SUNGAI BUSUK JADI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH WARGA

Sabtu, 4 April 2015

SUNGAI BUSUK JADI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH WARGA
Jumat, 3 April 2015. 21:02

Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Jika Anda melintas di Jalan Cemara tepatnya di seputaran Sungai Kera, bau tak sedap langsung menyengat, air sungai terlihat bewarna hitam, serta dipenuhi sampah rumah tangga yang menumpuk di tepi sungai. Selain itu, berbagai plastik terlihat mengalir mengikuti arus sungai.

Kondisi serupa terjadi di Jalan Sidorukun tepatnya di bawa jembatan, yang sealiran sungai kera (Sungai Busuk). Bahkan, sampah-sampah di Sungai Kera yang berada tepat di Pasar Ikan Cemara, Desa Sempali, Percut Sei Tuan, tampak menggunung. Alhasil, membuat masyarakat resah lantaran bau tak sedap hingga kepermukiman warga tatkala hujan deras mengguyur.

Seorang warga sekitar, Rostina mengaku sangat terganggu dengan tingginya volumen sampah di sungai. Oleh sebab itu, dia berharap Pemerintah Kota Medan maupun Provinsi Sumatera Utara mengorek sungai agar seluruh kotoran terangkut. Apalagi selama ini, tidak sedikit masyarakat membuang sampah ke sungai.

“Saya kesal sama Pasar Ikan yang membuang sampah sembarangan. Tapi masyarakat yang naik mobil pun terkadang membuang sampah ke sini. Makanya, kotornya sungai ini bukan hanya disebabkan warga sekitar yang tak menjaga kebersihan. Namun, adanya orang luar yang membuang sampah sesuka hati, Jadi sudah kayak Tempat Pembuangan Sampah (TPA),” ujar perempuan berkulit putih ini, ketika ditemui di seputaran Jalan Cemara, Jumat (3/4/2015) siang.

Selain itu, kata dia, sosialisasi yang diberikan pemerintah atau lembaga pemerhati lingkungan untuk menjaga sungai tidak efektif bila penyadaran masih berfokus kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Padahal, seharusnya pemerintah harus tegas kepada warga ataupun pengguna jalan yang membuang sampah ke sungai.

“Nama resmi sungai ini menang Sungai Kera, tapi sekarang sudah berganti nama menjadi Sungai Busuk. Jadi kalau ditanya Sungai Kera kurang di kenal oleh masyarakat sekitar. Mungkin berubah nama ini karena sungai sudah dipenuhi kotoran dan bau busuk yang menyengat,” katanya.

(tio/tribun-medan.com)

Penulis: Jefri Susetio
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: