BELAJAR DARI MESIR

 

 

Belajar dari Mesir

Blog: Harapan Jaya Suprana,  Kamis, 02 April 2015
Tiada warga Indonesia yang menginginkan negara dan bangsanya mengalami duka dan derita yang dialami teman-teman kita di Mesir. 
Mesir tergolong negara dan bangsa yang paling saya kagumi. Pada 1980-an saya menyempatkan diri berkunjung ke negeri Firaun itu, untuk melihat dengan mata kepala sendiri kenyataan yang semula hanya saya peroleh dari buku dan film.
Ternyata kenyataan mengungguli harapan saya. Bangunan-bangunan bersejarah warisan peradaban dan kebudayaan Mesir kuno dari ribuan tahun silam menjulang kolosal dan monumental, menggetar sukma di sepanjang sungai Nil melebihi yang semula saya bayangkan.
Museum Mesir di Kairo, Luxor, dan Aswan merupakan yang terbaik di dunia walau sebagian besar artifak historis Mesir kuno sudah diboyong kaum kolonialis ke Paris, London, dan New York. Infrastruktur konsekuen mendukung industri pariwisata sebagai komoditas primadona Mesir.
Masyarakat Mesir juga sangat ramah-tamah meski sangat lihai dalam tawar-menawar jual-beli apa pun. Masyarakat minoritas juga hidup berdampingan dengan mayoritas secara harmonis.
Suasana kehidupan negara dan bangsa Mesir pada abad ke-20 terasa nyaman, tenteram, dan penuh damai. Begitu terpikat saya oleh Mesir, kembali saya berkunjung ke dana setelah Mubarak dilengserkan dari takhta kepresidenan.
Ternyata Mesir pasca-Mubarak mengalami perubahan drastis. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Suasana kehidupan negara dan bangsa Mesir pasca-Mubarak porak-poranda. Apalagi, saya sempat menyelinap ke Midan Tahrir, pusat pergolakan politik, Mesir pada suatu pagi hari berkabut asap, bekas pembakaran aneka benda oleh para demonstran maupun bekas gas air mata yang disemprotkan polisi kepada para demonstran.
Museum Mesir kuno di sebelah Midan Tahrir pun dalam kondisi rekonstruksi, setelah dijarah tangan-tangan kotor pada masa awal pelengseran Mubarak. Hanya museum-museum di luar Kairo yang masih utuh akibat dilindungi kaum reformis yang cinta peradaban dan kebudayaan Mesir.
Suasana kehidupan yang semula tenteram, damai, dan harmonis penuh ramah-tamah, berubah menjadi penuh kecurigaan, kebencian, dan amarah. Pastinya tidak aman, terbukti kami sempat dilarang ke luar hotel akibat para demonstran yang tidak puas atas kondisi negara dan bangsa Mesir. Mereka dalam amarah turun ke jalan sehingga tidak ada yang berani menjamin keselamatan para turis asing yang berkeliaran di Kota Kairo.
De facto tiada satu pun warga Mesir yang merasa puas, apalagi bahagia, terhadap kenyataan pasca-Mubarak dilengserkan. Alih-alih kemajuan, yang hadir cuma kemunduran dalam beragam bidang peradaban dan kebudayaan Mesir masa kini.
Di sisi lain, saya juga pernah berkunjung ke Suriah sebelum ISIS merajalela. Namun, akibat terlalu ngeri mendengar pemberitaan-pemberitaan tentang tragedi perang saudara yang menghancurleburkan negara, yang masuk daftar embargo Amerika Serikat itu, saya tidak berani berkunjung ulang ke Suriah.
Irak malah belum sempat saya kunjungi sebab sudah telanjur dibumihanguskan Amerika Serikat dan sekutunya. Demikian pula Libia. Berbagai teori berusaha mengungkap mengenai kenapa Mesir, Suriah, Irak, Libia mengalami perpecahbelahan sedemikian tragis. Mulai dari teori intervensi asing, teori konspirasi divide et impera, teori perebutan kekuasaan, teori pasang-surut peradaban dan kebudayaan, sampai teori ketidakadilan kesejahteraan yang memang terbukti mengobarkan revolusi-revolusi dahsyat dalam sejarah dunia.
Namun apa pun teorinya, saya pribadi mengharapkan para pemimpin bangsa dan negara Indonesia masing-masing berkenan mawas diri dan mengendalikan diri untuk menjunjung tinggi kepentingan negara, bangsa, dan rakyat Indonesia jauh di atas kepentingan partai politik, golongan apalagi pribadi.

Saya yakin, tiada warga Indonesia yang menginginkan negara dan bangsanya mengalami duka dan derita yang dialami teman-teman kita di Mesir.

Penulis adalah budayawan Indonesia pencinta damai. 
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: