MASIH KOMENTAR UNTUK JAYA SUPRANA

MASIH KOMENTAR UNTUK JAYA SUPRANA

From: “iwamardi iwamardi@yahoo.de , Thursday, April 02, 2015 9:33 PM
To: NASIONAL LlST ; RKB ; Temu Eropa ; Dr. Wirantaprawira ; Evndari ; Md Kartaprawira ; Y.T.Taher Yt ; Bismo DG ; S. Manap ; Arif Harsana ; Hsin Hui Lin ; Marco Polo ; OMIE LUBIS ; Audy NZ ; Nurlia Basten ; Riekepitaloka ; Chan CT ; yawan35@gmail.com ; Chalik Hamid ; Sunny ; Awind
Subject: [RumahKita] Apa itu surat terbuka Jayasuprana kepada bung Ahok ?

Komentar atas surat Jayasuprana terhadap bung Ahok :

1) Seperti berulang2 saya utarakan, kita semua yang termasuk didalam kategoti bangsa dan rakyat Indonesia ini, tak peduli dari suku, ras,agama atau kepercayaan apapun, menanggung satu keharusan, bahwa kita merasa nomer satu adalah warga(orang) Indonesia, baru kemudian kita merasa dari suku bangsa ,etnis,ras, agama, kepercayaan kita masing2, apa saja yang ada di Indonesia yang mencintai tanah air dan bangsa Indonesia ini !
Inilah sikap yang tepat , sebagai warga Indonesia yang tulus dan serius mencintai tanah air dan bangsanya !
Jika kita menyimak kata2 Jayasuprana yang dia tuliskan, kita dengan mudah dapat mengambil kesimpulan, bahwa dia masih saja merasa nomer satu sebagai warga keturunan Tionghoa yang beragama Nasrani, belum bisa dengan berani membanggakan dirinya sebagai bagian utuh dari bangsa Indonesia yang tidak peduli lagi dari suku apa, dari etnis apa dst…yang mempunyai hak dan kewajiban persis sama dengan yang lain2nya !
Sangat betullah apa yang dikatakan bung Ahok : Otak Jayasuprana adalah otak warga negara kelas dua ! Artinya: otak yang takut2 dan kerdil . yang belum merasa berhak dan berkewajiban sebagai warganegara RI yang penuh, yang kelas 1 (artinya kelas untuk semua w.n. Indonesia !),
Sikap bung Ahok jelas: dia adalah bagian integral dari bangsa Indonesia ini, bukan lagi menomer-satukan sukunya, etnisnya atau agamanya dll…tetapi nomer satu buat dia adalah dia warga dan orang Indonesia asli ! Titik !

2) * Bagi saya, berkali kali saya tekankan , bahwa Ahok adalah patriot sejati bangsa Indonesia ! Dia seorang asli warga negara Indonesia, dia pencinta tanpa batas Republik Indonesia, tanah air dan rakyatnya !
* Ahok itu pantas dipuji bukan hanya sikap dan tindakan2 anti korupsinya saja, tetapi pada umumnya , sifat jujur, terbuka dan berani menentang ketidak jujuran itulah yang patut kita acungi jempol.
Jadi bukan seperti (yang dia akui sendiri dalam tulisannya !) sifat Jayasuprana yang takut2 dan masih merasa manusia kelas dua !

* Berbeda (bahkan kebalikan) dengan anggapan Jayasuprana: saya mula2 justru agak tidak senang dg. bung Ahok, boleh dikata agak membenci lagak lagunya, namun makin lama makin simpati bahkan makin menjadi pendukung penuh sosok bung Ahok ini ! Bukan apa2, karena saya melihat esensi dari sifat, langkah dan tindakan2/gebrakan2 nya yang konsewen dalam hal kejujuran dan kecintaannya terhadap tanah airnya , tanpa lamis2 dan pura2 !
Jadi tidak benarlah konklusi subyektiv Jayasuprana, bahwa orang makin lama makin membenci Ahok !
* Tentu saja , nobody’s perfect ! Bahwa dalam hal sikap atau “unggah-ungguh” (bhs. Jawa, artinya: tatakrama) , seseorang , tentu tidak semua orang sama.
Mungkin saja bung Ahok ini sering mengucapkan kata2 yang dianggap “kasar”, padahal menurut dia , dia hanya mengucapkan (mengexpresikan) apa adanya yang ada dipikirannya, tetapi menurut “sopan santun” dan “tatakrama” orang lain dianggap kasar. Padahal kalau kita cermati. orang2 pengkritik, pencela dan penghujat Ahok ini, telah dengan “lancarnya” menggunakan karta2 lebih kasar dari bung Ahok, tidak saja ditujukan ke Ahok, tetapi juga kepada orang2 jujur lainnya, seperti Jokowi dll. , dan yang lebih penting lagi : mereka , para penghujat ini kebanyakan mempunyai track record yang tidak sebersih track record Jokowi & Ahok, bahkan bisa dikatakan track record mereka kotor.
Hanya , memang harus diakui, dengan sedikit mengubah gaya”kasar” nya, tanpa mengubah isi/makna/hakekat/substansi dari sikap, langkah dan perbuatannya yang benar itu, mungkin Ahok akan bisa lebih lancar menunaikan tugasnya , meyelesaikan misinya demi kemajuan Indonesia dimasa mendatang, tanpa menemui halangan2 yang tidak perlu yang timbul hanya karena bentuk kritikan2/ucapan2 yang tidak sesuai dengan telinga pendengarnya.
Ada seorang pemimpin besar dari bangsa yang besar pernah berkata, mengenai hal kritik mengkritik ini : didalam memberikan kritik, seseorang harus betul2 memperhatikan bentuk kritikan itu (yang bisa diterima telinga dan hati penerima kritik), sedangkan didalam menerima kritik seseorang harus memperhatikan (mencari) isi kritikan itu, tak peduli bagaimanapun/apapun bentuknya.
Saya kira , hukum kritik mengkritik ini mudah dimengerti dan memang benar, namun sukar dilakukan sehari2 !
Tetapi dengan memperhatikan hal2 itu, maka akan lebih mudahlah buat kita semua (termasuk bung Ahok) untuk bisa mencapai tujuan2 jujur yang kita inginkan.

Konstatasi bung Ahok tentang surat Jayasuprana sebagai pikiran orang kelas dua bisa saya benarkan, artinya: salah dia (JS) sendiri yang menganggap dirinya manusia kelas dua, masih merasa sebagai pertama adalah “keturunan Tionghoa” , baru kemudian warga Indonesia, maka cara analisanya juga lain dengan bung Ahok, yang benar2 patriot bahkan kader bangsa Indonesia , walau dengan segala kekuranganya, …’cause nobody’s perfect !

Maju terus bung Ahok ! Sambil terus mengintrospeksi diri dan memperbaiki diri kita masing2, dengan perjalanan pasti akan makin mantap !

Mayoritas rakyat Indonesia yang jujur pasti akan berdiri dibelakangmu, mendukung dan mendorong terus langkah2mu yang membela kejujuran dan demi bangsa Indonesia !

=======================================

Isi surat Jayasuprana :

Ini Isi Surat Terbuka Jaya Suprana Yang Diprotes Ahok

SURAT TERBUKA JAYA SUPRANA KEPADA AHOK/IST

Senin, 30 Maret 2015 , 19:25:00 WIB

SURAT TERBUKA JAYA SUPRANA KEPADA AHOK/IST

 

 

 

 


RMOL. Pendiri dan Ketua Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Jaya Suprana (Phoa Kok Tjiang) menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Surat Terbuka ini diterbitkan harian Sinar Harapan edisi Rabu, 25 Maret 2015 yang lalu. Dalam isi surat terbuka ini, Jaya Suprana mengkhawatirkan sikap Ahok yang sering melontarkan kata-kata kasar akan memicu konflik dan rasialis kepada warga keturunan Tionghoa.
Berikut isi surat terbuka Jaya Surprana kepada Ahok:
Surat Terbuka Kepada Ahok
Bapak Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang terhormat.
Saya sangat menghormati, menghargai, dan mengagumi semangat perjuangan Anda dalam membasmi korupsi dari persada Nusantara tercinta ini. Bagi saya, Anda memang layak tokoh pembasmi korupsi Indonesia yang paling konsekuen dan konsisten. Anda layak dielu-elukan sebagai jawara, pendekar, cowboy, bahkan superhero pembasmi korupsi seperti yang tampil di berbagai meme yang mengelu-elukan semangat perjuangan Ahok membasmi korupsi.

Sebagai sesama warga Indonesia keturunan Tionghoa dan umat Nasrani, saya juga sangat bangga atas semangat perjuangan Anda membasmi korupsi. Namun, akhir-akhir ini terasa bahwa lamat tetapi pasti timbul rasa kebencian masyarakat terhadap kata-kata dan kalimat-kalimat Anda yang dianggap tidak sopan dan tidak santun sehingga tidak layak saya tulis di surat permohonan terbuka di Sinar Harapan yang tersohor sopan dan santun dalam pemberitaan ini.
Bahkan, teman-teman saya yang cendekiawan, rohaniwan, akademikus bukan politikus yang semula mendukung Anda kini mulai meragukan dukungan mereka terhadap Anda. Apalagi mereka yang sejak semula tidak mendukung kini malah mulai membenci Anda. Saya tahu, Anda seorang pemberani, apalagi sudah disemangati oleh mereka yang muak korupsi, tetapi tidak mau atau tidak mampu turun tangan sendiri, pasti sama sekali tidak takut menghadapi dampak ucapan kata-kata Anda. Namun, saya yang pengecut ini yang takut dan saya yakin saya tidak sendirian dalam ketakutan.
Bukan rahasia lagi, bahkan fakta sejarah, bahwa telah berulang kali terjadi malapetaka huru-hara rasialis di persada Nusantara. Akibat memang beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga. Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci.

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa jatuh sebagai korban nyawa termasuk ayah kandung dan beberapa sanak-keluarga saya sendiri di masa kemelut tragedi G-30-S. Nyawa saya pribadi memang selamat, namun sekolah saya dibakar dan ditutup hanya akibat digolongkan sebagai sekolah kaum keturunan Tionghoa, padahal saya pribadi tidak pernah setuju komunisme.
Ketika huru-hara rasialis 1980-an di Semarang, kantor saya dilempari batu. Mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dibumi-hanguskan para huruharawan apabila tidak diselamatkan oleh TNI, kepolisian, dan tetangga saya yang justru bukan keturunan Tionghoa.
Saya kira, Anda juga sadar bahwa kini memang tidak ada lagi penindasan terhadap kaum keturunan Tionghoa, namun jangan lupa bahwa suasana indah ini hanya bisa terjadi berkat perjuangan almarhum Gus Dur, yang dilanjutkan Megawati, SBY, dan kini Jokowi yang secara politis dan hukum melarang diskriminasi terhadap kaum keturunan China yang berdasar Keppres SBY 2014 disebut Tionghoa.
Pada kenyataan sebenarnya kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak menjadi huru-hara apabila ada alasan. Tidak kurang dari Imam Besar FPI, Habib Rieziq, menyatakan kepada saya pribadi bahwa beliau menghargai semangat Anda membasmi korupsi, namun yang tidak disukai pada diri Anda hanyalah kata-kata tidak sopan saja.

Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan Anda menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya. Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memberanikan diri untuk memohon Anda berkenan lebih menahan diri dalam mengucapkan kata-kata yang mungkin apalagi pasti menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Terima kasih dari seorang warga Indonesia yang tidak sepemberani Anda.
Jaya Suprana [prs]

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: