KALTENG BUNUH DIRI

KALTENG BUNUH DIRI
Oleh Kusni Sulang

Mediamassa cetak di provinsi ini sering menyiarkan tentang air sungai ini dan itu sudah tidak layak dikonsumsi lagi entah karena kadar airraksa yang telah melampaui ambang batas, entah karena limbah perkebunan ,tambang atau pun aktivitas pertambangan emas skala kecil (PESK). Hampir tidak ada dari 11 sungai besar di Kalteng yang airna masih layak dikonsumsi. Di Katingan hanya terdapat sebuah anak sungai di hulu yaitu Sungai Sanamang yang masih layak dikonsumsi. Sekali pun demikian, penduduk yang memang mempunyai budaya sungai turun-temurun masih mengkonsumsi air sungai pengasuh mereka. Penyelenggara Negara boleh dibilang tidak memberikan jalan keluar apapun. Bahkan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Bupatinya menyalahkan rakyat sebagai penyebab banjir, menunjukkan ketidakmampuannya menyelenggara Negara.
Penduduk yang mengkonsumsi air tercemar itu tidak menyadari bahwa dengan mengkonsumsi air dan ikan tercemar, mereka kurangikan lebih bisa dikatakan melakukan bunuh diri. Bukan hanya membunuh diri mereka tetapi juga anak-cucu mereka. Saya tidak pernah mendengar adanya kegiatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan misalnya tentang bahaya mengkonsumsi air dan ikan tercemar itu. Tidak pernah saya mendengar adanya kegiatan menjelaskan tentang penyakit Minamata kepada penduduk Kalteng. Tidak pernah pula terdengar adanya penelitian tentang akibat air dan ikan tercemar dilakukan. Seakan-akan semuanya baik-baik dan wajar-wajar. Kalteng maju tanpa henti. Padahal kecuali lahan bercocoktanam kian menyempit, beras tergantung dari luar, air pun menebar ajal. Kekayaan alam Kalteng yang diobral bukan untuk menyejahterakan penduduk daerah, tapi sebatas untuk segelintir penguasa yang bermental pedagang primer kemudian diterjemahkan ke politik.Green Province (Provinsi Hijau) dan Ekonomi Hijau tidak lain hanyalah retorika politik seperti buah padi apes tanpa isi. Bumi Kalteng rusak serusak-rusaknya. Di bumi rusak demikianlah penduduk Kalteng hidup dan melakukan bunuh diri pelan-pelan tanpa disadari atau kalau pun sadar, mereka tidak mempunyai pilihan atau hanyut dalam kerusakan tersebut.
Dalam keadaan begini, organisasi masyarakat yang sudah ada yang masih mungkin bisa diharapkan adalah lembaga adat, dengan syarat lembaga adat itu bersifat independen dan para pemangku adatnya berkualitas organisator dan pemikir. Artinya menata ulang dan meningkatkan kualitas kelembagaan dan sumberdayanya menjadi pejerjaan mendesak. Gagal melakukan hal ini, yang terjadi adalah melajunya pembangunan kehancuran. Korban pertama dan utama adalah Dayak. Pemimpin merakyat hanya muncul jika rakyat kuat dan berdaulat.[]

TRAGEDI MINAMATA
(水俣病, Minamata Byō)
Oleh Satriarijal
(in Science and Nature. December 21, 2012) •

Prolog Minamata Byō
Teluk Minamata terletak di kota Minamata, Kumamoto Perfecture, Jepang. Tragedi ini tejadi pada tahun 1959, sektor perekonomian utama di Minamata adalah perikanan. pada saat itu laporan mengenai penyakit aneh di Minamata sangat banyak masuk pada pemerintah daerah Kumamoto, Pasien menderita Kejang-kejang, tidak bisa bicara dengan jelas, berjalan dengan terhuyung-huyung, lumpuh, koordinasi gerakan terganggu dan gangguan fungsi kerja system syaraf lainnya. Ketika diamati lingkungan sekitar, kucing juga menjadi gila, berjalan berputar-putar, terhuyung-huyung, bahkan diceritakan sampai ada yang melompat ke laut. Tidak hanya itu, juga burung camar dan gagak yang mati dan terlihat di sepanjang teluk Minamata.
Yang lebih parahnya adalah ketika anak-anak yang lahir dengan berbagai gejala, kelumpuhan, cacat, keterbelakangan mental, bahkan ada yang meninggal beberapa hari setalah lahir. Padahal orang tua sang bayi dalam keadaan sehat, tanpa menunjukkan gejala-gejala tertentu. Hal ini menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah lokal dan pusat. Apa penyebab terjadinya penyakit aneh ini.
Para peneliti dari Universitas Kumamoto (Medical study group) dan Kementrian kesehatan dan kesejahteraan Jepang melaporkan bahwa pada teluk Minamata telah terjadi pencemaran methyl-mercury. Seluruh ikan dan hewan laut lainnya di teluk Minamata juga sudah tercemar, hal inilah penyebab utama penduduk mengalami gangguan pada system syaraf. Umumnya penduduk Minamata mengkonsumsi ikan rata-rata sebanyak 3 kg per harinya, sehingga hal ini menyebabkan bioakumlasi pada penderita. Penyebab pencemaran ini adalah pabrik besar yang bernama Chisso.

Pabrik Chisso
Chisso yang didirikan pada tahun 1908, merupakan pabrik yang memproduksi pupuk kimia untuk pertanian dan salah satu pabrik besar yang bergerak dalam bidang ini di Jepang. Perekonomian di Minamata menjadi kuat seiring dengan perkembangan dan besarnya jumlah produksi hasil indusri oleh Chisso.
Selain memproduksi pupuk kimia, Chisso juga memproduksi Asam asetat (Acetic acid), Vinyl Chloryde dan plasticizers. Dalam memproduksi asam asetat, Chisso menggunakan Methyl-mercury sebagai catalyst untuk membuat Acetaldehyde, Acetaldehyde inilah yang nantinya akan diubah menjadi asam asetat. Dengan sistem pengolahan limbah yang sangat buruk, Chisso membuang sampah Methyl-mercury ke teluk Minamata, hal inilah yang menjadi cikal bakal tragedy Minamata.

Tragedi Minamata
Tragedi minamata terjadi akibat penumpukan (Bioakumulasi) zat methyl-mercury pada tubuh manusia. Proses bioakumulasi terjadi karena zat methyl-mercury telah masuk ke dalam rantai makanan; laut yang telah tercemar menyebabkan plankton sebagai makanan ikan-ikan juga tercemar, kemudian zat methyl-mercury ini akan menumpuk dalam tubuh ikan, dan manusia sebagai puncak dalam rantai makanan akan memiliki kandungan zat methyl mercury terbanyak (Biomagnification).
Methyl-mercury dalam tubuh dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan gangguan pada system syaraf. Methyl-mercury akan menyerang sel-sel syaraf. Proses ini bisa dijelaskan secara umum sebagai berikut; sel syaraf yang terdiri dari Actin, Tubulin dan Neurofibril. Apabila bagian ini diserang oleh methyl-mercury maka bagian actin dan tubulin akan rusak dan menyusut, sehingga microfibril yang menyampaikan ransangan akan terbuka, sehingga terjadilah gangguan mekanisme pada system syaraf. Akibat dari terganggunya sel syaraf ini sangat fatal, dimana koordinasi otak dan anggota tubuh lainnya menjadi tidak sejalan, setiap informasi yang disampaikan oleh otak tidak akan pernah sampai secara utuh pada seluruh anggota tubuh. Hal ini dapat dilihat pada tragedy Minamata dimana penderita susah untuk berbicara, kelumpuhan, berjalan terhuyung-huyung, dan efek lainnya dari gangguan sysaraf.
Kurang lebih 17.000 orang dari Kumamoto Perfecture dan Kagoshima Perfecture yang melapor kepada pemerintah terkait dengan gejala dari Minamata Byō ini. Untuk total jumlah penderita secara keseluruhan tidak dapat dilakukan, karena banyak dari mereka yang merasa malu dan tidak melaporkan diri. Pemerintah Jepang dan Chisso memberikan kompensasi pada penderita Minamata Byō, berupa; terapy, perawatan rumah sakit, dan kompensasilainnya. Dari sekian banyak jumlah penderita Minamata Byō, banyak dari mereka yang meninggal selama masa perawatan, sebelum perawatan dan kondisi lainnya yang tidak dilaporkan.

Setelah Tragedi
Setelah kejadian ini, dalam proses yang panjang, para korban yang terkena dampak mercury menuntut ke pemerintahan dan Chisso sebagai sumber dari pencemaran ini. Akhirnya pemerintah dan Chisso menyediakan ganti rugi kepada para korban yang telah didata, dan dilakukan perawatan dan rehabilitasi yang dibiayai oleh pemerintah Jepang dan Chisso sendiri.
Pada tahun 1968, Chisso menghentikan produksi asam asetatnya, seiring dengan hal itu kadar mercury yang terkandung dalam tubuh ikan dan hewan invertebrata laut lainnya mulai berkurang. Untuk mengantisipasi ikan yang telah terkontaminasi mercury, pemerintah Jepang memasang jaring di teluk Minamata, supaya ikan-ikan dan hewan invertebrata air lainnya tidak tersebar jauh.
Karena ikan-ikan yang mengandung mercury membuat mata pencaharian para nelayan menjadi hilang. Hal ini diantaisipasi oleh pemerintah dan Chisso, semua ikan-ikan yang di dalam jaring di teluk Minamata ditangkap oleh para nelayan, selanjutnya ikan-ikan tersebut akan dibeli oleh Chisso untuk dimusnahkan.
Kandungan merkuri yang terdapat pada ikan-ikan dan invertebrata air telah berkurang, dan juga penangkapan ikan-ikan yang mengandung merkuri, selanjutnya bagaimana dengan sedimentasi merkuri pada dasar perairan. Pemerintah Daerah Kumamoto melakukan pengerukan di teluk Minamata.
Sejak saat kejadian tragedi minamata, para penduduk banyak mengambil pelajaran. Mereka tidak membuang sampah pada sembarang tempat, tapi mereka memilah-milah dan mengelompokkan sampah tersebut menjadi 20 kategori. Para korban dari Minamata byo, membagi pengalaman mereka kepada anak-anak dengan datang ke sekolah-sekolah sehingga generasi selanjutnya tahu dan bisa menjaga lingkungan dengan baik, supaya tragedi Minamata tidak terulang kembali.
Pada saat ini, teluk Minamata sudah bersih dan bebas dari merkuri, seperti yang diinformasikan oleh pemerintah daerah Kumamoto, bahkan teluk Minamata merupakan teluk yang terbersih di prefecture Kumamoto. Area ini juga dijadikan sebagai Eco-tourism, yang mengjarkan kita bagaimana hidup sehat dan menjaga lingkungan sehingga kita dan anak cucu kita bisa hidup pada masa yang akan datang.[]

INDONESIA BELUM MERATIFIKASI KONVENSI MINAMATA TENTANG AIR RAKSA

Minamata adalah Konvensi Minamata adalah sebuah kesepakatan internasional tentang upaya menangkal bahaya airraksa. Konvensi Minimata ini sudah ditandatangani oleh 128 negara dan ratifikasi 10 negara. Perjanjian internasional itu berlaku jika telah ditandatangani 50 negara.
Indonesia sampai hari ini masih belum meratifikasi Konvensi internasional ini sekali pun bahaya yang ditimbulkan oleh airraksa seperti terjadi di Minimata bukanlah bahaya imajiner tapi sangat nyata.
Oleh karena itu pada 20 April 2015 lalu, 25 kelompok masyarakat sipil dalam pernyataan bersama di Jakarta, mendesak pemerintah Indonesia untuk segera meratifikasi Konvensi internsional tersebut.
“Jangan biarkan pencemaran merkuri terus meluas. Negara harus hadir menjamin kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan warganya,” ujar Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus mewakili 25 kelompok masyarakat sipil tersebut.” Ada kesenjangan data impor merkuri versi resmi pemerintah dan eksportir Singapura. Singapura mencatat 280 ton (2010) dan 390 ton (2013) merkuri diekspor ke Indonesia. Data Kementerian Perdagangan hanya 2 ton (2010) dan 1,75 ton (2013).
Di Indonesia, pencemaran merkuri terkait aktivitas pertambangan emas skala kecil (PESK). Selain itu, dipaparkan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara, industri semen, limbah cair industri, hingga aktivitas eksplorasi/eksploitasi, serta pengolahan minyak dan gas.
Tahun 2011, tercatat 850 titik PESK yang semua memanfaatkan logam berat untuk memisahkan mineral emas. Aktivitas itu berkontribusi 57 persen (195 ton) total emisi merkuri nasional, diikuti 26 persen dari PLTU.
Bali Fokus dan Medicuss, 16 Maret 2015, merilis laporan awal dugaan keracunan merkuri di lokasi PESK Bombana-Sulteng, Sekotong Lombok Barat-NTB, dan Cisitu Lebak-Banten. Pengukuran kualitas udara di rumah warga dan toko emas, kandungan merkuri terentang 28,07-50.549,91 nanogram per meter kubik.
Dari sisi kesehatan, survei tiga pekan, diduga kuat warga terpapar merkuri. Ada anak-anak dengan bentuk kepala abnormal, air liur berlebih, katarak, bibir sumbing, gangguan pendengaran, dan kelumpuhan parsial.
“Butuh pemeriksaan lanjut dan harus oleh Kementerian Kesehatan,” kata Yuyun. Pemeriksaan laboratorium, kandungan merkuri pada rambut 45 warga Cisitu yang difasilitasi BaliFokus atas permintaan warga, menunjukkan kadar merkuri jauh di atas ambang batas kesehatan.
Arif Fiyanto, team leader kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia menyatakan, emisi merkuri dari PLTU sangat masif. Di PLTU Jepara yang diklaim berteknologi ramah lingkungan pun tetap ada merkuri. “Saat ini 40 PLTU beroperasi di Indonesia. Ada 117 PLTU dalam tahap pembangunan,” katanya.
Menurut Yuyun, ratifikasi Konvensi Minamata, di antaranya membawa konsekuensi biaya produksi dan harga produk yang naik, misalnya termometer air raksa harus beralih ke digital.
Dihubungi terpisah, Deputi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Pengelolaan Bahan Beracun Berbahaya, Limbah B3, dan Sampah, Muhammad Ilham Malik, mengatakan, naskah akademis ratifikasi sudah selesai. Ratifikasi diharapkan 2016. (Diolah dari berbagai bahan oleh ask).

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: