya.

Saran untuk Tim Terpadu Riset Mandiri?
Memang moratorium dulu, terus mari kita kerjakan bersama-sama.

Ada kabar Gunung Padang ditawar Rp12 triliun. Tanggapan Anda?
Sudah dengar. Tapi, ada nggak orang yang mau membeli Borobudur? Kalau ya, dikasih nggak? Itu kan aset bangsa. Itu dikelola pemerintah, tanggung jawab pemerintah, kan pemerintah ada UU. Makanya, untuk urus itu, itu untuk kesejahteraan masyarakat bukan yang lainnya. Dikelola, masyarakat diberdayakan, masyarakat bisa bikin homestay, masyarakat juga dipedulikan.

Manajemen riset arkeologi Indonesia, apa prioritasnya?
Saya kira menuju ke arah bahwa dalam UU ada yang namanya badan pengelola (BP) untuk suatu situs. Sebab dikerjakan antarilmu, antarsektor, antarpemerintah, seperti Sangiran, itu kan dua kabupaten. Jadi kalau ada BP, supaya tidak terjadi konflik sosial. Ada yang bikin jalan, terus ada situs, maka rusak. Kalau ada BP di daerah kota tua Jakarta misalnya, itu bisa diatur.

Bagaimana dengan badan pengelola itu, apakah sudah merata fungsinya?
Belum ada. Jadi itu belum ada. Ada dalam UU, tapi belum dilaksanakan.
Satu pun belum ada. Itu yang penting. Agar tak terjadi benturan antara kehutanan sama arkeologi.

Titik berat dari riset arkeologi itu untuk apa? Sejarah, wisata atau lainnya?
Untuk semua, ya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, sejarah juga wisata, untuk agama. Untuk apa saja, nggak ada titik fokus. Jadi, kalau tidak dilestarikan, kita tidak bisa menyumbang kepada semua. Kita bisa atur dan berdayakan, termasuk masyarakat. Ancaman bisa dari alam, orang, itu semua harus diperbaiki.

Pesan kepada masyarakat agar lebih sadar dengan arkeologi?
Hargailah warisan budaya kita, yang dipikirkan, dibuat, dirancang di masa lalu.
Bayangkan “insinyur” yang buat Borobudur itu bagaimana. Banyak sekali yang hebat bisa bangun itu, sampai jadi warisan dunia kan. Kalau kita begitu, kita harus bercita-cita setiap situs dikelola dengan baik, dipelihara. Ada uangnya, untuk masyarakat dan bisa jadi untuk daerah.

Riset di Indonesia problemnya selalu dukungan anggaran. Solusi Anda?
Tergantung kepada kebijakan pemerintah. Kalau pemerintah menganggap perlu, prioritasnya apa. Tapi, itu memang diperjuangkan, dibuat mengerti.

Apakah swasta atau asing perlu dilibatkan?
Bisa saja, asal ada aturannya, batasannya. Jangan sampai aset dibawa ke luar negeri. (adi)

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: