60 TAHUN KAA, KISAH BUNG KARNO DAN DETIK-DETIK PEMBUKAAN

 

60 TAHUN KAA, KISAH BUNG KARNO DAN DETIK-DETIK PEMBUKAAN

 

 

60 Tahun KAA, Kisah Bung Karno dan Detik-detik Pembukaan

Foto Bung Karno bersama Bung Hatta karya Inen Rusnan, fotografer Konferensi Asia Afrika sekaligus saksi sejarah dinamika perkembangan Kota Bandung sejak tahun 1950an, dipamerkan di Gedung Indonesia Menggugat di Bandung (6/6). TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung, Selasa, 07 April 2015 | 07:05 WIB – Sehari sebelum perhelatan Konferensi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955, Presiden Sukarno bersama istrinya dan istri Bung Hatta terbang ke Bandung dengan pesawat Convair Garuda Indonesia Airways. Wakil Presiden Mohammad Hatta menyambut mereka di Bandara Husein Sastranegara. Setelah itu, rombongan menuju rumah dinas Gubernur Jawa Barat, lalu Sukarno berpidato tentang Pancasila di Gedung Varia Bandung.

Senin, 18 April 1955, pukul 08.50, Sukarno-Hatta berangkat dari rumah dinas Gubernur ke tempat konferensi di Gedung Merdeka. Di Hotel Savoy Homann, pukul 08.45, para ketua delegasi yang berkumpul di lobI hotel mulai berjalan kaki ke Gedung Merdeka dan menunggu di serambi muka. Pukul 09.00, lagu Indonesia Raya menyambut Sukarno-Hatta setelah turun dari mobil. Setelah mereka berkenalan dengan para ketua delegasi, upacara pembukaan resmi konferensi dimulai pukul 09.05.

Berdasarkan “Risalah Konferensi Asia-Afrika” catatan Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara 1 Juni 1955, acara pembukaan itu selesai pukul 10.30. Sukarno-Hatta dan istri masing-masing menuju Gubernuran, sementara para perdana menteri dan wakil ketua delegasi ke Hotel Homann. Sebelum tengah hari, Gedung Merdeka kembali kosong.

Dalam risalah tersebut juga diceritakan suasana serbameriah dengan warga yang berjejal di sepanjang jalan di sekitar Gedung Merdeka menjelang pembukaan konferensi. Di dalam gedung, ada 29 perwakilan negara yang duduk berderet sesuai dengan abjad, perwakilan luar negeri, anggota kabinet Indonesia, parlemen, dan ratusan wartawan dari luar dan dalam negeri.

Bendera negara peserta konferensi berderet di belakang meja ketua konferensi. Perlengkapan sidang ditata seperti di persidangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tiap anggota delegasi bisa mengikuti pidato dengan terjemahan bahasa Inggris, Indonesia, atau Prancis dengan menggunakan perangkat yang disebut kop telepon.

“Para anggauta delagasi kebanjakan berpakaian setjara nasional, misalnya delegasi Filipina memakai pakaian Tagalognja dari serat nanas, demikian pula anggauta delegasi dari Liberia, Kambodja, Birma,” tulis petugas dalam risalah yang ditandatangani Kepala Bagian Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara R. Moch. Oemargatab itu.

Malam harinya, pada pukul 19.00-21.00, digelar acara resepsi di Gubernuran dengan tamu undangan ketua dan perwakilan delegasi. Setelah jamuan makan malam, sajian penutupnya berupa pertunjukan kesenian. Esok harinya, sidang komisi yang membahas politik, ekonomi, dan sosial-budaya berlangsung di ruang-ruang di dalam Gedung Merdeka serta Gedung Dwi Warna di Jalan Diponegoro. Hasilnya berupa Dasa Sila Bandung yang menjadi dasar sikap politik bebas-aktif gerakan negara Non-Blok.

ANWAR SISWADI

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: