MAKELAR

Cerita Ken Prita
MAKELAR
Akhirnya Disperindag Provinsi menetapkan tiga orang yang berangkat ke Jakarta untuk mewakili Kalimantan Tengah mengikuti Pameran Internasional Inacraft hang diselenggarakan saban tahun dan diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Tiga orang itu adalah Joy, Orang Kalteng asal Manado, Joko asal Jawa dan Indu Salundik, seorang perempuan Dayak. Tiga orang itu berjanji untuk be rtemu di Bandara Tjilik Riwut jam tujuh pagi. Joy ditunjuk sebagai koordinator utusan.
Keputusan tentang siapa-siapa yang akan berangkat, baru diambil oleh Disperindak, tiga minggu sebelum berangkat. Bahkan keputusan memasukkan Joko kedalam utusan, baru diberitahu seminggu sebelum keberangkatan. Padahal di daerah-daerah lain, pemberitahuan kepada siapa-siapa yang akan berangkat mewakili daerah telah diberitahukan, paling tidak setengah tahun sebelumnya. Sehingga anggota tim utusan mempunyai waktu persiapan yang longgar.
Empat empat hari sebelum berangkat, sebagai koordinator Tim Utusan, Joy secara berprakarsa mengundang anggota-anggota untuk bertemu guna memeriksa kesiapan dan persiapan tim utusan, serta memberikan beberapa keterangan tentang keadaan yang mereka hadapi.
“Yang disediakan oleh Dinas untuk kita adalah tiket pulang-pergi, penginapan, biaya over-weight”. Ujar Joy memulai diskusi.
“Uang transpor dan makan Rp.100 ribu tiap orang per hari”, lanjutnya.
“Apa cukup Rp.100 ribu di Jakarta. Sedangkan harga makanan di kompleks pameran di mana pun selalu lebih mahal dari di luar, ” tanya Indu Salundik masgul.
“Soal yang Ibu Salundik ajukan sudah saya ajukan kepada Kepala Bagian. Jawabannya sangat klasik yaitu “tidak ada dana. Karena dana Rp. 17 juta digunakan oleh lima orang dari Dinas.” Jelas Joy.
“Untuk apa sampai lima orang ikut ke Jakarta?,” tanya Joko kesal.
“Jawaban dan alasannya pun sangat klasik, Pak Joko”. “Untuk mendampingi kita orang binaan mereka”, tutur Joy mengulang jawaban orang Dinas kepadanya ketika bertemu.
“Bilang saja terus-terang untuk jalan-jalan. Membina? Kapan pula mereka pernah membina saya?”.
“Mereka perlu alasan pembenaran, lepas dari masuk akal tidaknya alasan yang digunakan. Soal ini saya kira tidak usah kita bahas berpanjang-panjang. Tidak ada gunanya. Yang penting ketika kita memutuskan ikut berangkat, kita bertiga niscaya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak mengenakkan. Untuk menghadapi segala kemungkinan pahit, kita bertiga harus kompak, memperkuat setiakawan. Mustahil dengan adanya setiakawan kuat, kita bertiga tidak bisa mengatasi segala soal. Bagaimana?” tanya Joy.
“Setuju, Mbak,“ Joko dan Indu Salundik menjawab hampir serentak.
“Sekarang, yang patut kita pecahkan sekarang adalah rencana dekor ruang pameran. Dinas sama sekali tidak mempunyai konsep tentang soal dekor ini. Konsep kita dari diskusi ini, besok kita sampaikan ke Dinas. Kita bertiga bersama-samamenyampaikannya”.- Usul mereka diterima oleh Dinas.
Untuk mengantar Joy, jam 5.30 aku sudah meninggalkan rumah kontrakan menuju ke tempat Joy ke bandara Tjilik Riwut. Ketika kami tiba, Indu Salundik dan Joko sudah tiba lebih dahulu dan tiga orang dari Dinas.
Begitu mendarat di bandara Cengkareng, menggunakan kendaraan yang dicarter oleh Dinas rombongan segera ke tempat pameran dengan segala barang bawaan karena keesokannya pameran akan dimulai. Sampai pukul 22.00 dekor masih belum dikerjakan oleh OC. Melalui percakapan dengan tukang dari OC baru diketahui kelambatan disengaja ini disebabkan karena Dinas belum memberikan uang panjar. Akibatnya, ketika mereka mengerjakan dekorasi hingga tengah malam lewat, hasilnya asal jadi, tidak sesuai dengan rencana semula. Sementara orang-orang Dinas yang lima orang jumlahnya itu, lebih banyak sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sehingga tidak sedikit info Panitya tidak diterima oleh Tim Utusan seperti lomba desain, apa bagaimana Inacraft diselenggarakan pada mulanya sampai diikuti oleh 2000 stand sekarang. Padahal menurut panitya, semuanya diumumkan secara terbuka. Info-info didapatkan oleh anggota Utusan setelah berkeliling kawasan pameran secara bergantian. Inacraft ternyata tidak diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta Raya, melainkan diprakarsai dan dilangsungkan oleh swasta.
Yang menyedihkan dan sangat tidak menguntungkan untuk mendapat perhatian pengunjung adalah tempat stand Kalteng yang terletak di bagian bawah, hampir paling ujung dan dekat toilet. Tempat ini menggambarkan bentuk persiapan dan perhatian dari tahun ke tahun. Sebuah tempat simbolik.
Seorang peserta dari Jawa Timur ketika singgah di Palangka Raya sebelum berlangsungnya pameran Inacraft baru-baru ini pernah berkomentar tentang stand Kalteng tahun-tahun terdahulu. “Stand Kalteng itu ruangannya luas, tapi kosong dan asal-asalan.”
“Bagaimana pamerannya?” tanya Kepala Bagian dalam rapat evaluasi sepulang Utusan dari Jakarta. Orang-orang Dinas pulang terlebih dahulu.
“Sukses, bukan?” tanya Kepala Bagian lagi.
Anggota Utusan saling berpandangan. Saling menanti siapa yang pertama akan berbicara. Sebagai koordinator, Joy lalu angkat bicara:
“Ya, kami memperoleh pengalaman dan melihat kemungkinan-kemungkinan di masa datang. Hanya saja kalau mau berbicara terus-terang dan jujur, pengalaman utama adalah mengenyam kepahitan.” Wajah Kepala Bagian menjadi berubah, sedangkan Kepala Seksi yang turut hadir nampak gelisah. Apalagi mendengar rincian kepahitan yang dituturkan oleh anggota-anggota Utusan Kalteng. Tapi boleh jadi kesakitan terpaksa mendengar kepahitan yang melukiskan kualitas pekerjaan, hanya kesakitan sementara karena kemudian tuturan yang masuk ke telinga kanan lalu keluar seketika dari telinga kiri. Tahun depan diulang lagi.
Menjawab tuturan kepahitan-kepahitan yang dialami Utusan, Kepala Bagian menjelaskan: “Kita kekurangan dana.”
Mendengar jawaban usang klasik begini, Joy bertanya: “Kalteng kan ikut serta dalam Inacraft tiap tahun. Apakah kegiatan tahunan begini tidak dianggarkan?”
“Dianggarkan memang. Tapi anggaran itu dicukai oleh anggota-anggota DPRD yang memperjuangkannya. Cukainya pun tidak kecil. Mereka minta bagian sebagai komisi karena telah memperjuangkannya”. Jawab Kepala Bagian. Joy jadi teringat praktik-praktik serupa ketika berurusan dengan dinas-dinas dan badan-badan lain. Ada Kadis terpaksa mundur untuk melanjutkan rencana yang masuk akal, takut ketika diaudit ia digiring masuk penjara. Joy diam mendengar, menahan diri untuk berkomentar.
Tidak dapat menahan kejengkelannya, Indu Salundik berkata ketus: “Itu mah, bukan komisi, Pak, tapi praktik makelar. Daerah ini tidak akan pernah berkembang maju jika praktik makelar berlanjut?”.
Rapat evaluasi berakhir dengan senyap dan dingin. Tapi praktik makelar tidak pernah diam menggerogoti penyelenggaraan negeri dan negara ini. Mereka seperti rayap bergerak dalam senyap dengan nurani yang dingin membangkai. DPR lalu oleh banyak orang disebut Dewan Penipu Rakyat. Masyarakat luas menjadi seperti pesawat oto-pilot, janin chaos jika terus berkembang. []
BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang.
UNGKAPAN FILOSOFI DAYAK
Épat Pa, atau sering juga disebut Épat P (Empat Pa) . P di sini merupakan singkatan dari kata-kata: Pananjaru (Pembohong), Panakau (Pencuri), Pambusik (Penjudi), Pambawi (Main perempuan). Épat P ini mempunyai kemiripan dengan Empat M (Maling, Main, Madat dan Madon) di Jawa Tengah.
Dalam masyarakat Dayak dahoeloe, perilaku, Épat P merupakan perbuatan-perbuatan terkutuk.
Pambawi (Suka main perempuan). Dalam teks hukum adat Tumbang Anoi 1894 ang terdiri dari 96 pasal, masalah hubungan lelaki-perempuan mendapat tempat utama. Tempat utama ini memperlihatkan bahwa perempuan oleh hukum adat dilindungi secara khusus dari agresivitas lawan jenisnya. Apakah perlindungan khusus ini merupakan bentuk kesetaraan gender dalam masyarakat Dayak dahoeloe?. Keseteraan gender ini memang terdapat pada masyarakat Dayak dahoeloe karena perempuan secara ekonomi tidak tergantung pada lelaki. Mereka memiliki alat produksi sendiri seperti tanah, kebun, dll. Dalam berproduksi mereka sering sendiri di rimba-belantara yang jauh. Sebagai bagian dari perlindungan terhadap agresi, maka hiduplah kepercayaan bahwa aji-aji para “pangaji” sehebat apa pun akan tidak berdaya jika berhadapan dengan perempuan. Petunjuk bahwa kepercayaan dan kebudayaan merupakan bagian dari bangunan atas (super structure) yang banyak ditentukan oleh bangunan dasar (basic structure), kemudian pada gilirannya mempengaruhi bangunan dasar itu.
Karena adanya kesetaraan gender di atas, maka hubungan lelaki-perempuan adalah hubungan antar individu setara. Hubungan égal á égal menyebabkan dahoeloe dalam masyarakat Dayak poligami dipandang sebagai tindak tidak mulia. Apalagi peselingkuhan. Lelaki yang memandang perempuan sebagai baju kapan saja bisa diganti, dipandang sebagai lelaki tidak beradat. Perkawinan bukan hanya menyangkut hubungan antar dua individu tapi berkaitan dengan seluruh keluarga. Penanggungjawab keluarga inti bukan hanya lelaki (suami), tetapi suami-istri.[]

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: