GIM

Gim

Blog: Harapan Jaya Suprana,   Rabu, 04 February 2015
Terpaksa harus diakui, Gus Dur memang benar dalam menyatakan DPR seperti taman kanak-kanak (TK). Terbukti bukan cuma sekali, namun berulang kali. Ada saja anggota DPR bermain gim (game) menggunakan telepon selulernya saat menunaikan tugas sebagai wakil rakyat, mengikuti sidang paripurna di gedung DPR, Jakarta.
Itu misalnya saat seorang anggota DPR tertangkap kamera sedang asik bermain gim saat sidang paripurna DPR menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1/2014 tentang pilkada, serta Perppu Nomor 2/2014 tentang Pemerintahan Daerah untuk menjadi Undang-Undang.
Sikap dan perilaku anggota DPR penggemar berat bermain gim telepon seluler itu menarik untuk direnungkan; bahwa sikap dan perilaku anak-anak seperti gemar bermain, pada hakikatnya tetap bertahan pada orang dewasa. Namun, naluri bermain pada orang dewasa rawan meleset menjadi perilaku main-main. Padahal, banyak tugas orang dewasa seperti tugas seorang anggota DPR, kurang pantas dilakukan secara main-main.
Menjadi wakil rakyat yang terpilih oleh rakyat untuk duduk di takhta DPR, pada hakikatnya bukan tugas main-main, jadi tidak pantas dilakukan secara main-main. Tidak heran begitu banyak keputusan DPR yang terkesan mengingkari kepentingan rakyat, akibat ternyata ditatalaksanakan secara main-main seolah keputusan para anak di TK.
Perdebatan dalam sidang DPR yang semuanya melibatkan orang dewasa memang terbukti kerap kali bersuasana kekanak-kanakan, dalam makna negatif seperti perdebatan yang lepas kendali ke sana ke mari, akibat tidak sadar tentang apa yang diperdebatkan. Atau perdebatan mirip anak-anak di TK yang lebih cenderung seperti perdebatan siapa yang berhak memakan permen yang sedang diperebutkan.
Bukan rahasia lagi bahwa sementara anak-anak menggemari permen dalam bentuk gula-gula, orang dewasa menggemari permen dalam bentuk kekuasaan dan duit. Saya menggunakan istilah kekanak-kanakan bagi anggota DPR yang gemar bermain-main dalam makna negatif, sebab sifat kekanak-kanakan bisa bermakna positif.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan pernyataan Gus Dur bahwa DPR seperti TK, sebab menurut saya DPR tidak sama dengan TK. Memang Gus Dur menyamakan DPR dan TK akibat geram menyaksikan betapa suasana DPR memang kerap sama dengan suasana TK yang hiruk-pikuk, kacau-balau dan amburadul tak terkendali akibat masing-masing cenderung egosentris mengutamakan kepentingan diri sendiri. Seperti para anggota DPR yang lebih memilih asik bermain gim di telepon seluler masing-masing, ketimbang memperhatikan masalah yang sedang susah-payah dibahas dalam sidang paripurna.
Saya tidak munafik untuk mengakui, ketika menghadiri rapat bersuasana ngalor-ngidul tak jelas arah tujuannya, akibat tak tahan menahan rasa bosan, memang kerap saya tertidur sampai mengorok. Namun, saya tidak pernah bermain gim di telepon seluler sebab kebetulan memang tidak gemar bermain gim.
Bagi saya, gim yang digelar di panggung kehidupan jauh lebih asik ketimbang gim di komputer atau telepon seluler. Saya tidak setuju Gus Dur menyamakan DPR dengan TK. Saya bukan tidak setuju terhadap penyamaan DPR dengan TK an sich, melainkan lebih terhadap kenyataan di balik penyamaan itu.
Tidak bisa diingkari, kenyataan membuktikan anggota DPR tidak bisa disamakan dengan anak-anak di TK, berdasar fakta anak-anak di TK masih memiliki sifat kekanak-kanakan dalam arti positif seperti polos, tulus, jujur, tidak munafik, tidak haus kekuasaan, dan tidak melakukan korupsi.

Penulis mengagumi kejujuran anak-anak.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: