SEI KAMBING RAWAN BANJIR

Catatan Kusni Sulang:.

Keadaan sungai yang terjadi di Medan, juga terjadi di Kalimantan Tengah. Sungai adalah nama lain dari tong sampah besar. Kerusakan sungai dan airnya menjadi-jadi oleh ulah para penambang dan perkebunan besar yang membuang limbahnya ke sungai. Hanya beberapa anak sungai di hulu yang airnya bisa dikonsumsi. Selebihnya dinyatakan pemerintah tidak bisa dikonsumsi. Tapi apa langkah penyelenggara Negara mengatasi hal ini? Tidak ada! Ke publik mereka berpidato tanpa malu, bahwa pembangunan berhasil, daerah berkembang maju, dsb… yang serba hebat dan baik.

 

SUNGAI SEIKAMBING RAWAN BANJIR

Jumat 3 April 2015 20:30

Sungai Seikambing Rawan Banjir
Warta Kota /Adhy Kelana

Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kondisi Sungai Seikambing tepatnya di seputaran Universitas Panca Budi, cukup memprihatinkan, karena beragam sampah rumah tangga terlihat menumpuk di pinggir sungai, sehingga sungai tak mampu menampung debit air apabila hujan deras mengguyur Medan.

Selain sampah plastik rumah tangga, berbagai jenis pakaian terlihat menempel di beberapa ranting pohon tepat ditepi sungai. Meskipun demikian, air sungai belum bewarna hitam, sehingga tidak sedikit masyarakat, memanfaatkan air sungai untuk menyuci.

Seorang warga sekitar yang mengaku bernama Meta mengatakan, sampah semakin menumpuk di sepanjang Sungai Seikambing semenjak pemerintah mengaspal jalan di kawasan pinggir Sungai Seikambing, sehingga banyak pengguna jalan membuang sampah ke dalam sungai.

“Dulu memang camat sering membuang program kebersihan lingkungan sungai. Tapi sekarang sudah tidak sering kayak dulu lagi. Mungkin yang sudah terlihat bersih itu di Sungai Putih. Kalau di sini masih belum. Makanya selalu kebanjiran, ketika diguyur hujan deras hingga berjam-jam,” ujarnya saat ditemui di sebuah warung di tepi sungai, Jumat (3/4/2015)

Dia menjelaskan, masyarakat sekitar jarang membuang sampah ke sungai. Oleh sebab itu, sampah yang menumpuk di sungai, merupakan sampah kiriman dari kawasan lain. Sehingga, ia membantah bila beberapa kalangan menyatakan masyarakat tak menjaga lingkungan secara bagus.

“Sampah ini terlihat kalau air sungai sedang surut. Karena sebenarnya sampah di sini dibawa arus sungai. Makanya hanya terlihat kalau sedang surut karena tak terbawa arus sungai. Kami selalu dukung program pemerintah, setiap kecamatan membuang program kebersihan Sungai kami selalu bergabung,” katanya.

Sementara itu, warga lainnya, Ahmad menuturkan, warga seputaran aliran sungai sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi tingginya tumpukan sampah di antaranya melarang petugas kebersihan yang berupaya membuat TPA sementara di pinggir sungai.

“Kalau sekarang ini sudah lumayan tertiblah, karena masyarakat sekitar tidak banyak membuang sampah. Kami juga melarang masyarakat membuang sampah di pinggir sungai dan tidak boleh adanya tumpukan sampah dalam jumlah besar di seputaran sungai. Bila perlu kalau memang ada program menangkap pelaku membuang sampah di sungai kita membantu ikut berperan dalam pengawasan,” ujarnya.

(tio/tribun-medan.com)

Penulis: Jefri Susetio
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: