BUDAYA DAYAK SEBAGAI BUDAYA INKLUSIF

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
BUDAYA DAYAK SEBAGAI BUDAYA INKLUSIF

Pada kesempatan menghadiri Kongres Pemuda Dayak Indonesia yang berlangsung di Palangka Raya dari 3-5 Agustus 2015 lalu, Delegasi Dayak Sabah yang terdiri dari enam orang sastrawan, dipimpin oleh Dr. Henry Bating, tergabung dalam organisasi penulis Dayak Sabah Monunurat Momogun Malaysia disingkat Momogunsia, telah menandatangani Nota Kesepakatan dengan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT). Untuk tingkat awal, Nota Kesepakatan (MoU) ini mencakup bidang-bidang penelitian, penerbitan , seminar dan konferensi serantau mengenai etnik Borneo ; mengadakan jalinan kunjungan bilateral untuk memperkenalkan ciri-ciri warisan etnik Borneo ; mengindentifikasi isu-isu dan strategi bersama melestariak warisan etnik ; berpadu tenaga untuk merumuskan pendekatan bersama mengenai ekonomi, sosial, politik dan agama untuk diusulkan kepada pemerintah ; mengembangkan inisiatif-inisiatif lain dari waktu ke waktu. Sebagai tindak lanjut Nota Kesepakatan ini kedua lembaga akan melakukan penerbitan esai bersama dalam tahun ini juga.
Dari kunjungan tiga hari Delegasi Momogunsia makin menjelaskan bahwa antara etnik Dayak di Malaysia dan Indonesia, ternyata banyak sekali kesamaan dan kemiripan. Hanya saja selama ini kurang diketahui, walau pun sama-sama tinggal di satu pulau : Pulau Borneo. ‘’Kita tinggal di satu pulau, sekali pun sama-sama bernama Dayak, tetapi pada kenyataannya kita kurang saling mengenal, untuk tidak mengatakan tidak saling mengenal’’, ujar Dr. Henry Bating dalam diskusi-diskusi dan juga dalam dialog di TVRI Kalteng 3 Agustus 2015. Ditandatanganinya Nota Kesepakatan antara Momogunsia dan LKD-KT hanyalah suatu awal dari kerjabesar yang menanti di depan. Nota Kesepakatan juga berangkat dari semangat bahwa Dayak niscaya mengenal diri mereka sendiri tanpa menggantungkan pada penelitian-penelitian sarjana non Dayak yang belum tentu benar. Melalui penelitian-penelitian dan kerjasama ini akan diketahui apa yang harus dikembangkan dan bagaimana mengembangkan khazanah budaya Dayak yang inklusif. Sebab pada hakekatnya budaya etnik dan bangsa mana pun sesungguhnya bukanlah budaya eksklusif secara substansial melainkan inklusif. Juga bukanlah budaya ‘’uber alles’’ (terunggul dari semua). Rincian dari semuanya ini hanya bisa didapat melalui penelitian. Kerjasama dan kerja dengan sistem jejaring merupakan salah satu cara mengatasi kelemaha, terutama finansial untuk melaksanakan program. Melalui kerja jejaring hal-hal yang nampaknya tidak mungkin menjadi mungkin dan terwujud. Nota Kesepakatan ini adalah salah satu bentuk kerja jejaring tersebut dan ayunan langkah pertama menapaki jalan panjang dan berliku.[]

Delegasi Momogunsia, Sabah, sedang berdiskusi dengan Prof.Dr. Petrus Purwadi dan Prof. Dr. Arnus dari Universitas Palangka Raya disertai oleh Lembaga Kebuayaan Dayak Kalimantan Tengah (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak/Andriani S. Kusni, 2015).

Delegasi Momogunsia, Sabah, sedang berdiskusi dengan Prof.Dr. Petrus Purwadi dan Prof. Dr. Arnus dari Universitas Palangka Raya disertai oleh Lembaga Kebuayaan Dayak Kalimantan Tengah (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak/Andriani S. Kusni, 2015).

MEMORANDUM KESEPAKATAN ANTARA
KELAB PENULIS KADAZANDUSUN MURUT MONONURAT MOMOGUN MALAYSIA DAN LEMBAGA KEBUDAYAAN DAYAK KALIMANTAN TENGAH (LKD-KT)

Palangka Raya, 9 Agustus 2015. Radar Sampit. Rombongan enam orang penulis Dayak Sabah yang tergabung dalam organisasi sastrawan Dayak Sabah Momogunsia) telah hadir dalam Kongres Pemuda Dayak Indonesia yang berlangsung dari tanggal 3-5 Agustus 2015 di Gedung Pertemuan Umum Palampang Tarung, Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Delegasi Momogunsia yang dipimpin oleh Dr. Henry Bating, sekali pun hadir sebagai peninjau, oleh Panitya Kongres diberikan kesempatan sambutan disampaikan oleh Raymond Majumah. Sementara TVRI Kalteng memanfaatkan kehadiran Delegasi untuk melakukan siaran langsung dalam acara acara dialog budaya selama satu jam.
Pada kesempatan berada di Palangka Raya, Delegasi menyempatkan diri untuk bertemu dengan Prof. Dr.Purwadi dan Prof. Dr. Arnus dari Fakultas Ilmu Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (Unpar) guna menjajagi peluang kerjasama dalam bidang penelitian dan kebudayaan.
Sedangkan dengan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT), Momogunsia menandatangani Memorandum Kesepakatan untuk bekerjasama dalam menjalankan penelitian bersama, seminar dan konferensi serantau mengenai etnik Borneo; mengadakan jalinan kunjungan bilateral untuk memperkenalkan ciri-ciri warisan etnik Borneo; mengidentifikasi isu-isu dan strategi bersama melestarikan warisan etnik; berpadu tenaga untuk merumuskan pendekatan bersama mengenai ekonomi; dan mengembangkan inisiastif-inisiatif lain dari semasa ke semasa.
Menindaklanjuti nota kesepakatan ini, direncanakan dalam tahun 2015 ini LKD-KT dan Momogunsia akan menerbitkan kumpulan esai bersama.9ask-1-0815).

PENGAJARAN BAHASA DAYAK DI SABAH

Palangka Raya, 9 Agustus 2015. Radar Sampit. Seperti di mana pun, penduduk suatu wilayah senantiasa dihuni oleh berbagai etnik. Demikian juga halnya dengan Sabah. Selain dihuni oleh Dayak Kadazan-Dusun-Murut dengan semua sub-etniknya, terdapat pula etnik-etnik lain seperti Melayu, Tionghoa, dll.
Dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Dayak, pelajaran bahasa Dayak diberikan sejak Taman Bermain (Play Group) hingga universitas. Demikian dijelaskan oleh Raymond Majumah, anggota Delegasi Momogunsia yang baru-baru ini berkunjung ke Palangka Raya. ‘’Di Sabah Bahasa Dayak diajarkan sejak Taman Bermain hingga Universitas. Diperkirakan dalam waktu tak lama lagi, baahasa Dayak akan menjadi sebuah Fakultas tersendiri”, jelas Raymond yang penulis sekaligus bekerja di Dinas Pendidikan Sabah saat berdiskusi dengan Prof. Dr. Purwadi dan Prof. Arnus dari FKIP Universitas Palangka Raya (Unpar).
Seperti diketahui Unpar pernah mempunyai program studi bahasa daerah, hanya kemudian dihapuskan. Ketika pemerintah gubernur Kalteng A. Teras Narang, mengeluarkan Pergub Tentang pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, Unpar berencana membuka program studi (prodi) drama dan tari. Dalam diskusi ini, menjawab pertanyaan Delegasi Momogunsia, Prof. Arnus menjelaskan bahwa Unpar sampai sekarang belum memasuki substansi muatan dan kearifan lokal. “Yang sudah masuk ke masalah substansi adalah LKD-KT”, jelas Arnus. (ask-2-0815).

Sajak-Sajak Jasni Matlani *
DI PERKEBUNAN

Aku bukan bagian daripada debu
yang lari ke puncak gunung dan menunda fajar

Aku adalah mawar yang sunyi dan tidur
di atas timbunan mimpi-mimpi kemegahan []

POLITIK -3

Politik katamu, adalah permainan
gasing yang diikat dengan tali, kemudian dilepaskan,
berpusing sendiri, sehingga seseorang terjun
dari puncak gunung sambil membayangkan
si Kidul dan Raja Mendeliat. Atau Brutus dan Caesar.
Dalam genangan mataku, terbayang bibir yang bergerak
seolah berkata, “Bukan aku tidak sayang kepada Caesar
tetapi aku lebih sayang kepada Roma.”

DONGENG POHON

Pohon itu dipuja para algojo, dan
tidak ada sesiapa pun yang dibenarkan
berkongsi kelazatan buah
atau mustajab sakti akarnya

Tidak ada!

Sepanjang musim, angin dan burung-burung
sudah pergi, memindahkan sarang
ke negeri jauh

Kota Kinabalu.

AIR DAN AHLI POLITIK

Air tidak hebat, jika tidak menjadi banjir, kata
anak lelakiku, kerana di perkebunan, air selalu
menjadi banjir besar untuk berkuasa, dan
memusnahkan perkebunan. Begitu juga ahli politik,
kataku, perlahan dan lembut, supaya ia mengerti.

Ahli politik, jelasku, tidak menjadi hebat,
jika tidak bermain kata yang menjadikannya raksasa.

Anak lelakiku ketawa. Ketawa yang seru!
Sehingga menitiskan air mata, kerana dia tahu, aku
berbohong. Dia juga tahu, aku bukan ahli politik, sama
sepertinya, bukan air yang hebat, hanya semata-mata
berubah menjadi banjir besar.[]

* Penyair asal Dayak Kadazandusun-Murut ini merupakan salah seorang penyair terkemuka baik di tingkat Sabah mau pun nasional (Malaysia). Peraih banyak hadiah sastra. Sajak-sajak di atas diambil dari antologi puisinya “Dongeng Perkebunan” yang memenangi hadiah ketiga lomba penulisan puisi tingkat nasional baru-baru ini. Diterbitkan oleh Institut Terjemahan & Buku Malaysia (ITBM), Kuala Lumpur, 2015.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: