MENENGGELAMKAN MATAHARI

Cerita Tun Ruang *
MENENGGELAMKAN MATAHARI

 
Dari kalangan atas hingga orang jalanan negeri ini, lebih-lebih kalangan menengah ke atas, sangat suka menggunakan istilah -istilah asing, terutama kata-kata bahasa Inggris, walau pun sebenarnya kosakata bahasa Indonesianya ada, misalnya anda, kamu, kau. Hanya saja, si pembicara merasa kurang bergengsi jika menggunakan kosakata-kosakata tersebut. Maka mereka menggunakan untuk kosakata-kosakata tersebut kata bahasa Inggris: “You”. Untuk terimakasih digunakan kata “thanks”. Dan lain-lain, dan lain-lain lagi.
Saya menyebut kesukaan ini sebagai penyakit pola pikir dan mentalitas anak jajahan yang di zaman Belanda dulu disebut penyakit inlander. Mereka tidak bangga pada budaya mereka sendiri, dan merasa gengsi mereka meningkat apabila menggunakan bahasa penjajah. Suatu bentuk penyakit rendah diri yang dibungkus dengan kepongahan, kebodohan dan ketidaksadaran bahkan ketidaktahuan yang dibungkus dengan bagaya atau jual koyok.
Para penyelenggara Negara di Kalimantan Tengah pun tidak luput dari virus penyakit ini. Sejalan dengan gencarnna gerakan menyelamatkan lingkungan yang sangat rusak seiring serbuan investor, maka petinggi provinsi untuk nampak progresif dan tanggap zaman, lalu menamakan Kalimantan Tengah setbagai “provinsi hijau’. Tapi tidak istilah yang digunakan adalah “green province”.
Di bahasa mana pun, kata senantiasa mengandung makna, mempunyai isi. Isi ini menjadi lumer ketika tindakan membuatnya menjadi dusta dengan tujuan sesuai kepentingan tertentu. Dalam politik makna itu disebut kebijakan.
Ketika kebijakan menjadikan provinsi Kalimantan Tengah sebagai ‘green province’, Mateus yang pada waktu itu menjadi orang pertama di Badan Lingkungan Hidup (BLH) segera mengambil kebijakan yang bersifat hijau. Kebijakan yang benar, tentu mempunyai sanksi jika tidak dipatuhi. Kebijakan tanpa sanksi tidak lain dari dusta. Mateus yang lahir dan besar di Tanah Dayak, semangat kedayakannya, cukup tinggi, sangat sadar bahwa Kalimantan Tengah, kampung-halamannya secara lingkungan sangat rusak. Karena itu, ia sangat gembira ketika ditempatkan sebagai orang pertama BLH. Dengan kedudukan ini, ia berkhayal akan mampu, paling tidak mengurangi, kalau tidak bisa menghentikan, kerusakan alam kampung kelahiran. Ia merasa dengan adanya kebijakan “Kalteng sebagai ‘green province’”, impiannnya menemukan jalan pelaksanaan. Ia pun menerbitkan kebijakan menutup perusahaan-perusahaan yang tidak punya Amdal, apalagi yang tidak clear and clean dalam izin usaha, menuntut ke pengadilan perusahaan-perusahaan siapa pun yang merusak lingkungan. Sebelum menerbitkan kebijakannya, Mateus memimpin sendiri pengumpulan data lapangan mutakhir.
Dari data lapangan mutakhir itu, ia jadi tahu tahu secara kongkret pemilik perusahaan-perusahaan besar dan bagaimana polah-tingkah mereka secara rinci. Melalui data-data rinci tersebut, ia sempat menanyai diri: “Diterbitkan tidak kebijakan hijau ini? Kalau diterbitkan pasti mendapat reaksi keras dari para petinggi yang memiliki perusahaan sawit dan tambang yang terkena oleh kebijakan. Kalau tidak diterbitkan sama dengan membiarkan kejahatan dan kerusakan kampunghalaman berlanjut dengan melenggang. Di mana tanggungjawab moral saya sebaai pejabat dan lebih-lebih sebagai Anak Dayak?”. Ia bergulat dengan dirinya. Di akhir pergumulan pikiran, ia berdiri dari kursi dan berkata pasti: “Isen Mulang!. Bukan Dayak namanya jika takut membela kebenaran dan menghindari tanggungjawab.”
“Isen Mulang! Isen Mulang!. Kau anak Dayak Mateus. Jangan kau khianati Dayak seumur hidupmu!”. Mateus berkata sendiri sambil mengangkat tinju di depan wajahnya. Berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang lapang. Mateus memenangi pergulatan dengan dirinya. Ia siap menerima resiko apa pun dari kebijakan yang kemudian ia terbitkan. Ia terbitkan dengan kesadaran, dengan mimpi dan kesetiaan pada kampunghalaman, pada perjuangan Dayak. Ayah Mateus adalah seorang gerilyawan terkemuka waktu perjuangan mengusir Belanda dari Tanah Dayak dan untuk mengibarkan Merah Putih.
Apa yang telah menjadi hitungan Mateus, benar-benar terjadi tidak sampai seminggu setelah kebijakannya diterbitkan. Reaksi dari pemilik perusahaan perkebunan yang sekaligus petinggi penting tiba. Belum sempat ia menindaklanjuti kebijakannya, Mateus sudah digeserr dari kedudukannya sebagai orang pertama BLH. Ia ditempatkan sebagai penanggungjawab di Badan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan lingkungan hidup. Di Badan baru ini pun, ia cuma sebentar walau pun secara usia ia masih pada usia-usia produktif.
“Mengapa koq sekarang di sini?” tanya saya ketika kami berjumpa di ruang kerja barunya sambil mengenang bagaimana ia membantu kami dalam kegiatan-kegiatan. Ketika kami menemuinya semasa ia di BLH untuk meminjam ruangan, ia dengan antusias menyambut kami.
“Gunakan ruangan ini untuk kemajuan Kalteng. Saya pastikan bahwa kapan saja, kalian bisa pakai ruangan ini.”
“Saya di sini karena saya kalah. Kebobrokan masih sangat kuat. Kalteng dikuasai oleh keboborokan. Boleh jadi kekalahan ini pun kekalahan Dayak juga”, ujarnya sambil tersenyum pahit.
“Narsiskah pernyataan saya?” tanyanya.
“Saya kira tidak apabila kita jujur pada diri sendiri dan kenyataan. Hanya menurut saya, kalah tidak berarti salah, Sobat! Kebenaran untuk sementara bisa dikalahkan, dan merupakan hal yang lumrah ketika imbangan kekuatan belum memenangkannya. Tapi paling tidak, kau sudah menunjukkan adanya ketidak beresan di kampung-halaman ini. Apa kau kecewa dengan penyingkiran dirimu? ”
“Tidak, siama sekali tidak, Sobat. Saya sudah memperhitungkan resiko ini sebelum dan ketika menerbitkan kebijakan meyambut Kalteng Green Province.”
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”
“Tetua bilang, Dayak itu Utus Panarung. Turunan Pelaga. Sebagai Dayak demikian, apa ada lain yang niscaya dilakukan kecuali meneruskan laga, melanjutkan tarung dengan seribu satu cara? Adakah filosofi demikian dalam masyarakat Bugis-Makassar?”
“Ada sebagaiman tertuang dalam ungkapan yang jika diterjemahkan secara bebas ke bahasa Indonesia kurang lebih begini: “Sekali layar pinisi dikembangkan, pantang balik ke pantai sebelum mengalahkan ombak”.
“Di masyarakat Dayak, filosofi demikian kami tuangkan dalam kata-kata “Isen Mulang.”
Isen Mulang adalah kata-kata yang biasa diucapkan Mateus saban kami berpisah seakan-akan identik dengan “sampai jumpa”.
Mateus sudah dipensiun dinikan. Ia tidak memegang jabatan apa pun lagi.Setiap asap yang tiba menyelimuti Kalteng saban musim kemarau, dan banjir saban musiim penghujan, Kalteng ‘green province’ terjaring dalam kabut asap dan tenggelam dalam genangan banjir. Saban itu pula, wajah Mateus terbayang dalam kabut dan air bah itu. Mateus yang sengaja dihanyutkan seperti Dayak yang sengaja dikalahkan dan dibiar kalah. Kekalahan ini menjadi tragedi karena kekalahan dan pembiaran kalah itu dilakukan oleh orang Dayak sendiri atas nama kemajuan Dayak saat dusta dan uang menjadi tuan budak. Keduanya tidak memerlukan orang jujur. Kejujuran yang disingkirkan, nurani yang dibunuh, apa bedanya dengan menenggelamkan matahari? []

* Tun Ruang, Uluh Kalteng asal Bugis-Makassar, tinggal di Palangka Raya.

 

 

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang.

 

UNGKAPAN FILOSOFI DAYAK
Épat Pa, atau sering juga disebut Épat P (Empat P) . P di sini merupakan singkatan dari kata-kata: Pananjaru (Pembohong), Panakau (Pencuri), Pambusik (Penjudi), Pambawi (Main perempuan). Épat P ini mempunyai kemiripan dengan Empat M (Maling, Main, Madat dan Madon) di Jawa Tengah.
Dalam masyarakat Dayak dahoeloe, perilaku Épat P merupakan perbuatan-perbuatan terkutuk.
Pembohong dalam masyarakat dipandang sebagai orang tidak berharga karena kata-katanya tidak bisa dipegang. Padahal bagi orang Dayak dahoeloe, kata-kata merupakan terjemahan dari perbuatan, dan perbuatan diterjemahkan oleh kata-kata. Satunya kata dan perbuatan ini, tercermin pada keyakinan bahwa kutukan (sapa, manyapa [mengutuk]), cepat atau lambat akan terwujud, dipercayai akan menjadi kenyataan.
Acara Sumpah Memotong Rotan, Menabur Garam Beras Berabu pun di satu sisi juga dilakukan dengan bertolak pada kekuatan dan kepercayaan pada kata. Bahwa kata mempunyai makna dan tidak terpisahkan diri makna atau isinya. Demikian juga halnya dengan aji-aji yang hingga sekarang masih banyak dipercayai oleh warga Dayak, tidak bebas dari kepercayaan pada kata dan isinya, satunya kata dengan perbuatan.
Politik pencitraan yang marak dilakukan oleh para politisien negeri ini, termasuk di Kalimantan Tengah tidak lain dari politik dusta yang dilakukan oleh politisi pendusta atau politisien.
Dilihat dari segi budaya Dayak dahoeloe, politik pencitraan merupakan politik yang dilakukan oleh para politisien berkualitas nista dan tidak layak memegang jabatan apa pun di Tanah Dayak.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: