KEBERHASILAN SUPIAN HADI & KONFLIK AGRARIA

Pada 13 April 2015, din desa Baronang Miri, Supian Hadi, Bupati Kotawaingin Timur disaksikan oleh Wakil Bupati Taufiq Mukri dan pihak tambang sedang menandatangani Persetujuan Kesepakatan (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/2015).

Pada 13 April 2015, din desa Baronang Miri, Supian Hadi, Bupati Kotawaingin Timur disaksikan oleh Wakil Bupati Taufiq Mukri dan pihak tambang sedang menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama Penambangan Batubara Antara PT Wahyu Murti Garuda Kencana Dengan Koperasi Unit Desa Sumber Alam   (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/2015).

KEBERHASILAN SUPIAN HADI & KONFLIK AGRARIA
Oleh Kusni Sulang

Menurut data HuMa, seperti sering saya kemukakan melalui ruangan ini merupakan sebuah provinsi dengan konflik agraria paling banyak di Indonesia. Sedangkan Kotawaringin Timur (Kotim) adalah kabupaten dengan konflik agraria tertinggi. Konflik agraria ini sampai sekarang, bukannya makin menurun, sebaliknya makin marak karena ia sengaja diciptakan.
Jika diklasifikasikan maka konflik itu terdiri dan konflik petani dengan perusahaan besar swasta (PBS) baik perkebunan sawit mau pun tambang, perusahaan dengan perusahaan, warga masyarakat dengan penyelenggara Negara, warga dengan warga.
Konflik terbaru terjadi di wilayah desa transmigran Desa Sumber Makmur SP 3 H, Kecamatan Parenggean, bermula dengan penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama Penambangan Batubara Antara PT. Wahyu Murti Garuda Kencana –dari Kalimantan Selatan (Selanjutnya disingkat Surat Perjanjian). Dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Alam pada tanggal 13 April 2015. Menurut Surat Perjanjian itu pihak KUD Sumber Alam sepakat memberikan kepada PT. Wahyu Murti Garuda Kencana untuk menambang lahan perkebunan KUD Sumber Alam seluas 1.141.52 Ha. Pertama-tama seluas 40 Ha, kemudian dilanjutkan dengan 40 Ha lagi hingga mencakup luasan tersebut. Yang menandatangani Surat Perjanjian itu adalah Ketua KUD Sumber Alam, Damis; Muhammad Nasir, Direktur PT Wahyu Murti Garuda Kencana Palangka Raya, Kades dan Bupati Kotim Supian Hadi disaksikan oleh Wakil Bupati Taufiq Mukri. Supian Hadi kemudian mengatakan bahwa jika ternyata penambangan batubara ini berhasil menyejahterakan masyarakat, maka izin usahanya diteruskan. Jika tidak maka izinnya akan dicabut. Demikian sumber di lapangan yang saya dapatkan.
Setelah penandatanganan Surat Perjanjian itu, PT Wahyu Murti Garuda Kencana langsung membuldozer kebun sawit kemitraan KUD Sumber Alam yang bermitra dengan PT. Makin Group, untuk membangun jalan dari kawasan penambangan ke pelabuhan Manjalin dan kawasan yang akan ditambang. Sampai 26 April 2015, 800 pohon sawit yang siap panen dibuldozer.
Terhadap hal ini masyarakat Dayak Berunang Miri memandang penyerahan lahan kebun kemitraan Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Daya Alam oleh Ketua Koperasi sebagai ancaman langsung kepada mereka juga, dan memandang Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Daya Alam yang beranggotakan transmigran Jawa tidak menghormati pertolongan mereka ketika mereka tiba di Berunang Miri. Mereka siap angkat mandau.
PT Makin Group merasa pembuldozer kebun kemitraan dan kebun mereka sebagai tindakan yang merugikan mereka. Dari segi etika berusaha PT. Wahyu Mutri Garuda Kencana, tidak bertika sama sekali karena mengabaikan konsultasi dan diskusi. Sedangkan di dalam KUD Sumber Alam sendiri masalah serius dan penolakan terhadap kesepakatan dengan PT. Wahyu Mutri Garuda Kencana.
Damis selaku Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Daya Alam melakukan perjanjian kerjasama dengan PT. Wahyu Murti Garuda Kencana yang kongkretnya berbentuk penyerahan lahan yang sudah ditanami sawit kurang-lebih 10 tahun, tanpa memberitahu dan tanpa memperoleh persetujuan pengurus Koperasi lainnya seperti Sekretaris, Bendahara dan pengurus lainnya. Sementara koperasi masih terikat perjanjian dengan perusahaan perkebunan sawit PT. Makin Group. Akibatnya kurang-lebih 1.300 buruh perkebunan sawit yang mengerjakan kebun kemitraan menjadi kehilangan pekerjaan. Anggota-anggota koperasi dan warga desa transmigran, banyak yang tidak setuju dengan Perjanjian. Mereka siap unjuk rasa dan mulai membuat petisi.
Kalau dilihat dari segi penyelenggaraan Negara, konflik Baronang Miri bermula dari izin tumpang-tindih yang diberikan oleh Bupati Kotim. Izin tumpang-tindih begini, paling tidak sejak 2013 sudah lama dilakukan oleh bupati Kotim Supian Hadi. Menurut Jhon Krisli, Ketua DPRD Kotim, pihak eksekutif yang dipimpin oleh Supian Hadi telah melakukan paling sedikit 40 pemberian izin non-prosedural. Sementara para bawahannya yang mengatakan tidak tahu-menahu, tidak diajak rembukan bersikap “mengamankan” kebijakan Bupati.
Sedangkan polisi (Polsek dan Polres), tidak serius menangani masalah, memimpong pelapor konflik.
Jika diteliti benar maka dalam konflik agraria Beronang Miri ini yang terlibat adalah: Perusahaan tambang PT. Wahyu Mutri Garuda Kencana; Perusahaan Perkebunan PT. Makin Group; Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Daya Alam: Ketua, Pengurus, anggota dan warga desa transmigran; Warga Dayak Berunang Miri; Penyelenggara Negara: Bupati Kotim Supian Hadi dan aparat Negara berbagai tingkat.
Dilihat dari segi sejarahnya, nampak bahwa sumber konflik di Baronang Miri dan sejumlah konflik agraria lainnya bersumber dari kebijakan Bupati Kotim.
Saya khawatir, apabila Konflik Baronang Miri ini tidak diurus baik dan sungguh-sungguh, ia bisa memicu konflik vertikal dan horisontal.
Dari rangkaian data yang saya miliki, nampak bahwa Supian Hadi selaku orang pertama kabupaten Kotim adalah pencipta dan pemelihara konflik agraria di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya sebagai penyelenggara Negara. Di samping mengubah Sampit menjadi kota bundaran dan tugu, melempar tanggungjawab atas banjir yang melanda Sampit ke pundak masyarakat, menciptakan dan memelihara konflik agraria adalah suatu keberhasiIan besar Supian Hadi yang masih mau mencalonkan diri sebagai kepala daerah untuk kedua kalinya.
Keberhasilan Supian Hadi ini diakui juga oleh Gubernur Kalteng, A.Teras Narang, SH yang pernah menginstruksikan agar Supian menyelesaikan konflik agraria di Kotim dalam seminggu dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Inspektorat Provinsi dan yang ditindaklanjuti oleh Surat Gubernur Kalteng pada Pimpinan DPRD Kotim (7 Agustus 2014), “terkait tiga poin yang diduga pelanggaran yang dilakukan Bupati Kotim Supian Hadi” (yaitu dugaan terjadi perkawinan antara Supian Hadi dengan Vita KDI, dugaan terjadi pelangggaran UU Perkawinan dan gratifikasi sebesar Rp. 5 miliar)”. (Tabengan, Palangka Raya, 18 Maret 2015).
Dari keberhasilan Supian Hadi sebagai pencipta dan pemelihara konflik agraria, saya masih bertahan pada tesis bahwa Republik dan Indonesia diancam dan dirusak oleh penyelenggara Negara sendiri, sementara perubahan mendasar masih belum mempunyai syarat-syaratnya karena rakyat masih lemah dan sengaja dibuat lemah. Apakah warga Baronang Miri mampu mempertahankan dan merebut keadilan untuk diri mereka ataukah seperti di banyak tempat di negeri ini, mereka masih terpaksa kalah senasib dengan tapai jatuh, dan dengan kegetiran menyaksikan alam kampung-halaman terbongkar porak-poranda oleh monster hedonisme? Kalteng sedang terancam kerusakan besar! 552 perusahaan tambang beroperasi di Kalteng. Demikian sumber Kementerian ESDM. Apa yang rakyat kecil dapatkan dari mereka? []

OVERLAPPING PERUSAHAAN PERKEBUNAN SAWIT DENGAN PERUSAHAAN TAMBANG DI CEMPAGA, KOTIM, 2013-2014.
NO PT/KOP LUAS IL (PT & KOP) LUAS TERTANAM (PT & KOP) OVERLAPPING DILUAR OVERLAPING (Ha)
PT LUAS Ha
1 KIU 28,287.50 19,298.78 PT. Sekti Rahayu Indah 580.26 18,718.52

2 IPK 12,000.00 5,759.69 5,759.69

3 WYKI 1,500.00 4,347.78 PT. Aldy Surya Gemilang 87.22 530.69
PT. Bumi Makmur Waskita 3,349.80
PT. Awang Sejahtera 380.07

4 SISK 6,702.00 6,859.99 PT. Batu Bara Kalimantan 986.33 1,314.07
PT. Batu Mulia Kalimantan 1,544.15
PT. Wahyu Murti Garuda Kencana 2,067.31
PT. Energi Buana Artha 948.13

5 MSK 4,210.00 4,182.68 PT. Aldy Surya Gemilang 941.21 3,241.46

Total 52,699.50 40,448.92 10,884.49 29,564.43
Sumber: Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, 2014.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: