JOKOWI DINILAI HINA LEMBAGA KEPRESIDENAN

 

Diam di Kongres PDIP, Jokowi Dinilai Hina Lembaga Kepresidenan
Jumat, 10 April 2015, 09:08 WIB

Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Jokowi menghadiri Kongres PDIP ke-4 di Bali pada Kamis (10/4). Hanya saja, Jokowi datang dengan status sebagai kader PDIP. Dia datang mengenakan jas merah dan duduk di barisan terdepan bersama Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, Wapres Jusuf Kalla, dan Ketua DPP Puan Maharani.

Jokowi datang ke Bali menggunakan fasilitas negara didampingi beberapa menteri. Uniknya, meski menyandang status presiden RI, Jokowi tidak diberi kesempatan pidato di Kongres PDIP.

Aktivis antikorupsi Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti kejadian aneh yang menimpa Jokowi tersebut. “Ketika Presiden Hadir dalam satu acara hanya diam terbisu dan duduk manis…!!! Di NEGERI ini,” katanya melalui akun Twitter, @Dahnilanzar.

Ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah tersebut mempertanyakan mengapa panitia Kongres PDIP tak memberi kesempatan Jokowi untuk berpidato. Padahal, setiap presiden yang hadir di acara partai selalu diberi kesempatan tampil di depan.

“Kepresidenan itu lembaga. Dan, lembaga negara. Ketika seseorang jadi Presiden tak bisa dia dipisahkan, Antar dia sebagai ‘Jokowi’, dia sebagai ‘Presiden’,” katanya. “Wibawa lembaga Kepresidenan itu, ya wibawa Indonesia juga.”

Dahnil pun kembali menegaskan, status Jokowi sebagai presiden RI tidak bisa dilepaskan, meski hadir di acara sebagai kader partai. “Klo mau dipisahkan, ketika dia jadi ‘Jokowi’ ya tak ada fasilitas apapun terkait dia sebagai Presiden. Tapi kan impossible.”

Dia melanjutkan, “Mohon maaf saya harus sampaikan; Joko Widodo adalah Presiden yang tidak menghormati lembaga Kepresidenan.” “Berangkat penuh dengan fasilitas Kepresidenan (pswt, ajudan, Dana dll). Duduk Bengong mengaku sebagai Jokowi. Terang menghina lembaga Kepresidenan.”

 
Komentar “‘Sunny’ ambon@tele2.se, in [GELORA45]” <GELORA45@yahoogroups.com>, Sunday, 12 April 2015, 17:27:

“Jokowi tidak diberi kesempatan berpidato, karena dianggap anggota partai yang tidak berfungsi dalam partai dan struktur kedudukannya hanya sebagai anggota partai kelas bawah, jauh sekali di bawah herarki (keluarga) Megawati, maka oleh karena itu sekalipun Jokowi adalah presiden NKRI tidak diberi kesempatan untuk berpidato yang biasanya pada kongres-kongres partai politik jika hadir kepala negara ,selalu kesempatan diberikakan untuk berpidato.

Observasi menunjukan bahwa Megawati berpegang teguh pada tradisi feodal zaman Mojopahit. Pada zaman sekarang dimana dikembangkan neo-Mojopahit, tentunya tradisinya tidak baik diabaikan, maka oleh karena itu pada kongres PDIP di Bali, Megawati katakan bahwa “voting” itu asal barat. Hasil kongres dengan aklamasi Megawati tetap pegang kunci pucuk pimpinan partainya. Bukankah cara dulu zaman dunia gelap juga begitu, hadirin tepuk tangan dan kehendak raja atau ratu jadilah. Amin!

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: