NILAI LUHUR “MONGGO PINARAK”

 

NILAI LUHUR “MONGGO PINARAK”

Oleh Abdullah Assalani *, in: Kompasiana. Com, 02 April 2015 11:24 WIB

 

 

14279634211579945785

Ilustrasi/Kompasiana (kfk.kompas.com)

 

Monggo pinarak atau monggo mampir adalah ungkapan khas masyarakat pedesaan di Jawa. Ketika kita melewati rumah seseorang, dan pemiliknya sedang berada di beranda atau halaman rumah, ungkapan itulazim dilontarkan, baik kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada yang belum dikenal sekalipun.

Bisa jadi ungkapan tersebut hanya sebuah ekpresi sapaan, basa-basi semata, atau ajakan yang sesungguhnya. Irama hidup yang slow, ditambah budaya ewuh-pekewuh jika menolak tawaran orang lain, maka dengan senang hati, kita akan meluangkan waktu sejenak untuk bertandang ke rumah orang itu.

Nuansa kehidupan tradisional Jawa yang agraris selalu mengutamakan keharmonisan komunitas. Adanya keakraban, kedekatan, rasa persaudaraan, dan ikatan komunal serta semangat berbagi merupakan nilai utama yang dianut bersama. Nilai-nilai itu terus dijaga dan dipelihara melalui sikap dan perilaku keseharian.

Ketika seseorang sudah bersedia mampir, baik itu hanya di halaman rumah, beranda, hingga masuk ke rumah; maka berbagai obrolan pun dimulai. Dari sekedar bertanya mau kemana dan dari mana, aktivitas keseharian, kegiatan ekonomi, hingga perbincangan masalah politik.

Beda kaum lelaki, beda pula kaum perempuan. Obrolan perempuan biasanya lebih menyangkut aktivitas keseharian di rumah, hal-ihwal keluarga, hobi, belanja atau arisan, acara di televisi, hingga obrolan kontraproduktif seperti menggunjing tetangga. Tak jarang pula, sembari mengobrol disertai aktivitas seperti petan (mencari kutu di kepala), atau kerokan.

Aktivitas pinarak ini, sering memancing orang lain yang lewat ikut mampir pula. Atau ketika tetangga melihat kita sedang kumpul-kumpul, mereka ikut bergabung juga. Biasanya ini terjadi ketika sore atau malam hari di perempatan jalan, gardu ronda, atau teras rumah warga. Mereka yang sedang beraktivitas di sawah pun, sering berkumpul di salah satu gubuk untuk sekedar melepas lelah atau mencari teman mengobrol.

Budaya di atas bukanlah sesuatu hal yang bisa dianggap sepele, sudah biasa, atau kelaziman semata. Ada beberapa nilai atau manfaat yang bisa diperoleh baik secara pribadi maupun kelompok. Pertama, membina kedekatan dan keakraban. Ketika mereka sedang berkumpul dan ngobrol ngalor-ngidul, akan tampaklah nuansa keakraban. Tidak hanya dekat secara jarak, mereka juga dekat secara hati. Mereka bisa tertawa lepas. Melepaskan atribut dan status sosial yang disandangnya. Tak jarang di antara mereka mengolok-olok satu sama lain dengan tujuan untuk bercanda atau memperkuat kedekatan.

Kedua, menjaga kerukunan. Inilah kesadaran kolektif yang diyakini bersama. Bahwa hidup di desa haruslah rukun dan damai. Tanpa adanya konflik dan perpecahan. Tenggang rasa, toleran, tepa selira, adalah beberapa sikap yang harus terus dipelihara. Ada pepatah “wong Jawa nggoning rasa, pada gulange ning kalbu, ing sasmita amrih lantip, kuwono nahan hawa, kinemat mamoting driya”.

Ketiga, manfaat ekonomis. Acara mampir tak jarang membawa rejeki. Bisa jadi kita diminta yang si empunya rumah untuk membantu pekerjaannya, atau dapat pesanan dari seseorang untuk mencarikan tenaga. Atau ada tetangga yang ingin menjual sesuatu, kita menjadi pembelinya atau membantu menjualkannya. Selain itu, pada acara kumpul seperti itu, kita disuguhi berbagai makanan atau minuman oleh si empunya rumah. Bahkan, ketika pulang kita masih diberi oleh-oleh.

Keempat, media belajar dan sosialisasi. Kesempatan mampir sering juga dimanfaatkan untuk sarana belajar. Terjadi proses memberi-menerima, baik itu informasi, pengetahuan, pengajaran agama, tata-krama, dll. Bagi anak-anak bisa berfungsi sebagai media bersosialisasi. Atau jika ia perangkat desa bisa sebagai wahana untuk menjaring aspirasi atau sosialisasi kegiatan pembangunan.

Kelima, resolusi konflik.Suasana kumpul yang akrab dan ramah mampu menghilangkan berbagai prasangka, ketegangan, curiga, dendam, dan semacamnya. Kebekuan hati bisa cair bila bertatap muka dan ngobrol santai. Masalah-masalah yang terjadi antarpribadi atau yang menyangkut kepentingan orang banyak bisa dirembug dalam kumpul bersama.

Budaya mampir merupakan cerminan orang Jawa bagaimana menjalani dan menikmati hidup. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang telah diwarisi dari nenek-moyang sejak lama. Bahkan, dalam pandangan spiritual Jawa, orang hidup di dunia ini hanya sebatas mampir minum (wong urip suwene mung koyo mampir ngombe).

 

*Penulis, Mahasiswa, Wiraswastawan, Aktivis Forum Lingkar Pena, Sukarelawan Rumah Baca “Rumah Cahaya” Depok

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: