KOTIM MAU DIBAWA KE MANA?

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
KOTIM MAU DIBAWA KE MANA?

 Politik kebudayaan Arabisasi yang diterapkan olehSupian Hadi sebagai bupati Kotawaringin Timur (Kotim) membuat Tugu Perdamaian Konflik Etnik 2000 menjadi embel-embel. (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Politik kebudayaan Arabisasi yang diterapkan olehSupian Hadi sebagai bupati Kotawaringin Timur (Kotim) membuat Tugu Perdamaian Konflik Etnik 2000 menjadi embel-embel. (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, dalam bukunya “Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi” (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), antara lain menulis: “…kaum muslimin di Indonesia, sekarang justru sedang asyik bagaimana mewujudkan berbagai keagamaan mereka dengan bentuk dan nama yang diambilkan dari Bahasa Arab. Formalisasi ini, tidak lain adalah kompensasi dari rasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam menghadapi “kemajuan Barat”. Seolah-olah Islam akan kalah dari peradaban Barat yang sekuler, jika tidak digunakan kata-kata berbahasa Arab. Tentu saja rasa kurang percaya diri ini juga dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin sekarang di seluruh dunia. Mereka yang tidak pernah mempelajari agama dan ajaran Islam dengan mendalam, langsung kembali ke “akar” Islam, yaitu kitab suci al-Qur’ân dan Hadits Nabi Saw. Dengan demikian, penafsiran mereka atas kedua sumber tertulis agama Islam yang dikenal dengan sebutan dalil naqli, menjadi superficial dan “sangat keras” sekali. Bukankah ini sumber dari terorisme yang kita tolak yang menggunakan nama Islam?”
Datang ke Sampit akhir Mei 2015 lalu, saya melihat apa ayang dikatakan oleh Gus Dur dalam kutipan di atas telah dijadikan sebagai politik kebudayaan oleh Supian Hadi selaku bupati Kotawaringin Timur (Kotim). Dengan memilih politik kebudayaan Arabisasi dan atau Islamisasi, Supian Hadi membuat Sampit sebagai ibukota Kotim diwarnai oleh corak Arabisasi atau Islamisasi. Jalan A. Yani sebagai jalan protokol atau jalan utama dipasang papan-papan bertuliskan huruf Arab dan terjemahan bahasa Indonesianya. Tugu Perdamaian ang terletak di Jalan Sudirman Km. 6 dibuat sebuah monumen besar berbentuk kubah dikelilingi oleh tulisan-tulisan Arab. Sehingga tiang ulin perdamaian menjadi tenggelam dan menjadi embel-embel, kehilangan arti sejarah dan pesan. Tiang pagar rumah jabatan pun pada bagian atasnya diberi kubah seperti juga bangunan di sekitar Patung Jelawat (Manjuhan) di tepi sungai Mentaya. Untuk memberikan warna lokal (Dayak) di sisipkan perisai (talawang) dan atau balangsa. Oleh politik kebudayaan demikian maka Sampit mau diberi kesan sebagai ibukota kabupaten Islam. Barangkali dengan memilih dan melaksanakan politik kebudayaan demikian, Supian Hadi ingin menjaga suara penganut Islam pada pilkada mendatang, untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang penganut Islam yang baik. Ia lupa adagium yang bermula dari ketentuan kitab suci al-Qur’ân: “Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar kalian saling mengenal (Wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû)” (QS al-Hujurat(49):13). Makanya, cara terbaik bagi kedua belah pihak, baik kaum tradisionalis maupun kaum pembaharu dalam Islam, adalah mengakui pluralitas yang dibawakan oleh agama Islam.” (Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Ia lupa bahwa warga Kotim terdiri bukan hanya mereka yang berada Islam tetapi juga terdapat yang beragama Kaharingan, Kong Hu-cu, Hindu, Protestan dan Katolik – betapa pun mereka itu minoritas. Dengan mengabaikan pluralitas, maka sesungguhnya Supian Hadi melaksanakan politik kebudayaan yang sektaris. Bertentangan dengan filosofi Bhinneka Tunggal Ika, mengabaikan “ketentuan kitab suci al-Qur’ân”.
Dilihat dari segi kebudayaan Dayak, dengan menjadikan Tiang Ulin Perdamaian sebagai embel-embel dari monumen kubah – bahkan tenggelam oleh tulisan-tulisan huruf Arab di sekelilingnya, sesungguhnya Supian Hadi telah meremehkan budaya Dayak dan sejarah lokal. Hal ini pun diperlihatkan lagi dengan menamakan patung ikan manjuhan dengan bahasa Banjar: Jelawat. Penamaan yang menunjukkan bahwa ia tidak mengerti budaya Dayak. Terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Dayak khususnya, saya ingin bertanya: Apa yang sudah dilakukan oleh Supian Hadi untuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan Dayak. Yang ia ia lakukan adalah menamia bangunan-bangunan dan gerbang dengan namanya sendiri, ulah yang bisa disebut narsis. Politik kebudayaan dan perbuatan demikian bukanlah politik kebudayaan dan sikap yang republikan dan berkeindonesiaan. Juga bukan politik kebudayaan yang Islami. Pun jauh dari konsep agama orang Dayak yang memandang bahwa “agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Urusan politik dan adat (Negara) adalah urusan bersama. Patutkah politik kebudayaan Kotim Supian Hadi begini dilanjutkan?! Kalau dipertahankan dan dilanjutkan, Kotim mau dibawa ke mana? Quo Vadis Kotim?[]

Jalan-jalan protokal atau utama seperti Jln.A. Yani pun dipenuhi oleh papan-papan bertuliskan huruf Arab. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni. 2015).

Jalan-jalan protokal atau utama seperti Jln.A. Yani pun dipenuhi oleh papan-papan bertuliskan huruf Arab. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni. 2015).

Sketsa May Swan
I LOVE YOU

Banyak teori telah ditulis oleh para pakar bidang pendidikan mengenai bagaimana membangun hubungan baik antara orangtua dan anak. Tentunya teori teori ini ditulis di jaman modern berdasarkan gaya hidup Barat.
Dalam pandangan mereka, masalah kunci terletak pada sebuah kata “Love” atau lebih tegas lagi “I Love You”. Orangtua dianjurkan mengucapkan tiga kata itu kepada anak anaknya paling kurang tiga kali sehari, dengan perhitungan lebih banyak kali lebih baik lagi. Karena menurut teori, anak yang merasa dirinya loved, akan tegar jiwanya, sangat membantu dalam menghadapi bermacam rintangan hidup di kemudian hari. Dengan kata lain, anak yang merasa dirinya loved, akan menjadi orang yang berhasil nantinya. Dan tetntu semua orangtua mengharap anaknya berhasil hidupnya.
Yah, namanya juga teori, bisa saja dibuat berdasarkan fakta yang di-overstretched, seperti karet yang ditarik sepanjang mungkin demi memenuhi data yang diperlukan. Sama dengan baju kaos yang terlalu sempit, kita tarik tarik, akhirnya masuk juga di badan.
“I love you”, tiga kata yang dianggap paling penting dan berfungsi dalam hubungan manusia; baik antara anak dan orangtua, antara sesama teman, dan tentunya antara sepasang kekasih atau suami isteri dan hubungan lain lainnya. Bahkan dengan orang yang tiidak dikenal sekalipun, seperti seorang entertainer selesai pertunjukan concert kepada ratusan, ribuan audience selalu mengucapkan “I love you” sebagai kata penutup.
Sepanjang ingatan, kita orang Asia Timur termasuk Asia Tenggara dulunya tidak biasa mengucapkan tiga kata itu di depan umum kepada siapa pun individunya. Kalau pun ada, biasanya secara private tertutup, tidak dipajang di luar. Karena pada waktu itu, ucapan tersebut dianggap sacral, mengikat.
Agaknya masyarakat umumnya mulai meniru niru mengucapkan tiga kata itu di depan umum, karena melihat Hollywood film yang selalu berakhir dengan “I love you,” lalu kissing. Happy Ending! Ini dianggap modern, progressive, terbuka, tidak perlu malu malu. Malu malu itu dianggap kolot. Tidak banyak beda dengan melihat system demokrasi Barat, dianggap terbaik, karena liberal demokrasi adalah trend dunia modern, dimana ada right of expression, boleh mengutarakan apa saja, karena itu justeru hak manusia. Hak manusia itu tidak boleh diganggu gugat.
Perlu diketahui, demokrasi, seperti juga kebebasan, tidak boleh diobral begitu saja, perlu ada persiapan, perkembangan prosesnya. Kalau tidak, kacau jadinya. Sudah banyak contoh dapat dilihat.
Kembali kepada tiga kata “I love you” tadi, demikian seringnya diutarakan dalam bermacam situasi, sehingga terasa agak tawar. Seakan ingin menghidupkan kembali ikan asin yang sudah digoreng.
Saking seringnya tiga kata itu digunakan, telah menjadi sebuah tool of convenient dalam segi kehidupan: Karena “I love you” orang siap meninggalkan kewajiban terhadap janji janji dan oblikasi sebelumnya, tanpa mempertimbangkan risiko terhadap orang lain. Karena “Love” adalah seluruhnya.
Orang sering lupa, setelah mengucapkan tiga kata itu, sama seperti sudah bayar tiket naik bus kota. Artinya, karena sudah masuk kedalam, tidak perlu lagi mengejar ngejar bus.
Ada satir yang paling saya senangi berhubungan dengan “I love you.” Sepasang kekasih setelah saling mengutarakan cintanya terhadap masing masing, yang perempuan bertanya:
“Kamu cinta aku?” Tanyanya manja.
“Ya, tentu saja,” jawab yang laki laki.
“Nah, kalau aku dan ibumu kejebur bersama ke dalam kali, kamu akan bantu siapa dulu?”
“Ooh, dua duanya tidak aku bantu.”
“Kenapa? Kamu harus bantu aku dulu, karena kamu telah menyatakan “I love you,” perempuan itu meletuk.
“Tapi aku kan tidak bisa berenang.” []

ARABISASI DAN ISLAMISASI: SAMAKAH?

Beberapa tahun yang lampau, seorang ulama dari Pakistan datang pada penulis di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Pada saat itu, Benazir Bhutto masih menjabat Perdana Menteri Pakistan.Permintaan orang alim itu adalah agar penulis memerintahkan semua warga NU untuk membacakan surah Al-Fatihah bagi keselamatan Bangsa Pakistan. Mengapa? Karena mereka dipimpin Benazir Bhutto yang berjenis kelamin perempuan. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “celakalah sebuah kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan”? Penulis menjawab bahwa hadits tersebut disabdakan pada Abad VIII Masehi di Jazirah Arab. Ini berarti diperlukan sebuah penafsiran baru yang berlaku untuk masa kini?
Pada tempat dan waktu Rasulullah masih hidup itu, konsep kepemimpinan bersifat perorangan -di mana seorang kepala suku harus melakukan hal-hal berikut: memimpin peperangan melawan suku lain, membagi air melalui irigasi di daerah padang pasir yang demikian panas, memimpin karavan perdagangan dari kawasan satu ke kawasan lain dan mendamaikan segala macam persoalan antar para keluarga yang berbeda-beda kepentingan dalam sebuah suku, yang berarti juga dia harus berfungsi membuat dan sekaligus melaksanakan hukum.
Sekarang keadaannya sudah lain, dengan menjadi pemimpin, baik ia presiden maupun perdana menteri sebuah negara, konsep kepemimpinan kini telah dilembagakan/diinstitusionalisasikan. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Bhutto tidak boleh mengambil keputusan sendiri, melainkan melalui sidang kabinet yang mayoritas para menterinya adalah kaum lelaki. Kabinet juga tidak boleh menyimpang dari Undang-undang (UU) yang dibuat oleh parlemen yang mayoritas beranggotakan laki-laki. Untuk mengawal mereka, diangkatlah para Hakim Agung yang membentuk Mahkamah Agung (MA), yang anggotanya juga lakilaki. Karenanya, kepemimpinan di tangan perempuan tidak lagi menjadi masalah, karena konsep kepemimpinan itu sendiri telah dilembagakan/ di-institusionalisasi-kan. “Anda memang benar,” demikian kata orang alim Pakistan itu, “tetapi tolong tetap bacakan surah Al-Fatihah untuk keselamatan bangsa Pakistan”.
Kisah di atas, dapat dijadikan contoh betapa Arabisasi telah berkembang menjadi Islamisasi -dengan segala konsekuensinya. Hal ini pula yang membuat banyak aspek dari kehidupan kaum muslimin yang dinyatakan dalam simbolisme Arab. Atau dalam bahasa tersebut, simbolisasi itu bahkan sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim, sehingga secara tidak terasa Arabisasi disamakan dengan Islamisasi. Sebagai contoh, nama-nama beberapa fakultas di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) juga di-Arabkan; kata syarî’ah untuk hukum Islam,adab untuk sastra Arab, ushûluddin untuk studi gerakan-gerakan Islam dan tarbiyah untuk pendidikan agama. Bahkan fakultas keputrian dinamakan kulliyyat al-banât. Seolah-olah tidak terasa ke-Islaman-nya kalau tidak menggunakan kata-kata bahasa Arab tersebut.
Kalau di IAIN saja, yang sekarang juga disebut UIN (Universitas Islam Negeri) sudah demikian keadaannya, apa pula nama-nama berbagai pondok pesantren. Kebiasaan masa lampau untuk menunjuk kepada pondok pesantren dengan menggunakan nama sebuah kawasan/tempat, seperti Pondok Pesantren (PP) Lirboyo di Kediri, Tebuireng di Jombang dan Krapyak di Yogyakarta, seolah-olah kurang Islami, kalau tidak menggunakan nama-nama berbahasa Arab. Maka, dipakailah nama PP Al-Munawwir di Yogya -misalnya, sebagai pengganti PP Krapyak.
Demikian juga, sebutan nama untuk hari dalam seminggu. Kalau dahulu orang awam menggunakan kata “Minggu” untuk hari ketujuh dalam almanak, sekarang orang tidak puas kalau tidak menggunakan kata “Ahad”. Padahal kata Minggu, sebenarnya berasal dari bahasa Portugis, “jour dominggo”, yang berarti hari Tuhan. Mengapa demikian? Karena pada hari itu orang-orang Portugis —kulit putih pergi ke Gereja. Sedang pada hari itu, kini kaum muslimin banyak mengadakan kegiatan keagamaan, seperti pengajian. Bukankah dengan demikian, justru kaum muslimin menggunakan hari tutup kantor tersebut sebagai pusat kegiatan kolektif dalam ber-Tuhan?
Dengan melihat kenyataan di atas, penulis mempunyai persangkaan bahwa kaum muslimin di Indonesia, sekarang justru sedang asyik bagaimana mewujudkan berbagai keagamaan mereka dengan bentuk dan nama yang diambilkan dari Bahasa Arab. Formalisasi ini, tidak lain adalah kompensasi dari rasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam menghadapi “kemajuan Barat”. Seolah-olah Islam akan kalah dari peradaban Barat yang sekuler, jika tidak digunakan kata-kata berbahasa Arab. Tentu saja rasa kurang percaya diri ini juga dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin sekarang di seluruh dunia. Mereka yang tidak pernah mempelajari agama dan ajaran Islam dengan mendalam, langsung kembali ke “akar” Islam, yaitu kitab suci al-Qur’ân dan Hadits Nabi Saw. Dengan demikian, penafsiran mereka atas kedua sumber tertulis agama Islam yang dikenal dengan sebutan dalil naqli, menjadi superficial dan “sangat keras” sekali. Bukankah ini sumber dari terorisme yang kita tolak yang menggunakan nama Islam?
Dari “rujukan langsung” pada kedua sumber pertama Islam itu, juga mengakibatkan sikap sempit yang menolak segala macam penafsiran berdasarkan ilmu-ilmu agama (religious subject). Padahal penafsiran baru itu adalah hasil pengalaman dan pemikiran kaum muslimin dari berbagai kawasan dalam waktu yang sangat panjang. Para “Pemurni Islam” (Islamic puritanism) seperti itu, juga membuat tudingan salah alamat ke arah tradisi Islam yang sudah berkembang di berbagai kawasan selama berabad- abad. Memang ada ekses buruk dari pengalaman perkembangan pemikiran itu, tetapi jawabnya bukanlah berbentuk puritanisme yang berlebihan, melainkan dalam kesadaran membersihkan Islam dari ekses-ekses yang keliru tersebut.
Agama lainpun pernah atau sedang mengalami hal ini, seperti yang dijalani kaum Katholik dewasa ini. Reformasi yang dibawakan oleh berbagai macam kaum Protestan, bagi kaum Katholik dijawab dengan berbagai langkah kontrareformasi semenjak seabad lebih yang lalu. Pengalaman mereka itu yang kemudian berujung pada teologi pembebasan (liberation theology), merupakan perkembangan menarik yang harus dikaji oleh kaum muslimin. Ini adalah pelaksanaan dari adagium “perbedaan pendapat dari para pemimpin, adalah rahmat bagi umat (ikhtilâful a’immah rahmatul ummah).” Adagium tersebut bermula dari ketentuan kitab suci al-Qur’ân: “Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar kalian saling mengenal (Wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû)” (QS al-Hujurat(49):13). Makanya, cara terbaik bagi kedua belah pihak, baik kaum tradisionalis maupun kaum pembaharu dalam Islam, adalah mengakui pluralitas yang dibawakan oleh agama Islam.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: