SARAN SEORANG PENGRAJIN KECIL KEPADA DINAS KEBUDAYAAN KALTENG

 

Salah satu karya Pak Gampang bermotifkan motif Dayak (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Salah satu karya Pak Gampang bermotifkan motif Dayak (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

 

 

SARAN SEORANG PENGRAJIN KECIL
KEPADA DINAS KEBUDAYAAN
Oleh Andriani S. Kusni

 

Pak Gampang (50), asal Jawa Timur, sudah puluhan tahun tinggal di Palangka Raya. Untuk hidup, pada mulanya ia bekerja pada seorang tukang-kayu yang juga asal Jawa Timur. Setelah itu ia memutuskan untuk bekerja sendiri sebagai pengrajin menggunakan bahan-bahan dari limbah kayu yang banyak tersedia dan kurang dimanfaatkan. Dari limbah-limbah kayu itu, Pak Gampang membuat batang-garing, naga, lonceng pintu bergambarkan batang garing dan enggang, asbak, dan lain-lain kerajinan tangan yang semuanya bermotifkan motif Dayak. Oleh ketekunannya, Pak Gampang berhasil mengembangkan usahanya sehingga ia perlu mempekerjakan dua orang Dayak sebagai pekerja tetap. Pada saat ia menerima banyak pesanan, ia mempekerjakan ibu-ibu di sekitar rumah dan bengkelnya di Kéréng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, pinggiran Palangka Raya.
Penggunaan motif Dayak sebagai modal usaha kecil, juga dilakukan oleh seorang anak muda asal Bali. Anak muda asal Bali ini bergerak di bidang pembuatan T-Shirt. Dari usaha inilah ia menghidupi diri dan membiayai kuliahnya.
Kalau Pak Gampang mempelajari dan membuat sendiri motif-motif Dayak untuk karya-karyanya, anak muda Bali itu meminta teman-teman Dayaknya yang melukiskan motif-motif Dayak yang diperlukannya berserta teks bahasa Dayak. Lukisan dan teks ini ia beli.
Melalui karya-karya ini Pak Gampang dan anak muda Bali bermaksud menyediakan souvernir khas Kalteng bagi para pengunjung Jantung Tanah Dayak, jika meminjam penamaan Kalteng oleh alm. Prof. Dr. Mubyarto.
Keberhasilan Pak Gampang dan anak muda Bali dalam usaha kecil mereka, nampaknya bermula dari prakarsa atau kreativitas, daya imajinasi, kejelian memandang masalah, ketekunan dan kerja keras. Saya menyebut usaha dan karya-karya begini merupakan sumbangan kongkret bagi Kalteng, sertifkat sah ditandatangani oleh kehidupan yang menyatakan mereka adalah Orang Kalteng (Uluh Kalteng), contoh bagaimana membaur secara budaya dan bagaimana menjadi Uluh Kalteng. Pembauran budaya, bukan bertahan di ghetto budaya dan budaya ghetto, merupakan syarat utama bagi kelahiran Uluh Kalteng dan tumbuh berkembangnya budaya Uluh Kalteng beridentitas Kalteng.
Sebagai Uluh Kalteng yang menghayati Kalteng adalah kampung-halamannya sendiri, bukan kebun belakang halaman rumah yang berada di tempat lain, Pak Gampang, merasa khawatir motif-motif orisinal Dayak lama-kelamaan akan punah, tergerus oleh banyaknya modifikasi-modifikasi. Melalui pengkajiannya selama bertahun-tahun hidup di Kalteng, Pak Gampang mengetahui bahwa kesenian Dayak, termasuk kerajinan tangan, erat hubungannya dengan adat dan agama. Kejelasan mengenai batasan-batasan mana yang adat, mana yang agama, patut disosialisasikan untuk mencegah kericuhan-kericuhan setelah suatu karya dipublikkan. Untuk keperluan ini dan sekaligus melestarikan dan merevitalisasikan motif-motif Dayak, Pak Gampang menyarankan dalam bentuk pernyataan: “Apakah tidak seniscayanya Dinas Kebudayaan menyelenggarakan suatu diskusi mengenai motif-motif Dayak ini?”. Semoga pertanyaan mendasar ini tidak senasib dengan daun kuning lepas dari ranting, dimain-mainkan angin sejenak lalu lapuk setelah berkali-kali diinjak para pelewat.
Dari pengalaman Pak Gampang dan anak muda Bali di atas, nampak sekali lagi para kreator tipe merekalah penghidup kebudayaan itu. Birokrat yang sadar akan menjadi pembantu pendorong penting. Seberapa banyak birokrat sadar budaya di Kalteng?[]

 

 

SKETSA MAY SWAN
PUJIAN
Bohong jika ada yang mengatakan dirinya tidak suka dipuji. Jujur saja, yang tidak disukai mungkin caranya atau pilihan kata katanya. Bukan pujiannya.
Tidak jarang orang memberi pujian sekedar basa-basi, menggunakan kata-kata jiplakan bagaikan stamping. Parahnya, sering kali pujian kata murahan itu malah dianggap sebagai mutiara murni bagi yang terengah-engah kelaparan pujian.
Pernah ada seorang teman berkata pada saya, “Saya senang sekali berhubungan dengan kamu, karena merasa kamu dapat menerima diriku sebagaimana adanya.” Lalu ia tegaskan, “I can be myself when I’m with you.” Sekalipun kedengarannya seakan ia mengutarakan perasaannya sendiri, namun, itu adalah kata-kata pujian yang paling berkesan bagi diriku, nyaman didengar terasa tulus dan lebih penting lagi, terbukti berguna bagi kedua pihak; yakni bagi yang memberi dan yang diberi. Seperti juga jalan toll, akan lebih bermakna fungsinya bagi hubungan lalu lintas jika dibuat dua jurusan; two way traffic, bukan hanya one way traffic.
Di sisi lain, banyak orang gemar memberi nasehat, tentunya dengan maksud baik, sedikitnya inilah alasan yang sering terdengar dipakai, umumnya dari yang tua kepada yang muda. Sayangnya, kita sering lupa, nasehat terbaik adalah nasehat yang diminta, bukan nasehat yang diberi. Dalam kata lain, jangan terlalu rajin memberi nasehat, tunggu sampai diminta. Situasi serupa seringkali menjadi sebuah tekanan bagi kami yang selalu mengendara mobil. Ya, backseat driver, itulah yang saya maksud. Dalam pembicaraan singkat di bawah berupa sebuah contoh apa yang sering terjadi antara orang yang mengendara mobil dan backseat driver yang duduk disebelahnya.
“Jangan ambil jalan itu. Itu jalan jauh.”
“Lalu jalan mana?” Dijawab dengan nada kesal.
“Ini, belok kiri, nanti sampai di tikungan belok kiri lagi,.. setelah itu baru belok kanan. Ini jalan short cut.”
“Tapi aku telah terbiasa mengambil jalan lurus. Lebih…familiar.” Berusaha keras menekan perasaan gedeg mengancam meletus.
“Jangan selalu mengikuti arah yang sudah familiar. Perlu mengambil jalan baru, agar otak selalu bekerja. Otak perlu diberi tugas baru, tantangan baru. Baik untuk melawan dementia. Ok, kiri. Aku kata kiri, masuk kiri, ya ya sini …”
“Ooh sekarang kamu ingin melatih otakku?” Kata kata…ini telah sampai di bibir, tapi berhasil ditelan kembali.
Gerakan tangan yang memegang steering wheel mendapat perintah dari otak orang yang mengendara mobil. Tidak dari otak orang yang duduk di sebelahnya. Hubungan otak dan tangan, dalam konteks ini termasuk juga kaki, menentukan kecepatan refleksi seseorang ketika mengendara mobil. Perintah dari luar justeru akan mengganggu konsentrasi dan merusak arus komunikasi antara otak dan tangan orang yang mengendara mobil. Risikonya sangat bahaya.
Yah ampun! Kalau pembicaraan diteruskan situasi akan memanas, cenderung merusak suasana dan hubungan. Sekalipun tidak setaraf Jokowi menghormati keinginan Megawati ketika mencalonkan Budi Gunawan sebagai KAPOLRI, saya juga belum bersedia mengambil tindakan drastik memutus hubungan karena tidak tahan dihujani ocehan yang menurutnya diberi demi kebaikan diriku; ingin melantik otakku.
Ada yang mengatakan semua ini berupa kendala kecil, tidak harus menjadi alasan memburuknya hubungan persahabatan. Itu benar. Tidak seharusnya. Tapi sebaliknya persahabatan yang sehat juga tidak seharusnya menjadi beban bagi salah satu pihak. Hubungan persahabatan sehat sepatutnya saling mengisi, saling membantu, tapi satu hal yang tidak boleh diabaikan: Juga harus memberi ruang hidup, ruang bernapas, ruang menjadi diri sendiri kepada masing masing pihak. Ruang untuk “Allow me to be myself.” []

 

 

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Kalah limau awi tungkun. Kalah jeruk oleh benalu. Peribahasa ini melukiskan keadaan bahwa penduduk asli lokal dikalahkan oleh para pendatang dalam keseluruhan hal..
~ Bénye-bényem jawau baisi. Diam-diam ubi kayu berisi. Melukiskan perangai seseorang yang tidak banyak bicara, tetapi sesungguhnya ia mempunyai pengetahuan yang banyak dan mendalam. Padanannya dalam pepatah bahasa Indonesia: Ibarat padi kian merunduk kian berisi.
~ Béhas balihi, bulu tarawang. Beras tertinggal, gabah melayang. Pepatah ini melukiskan keadaan bahwa kebaikan walau pun pada suatu ketika mendapat hujatan dan macam-macam tuduhan, tapi ia akan tetap bertahan. Sementara kejahatan dan dusta walau pun pada suatu saat nampak berkuasa, tapi cepat atau lembat ia akan sirna.
~ Amun sasat hung tampakan jalan, kéléh mulés kan tumbang (jalan). Kalau sesat di ujung jalan, lebih baik kembali muara (jalan). Artinya jika hingga ujung jalan masalah tidak juga terselesaikan, untuk mencari jalan keluar lebih baik kembali mengusut kembali persoalan itu sejak awal. Bagaimana sejarah terjadinya, bagaimana perkembangannya untuk mendapatkan gambaran duduk soal sebenarnya. Hanya dengan mengetahui duduk soal sebenarnya dari awal, penyelesaian bisa didapatkan. Artinya menggunakan pendekatan sejarah.

Sebagian penonton sendratari yang tak kebagian tempat duduk

Sebagian penonton sendratari yang tak kebagian tempat duduk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salahsatu adegan sandratari Mihing Manasa (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Salahsatu adegan sandratari Mihing Manasa yang digelarkan di halaman Museum Balanga, Jln. Tjilik Riwut, Km.2,5 Palangka Raya, 28 Maret 2015 oleh Dinas Kebudayaan Prov. Kalteng. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

 

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: