SASTRAWATI DAYAK KADAZAN SABAH

ESOK TIDAK MUNGKIN MANGKIR

Esok bermula lembar baru
Kita tutup ceritra sejarah
Esok mungkin mengubah segalanya
Kesetian ? Siapa tahu
Penghormatan? Mungkin juga
Ketabahan? Barangkali
Kerumitan hidup? Tiada disangkal
Apapun esok tiada siapa boleh menghalang
Ia hadir tak mungkinkan mangkir
Apapun hanya masa menentukan
Apa yang akan berubah…

Kota.kinabali / 31-03-2015

Tangis Buliga

Mengimbau sejarah

Di sepanjang lorong bebatuan kaku

yang terbina bersalut kekejaman

ketakutan dan cinta kasih

aku melangkah dibuai kepiluan

sesekali kain selendang sutera merah

berkibar mengilas riak wajahmu

tersenyum dengan lakaran cinta

membuat aku teringat

janji yang kau titip bersama airmata

akan tetap menyayang dan menyintaiku

bersaksikan bebatuan Nabalu

kerana cinta kau lupa darjatmu

Bahteramu belayar

meninggalkan kehijauan hutan dan kristal Nabalu

bersama gemala dari Naga Nabalu

Antara perintah dan kuasa

Antara cinta dan tanggung jawab

kau pergi meninggalkan satu janji

akan kembali membawa bahagia

Ketika Gemala Naga jadi rebutan

dan kau kalah kerana patuh

Cintamu lenyap bersamanya

kau lupa pada satu simpulan ikatan

padaku yang setia dipergunungan

Tangisku menjadi mutiara kasih

dan bahteramu tidak pernah singgah

Dan aku tetap menunggu

cinta dan kasihku tetap untukmu

setiaku kental biar sampai Naga Nabalu

bernyawa kembali

menuntut gemala keramatnya

yang dirampas sekejamnya

Aku datang membawa rindu

Menagih janji

Dan ditembok besar aku berseru

menangisi takdir

mengapa dimungkiri

Satu ikatan kasih

Yang setia membatu

Hingga hujung nyawa

Limbas sutera merah berbunga gingko

menyedarkan aku

yang berdiri di tanah besarmu

menagih janji

namun hanya kedinginan dan usapan angin

yang cuma ada pepohon mengering

daun daun berguguran

berbisik padaku

kembalilah ke Nabalu

antara aku dan kau

bagai langit dan bumi

tidak akan bersatu

kecuali kiamat

 

Tangisku

tangis buliga

buliga yang kau rampas dari nagaku

nagaku berkubur sedih dan hampa

dipergunungan Nabalu

kasih dan cintamu

kau kubur di tembok kaku ini

bakal bertemukah kita

bila langit bertemu bumi?

Namun…

aku tetap setia melihat dari pergunungan

hingga kiamat tidak akan berganjak

setiaku seperti bebatuan Nabalu

tetap segar suci dan menghijau

walauku tahu cintamu

kaku dan mati

Seperti batu di tembok besarmu.

Great Wall Beijing, China – 30 November 2013

 

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: