BELAJAR DARI RABINDRANATH TAGORE

Belajar dari Rabindranath Tagore

Selasa, 13 January 2015

Kita mengajarkan bahasa kepada anak-anak, tetapi menjauhkan mereka dari keindahan kesusastraan.

Apakah itu seni?
“It is the response of man’s creative soul to the call of the Real. In art, man reveals himself and not his objects.”
Begitu kata Rabindranath Tagore, pujangga besar India dan penerima hadiah Nobel bidang sastra pertama dari Asia pada 1913.
Menurut Tagore (1861-1941), pengarang buku Gitanjali (Persembahan Nyanyian) yang terkenal itu, seni adalah jawaban jiwa kreatif manusia atas panggilan Tuhan (perhatikan R dengan huruf besar dalam Real) dan dalam seni manusia menampilkan dirinya sendiri dan bukan objeknya.
Itu dibuktikan Tagore dalam puisi-puisinya yang indah, sekaligus ilahiah, seperti dalam petikan bait, “Light, my light, the world-filling light, the eye-kissing light, heart-sweetening light.” (Cahaya, cahayaku, cahaya yang mengisi dunia, cahaya yang mengecup mata, cahaya yang mempermanis hati).
Indah, bukan? Mari kita lanjutkan yang berikut ini, “Life of my life, I shall ever try to keep my body pure, knowing that thy living touch is upon my limbs.” (Hidup dari hidupku, aku akan selalu berusaha menjaga kesucian tubuhku, karena mengetahui sentuhan hidup-Mu adalah atas sekujur anggota tubuhku).
Dalam kedua bait itu, Tagore menunjukkan kedekatannya yang tak berjarak dengan Tuhan, Sang Mahapencipta. Karya-karyanya yang indah dan segar, dengan kesadaran yang mendalam akan kehadiran Tuhan, membuatnya dipuja banyak orang di Eropa. Raja Inggris menganugerahinya gelar “Sir”.
Namun, sang pujangga yang juga pembuat naskah sandiwara dan pendidik ini tak segan-segan menunjukkan jiwa patriotnya, dengan mengembalikan gelar kehormatan itu sebagai protes atas keganasan tentara Inggris dalam peristiwa yang terkenal dengan sebutan Amritsar Affair.
Sikap itu sesuai bunyi bait puisinya tentang kemerdekaan, yang diakhiri dengan kata-kata berikut, “Where the mind is led by thee into ever-widening thought and action….Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake.” (Ke mana jiwa Engkau bimbing ke dalam pikiran dan tindakan yang semakin meluas…ke dalam surga kebebasan itu, Bapa, biarlah negaraku bangkit).
Semuanya didasarkan kepada petunjuk Tuhan. Memang, Tagore seorang penyair spiritual.
Dekat dengan Taman Siswa
Pada 1927, Rabindranath Tagore yang mendapat julukan gurudev (guru dewa), mengunjungi perguruan Taman Siswa di Yogyakarta yang didirikan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Rupanya terdapat kecocokan dalam prinsip-prinsip pendidikan antara Tagore dan Ki Hajar, yang memperkenalkan “sistem among” dengan mengutamakan bimbingan kepada sang anak, untuk mewujudkan kodratnya sendiri.

Tagore, yang juga ahli filsafat ini, mencintai anak-anak seperti dalam puisinya yang berjudul “Playthings” (Alat-alat Permainan). Ia merasa iri dengan kebahagiaan seorang anak yang sedang duduk di atas debu, bermain dengan sebuah ranting pohon yang patah sepanjang pagi.
Sebagai seorang paedagog kaliber dunia kala itu, Tagore melontarkan kritik bahwa sistem pendidikan dan pengajaran yang dianut di dunia Barat dan Timur, kehilangan kaitannya dengan kebudayaannya sendiri. “Kita mengajarkan bahasa kepada anak-anak, tetapi menjauhkan mereka dari keindahan kesusastraan.”
Demikian antara lain kritik Tagore yang didukung Ki Hajar. Kedekatan dengan alam, keindahan, anak-anak, cinta, dan Tuhan menjelujuri karya-karya Tagore. Ia seorang yang suka berkontemplasi dan bermeditasi.
Berikut satu contoh karyanya tentang itu. “Mereka yang dekat denganku tidak tahu bahwa Engkau lebih dekat kepadaku daripada mereka. Mereka yang berbicara denganku tidak tahu bahwa hatiku penuh dengan kata-kata-Mu yang tak terucapkan. Mereka yang berjejalan di jalanku tidak tahu bahwa aku sedang berjalan sendirian dengan Engkau. Mereka yang mencintaiku membawa-Mu masuk ke dalam hatiku.”
Ketika bangsa ini sedang sibuk bicara tentang pendidikan budi pekerti, mencari jati diri dan revolusi mental, kenapa tidak menengok karya-karya Rabindranath Tagore, di samping menggali khazanah kearifan lokal bangsa sendiri? .
Penulis adalah wartawan dan aktivis sosial.
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: