BANTUAN

Cerpen Tun Ruang
BANTUAN

Ketika meninggalkan Wedi, sebuah kecamatan kabupaten Klaten pergi ke Kalimantan Tengah pada tahun 1965 mengikuti orangtuanya, Arjo Pilang masih bayi satu tahun. Sekarang lelaki jangkung, langsing, berkulit coklat itu berusia 40 tahun. Sementara orangtuanya sudah sejak sepuluh tiada. Sepanjang usia tersebut, Arjo Pilang, kendati sekali pun, tidak pernah kembali ke Wedi. Kalimantan Tengah baginya adalah kampung-halamannya sendiri. Ia fasih berbahasa Dayak Ngaju di samping berbahasa Jawa yang ia pelajari dari orangtuanya almarhum. Bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Hal lain yang ia pelajari dari ayahnya adalah keterampilan sebagai tukang kayu. Dengan keterampilan inilah ia kemudian menyambung hidup.Walau pun tadinya Kalimantan Tengah mempunyai hutan belantara tropis yang lebat, tapi sejak HPH beroperasi, hutan tropis itu tinggal cerita masa silam. Sekarang, untuk menandapatkan kayu, sudah bukan main sulit dan beresiko dituduh sebagai pembalak liar. Dalam keadaan demikian, Arjo Pilang memutuskan untuk membuat mebel dan lain-lain, menggunakan rotan yang masih cukup tersedia dan relatif lebih gampang didapat tanpa resiko hukum.
Dalam usaha kecil bermodalkan dengkul ini, pada mulanya, Arjo Pilang menggunakan rumah kecil tempat tinggal sekaligus sebagai bengkel kerja. Setelah bekerja enam tahun, Arjo Pilang baru berhasil membangun bengkel kerja terpisah, dengan kelengkapan sederhana sesuai kemampuan dana. Perkengkapan yang paling ia perlukan adalah mesin penjahit untuk kursi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk mendapatkan mesin penjahit kursi ini, Arjo Pilang kembali menyisihkan jumlah tertentu dari hasil penjualan produknya. Di samping itu, ia menulis proposal dan disampaikan ke Dinas terkait berharap untuk mendapatkan bantuan. Setelah menunggu setahun lebih, jawaban atas proposalnya tidak juga kunjung tiba. Sedangkan pekerjaan, memerlukan mesin tersebut tanpa bisa ditunda-tunda lagi.
Setelah menghitung jumlah dana sendiri yang sudah terkumpul. Dan terasa cukup, Arjo Pilang ke toko membeli mesin penjahit tersebut. Dengan adanya mesin penjahit itu, selain pekerjaan menjadi lebih ringan, dari segi kecepatan dan produktivitas pun meningkat.
Tiga bulan kemudian, Arjo Pilang dipanggil oleh Dinas terkait. Kepala Dinas memberitahukan bahwa proposalnya diterima. Mesin yang diminta akan di antar ke bengkel.
Sesuai janji tersebut, pada suatu hari, mesin itu pun tiba di bengkelnya.
– “Terimakasih, Pak’, ujar Arjo menerima bantuan tersebut sambil tersenyum kecil.
– “Semoga dengan bantuan mesin ini, produktivitas dan mutu produk Pak Arjo akan meningkat”, sahut Orang Dinas.
Pada hari lain, telpon genggam Arjo Pilang berdering. Di ujung lain komunikasi terdengar suara:
“Pak, Arjo Pilang. Besok pagi jam 10.00, orang Kementerian dari Jakarta akan datang berkunjung ke bengkel Pak Arjo”.
“Wah, hebat sekali, saya dikunjungi. Sungguh suatu kehormatan. Ada apa nampaknya, Pak?” tanya Arjo.
“Orang Pusat ingin melihat seberapa efektif Dinas Kalteng membantu dan mengembangkan usaha kecil.”
“Baik, Pak. Saya tunggu besok pukul 10 pagi.”
Pukul 10.30 pagi keesokannya, sejumlah mobil plat merah parkir di sekitar bengkel. Arjo Pnilang keluar menyambut dan mengantar orang Kementerian sambil memberikan penjelasan-penjelasan atas per tanyaan. Dalam penjelasan-penjelasannya, Arjo Pilang mengisahkan riwayat berdirinya bengkel produksinya yang boleh dikatakan berangkat dari modal dengkul dan mandiri. Sepatah pun ia tidak menyinggung soal bantuan mesin dari Dinas. Orang Dinas merasa diabaikan, lalu bertanya:
“Apakah bantuan mesin penjahit kursi dari Dinas masih berfungsi?”
Tanpa ekspresi, Arjo Pilang menjawab:
“Tuh , masih utuh dan tidak pernah saya gunakan sejak diantar?” sambil menunjuk sebuah pojok di mana mesin tersebut diletakkan.”
“Lho, mengapa? Tidak bisa berfungsikah?”
“Bukan begitu, Pak. Mesin bantuan Dinas Bapak bukan untuk menjahit kursi, tapi untuk menjahit sepatu. Tidak bisa digunakan untuk menjahit kursi. Kalau Bapak mau bawa, silahkan saja Bapak ambil. Mungkin ada tukang sepatu yang memerlukannya. Daripada di sini tidak terpakai. Bapak bawa saja”.
Orang Kementerian memandang wajah Orang Dinas dan Arjo Pilang silih berganti tanpa berkata sepatah pun. Hening seketika sehening perhatian penyelenggara Negara atas bidang yang menjadi tanggungjawabnya.
Di tengah keheningan dan suasana yang tiba-tiba membeku, Orang Kementerian akhirnya berkata: “Saya kira cukup di sini, Pak. Siapa nama Bapak?”
“Arjo Pilang, Pak. Terimakasih sudah berkunjung ”.
Matahari di sekitar bengkel yang makin memperlihatkan terik aslinya sebagai matahari Palangka Raya, masih saja tidak berdaya mencairkan kebekuan suasana di akhir kunjungan. []

 

 

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang.

 

 

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Masak luar manta huang. Masak di luar, mentah di dalam. Peribahasa ini melukiskan tabiat seseorang yang bermanis-manis di luar, tapi kemanisan tersebut tidak lain dari kemanisan semu, karena kemanisan itu tidak lain dari pembungkus niat jahatnya. .
~ Labih baréga ijé kabawak mutiara bara pasir ijé ka tanjung. Lebih berharga sebutir mutiara daripada pasir satu tanjung. Mutiara di sini diibaratkan sebaga manusia bermutu. Manusia bermutu adalah manusia yang mempunyai integritas, beradat tetapi juga berilmu-pengetahuan serta berkemampuan tekhnis (skill know how) yang tinggi. Dibandingkan dengan adanya ribuan orang tak bermutu, adanya sumber daya manusia yang mutiara walaupun jumlahnya tak banyak, akan jauh kebih berharga dalam upaya memanusiawikan kehidupan dan manusia itu sendiri.
~ Jadi bisa buah ujan tinai. Sudah basah kena hujan lagi. Pepatah ini melukiskan keadaan seseorang yang ditimpa oleh kemalangan bertubi-tubi. Paralel dengan pepatah ini adalah pepatah ini adalah pepatah Indonesia”Sudah jatuh ditimpa tangga lagi”.
~ Handalai manjadi naga. Cacing menjadi naga. Melukiskan seseorang yang miskin tiba-tiba menjadi kaya-raya. Orang kecil tidak berdaya tiba-tiba menjadi penguasa. Searti dengan perumpamaan ini adalah perbandingan Jawa “Petruk dadi ratu” (Petruk jadi raja).

 

 
Sajak Esun Sahun
DARI SINI AKU BERGEMING

duabelas dari 14 kabupaten dan kota kalimantan tengahku
orang-orang pertamanya adalah dayak
duabelas daerah –daerah itu habis terjual disebut maju melesat
lalu apa arti putera daerah dan dayak selalu dituntut
jika menjual kampung kelahiran?

begini memang jika calo menjadi penguasa

di tengah kehidupan begini keruh aku katakan:
tanah dayak tidak perlu dayak pencuri
membiarkan pengasingan dan masakre oleh kepapaan terjadi
tanah dayak menanti manusia panarung
anak enggang putera-puteri naga

etnik hilang pegangan
mabuk oleh kepapaan ciptaan
membuta sebagai budak-budak dusta

sebagai pemilik besi tenggelam
turunan maharaja bunu di pantai manusia
tuan-tuan dan nyonya-nyonya terhormat
dari sini aku bergeming
menanti timbulnya buaya tujuh warna
menertibkan kekacauan menghalau dusta dari singgasana. []

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: